Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

HAKIKAT NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Diposkan oleh irfan on Friday, May 01, 2015



A.    HAKIKAT NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
1.      Nilai dan Moral sebagai Materi Pendidikan
Ada beberapa bidang filsafat yang berhubungan dengan cara manusia hakikat sesuatu, salah satu diantaranya adalah aksiologi, bidang ini disebut filsafat nilai, yang memiliki dua kajian utama yaitu estetika dan etika. Estetika berhubungan dengan keindahan, sementara etika berhubungan dengan kajian baik buruk dan benar salah. Bidang ini merupakan tema baru dalam bidang filsafat yaitu baru muncul pada abad ke-19, meskipun cikal bakal pengkajian keindahan dan kebaikan bisa ditelusuri jauh sebelum hadirnya buku RFepublik karya Plato. Namun demikian karena manusia selalu berhubungan dengan masalah keindahan, baik dan buruk bahkan dengan persoalan-persoalan layak atau tidak layaknya sesuatu, maka pembahasan etika dan estetika jauh melangkah ke depan meningkatkan kemampuannya untuk mengkaji persoalan nilai moral tersebut sebagaimana mestinya.
Ketika persoalan etika dan estetika ini semakin diperluas, tentu semakin kompleks, sebab menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan eksistensi manusia, apakah jasmaninya, rohaninya, fisiknya, mentalnya, pikirannya bahkan perasaannya. Seolah-olah nilai berhubungan dengan pribadi manuysia semata. Apabila nilai sudah masuk pada kawasan pribadi, muncul persoalan apakah pihak lain atau orang lain dapat mencamp[uri urusan pribadi orang tersebut? (khususnya dalam bidang nilai itu). Misalnya saja: Saya menyukai sebuah lukisan, karena saya menganggap lukisan tersebut indah, apakah orang lain berhak menyangkal keindahan lukisan tersebut serta melarang saya menyukainya karena dia memiliki sudut pandang dan rasa yang berlainan? Persoalan nilai ini jauh lebih rumit tatkala menyentuh persoalan selera, mungkin dalam kawasan etika lebih mudah mencari standar ukurannya, karena banyka standar nilai etika yang disepakati secara universal seperti; keadilan, kejujuran, keikhlasan dan sebagainya, akan tetapi apabila masuk pada kawasan estetika, “mungkin” setiap orang mempunyai selera yang berbeda, baik persoalan warna, bentuk, maupun gayanya. Oleh karena itu adagium Latin muncul “degustibus non diputanduin” atau selera tidak dapat diperdebatkan, tetapi, meskipun demikian, ada alat ukur yang sama pada manusia, manusia memiliki akal dan pikiran untuk mempertimbangkannya, dia tahu apa yang diplih, dia tahu mengapa haru memilih dan tahu risiko akibat pilihannya. Saying, tidak setiap orang menyadari keunggulannya, sehingga dia tidak menyadari apa yang harus dipilih, mengapa milih, dan risiko apa yang akan terjadi.
Begitu kompleksnya persoalan aksiologi (nilai), maka pembahasan makalah ini difokuskan hanya pada kawasan etika. Namun tema etika pun memiliki makna yang bervariasi, Bertens (2001, hlm. 6) menyebutkan ada tiga jenis makna etika;
Pertama, kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Kedua, etika berarti juga kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud di sini adalah kode etik.
Ketiga, etika mempunyai arti lagi ilmu tentang yang baik dan yang buruk. Etika di sini artinya sama dengan filsafat moral.
Dalam bidang pendidikan, ketiga pengertian di atas menjadi materi bahasannya, oleh karena itu bukan hanya nilai moral individu yang dikaji, tetapi juga membahas kode-kode etik yang menjadi patokan individu dalam kehidupan sosialnya, oleh karena itu orang tidak cukup memahami apa yang diyakinidiri dan aturan masyarakatnya dibutuhkan pemahaman dan perenungan yang mendalam tentang mana yang sejatinya dikatakan baik, mana yang benar-benar disebut buruk. Kawasan inilah yang disebut filsafat moral.
Ketika ketiga pengertian etika di atas dikembangkan dalam dunia pendidikan, kecenderungan dan orientasi terhadap persoalan itu akan melibatkan problematika merodologis. Perbedaan dan kecenderungan metode yang dipilih lebih sering karena perbedaan dan kecenderungan metode yang dipilih lebih sering karena perbedaan maksud yang ingin dicapai, jadi bukan hanya karena ketidaksepakatan makna nilai yang diyakininya, namun term nilai pun bisa membuat setiap orang memiliki orientasi serta strategi yang berbeda dalam pengembangan pendidikan nilainya.

2.      Nilai moral di Antara Pandangan Objektif dan Subjektif Manusia
Nilai erat hubungannya dengan manusia, baik dalam bidang etika yang mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari, maupun bidak estetika yang berhubungan dengan persoalan keindahan, bahkan nilai masuk ketika manusia memahami agama dan keyakinan beragama. Oleh karena itu nilai berhubungan dengan sikap seseorang sebagai warga masyarakat, warga suatu bangsa, sebagai pemeluk suatu agama dan sebagai warga dunia.
Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua konteks, pertama akan memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif, apabila dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya, bahkan memandang nilai telah ada sebelumnya adanya manusia sebagai penilai. Baik dan buruk, benar dan salah bukan hadir karena hasil persepsi dan penafsiran manusia, tetapi ada sebagai sesuatu yang ada dan menuntuk manusia dalam kehidupannya. Persoalannya bukan bagaimana seseorang harus menemukan nilai yang telah ada tersebut tetapi lebih kepada bagaimana menerima dan mengaplikasikan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai bagi pandangan objektivis tidak tergantung pada objek, melainkan objeklah sebagai penyangga perlu hadir dan menampakkan nilai tersebut. Namun meski tanpa hadirnya objek, nilai memang telah ada dengan sendirinya. Pandangan kedua memandang nilai itu subjektif, artinya nilai sangat tergantung pada subjek yang menilainya. Jadi nilai memang tidak aka nada dan tidak akan hadir tanpa hadirnya penilai. Oleh karena itu nilai melekat dengan subjek bukan penting atau tidak penting pada objek sejatinya, melainkan tergantung si penilai memberika persepsi terhadap objek tersebut. Dengan demikian lukisan itu indah (sebagai contoh) bukan karena lukisannya memang indah, akan tetapi karena si penilai menyukai dan memandang indah lukisan tersebut.
Nilai itu objektif atau subjektif bisa dilihat dari dua kategori :
1.      Apakah objek itu memiliki nilai karena kita mendambakannya, atau kita mendambakannya karena objek itu memiliki nilai?
2.      Apakah hasrat, kenikmatan, perhatian yang memberikan nilai pada objek, atau kita mengalami preferensi karena kenyataan bahwa objek tersebut memiliki nilai mendahului dan asing bagi reaksi psikologis badan organis kita? (Frondizi, 2001, hlm. 19-24)
Apakah nilai itu objektif atau subjektif? Hal ini bisa ditelusuri dengan dua pertanyaan mendasar; apakah nilai menarik perhatian subjek atau subjek memberikan nilai pada suatu objek? Dua pertanyaan ini dapat lebih dipertegas dengan pernyataan :
1.      Apakah kecenderungan, selera, kehendak akan menentukan nilai suatu objek ?
2.      Apakah suatu objek tadi diperhatikan, diinginkan karena memang memiliki nilai? (Lasyo,1999; hlm. 2)
Dengan demikian, apakah manusia si pemilik nilai (subjektif) atau si pengguna nilai (objektif). Tentu saja dua pemikiran ini bukan hanya permainan semantic filosofi tanpa ada maksud, tapi berdampak pada berbagai situasi di mana manusia hidup dan mempersepsi kehidupannya. Persoalan objektif dan subjektif nilai ini akan sangat erat kaitannya dalam pendidikan tatkala dihubungkan dengan isi nilai apa yang harus diajarkan. Apakah ada nilai-nilai objektif yang harus diajarkan pada individu, Suka tidak suka, individu harus menerimanya karena itulah nilai yang diturunkan dari dunia transenden (dalam bahasa agama diwahyukan sebagai ide yang mutlak, atau pakah nilai itu harus dicari dari suatu proses karena sebenarnya individu sendiri sebagai mkhluk yang bernilai, dan yang pal9ing penting bagaimana individu tersebut menyadari dengan jelas nilai dirinya.

3.      Nilai di Antara Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder
Setiap benda, zat dan apa pun yang ada di alam raya ini, termasuk manusia, memiliki kualitas. Kualitas adalah sebuah sifat, kualitas menentukan tinggi rendahnya derajat sesuatu, kualitas pun menentukan berharga tidaknya suatu objek. Kualitas melekat dan hadir serta terlihat karena adanya objek yang ditempati sifat atau kualitas tersebut, kualitas memang ada, tapi adanya membutuhkan penopang yaitu objek yang ditempati kualitas. Kualitas tidak akan tampak tanpa hadirnya suatu objek, namun meski tanpa hadirnya objek diyakini bahwa kualitas itu ada.
Menurut Frondizi (2001, hln. 7 – 10) kualitas dibagi dua :
1.      Kualitas Primer, yaitu kualitas dasar yang tanpa itu objek tidak dapat menjadi ada, seperti panjang dan beratnya batu sudah ada sebelum batu itu dipahat (menjadi patung misalnya). Kualitas primer ini merupakan bagian dari eksistensi objek, objek tidak ada tanpa adanya kualitas primer ini
2.      Kualitas Sekunder, yaitu kualitas yang dapat ditangkap oleh pancaindra seperti warna, rasa baud an sebagainya. Kualitas ini terpengaruh oleh tingkat subjektivitas. Seperti halnya kualitas primer, kualitas sekunder pun merupakan bagian dari eksistensi atau realitas objek.
Perbedaan mendasar antar kualitas primer dan kualitas sekunder bukan pada bersatu tidaknya kualitas tersebut pada objek, melainkan pada keniscayaan. Kualitas primner harus ada dan memang tidak mungin ada suatu objek tanpa kualitas primernya. Jadi hadirnya kualitas primer merupakan kepastian/keniscayaan. Sedangkan kualitas sekunder merupakan bagian eksistensi objek tetapi kehadirannya sangat tergantung subjek penilai; apakah gununug berwarna hijau atau biru, air laut itu putih atau biru (bahkan baik buruknya manusia) bukan persoalan eksistensi gunung, laut, dan manusia tersebut, tetapi sejauh mana kemampuan subjek memandang kualitas sekunder tersebut. Dengan demikian gunung dikatakan hijau atau biru, manusia dikatakan baik atau buruk oleh subjek tidak mengubah gunung atau manusia menjadi hal lain.
Persoalan yang paling mendasar, apakah nilai sebagai sifat tersebut sama dengan kualitas primer atau dengan kualitas sekunder ? Fronizi (2001, hlm. 11-12; menyatakan lebih lanjut, nilai bukan kualitas primer dan bukan kualitas sekunder, sebab ; “Nilai tidak menambah atau member eksistensi objek. Nilai bukan keniscayaan bagi esensi objek. Nilai bukan benda atau unsur benda. Melainkan sifat, kualitas/sui-generi, yang dimiliki objek tertentu yang dikatakan “baik”. Bahkan menurut Husserl (2001, hlm. 12) “Nilai itu miliki semua objek, nilail tidaklah independen yakni tidak memioliki kesubstantifan”
Oleh karena itu, sebelum ada penopangnya atau sebelum ada pengembannya, atau lebih tepat lagi sebelum ada pengembannya, atau lebih tepatnya lagi sebeluym ada objek yang ditempati, nilai hanyalah merupakan “kemungkinan” nilai tidak memiliki eksistensi yang riil, karena nilai merupakan sifat dan kualitas. Oleh karena itu pula nilai bersifat parasitis. Dengan demikian pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah; apakah nilai sebagai kualitas atau seperti mendekati kualtas primer atau seperti mendekati kualitas sekunder?. Yang jelas nilai bukan kualitas primer maupun bukan kualitas sekunder, kualitas nilai adalah nilai.



4.      Metode Menemukan dan Hiererki Nilai dalam Pendidikan
Nilai berhubungan erat dengan kegiatan manusia menilai. Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu dengan yang manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang selanjutnya diambil suatu keputusan. Keputusan nilai dapat menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau buruk, manusiawi atau tidak manusiawi, religious atau tidak religious. Penilaian ini dihubungkan dengan unsur-unsur atau hal yang ada pada manusia, seperti jasmani, cipta, karsa, rasa dan keyakinan. Sesuatu dipandang bernilai karena sesuatu itu berguna, maka disebut nilai kegunaan, bila benar dipandang bernilai maka disebut nilai kebenaran, indah dipandang bernilai maka disebut nilai keindahan (estetis), baik dipandang bernilai maka disebut nilai moral (etis), religious dipandang bernilai maka disebut nilai keagamaan. Oleh karena itu, nilai itu memiliki polaritas dan hierarki, yaitu :
1.      Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negative yang sesuai (polaritas) seperti baik dan buruk keindahan dan kejelekan.
2.      Nilai tersusun secara hierarkis, yaitu hierarki urutan pentingnya.
Nqamun, meskipun nilai ada aspek negatifnya tidak berarti meniadakan nilai, akan tetapi bila ada nilai yang baik tentu ada lawannya yaitu nilai buruk. Demikian pula dalam pemahaman bahwa nilai itu ada hierarkinya, bukan berarti ada klasifikasi, melainkan ada urutan tingkat kepentingannya, sehingga ada nilai yang lebih diutamakan daripada nilai lainnya, nilai religious lebih penting daripada nilai keindaha.
Berbeda dengan pendapat di atasm adalah pendapatnya Nicholas Rescher (1969, hlm. 14-19) yang menyatakan adanay 6 klasifikasi nilai, yaitu klasifikasi nilai yang didasarkan atas :
1.      Pengukuan, yaitu pengukuan subjek tentang nilai yang harus dmiliki seseorang atau suatu kelompok, misalnya nilai professional, nilai kesukuan atau nilai kebangsaan
2.      Objek yang dipermasalahkan, yaitu cara mengevaluasi suatu objek dengan berpedoman pada sifat tertentu objek yang dinilai, seperti manusia dinilai dari kecerdasan, bangsa dinilai dari keadilah hukumnya.
3.      Keuntungan yang diperoleh …….., yaitu menurut keinginan, kebutuhan, kepentingan atau minat seseorang yang diwujudkan dalam kenyataan, contohnya kategori nilai ekonomi, maka keuntungan yang diperoleh berupa produksi; kategori nilai moral, maka keuntungan yang diperoleh berupa kejujuran.
4.      Tujuan yang akan dicapai, …., yaitu berdasarkan tipe tujuan yang tertentu sebagai reaksi keadan yang dinilai.
Contoh nilai akreditasi pendidikan.
5.      Hubungan antara pengemban nilai dengan keuntungan :
a.       Nilai dengan orientasi pada diri sendiri (nilai egosentris) yaitu dapat memperoleh keberhasilan dan ketentraman.
b.      Nilai dengan orientasi pada orang lain, yaitu orientasi kelompok :
1)      a.  Nilai yang berorientasi kepada keluarga – hasilnya kebanggan keluarg
b. Nilai yang berorientasi pada profesi – hasilnya nama baik profesi.
c.  Nilai yang berorientasi pada bangsa – hasilnya nilai patroitisme.
d.  Nilai yang berorientasi pada masyarakat – hasilnya keadilah sosial.
2)      Nilai yang berorientasi pada kemanusiaan, yaitu nilai universal.
6.      Hubungan yang dihasilkan nilai itu sendiri dengan hal lain yang lebih baik, dimana nilai tertentu secara hierarkis lebih keci dari nilai lainnya.
Sedangkan dalam hierarki nilai sangat tergantung dari sudut pandang dan nilai yang menjadi patokan dasar si penilai. Tingkatan atau hierarki nilai akan berbeda antara orang ateis dengan orang religious, demikian juga dengan orang materialis. Bagi orang religious tentu saja nilai-nilai religi akan menempati posisi utama atau tertinggi, sementara bagi orang materialis akan menempatkan nilai materi pada posisi tertinggi. Nilai tentu saja dipandang penting oleh setiap orang, namun tingkat kepentingan nilai tersebut tidaklah sama, itulah sebabnya nilai memiliki tingkatan, dalam pengertian ada hierarkinya.
Menurut Max Scheller (dalam Kaelan, 2002, hlm. 175) menyebutkan hierarki tersebut terdiri dari :
1.      Nilai kenikmatan, yaitu nilai yang mengenakkan atau tidak mengenakkan, yang berkaitan dengan indera manusia yang menyebabkan manusia senang atau menderita.
2.      Nilai kehidupan, yaitu nilai yang penting bagi kehidupan
3.      Nilai kejiwaan, yaitu nilai yang tidak tergantung pada keadaan jasmani maupun lingkungan.
4.      Nilai kerohanian, yaitu moralitas nilai dari yang suci dan tidak suci.
Sedangkan Notonogoro (dalam Darji, D. 1984, hlm. 66-67) membagi hierarki nilai pada tiga :
1.      Nilai material, yaitu segala sesuatu ytang beguna bagi unsur jasmani manusia.
2.      Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan aktivitas.
3.      Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.
Nilai kerohanian ini bisa dibedakan pada empat macam :
a.       Nilai kebenaran yang bersumber pada akan (rasio, budi, cipta) manusia.
b.      Nilai keindahan, atau nilai astetis, yang bersumber pada unsur perasaan (athetis, gevoel, rasa) manusia.
c.       Nilai kebaikan, atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendal (will, wollen, karsa) manusia.
d.      Nilai religious, yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak. Nilai religious ini bersumber kepada kepercayaan atau keyakinan manusia.
Sedangkan di Indonesia (Khususnya pada decade penataran P4) hierarki nilai dibagi tiga (Kaelan, 2002, hlm. 178) sebagai berikut :
1.      Nilai dasar (dalam bahasa ilmiahnya disebut dasar antologis) yaitu merupakan hakikat, esensi, inti sari makna yang terdalam dari nilai-nilai tersebut. Nilai dasar ini bersifat universal karena menyangkut hakikat kenyataan objektif segala sesuatu misalnya, hakikat Tuhan, manusia atau segala sesuatu lainnya.
2.      Nilai instrumental, ……, merupakan suatu pedoman yang dapat diukur atau diarahkan. Bilamana nilai instrumental itu berkaitan dengan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari maka hal itu akan merupakan suatu norma moral. Namun jikalau nilai instrumental itu berkaitan dengan suatu organisasi ataupun Negara maka nilai instrumental itu merupakan suatu arahan, kebijaksanaan atau strategi yang bersumber pada nilai dasar. Sehingga daapt dikatakan nilai instrumental merupakan suatu eksplisitasi dari nilai dasar.
3.      Nilai praksis, pada hakikatnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam suatu kehidupan nyata. Sehingga nilai praksis ini merupakan perwujudan dari nilai instrumental. ….., Nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis itu merupakan suatu system dalam perwujudannya tidak boleh menyimpang dari system itu.
Sementara itu ada juga yang membedakan antara nilai instrinsik dan nilai ekstrinsik, nilai objektif dan nilai subjektif (yang kedua-duanya bukan hierarki tetapi lebih merupakan klasifikasi nilai). Dengan demikian ada yang membuat pembagian berupa penggolongan atau klasiifkasi semata tanpa menentukan tingkat keutamaan atau kepentingannya, dan ada yang melakukan penggolongan dengan menentukan tingkat keutamaan atau kepentingannya, dan ada yang melakukan penggolongan dengan menentukan hierarki kepentingan atau keutamaannya.
Dari gambaran hierarki nilai dapat disimpulkan bahwa nilai yang tertinggi selalu berujung pada nilai yang terdalam dan terabstrak bagi manusia. Terdalam dalam arti lebih hakiki dan lebih bersifat kepentingan-kepentingan transenden dalam bentuk-bentuk ideal yang dapat dipikirkannya, sedangkan nilai yang semakin rendah lebih bersifat sementara, tergantung pada indrawi manusia dan lebih bersifat pragmatis untuk memuaskan jasmani manusia (atau dalam bahasa agama memuaskan nafsu semata).
Dalam posisi hierarki nilai ini, pendidikan pada hakiatnya merupakan upya membantu peserta didik untuk menyadari nilai-nilai yang dimilikiny, dan berupaya memfasilitasi mereka agar terbuka wawasan dan perasaannya untuk meiliki dan meyakini nilai yang lebih hakiki, lebih tahan lama, dan merupakan kebenaran yang dihormati dan diyakini secara sahih sebagai manusia yang beradab. Dengan demikian pendidikan tidak cukup hanya mengantar peserta didik pada nilai dirinya, akan terapi harus membimbing mereka untuk meyakini nilai yang paling hakiki, terdalam, dan paling dasar.
Persoalannya bagaimana seseorang mendapatkan dan menentukan hierarki nilainya? Jawabannya tidak mudah, oleh karena itu, John Dewey mengatakan bahwa “persoalan nilai adalah problema metodologis” (Frondizi, 2001, hlm. 30). Apakah seseorang akan tergolong pada kelompok objektif empiris yaitu yang menyesuaikan diri dengan pengalaman. Jadi nilai dan kebernilaian hanyalah semacam kebiasaan yang dialami dalam realitas sebagai hasil pengamalan empiris. Ada persoalan mendasar apabila digunakan metode ini, yaitu tidak aka nada perbaikan moral, karena hukum moral identik dengan kebiasaan tadi, apa yang biasa itulah adanya dan itulah moralitas. Cara kedua menghasilkan nilai dan kebernilaian dengan objektif apriori yaitu meyakini intuisi emosional, yaitu keyakinan ilmu pengetahuan yang tidak dipertanyakan lagi. Jadi kita mengandalkan pada intuisi emosi untuk menghasilkan nilai. Yang jadi persoalan apakah yang harus dilakukan apabila dua golongan yang sempurna tidak menghasilkan hal yang serupa ? Tentu aka nada dua kubu yang sama-sama menyatakan benar dengan dasar keyakinan yang sama sementara menghasilkan nilai yang berbeda. Oleh karena itu apabila subjektif apriori dugunakan, maka kebenaran nilai itu sangat relative.
Dengan demikian, persoalan yang paling mendasar apakah? : Kewajibam kesadaran hukum moral mendahului nilali? (paham Immanuel Kant) bila jawabannya ya, maka cocok dengan paham objektif empiris, atau; apakah nilai mendahului kewajiban dan berlaku sebagai dasar hukum moral? (paham Max Scheller) bila jawabannya ya, maka cocok dengan subjektif apriori.
Yang jelas, dalam dunia pendidikan, kedua cara menghasilkan nilai moral tersebut dapat digunakan, karena pendidikan memandang individu sebagai makhluk yang berpengalaman di satu sisi, dan sebagai individu yang memiliki potensi untuk mencapai kebenaran disisi lain.

5.      Pengertian Nilai
Karena bervariasinya pengertian nilai, sulit untuk mencari kesimpulan yang komprehensif agar mewakili setiap kepentingan dan berbagai sudut pandang, tetapi ada hal yang disepakati dari semua pengertian nilai tersebut, bahwa nilai berhubungan dengan manusia, dan selanjutnya nilai itu penting. Untuk melihat sejauh mana variasi pengertian nilai tersebut, terutama bagaimana hubungan antara setiap pengertian itu dengan pendidikan, di bawah ini akan dikemukakakn sebelas definisi yang diharapkan mewakili berbagai sudut pandang.
1.      Menurut Cheng (1955): Nilai merupakan sesuatu yang potensial, dalam arti terdapatnya hubungan yang harmonis dan kreatif, sehingga berfungsi untuk menyempurnakan manusia, sedangkan kualitas merupakan atribut atau sifat yang seharunya dimiliki. (dalam Lasyo, 1999, hlm. 1)
2.      Menurut Dictionary of Sociology and Related Science; Value ……., the belived capacity of ny object to satisfy human, desire, the quality of any object which causes it to be of interest to an individual or a group. (Nilai adalah kemampuan yang diyakini terdapat pada suatu objek yang menyebabkan tertariknya individu atau kelompok). (dalam Kaelan, 2002, hlm. 174).
3.      Menurut Frankena: Nilai dalam filsafat dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya “keberhargaan” (worth) atau “kebaikan” (goodness) dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaab tertentu dalam menilai atau melakukan penilain. (dalam Kaelan, 2002, hlm. 174)
4.      Menurut Lasyo (1999, hlm. 9) sebagai berikut; Nilai bagi manusia merupakan landasan atau motivasi dalam segala tingkah laku atau perbuatannya.
5.      Menurut Arthur W. Comb: Nilai adalah kepercayaan-kepercayaan yang digeneralisir yang berfungsi sebagai garis pembimbing untuk menyelesaikan tujuan serta perilaku yang akan dipilih untuk dicapai. (dalam Kama A. Hakam, 2000, hlm. 45).
6.      Menurut Jack R. Fraenkel (1977, hlm. 6).  A Value is an idea – a concept – about what someone thinks is important in life. (Nilai adalah gagasan – konsep- tentang sesuatu yang dipandang penting oleh seseorang dalam hidup)
7.      Menurut Charles R. Knikker (1977, hlm. 3) Value is a cluster of attitude which generate either an action or decision to deliberately avoid an action. (Nilai adalah sekelompok sikap yang menggerakkan perbuatan atau keputusan yang dengan sengaja menolak perbuatan).
8.      Menurut Herbert Larry Winecoff (1987, 3. hlm. 1) : Value a set of attitude (scheme) which generate or couse a judgement which guide action or in action (a lack of action) and which provide a standart or a set of principles.
9.      Menurut Dardji Darmodhiharjo (1986, hlm. 36) Nilai adalah yang berguna bagi kehidupan manusia jasmani dan rohami.
10.  Menurut John Dewey dalam Dardji, D, (1986, hlm. 36) : Nilai ialah kualitas objek yang mengangkut jenis apresiai atau minat.
Apabila diklasifikasikan definisi-definisi nilai di atas pada wujudnya, tujuan atau fungsiny, posisinya, serta tingkat kepentingannya maka dapat digambarkan sebagai berikut :
Klasifikasi Pengertian Nilai
No
Wujud
Tujuan/Fungsi
Posisi
Tingka Kepentingan
1
Potensi
Menyempurnakan manusia
Dalam diri
Sangat penting
2
-       Kapasitas keyakinan
-       Kualitas
Memuaskan hasrat manusia

Menyebabkan manusai tertarik
Pada objek

Pada objek
Agak penting

Agak penting
3
Kata benda abstrak
Untuk menilai
Kondisi jiwa
Penting
4
Landasan atau motivasi
Untuk bertingkahlaku
Sesuatu yang abstrak
Sangat penting
5
Keyakinan yang digeneralisir
Pembimbing menyeleksi tujuan atau perilaku
Dalam hati / jiwa
Sangat penting
6
Gagasan – konsep
Memandang sesuatu yang penting dalam hidup
Ide manusia
Agak penting
7
Serangkaian sikap
-      Menggerakkan perilaku atau perbuatan
-      Menolak perbuatan
Sikap manusia
Sangat penting
8
Serangkain sikap
-      Menggerakkan atau menyebabkan pertimbangan
-      Jadi standar atau prinsip
Sikap manusia
Sangat penting
9
Sesuatu
Berguna bagi jasmani dan rohani
Sesuatu (abstrak)
Penting
10
Kualitas
Berhubungan dengan apresiasi atau minat
Objek
Agak penting

Dari klasifikasi di atas, dapat terlihat bahwa pengertian nilai ada yang melihatnya sebagai kondisi psikologi, ada yang memandangnya sebagai objek ideal, ada juga yang mengklasifikasikannya mirip dengan status benda.
Pengertian nilai yang telah dikemukakan oleh setiap pakar pada dasarnya upaya memberikan pengertian secara holistic terhadap nilai, akan tetapi setiap orang tertarik pada bagian-bagian yang “relative belum tersentuh” oleh pemikir lain, sehingga menganggap ada ruang kosong untuk dimasukinya, atau ada bagian yang belum terjelaskan oleh definisi orang lain. Sikap berpikir seperti ini di dalam filsafat bukanlah hal aneh, karena yang diupayakan oleh filsafat adalah mencari hakikat, mencari sesuatu yang belum terpecahkan, oleh karena itu akan berupaya terus menjawab apa yang belum terjawab. Tetapi ada bahayanya, yaitu tatkala keinginan untuk mengisi relung kosong dengan pengertian kita, pada saat itu tanpa disadari kita sering terjerumus pada upaya-upaya mereduksi pengertian utamanya, misalnya terhadap nilai yang kita bahas ini. Oleh karena itu, dalam pengertian-pengertian yang dikemukakakn diatas terjadi pereduksian makna nilai pada kondisi psikologis pada objek ideal dan pada status benda
Upaya mereduksi nilali dengan kondisi psikologis terjadi apabila nilai dihubungkan dengan hal-hal sebagai berikut :
1.      sesuatu yang menyenangkan atau kenikmatan
2.      identik dengan yang diinginkan
3.      merupakan sasaran perhatian.
Karena kesenangan, kenikamatan, keinginan, dan perhatian merupakan kondisi kejiwaan, maka pereduksian nilai dengan kondisi psikologis ini hanya menempatkan nilai sebagai pengalaman pribadi semata. Hal ini bias kita lihat dari definisi-definisi nilai yang dikemukakakan oleh Cheng, Frankena, Arthur W. Comb, Charles Knikker dan H. Larry Winecoff.
Selain mereduksi nilai dengan kondisi psikolgis, ada juga mereduksi nilai dengan “esensi atau ide platonic atau objek ideal” (Frondizi, 2001, hlm.4). Bila nilai direduksi sebagai objek ideal biasanya karena ada kekeliruan antara nilai sebagai sesuatu yang bukan realitas dengan identitas yang menandai esensi. Perbedaan nilai dengan objek ideal akan jelas bila melihat pendapat Husserl (dalam Frondizi, 2001, hlm. 48) sebagai berikut :
1.      objek ideal itu bersifat ideal, sedangkan nilai itu tidal riil
2.      keindahan adalah nilai, sedangkan ide tentang kemudahan adalah objek ideal
3.      keindahan ditangkap melalui emosi, ide tentang keindahan ditangkap melalui intelektual
4.      menurut Lotze nilai itu tidak ada, objek ideal itu ada
objek ideal tidak lain merupakan dunia ide seperti konsep, esensi, entitas matematik, hubungan yang semuanya dunia intelektual bukan dunia emosi. Oleh karena itu apabila orang mendiskusikan tentang estetika atau mendiskusikan criteria lukisan yang indah, tentu lebih banyak melibatkan dunia intelektual dan otomatis akan kurang melibatkan emosi yang sangat dibutuhkan dalam penilaian. Kalau kita ukur definisi-definisi di atas dengan indicator-indikator objek ideal tadi, definisi dari Jack R Fraenkel lah yang paling mendekati objek ideal tersebut.
Pereduksian pengertian nilai dengan status benda terjadi apabila nilai dikacaukan dengan objek material yang menopangnya atau benda yang menyimpan atau mentupinya. Pereduksian nilai denga status benda disebabkan :
1.      kekacauan dimulai dengan kenyataan bahwa nilai tidak ada dalam dirinya sendiri tapi tergantung penopangnya yang biasanya merupakan substansi yang berbadan
2.      kebutuhan adanay penopang bagi nilai menjadikan nilai sebagai eksistensi yang parasitis”
sehingga akibat dua hal tersebut nilai bagaikan kualitas objek atau status objek atau bahkan benda. Definisi yang mengarah pada pereduksian nilai oleh status benda ini terlihat pada pengertian nilai yang dikemukakan oleh John Dewey karena dia sebagai seorang pragmatis melihat nilai dari sudut kepentingannya, hal seperti ini terlihat pula pada definisi yang dikemukakakn oleh Encyclopedia Britanica dan Encyclopedia of Sociology.

6.      Makna Nilai bagi Manusia
Dalam bidang filsafat, upaya untuk mengisi pemikiran yang tidak atau belum dilakukan oleh orang lain adalah biasa, upaya itu dilakukan dalam rangka mengisi ruang-ruang kosong agar mencapai kesempurnaan. Upaya menjelaskan nilai dengan kondisi psikologis, dengan objek ideal dan dengan status benda bukan berarti ingin mengurangi hakikat nilai, akan tetapi mencoba mengisi relung-relung kosong yang belum tersentuh, sehingga dapat menjelaskan sisi nilai yang lain. Yang menjadi persoalan, ketika relung-relung kosong itu diisi sering memperkecil makna nilai yang dijelaskan, sehingga nilai itu seolah-olah hanya merupakan kondisi psikologis, atau hanya merupakan objek idela dan/atau hanya status benda saja, sebenarnya nilai itu dapat dan harus menyentuh seluruhnya, akan tetapi sudt padang yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula. Oleh karena itulah pendefinisian nilai sangat bervariasi. Namun ada yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas, nilai itu penting bagi manusia, apakah nilai itu dipandang dapat mendorong manusia karena dianggap berada dalam diri manusia atau nilai itu marik manusia karena ada di luar manusia yaitu terdapat pada objek, sehingga nilai lebih dipandang sebagai kegiatan menilai.
Dalam hubungan ini pendidikan (ISBD) tidak mempersoalkan dari mana niali tersebut, tetapi lebih memperhatikan pentingnya nilai itu bagi manusia dalam kehidupan oleh individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan. Setiap individu harus memahami nilai dan kebernilaian dirinya, sehingga dia akan menempatkan diri secara bijak dalam pergaulan hidup serta akan mengakui dan bijak terhadap keberadaan nilai dan kebernilain orang lain dalam pergaulan bermasyarakat. Yang penting dalam upaya pendidikan, keyakinan individu pada nilai harus menyentuh sampai hierarki nilai tertinggi, sebab seperti yang diungkapkan oleh Shaller, bahwa :
1.      Nilai tertinggi menghasilkan kepuasan yang lebih mendalam.
2.      Kepuasan jangan dikatakan dengan kenikmatan (meskipun kenikmatan merupakan hasil kepuasan).
3.      Semakin kurang kerelatifan nilai, semakin tinggi keberadaannya, nilai tertinggi dari semua nilai adalah nilai mutlak. (Frondizi, 2001, hlm. 129-130).

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers