Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

Orang mati adalah

Diposkan oleh irfan on Sunday, April 10, 2011


BAB I
PENDAHULUAN

Orang mati adalah hal biasa dan bukan lagi persoalan yang perlu diperdebatkan. Yang jadi masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan kematian, seperti talqin, tahlil, selamatan orang mati dan memberikan pahala bacaan al-Qur’an untuk mayit. Apakah perbuatan ini dibenarkan agama atau justru malah anjuran ? Selamatan orang mati sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Tradisi ini tidak hanya diikuti orang Islam saja, khususnya kaum Sunni yang bergabung dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga dilakukan oleh golongan Kristiani, Hindu, Budha dan Konghucu. Khusus dalam masyarakat Nahdliyyin, selamatan orang mati didahului talqin dan diiringi tahlil. Talqin dan tahlil menjadi satu paket dalam kegiatan ritual selamatan.  
Dalam kesempatan ini Penulis ingin memberikan pemahaman tentang  dasar hukum talqin, selamatan, serta hitungan hari tertentu dalam selamatan orang mati, seperti hari ke-7, ke-40, ke-100 apakah bisa disebut bid’ah ? Semoga kajian ini sedikit banyak  bermanfaat dan menambah pemikiran bagi kita semua.Amin….












BAB II
PEMBAHASAN
       I.            TALQIN
Mentalqin atau menuntun orang yag menjelang mati (sakaratil maut) dengan kalimat tauhid menurut kesepakatan ulama adalah sunnah. Dasarnya adalah anjuran Rasulullah SAW. Beliau berpesan dengan keras agar setiap orang yang beriman dapat mengakhiri hidupnya dengan kalimat tauhid. Saat maut menjemput, usahakan saudara yang sedang sakaratil maut mati dengan mengucapkan kalimat tauhid. Karena itu, kita perlu mendampingi dan menuntunnya supaya ia mati diakhiri dengan kalimat tauhid. Ini adalah talqin sebelum mati dan seluruh umat islam sepakat membenarkannya. Bagaimana dengan talqin sesudah orang yang ditalqini mati? Apakah kita boleh menalqini jenazah dalam kubur? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat.
·         Talqin Sebelum Mati
Hukumnya sunnah. Dasarnya adalah hadits berikut ini :
  “Talqinlah orang yang akan meninggal di antara kalian[14] :  Laa Ilaha Illa Allah.” [HR.Muslim: 916]
Hadits ini dengan tegas menganjurkan kita untuk mentalqin atau menuntun orang yang akan mati (sakaratil maut) dengan kalimat tauhid. Jika kalimat tauhid nafi-itsbat dianggap terlalu panjang, karena mungkin kondisi orang yang ditalqini sudah sangat parah dan segera akan mati, maka bisa juga ditalqin dengan kata Allah…Allah…Allah.
·         Talqin Setelah Mati
Berkenaan dengan hal ini ada dua pendapat :
1.      Memperbolehkan
Menurut ulama madzhab Syafi’I, mayoritas ulama madzhab Hambali, sebagian ulama madzhab Hanafi dan Maliki menghukumi sunnah, berdasarkan riwayat At-Thabrani :
Yang artinya : dari Abi Umamah ra. “Apabila salah seorang di antara saudaramu meninggal dunia dan tanah telah diratakan di atas kuburannya, maka hendaklah salah seorang di antara kamu berdiri di arah kepala, lalu ucapkanlah, ‘Hai Fulan bin Fulanah(nama mayat dan nama ibunya). ‘Sesungguhnya si mayat itu mendengar , namun tidak bisa menjawab. Kemudian ucapkan’ Hai Fulan bin Fulanah.’Sesungguhnya ia duduk. Lalu ucapkan  lagi ‘Hai Fulan bin Fulanah. ’Maka si mayat berkata, ‘Bimbinglah kami, semoga Allah merahmatimu.’ Kemudian katakanlah’ ingatlah apa yang kamu pertahankan saat meninggal dunia berupa kalimat syahadat dan kerelaanmu terhadap Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur’an sebagai panutan.’Sesungguhnya Malaikat Munkar dan Nakir saling berpegangan tangan dan berkata, ‘Ayo pergi. Tidak perlu duduk disisi orang yang diajarkan kepadanya jawabannya.’ Allah lah yang dapat memintai jawaban, bukan malaikat Munkar dan Nakir. Lalu ada seorang laki-laki bertanya :’ Ya Rasulullah, bagaimana jika ibu mayat tidak diketahui?’ Beliau menjawab, sambungkan nasabnya ke Ibu Hawwa.(HR. At-Thabrani).  
Hadits tersebut marfu’. Sekalipun dhaif, tetapi hadits ini boleh diamalkan dalam amal-amal kebaikan(fadha’il a’mal) dan untuk mengingatkan orang-orang mukmin, dan juga mengingat firman Allah SWT
Yang artinya : Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang berfirman.”(QS. Adz Dzariyat: 55)
Dan tentu saja nasehat yang paling dibutuhkan oleh setiap hamba adalah ketika dalam keadaan baru di kebumikan.
Imam Ibnu Taimiyyah dalam fatwa-fatwanya menjelaskan, sesungguhnya talqin sebagaimana tersebut di atas benar-benar dari sekelompok sahabat Nabi saw, bahwa mereka menganjurkan talqin. Di antara mereka Abu Umamah. Imam Ibnu Taimiyah berkata,”Hadits-hadits yang menerangkan, bahwa orang yang ada dalam kubur itu ditanya dan diuji dan perlu didoakan adalah sangat kuat. Oleh sebab itu, talqin berguna baginya, sebab mayat itu dapat mendengar seruan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih:
Yang artinya :
 “Sesungguhnya Nabi SAW bersabda,’Sesungguhnya mayat dalam kubur itu mendengar gesekan sandal-sandal kamu semua.”
“Sesungguhnya beliau bersabda,”Kamu semua tidaklah lebih mendengar apa yang aku ucapkan kepada mereka.”  
2.      Tidak Memperbolehkan
Hal itu karena hadits yang dipakai oleh pendapat yang memperbolehkan tidak shahih dari Nabi SAW, maka mengamalkannya termasuk kebid’ahan dalam agama. Ash-Shan’ani rahimahullah berkata: “Kesimpulan komentar para ulama ahli hadits bahwa hadits ini lemah dan mengamalkannya merupakan kebid’ahan, maka janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang melakukannya.”
Syaikh al-Albani rahimahullah berkomentar: “Hal ini jangan dibantah dengan pendapat yang populer bahwa hadits lemah bisa digunakan dalam fadhail a’mal, karena hal tersebut merupakan kaidah dalam masalah-masalah yang disyariatkan Al-Qur’an dan Sunnah as-Shahihah. Adapun bila tidak demikian maka tidak boleh diamalkan karena itu merupakan syariat dengan hadits lemah. Hendaknya hal ini diperhatikan oleh orang yang menginginkan keselamatan dalam agamanya karena kebanyakan orang lalai.”
Beliau juga mengatakan: “Talqin setelah mati, di samping bid’ah dan tidak ada haditsnya yang shahih, juga tidak ada  faedahnya karena hal itu keluar dari kampung taklif (beban) kepada kampung pembalasan dan mayit tidak menerima peringatan karena peringatan itu bagi orang yang masih hidup.”
v  Pengganti Yang Shahih
Cukuplah bagi kita hadist shahih berikut (yang artinya):
“Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah SAW apabila selesai dari menguburkan mayit, beliau berdiri dan berkata: Mintalah ampunan untuk saudara kalian, dan mintalah ketetapan baginya, karena dia sekarang ditanya.”
    II.            Keluarga Mayit Membuat Makanan(Selamatan)
Tidak bisa dipungkiri selamatan yang pelaksanaannya dikaitkan dengan hitungan hari tertentu secara historis memang ada hubungannya dengan dengan tradisi Hindu. Hubungan itu sebatas pada penggunaan hitungan hari yang sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa khususnya, bukan pada esensi atau tujuan doa. Apalagi dalam penggunaan hitungan hari tidak dimaksudkan sebagai syarat ritual yang wajib diikuti, maka jelas diperbolehkan. Artinya, jika penggunaan adat, seperti hitungan hari-hari tertentu, tidak dimaksudkan sebagai kewajiban agama, maka perayaan doa semacam ini diperbolehkan. Tetapi jika penggunaan hari-hari tertentu itu diyakini sebagai kewajiban agama, maka selamatan yang demikian dilarang. Jadi boleh tidaknya tidak terletak pada hitungan hari, tetapi pada penyikapan batin kita terhadap hitungan hari-hari tertentu itu.
Dengan demikian, dasar hukum yang dipakai dalam selamatan yang disesuaikan dengan hari-hari tertentu adalah adat atau tradisi masyarakat setempat. Dalam suatu Kaidah Ushuliyah disebutkan(yang artinya)
“Adat atau kebiasaan masyarakat setempat dapat dijadikan sumber hukum selama tidak bertentangan dengan syari’ah.”    
Artinya, adat yang bisa dipakai sebagai pijakan perumusan hukum diletakkan dalam kerangka sumber hukum Islam utama, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Jadi, bukan adat itu sendiri yang dijadikan sumber. Kesesuaian dengan sumber hukum Islam yang utama tidak dalam arti kesesuaian secara redaksional atau makna dhahir, tetapi dengan prinsip dan esensi hukum Islam.
Yang jadi masalah dalam perayaan selamatan orang mati yang sudah menjadi tradisi ini adalah menguras tenaga, dana, dan menyita banyak waktu. Maka tidak aneh jika model selamatan ini sering dikritik oleh banyak pihak, bahkan juga oleh orang yang menyukai tahlil. Selamatan yang semacam itu dianggap tidak efektif, pemborosan dan belum tentu mengenai sasaran tepat. Karena itu, kita perlu mencari alternatif lain yang lebih bermanfaat dan sederhana.
 III.            Pahala Bacaan Al-Qur’an Untuk mayit
Menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an dan dzikir kepada orang-orang yang telah meninggal dunia menurut pendapat yang shahih dan terpilih dapat sampai kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, dan mereka dapat menerimanya mungkin berupa penghapusan dosa(ampunan), terangkat derajatnya, cahaya, kesenangan dan pahala-pahala lain menurut anugerah Allah.
Nabi SAW bersabda(yang artinya)
“Bacakanlah Yasin atas orang-orang mati kalian semua”(HR.Abu Dawud dan Ibnu Majah).
 “Yasin adalah jantung Al-Qur’an, tidak membacanya seseorang  yang mencari ridla Allah dan pahala akhirat kecuali Allah mengampuninya, dan bacakanlah Yasin ini atas orang-orang mati kalian semua " (HR.Imam Ahmad)
Ulama tahqiq menjelaskan bahwa sesungguhnya hadits ini adalah am(umum), meliputi bacaan untuk orang yang sedang sekarat dan bacaan untuk orang yang sudah meninggal dunia, dan yang terakhir inilah yang jelas. Di dalam hadits, ada dalil sampainya bacaan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, dan mereka mendapatkan manfaat pahala bacaan tersebut menurut kesepakatan ulama.
        i.            Pendapat 4 Mazhab Utama dalam Masalah Ini
·         Madzhab Al-Hanafiyah
Madzhab Al-Hanifiyah menyebutkan bahwa setiap orang yang melakukan ibadah, baik berupa sedekah, bacaan Al-Quran atau lainnya adalah merupakan amal kebaikan yang menjadi haknya untuk mendapat pahala. Dan juga menjadi haknya pula bila dia menghadiahkan pahala itu untuk orang lain. Dan pahala itu akan sampai kepada yang dihadiahkan.
Dalam kitab Ad-Dur Al-Mukhtar wa Rad Al-Muhtar jilid 2 halaman 243 disebutkan hadits yang menurut mereka shahih:
Yang artinya: Orang yang mendatangi kuburan dan membaca surat Yasin, Allah SWT akan meringankan dosanya pada hari kiamat. Dan baginya pahala sejumlah orang yang meninggal di kuburan itu.
Dalam kitab Fathul Qadir disebutkan hadits berikut ini:
Yang artinya: Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang lewat kuburan dan membaca Qulhuwallahu ahad sebanyak 11 kali, dan dia menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal, dia akan diberikan balasannya sejumlah orang yang mati.
Yang artinya: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ''anhu bahwa nabi SAW ditanya oleh seseorang, "Ya Rasulullah, kami bersedekah untuk orang yang sudah meninggal, juga berhaji untuk mereka. Apakah semua itu akan sampai kepada mereka?" Beliau Rasulullah SAW menjawab, "Ya, sesungguhnya amal itu akan sampai kepada mereka. Mereka sangat berbahagia sebagaimana kalian bergembira bila menerima hadiah hidangan.
·         Madzhab Al-Malikiyah
Secara pendapat resmi madzhab ini menyatakan tidak bisa menerima bila ada bacaan Al-Quran yang dikirimkan pahalanya kepada orang yang sudah mati. Setidaknya, tindakan itu merupakan hal yang dimakruhkan (karahiyah).
Dan itulah juga yang merupakan pendapat Al-Imam Malik rahimahumallah bahwa membacakan Al-Quran buat orang yang sudah wafat itu tidak ada dalam sunnah.
Namun Imam Al-Qarafi dari ulama kalangan madzhab ini agak berbeda dengan imam madzhabnya dan pendapat kebanyakan ulama di dalam madzhab itu. Demikian juga dengan para ulama madzhab ini yang belakangan, kebanyakan malah membenarkan adanya kirim-kiriman pahala kepada orang mati lewat bacaan Al-Quran.
Jadi intinya, masalah ini memang khilaf di kalangan ulama. Sebagian mengakui sampainya pahala bacaan Al-Quran untuk orang yang telah meninggal, sedangkan sebagian lainnya tidak menerima hal itu. Dan perbedaan pendapat ini adalah hal yang amat wajar. Tidak perlu dijadikan bahan permusuhan, apalagi untuk saling menjelekkan satu dengan lainnya.
·         Madzhab Asy-Syafi''i
Madzhab ini menyebukan bahwa semua ulamanya sepakat atas sampainya pahala sedekah kepada orang yang telah wafat. Namun tentang pahala bacaan Al-Quran, memang ada perbedaan pendapat. Sebagian mengatakan sampai dan sebagian mengatakan tidak sampai.
Disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim jilid 7 halaman 95, bahwa Al-Imam Asy-Syafi''i sendiri termasuk mereka yang cenderung mengatakan tidak sampainya pahala bacaan ayat Al-Quran buat orang yang sudah wafat.
Mereka yang mengatakan sampainya pahala bacaan Al-Quran untuk orang mati dalam madzhab ini di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Syarah Al-Minhaj.
·         Madzhab Al-Hanabilah
Ibnu Qudamah rahimahullah, ulama pakar dari kalangan madzhab Hanabilah, dalam kitab Al-Mughni, halaman 758 menuliskan bahwa disunnahkan untuk membaca Al-Quran di kubur dan dihibahkan pahalanya.
Sedangkan menurut sebuah riwayat Imam Ahmad rahimahullah pernah mengatakan bahwa hal itu bid''ah. Tapi dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa kemudian beliau mengoreksi kembali pernyataannya.
Iman Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa mayat akan mendapat manfaat dari bacaan Al-Quran yang dihadiahkan oleh orang yang masih hidup kepada dirinya. Hal itu sebagaimana sampainya pahala ibadah maliyah seperti sedekah, waqaf dan lainnya.
Di dalam kitab fenomenal beliau, Majmu'' Fatawa jilid 24 halaman 315-366 disebukan: Orang-orang berbeda pendapat tentang sampainya pahala yang bersifat badaniyah seperti puasa, shalat dan membaca Al-Quran. Yang benar adalah bahwa semua itu akan sampai pahalanya kepada si mayyit.
Namun beliau mengatakan apabila orang yang membaca Al-Quran itu minta upah, maka pahalanya tidak ada. Sebab sudah dikonversi menjadi uang. Dan karena pahalanya tidak ada, maka apa yang mau dikirimkan? Maka beliau berpendapat, kalau pun mau mengaji kubur, tidak boleh minta upah. Kalau dia minta upah, maka pahalanya malah tidak sampai.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Ar-Ruuh menyebutkan bahwa yang paling utama untuk bisa dihadiahkan kepada mayyit adalah istighfar, sedekah, doa dan haji badal. Sedangkan kiriman pahala bacaan Al-Quran, bila dilakukan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai. Sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji.
Di dalam bagian lain dari kitabnya itu, beliau menyebutkan bahwa disunnahkan ketika membaca Al-Quran untuk mayyit, diniatkan agar pahalanya disampaikan kepada ruhnya, tapi tidak harus dengan melafadzkan niat itu.
      ii.            Pendapat Ahli Bid’ah
Berdasarkan riwayat yang shahih, Rasulullah SAW tidak pernah membaca Al-Qur'an dan menghadiahkan pahalanya kepada para mayit baik mereka itu dari kerabat-kerabatnya ataupun selain mereka.
Andaikata pahalanya sampai kepada mereka tentu beliau akan selalu konsisten melakukannya dan menjelaskannya kepada umatnya agar mereka dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi mayit-mayit mereka sebab sesungguhnya beliau Rasulullah SAW adalah orang yang sangat kasih dan sayang terhadap orang-orang yang beriman.
Para al-Khulafaur Rasyidun dan seluruh shahabat radhiallahu 'anhum yang hidup setelah beliau tetap mengikuti petunjuk beliau dalam masalah ini. Kami tidak mengetahui (berdasarkan literatur-literatur yang dibaca) bahwa ada salah seorang dari mereka yang menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur'an kepada orang lain (mayyit).
Sungguh kebaikan dari seluruh kebaikan adalah dengan cara mengikuti petunjuk beliau Rasulullah SAW dan petunjuk para al-Khulaur Rasyidun dan seluruh shahabat radhiallahu 'anhum sesudah beliau, sedangkan kejelekan dari seluruh kejelekan adalah dengan cara mengikuti bid'ah-bid'ah dan urusan-urusan yang mengada-ada dalam agama sebab Rasulullah SAW telah memperingatkan hal tersebut dengan sabdanya, "Berhati-hatilah terhadap urusan-urusan yang mengada-ada dalam agama, karena sesungguhnya setiap urusan yang mengada-ada (dalam agama tersebut) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat" Dan sabda beliau yang lain, "Barangsiapa yang berbuat sesuatu yang baru (mengada-ada) dalam urusan kami ini (agama); sesuatu yang bukan berasal darinya maka hal itu adalah ditolak".
Maka berdasarkan hadits-hadits tersebut, tidak boleh membaca Al-Qur'an buat mayit dan tidak sampai pahala bacaannya kepada mereka bahkan hal itu termasuk bid'ah.
Adapun mengenai bentuk ibadah-ibadah yang lain, maka bila ada diantaranya yang berdasarkan kepada dalil yang shahih bahwa pahalanya sampai kepada mayit maka wajib menerimanya seperti bersedekah untuknya (mayyit), mendoakannya dan menghajikannya. Sedangkan bila (diantaranya) tidak berdasarkan kepada dalil yang shahih maka hal itu tidak masyru' (disyari'atkan) hingga ada dalil yang membolehkan/mensyari'atkannya.
Maka berdasarkan hal ini (ditegaskan lagi) bahwa tidak boleh membaca Al-Qur'an buat mayyit dan tidak sampai pahala bacaannya kepada mereka menurut pendapat ulama yang paling shahih dari dua pendapat yang ada, bahkan hal itu termasuk bid'ah.
















BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat kami simpulkan :
1)      Bahwasannya talqin sebelum mati(sakaratul maut) diperbolehkan tanpa ada perbedaan pendapat. Sedang talqin sesudah mayit dikuburkan terdapat perbedaan pendapat.
2)      Selamatan/keluarga mayit membuat makanan yang biasanya dilaksanakan pada hari ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 diperbolehkan. Artinya, jika penggunaan adat, seperti hitungan hari-hari tertentu, tidak dimaksudkan sebagai kewajiban agama, maka perayaan semacam ini diperbolehkan. Tetapi jika penggunaan hari-hari tertentu itu diyakini sebagai kewajiban agama, maka selamatan yang demikian dilarang. Jadi boleh tidaknya tidak terletak pada hitungan hari, tetapi pada penyikapan batin kita terhadap hitungan hari-hari tertentu itu.
3)      Untuk bacaan Al-Qur’an yang pahalanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal terdapat perbedaan pendapat. Akan tetapi mayoritas ulama menyatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an yang diberikan kepada orang yang sudah meninggal pahalanya dapat sampai kepada orang yang meninggal tersebut.








DAFTAR PUSTAKA
Ø  Arief, Romly. Kajian ASWAJA  Doktrin, Sejarah dan Pemikiran.Jombang: Unhasy Press.2009
Ø  Abidin, Zainul. Jawaban Praktis Aqidah ASWAJA. Tuban: LTN Kesan Langitan. 2007
Ø  http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkonsultasi&id=3126

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers