Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** The Hack3r *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

makalah pembagian aliran tasawuf

Diposkan oleh irfan on Sabtu, Desember 18, 2010


BAB I
PENDAHULUAN
Tasawuf terbagi menjadi beberapa aliran, seperti tasawuf akhlaqi, tasawuf irfani dan tasawuf falsafi. Adapula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf ‘Amali, tasawuf Falsafi dan tasawuf ‘Ilmi. Akan tetapi dalam makalah kecil ini hanya akan dibahas secara lebih khusus mengenai tasawuf  falsafi saja.
Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat, sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendekatan-pendekatan filosofis yang sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.Perenungan ketuhanan kelompok sufi dapat dikatakan sebagai reaksi terhadap corak pemikiran teologis pada masa itu. Di sisi lain, para filosof yang bertujuan menjembatani antara agama dengan filsafat, terpaksa menjustifikasi pemikiran-pemikiran mereka dengan al-qur`an dan al-hadits.
Oleh karena itu, penulis memandang perlu mempelajari aliran ini sebagai sebuah perbandingan dengan aliran filsafat lainnya, dengan harapan dapat menemukan kebenaran mengenai tasawuf yang paling sesuai dengan syari`at Islam. Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Apakah pengertian tasawuf falsafi?
2.      Siapakah tokoh-tokohnya yang terkenal beserta gagasan-gagasan mereka mengenai tasawuf falsafi?






BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Menurut at-Taftazani, tasawuf falsafi muncul dengan jelas dalam khazanah Islam sejak abad keenam hijriyah, meskipun tokohnya baru dikenal seabad kemudian.
Tasawuf falsafi tidak bisa hanya dipandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa(dzauq), tetapi tidak dapat pula dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertian yang murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.
Dalam tasawuf falsafi, terdapat pemikiran-pemikiran mengenai bersatunya Tuhan dengan makhluknya, setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur yaitu:
1)      Hulul, merupakan salah satu konsep di dalam tasawuf falsafi yang berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan ke dalam diri manusia. Paham hulul ini disusun oleh Al-Hallaj.
2)      Wahdah Al-wujud, dapat berarti penyatuan eksistensi atau penyatuan dzat. Sehingga yang ada atau segala yang wujud adalah Tuhan.
3)      Ittihad, kata ini berasal dari kata wahd atau wahdah yang berarti satu atau tunggal. Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan Tuhan, berdasarkan keyakinan bahwa manusia adalah pancaran Nur Illahi. Tokoh pembawa faham ittihad adalah Abu Yazid Al-Busthami.
Itulah kaum sufi falsafi, mereka meyakini bahwasannya alam semesta hanyalah bayangan fatamorgana dan biasan dari zat Allah. Semua yang ada adalah wujud Allah & jelmaan Allah. Jika demikian faktanya, seyogyanya kita merenungi sebuah riwayat, ketika Rasulullah saw. memarahi Umar Ibn al-Khattab ra karena kedapatan membawa sobekan taurat, Rasulullah  bersabda:
مَا هَذَا أَلَمْ آتِ بِهاَ بَيْضَاءَ نَقِيَّةً؟ لَوْ أَدْرَكَنِي أَخِي مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي
Apa yang kamu bawa ini, bukankah aku telah membawa (al-Qur’an) yang jelas dan jernih? Kalau seandainya saudaraku Musa as. hidup pada zamanku, tentu beliau tidak akan susah-susah lagi, kecuali mengikutiku.” (HR. Al-Amidi)
Dalam hadits ini dapat dipahami, umat Muhammad saw wajib mengikuti tuntunan Rasulullah saw dan al-Quran. Artinya umat Islam dilarang mengambil sumber pemikiran dari peradaban lain jika perkara tersebut sudah terdapat dalam sumber hukum Islam. Karena itu, dari aspek sumber pemikiran, tasawuf falsafi seringkali dianggap melakukan kesalahan, karena mengambil sumber teori tasawuf dari filsafat non-islam, meskipun para tokohnya  pada akhirnya selalu mencoba menjustifikasi teori falsafinya dengan dalil qur`an atau hadits.
Objek yang menjadi perhatian para tasawuf falsafi adalah:
1.      Latihan rohaniyah dengan rasa, intuisi, serta instrospeksi diri. Mengenai latihan rohaniah adalah dengan tahapan maqam maupun keadaan (hal), rohani serta rasa (dzauq).
2.      Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat-sifat robbani. Mengenai iluminasi ini para sufi dan juga filosof tersebut melakukan latihan rohaniah dengan menggairahkan roh dengan jalan menggiatkan dzikir, karena menurut mereka dengan dzikir jiwa dapat memahami hakikat realitas-realitas.
B. Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi
1. Ibn Arabi
Nama lengkap Ibn ‘Arabi adalah Muhamad bin ‘Ali bin Ahmad bin Abdullah Ath-Tha’i Al-Haitimi. Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol pada tahun 560 H. Beliau lahir dari keluarga berpangkat, hartawan, dan ilmuwan. Ia tinggal di Hijaz dan meninggal pada tahun 638H.
Ajaran pertama dari Ibn Arabi adalah tentang wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang merupakan ajaran sentralnya. Wahdat al-wujud ini bukan berasal dari dirinya tetapi dari Ibn Taimiyah yang sekaligus merupakan tokoh yang mengecam keras dan mengkritik ajaran sentral tersebut.
Untuk lebih jelasnya mengenai kritik Ibn Taimiyah atas ajaran Ibn Arabi, terlebih dahulu dapat kita perhatikan pandangan beliau terhadap wahdat al-wujud, menurut Ibn Taimiyah, wahdat al-wujud adalah penyamaan Tuhan dengan alam. Menurut penjelasannya orang-orang yang mempunyai pemahaman wahdat al-wujud mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajibul wujud yang dimiliki oleh khaliq juga mumkinul wujud yang dimiliki oleh makhluk selain itu.
Sedangkan menurut Ibn Arabi, terkait dengan ajaran Ibn Arabi mengenai wahdat al-wujud kita dapat menilai dari penafsirannya terhadap isi Al-quran yang berhubungan dengan wahdat al-wujud diantaranya; “Mahasuci Tuhan yang telah menjadikan segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu itu”.Apabila dilihat dari segi adanya kesamaan antara wujud Tuhan dan wujud alam dan wujud Tuhan bersatu dengan wujud alam, perlu diingat bahwa Ibn Arabi menyebut wujud, maksudnya adalah wujud mutlak, yaitu wujud Tuhan. Adapun Ibn Arabi menggunakan wujud terhadap selain Tuhan yaitu wujud alam, pada hakikatnya wujud tersebut milik Tuhan yang dipinjamkan kepadanya, untuk hal ini Ibn Arabi memberikan contoh berupa cahaya hanya milik matahari, tetapi cahaya itu dipinjamkan kepada para penghuni bumi.
Dari pengertian tersebut, Ibn Taimiyah telah menilai ajaran sentral Ibn Arabi dari aspek tasybihnya saja (penyerupaan Khaliq dengan makhluq), tetapi belum  menilai dari aspek tanzihnya (penyucian khaliq).
Selanjutnya Arabi menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan alam, menurutnya, alam adalah bayangan Tuhan. Oleh karena itu, alam merupakan tempat Tajali dan Mazhar (penampakan) Tuhan. Untuk memperkuat pendiriannya itu, Ibn Arabi merujuk sebuah hadits qudsi: “Aku pada mulanya adalah perbendaharaan yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makluk, lalu, dengan itulah mereka mengenal Aku.”
Dari kutipan-kutipan di atas, jelas sekali bahwa Ibn Arabi masih membedakan antara Tuhan dan alam, dan wujud Tuhan itu tidak sama dengan wujud alam. Meskipun di satu sisi terkesan menyamakan Tuhan dengan alam, di sisi lain ia menyucikan Tuhan dari adanya persamaan. Jadi wahdat al-wujud menurut konsep Ibn Arabi tidak dapat dikatakan sama dengan panteisme, sebab ia masih mengakui bahwa alam ini diciptakan Tuhan dan Tuhan itu di luar alam, sedangkan alam hanya merupakan mazhar-Nya, mazhar asma dan sifat-sifatnya.
Dari konsep wahdat al-wujud Ibn Arabi, muncul dua konsep yang sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep tersebut, yaitu konsep al-hakikat al-muhammadiyyah dan konsep wahdat al-adyan (kesamaan agama).
Penjelasan Ibn Arabi mengenai Haqiqah Muhammadiyyah sebagai emanasi (pelimpahan) pertama dari wujud Tuhan. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa Nur Muhammad itu qadim dan merupakan sumber emanasi dengan berbagai macam kesempurnaan ilmiah dan amaliah yang terealisasikan pada para nabi semenjak Adam sampai Muhammad.
Adapun yang berkenaan dengan  wahdat al-adyan (kesamaan agama), Ibn Arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu, yaitu hakikat Muhammadiyah. Konsekwensinya, semua agama adalah tunggal dan semua itu kepunyaan Allah. Seorang yang benar-benar arif adalah orang yang menyembah Allah dalam setiap bidang kehidupannya. Dengan kata lain, dapat dinyatakan bahwa hendaknya seorang abid memandang apa saja sebagai bagian dari ruang lingkup realitas dzat Tuhan yang tunggal.
2. Al-Jili (1365-1417)
Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili. Ia lahir pada tahun 1365 M di Jilan (Gilan), sebuah provinsi di selatan Kaspia dan wafat pada tahun 1417 M. Nama Al-Jili diambil dari tempat kelahirannya di Gilan. Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari Bagdad. Ajaran Tasawuf Al-Jili:
a. Insan Kamil
Ajaran tasawuf Al-Jilli yang terpenting adalah faham Insan Kamil (manusia sempurna). Menurut Al-Jilli, insan kamil adalah nuskhah atau copy Tuhan, Al-Jilli memperkuatnya dengan hadits; “Allah menciptakan adam dalam bentuk yang Maha Rahman.”
Sebagaimana diketahui, Tuhan memiliki sifat-sifat seperti hidup, pandai, mampu berkehendak, mendengar, dan sebagainya. Manusia (adam) pun memiliki sifat-sifat seperti itu. Lebih lanjut, Al-Jili mengemukakan bahwa perumpamaan hubungan Tuhan dengan insan kamil adalah bagaikan cermin  dimana seseorang tidak akan dapat melihat bentuk dirinya kecuali melihat cermin itu. Selanjutnya ia berpendapat bahwa ketidaksempurnaan manusia disebabkan oleh hal-hal yang bersifat ‘aradhi.
b. Maqamat (al-Martabah)
Al-Jilli dengan filsafat insan kamilnya, merumuskan beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi, yang ia sebut al-martabah (jenjang atau tingkat). Tingkat-tingkat itu adalah:
1)      Islam yang didasarkan pada lima pokok atau rukun dalam pemahaman kaum sufi tidak hanya dilakukan ritual saja, tetapi harus dipahami dan dirasakan lebih dalam.
2)      Iman yakni membenarkan dengan sepenuh keyakinan akan rukun iman, dan melaksanakan dasar-dasar Islam.
3)      Ash-shalah, yakni dengan maqam ini seorang sufi mencapai tingkat ibadah yang terus-menerus kepada Allah dengan penuh perasaan khauf dan raja’.
4)      Ihsan, yakni dengan maqam ini menunjukan bahwa seorang sufi telah mencapai tingkat menyaksikan efek(atsar) nama dan sifat Tuhan, sehingga dalam ibadahnya, ia merasa seakan-akan berada dihadapan-Nya.
5)      Syahadah, seorang sufi dalam maqam ini telah mencapai iradah yang bercirikan; mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih, mengingat-Nya secara terus-menerus, dan meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan pribadi
6)      Shiddiqiyah, istilah ini menggagambarkan tingkat pencapaian hakikat yang makrifat yang diperoleh secara bertahap
7)      Qurbah, maqam ini merupakan maqam yang memungkinkan seorang dapat menampakan diri dalam sifat dan nama yang mendekati sifat dan nama Tuhan.
Namun, satu hal yang kita ketahui bahwa Al-Jilli mengatakan, “Mengetahui dzat yang Maha Tinggi itu secara kasyaf Ilahi, yaitu kamu dihadapan-Nya dan Dia di hadapanmu tanpa hulul dan ittihad. Sebab hamba adalah hamba dan Tuhan adalah Tuhan. Oleh karena itu, tidaklah mungkin hamba menjadi Tuhan atau sebaliknya.” Dengan pernyataan ini, kita pahami bahwa sungguhpun manusia mampu berhias dengan nama dan sifat Tuhan, ia tetap tidak bisa menyamai sifat dan nama-nama-Nya.
3. Ibn Sab’in
Nama lengkapnya Abdul Haqq Ibn Ibrahim Muhamad Ibn Nashr, seorang sufi dan juga filosaof dari Andalusi. Ia di panggil Ibn Sab’in dan digelari Quthbuddin. Dan dilahirkan tahun 614 H(1217/11218M) di kawasan Murcia. Ajaran Tasawuf Ibn Sab’in:
a. Kesatuan Mutlak
Ibn Sab’in menggagas sebuah faham dalam tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan esensialnya sederhana, yaitu wujud adalah satu alias wujud Allah semata. Paham ini lebih dikenal dengan sebutan paham kesatuan mutlak. Dalam paham ini, Ibn Sab’in menempatkan ketuhanan pada tempat pertama. Sebab wujud Allah, menurutnya adalah asal segala yang ada pada masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Sementara wujud materi yang tampak justru dia rujukkan pada wujud mutlak yang rohaniah. Dengan demikian, berarti paham ini dalam menafsirkan wujud bercorak spiritual dan bukan material.
Pemikiran Ibn Sab’in ini mengambil rujukan dari Al-quran, yang diinterpretasikan secara filosofis ataupun khusus. Misalnya firman Allah ”Dia itulah Yang Awal dan Yang Akhir, yang dzahir dan yang Batin.”(Q.S.Al-Hadid ; 3) dan firman-Nya,” tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (Q.S Al-Qashas :28).
b. Penolakan terhadap Logika Aristotelian
Paham tentang kesatuan mutlak telah membuatnya menolak logika Aristotelian. Terbukti dalam karnyanya Budd Al-Arif, ia menyusun suatu logika baru yang bercorak iluminatif, Ibn Sab’in menamakan logika barunya itu dengan logika pencapaian kesatuan mutlak, berbeda dengan kategori logika yang bisa dicapai dengan penalaran, tetapi termasuk tembusan Ilahi yang membuat manusia bisa melihat yang belum pernah dilihatnya maupun mendengar yang belum pernah didengarnya. Dengan demikian logika tersebut bercorak intuitif.
















BAB III
KESIMPULAN
Tasawuf falsafi menurut At-Taftazani muncul dengan jelas dalam khazanah islam abad ke-6 hijriyah meskipun para tokohnya baru dikenal seabad kemudian. Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya yang menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya serta berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.Tasawuf falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketingkatan tasawuf yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu Wahdatul Wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf falsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Adapun tokoh besarnya antara lain: Ibnu Arabi, Al-Jilli, Ibnu Sab`in, dsb.











DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihan, dkk. 2007. Ilmu Tasawuf. Bandung : CV Pustaka Setia
Corbin, Henry. 2002. Imajinasi Kreatif Sufisme Ibn Arabi. Yogyakarta : LKis Yogyakarta
Permadi. 1997. Pengantar Ilmu Tasawuf. Jakarta : Rineka Cipta
Sirajuddin, Abu Bakar. 1993. Wali Sufi Abad 20. Bandung : Penerbit Mizan
Suhrawardi, Syihabuddin Umar. 1998. Awarif Al-Ma’arif. Bandung : Pustaka Hidayah Hamka, Tasawuf- Perkembangan dan Pemurniannya, 1993. Jakarta: PanjimasHarun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, 1995. Jakarta: Bulan Bintang







{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (2) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (4) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (72) BAHASA INGGRIS (104) BAHASA JAWA (6) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (2) BISNIS (68) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (1) CARA BELAJAR SABAR (1) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (13) cerpen (23) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (14) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HUKUM (16) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (18) kurikulum (1) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (29) logo (4) lucu (3) makalah (111) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (6) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikankan (653) pendidkan (40) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (558) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (414) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Pengikut