Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

PEMBAHASAN setan

Diposkan oleh irfan on Sunday, October 31, 2010


BAB I

·         Surat al-A’raf, ayat 200
      
      “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
      Rasulullah saw. Sebagai manusia, tentu saja dapat marah jika kejahilan orang-orang musyrik telah mencapai puncaknya. Apalagi setan yang merupakan musuh abadi manusia, selalu enggan melihat siapapun berbudi pekerti luhur, karena itu Nabi saw. Dan umatnya diingatkan dengan menggunakan redaksi yang mengandung penekanan-penekanan bahwa dan jika engkau benar-benar dibisikkan, yakni dirayu dengan halus dan tipu daya oleh setan dengan satu bisikan, untuk meninggalkan apa yang dianjurkan kepadamu tadi, misalnya mendorongmu secara halus untuk marah maka mohonlah perlindungan kepada Allah, dengan demikian Allah akan mengusir bisikan dan godaan itu serta melindungimu karena sesungguhnya dia maha mendengar termasuk mendengar permohonanmu lagi maha mengetahui apa yang engkau dambakan dan apa yang direncanakan oleh setan.
      Kata (ينزغنّك) terambil dari kata نزغ yang berarti menusuk, atau masuknya sesuatu ke sesuatu yang lain untuk merusaknya. Alat yang dimasukkan kecil bagaikan jarum. Kata ini hanya biasa digunakan dengan pelaku setan. Dari sini ia bias diartikan bisikan halus setan, atau rayuan dan godaannya untuk memalingkan dari kebenaran. Nazagha yang bersumber dari setan itu adalah bisikannya ke dalam hati manusia sehingga menimbulkan dorongan yang negative, dan menjadikan manusia mengalami suatu kondisi psikologis yang mengantarnya melakukan perbuatan yang tidak terpuji.
      Ada beberapa istilah yang digunakan al-Qur’an untuk menggambarkan upaya setan memalingkan manusia dari jalan kebenaran, antara lain :نزغ, همز, مس, وسوسة..
      Menurut Mutawalli al-sya’rowi kata nazagha mengandung makna gangguan, tetapi ada jarak antara subyek dan obyek, antara yang diganggu dan yang mengganggu. Ia berbeda dengan (مس) mas yang memiliki arti menyentuh dengan sangat halus lagi sebentar, sehingga tidak menimbulkan kehangatan bahkan boleh jadi tidak terasa. Kata mas berbeda dengan (لمس) lams yang bukan sekedar sentuhan antara obyek daan subyek tetapi pegangan yang mengambil waktu, sehingga pasti terasa dan menimbulkan kehangatan. Kata lams berbeda juga dengan kata لا مس yang dipahami para ulama’ dengan bersetubuh.1
      Dari kata Nazagha yang digunakan dari ayat di atas terlihat bahwa terhadap Nabi saw. Setan tidak dapat melakukan hubungan dalam bentuk yang sangat dekat sekali. Ada jarak antara beliau dengan setan. Setan takut mendekat, karena kukuhnya pertahanan iman/
      Ada orang-orang yang bertakwa tetapi ketakwaannya tidak mencapai tingkat yang memuaskan. Mereka dapat digoda oleh setan dengan tingkat yang lebih dekat dan berbahaya. Mereka tidak lagi mengalami nazagh, tetapi mas. Di sini setan sudah menyentuh dan tidak ada lagi jarak antara keduanya. Kaau ini juga berkelanjutan, maka mas menanjak pada lams, sehingga mereka mengalami apa yang diistilahkan al-Qur’an.
      
      “yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung”
      Walaupun ketika itu ia belum sepenuhnya dikuasai setan, ia masih dalam keadaan bingung dan bimbang, ini karena lanjutan penjelasan ayat al-An’am itu:
      “dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam”.
(al-An’am:71).
      Kalau lams atau katakanklah jabatan tangan itu sedemikian lama, yang  bersangkutan mengabaikan ajakan teman-temannya itu, sehingga akhirnya ia dan setan akan bergandengan tangan dan ketika itu “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”. (Q.S. al-Mujadilah:19).
      Kalau setan telah menguasai seseorang, lama ia telah masuk ke dalam kelompok setan atau telah menjadi setan-setan manusia. Jangan duga bahwa mereka adalah orang-orang musrik. Tidak! Mereka yang dibicarakan pada ayat di atas, adalah orang yang mengaku sebagai muslim, tetapi bukan muslim yang taaat, sehingga Allah menilai mereka “Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka” (Q.S. al-Mujadilah:14).
      Kembali kepada ayat di atas. Boleh jadi ada yang bertanya : “ bukankah Nabi saw. Telah menyatakan bahwa beliau selamat dari godaan setan, atau bahwa jin beliau telah masuk Islam? Mengapa ayat ini seolah-olah masih menggambarkan bahwa beliau diganggu, sehingga perlu minta perlindungan Allah?
      Jawabannya antara lain adalah bahwa jin beliau telah masuk Islam, tetap masih ada setan-setan lain yang berusaha mengganggu. Dalam sebuah hadis Rasul saw. Menyampaikan kepada para sahabat bahwa:
      Jawabannya antara lain adalah bahwa jin beliau telah masuk islam,tetap masih ada setan – setan lain yang berusaha mengganggu. dalam sebuah hadis, Rasul saw, menyampaikan kepada para sahabat beliau bahwa:”semalam tiba-tiba muncul di hadapanku jin ifrit untuk membatalkan shalatku,maka Allah menganugrahkan aku kemampuan menangakapnya dan akku bermaksut mengikatnya pada salah satu  tiang masjid hingga kalian semua di pagi hari dapat melihatnya .Tetapi aku mengingat ucapan (permohonan) saudaraku (Nabi) sulaiman: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, (Q.S.Shad:35). Berkata perawi hadis “Maka Nabi saw. mengusir (tidak mengikatnya) ,dalam keadaan hina terkutuk “.Ini menujukkan bahwa setan berupaya menggangu beliau.2
      Thabathaba’I menahami perintah ayat di atas sebagai perintah kepada umatnya, sedang ibn asyur memahaminya sebagai salah satu bentuk kesyukuran atas nikmat kerasulan dan ‘ishmah (pemelihara Allah atas beliau,sehingga tidak terjerumus dosa). Ini karena sebagai Nabi, beliau telah dan terus-menerus akan terpelihara dari dosa. Kesyukurannya tersebut – menurut ibn asyur – bertujuan menampakan kebutuhan kepada-Nya ,sehingga pemelihara tersebut dapat berlanjut.Ini serupa dengan istifar yang beliau beliau lakukan – sesuai saddanya – tidak kurang dari tujuh kali sehari semalam.
      Hemat penulis,ayat ini menunjukkan bahwa setan selalu berupaya menggoda dan mencari peluang dari semua manusia,siapa tahu ia tergelincir sehingga dapat menngurangi keberhsilan manusia termasuk para nabi.Ketepeliharaan para nabi dari melakukan pelanggaran terhadap Allah,tidak merenungkan niat setan setan untuk merayu dan menggodanya ,walaupun selalu gagal, karena pertahanan meraka sangat ampuh.
      Penutup ayat di atas Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui bertujuan menekankan kepada Nabi saw. dan siapapun apalagi mereka yang dijahili atau dianiyaya, bahwa Allah mendengar kejahilan dan gangguan, Allah juga mengetahui betapa yang dijahili sakit hati mendengarnya dan betapa ia terdorong untuk membalas. Tetapi penutup ayat ini seakan-akan berkata: kendalikan dirimu, dan serahkan kepada Allah, karena kalau itu sudah di tangann-Nya, maka segala sesuatu pasti berakhir dengan baik.
Al-Fushilat ayat 36      
      “Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” 
      Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan bagaimana cara yang harus ditempuh guna memperoleh kebajikan, antara lain dengan menampik kejahatan dengan kebajikan, serta setelah menjelaskan pula dampak positifnya antara lain beralihnya permusuhan menjadi persahabatan yang kental, kini ayat di atas memberi peringatan tentang hambatan yang mungkin dialami guna memperolehnya serta cara mengatasi hambatan itu. Ayat di atas bagaikan menyatakan; jika engkau berhasil menghadapi kejahatan dengan kebaikan, maka sesungguh itulah yang diharapkan, dan wahai Nabi Muhammad atau siapa pun engkau, jika setan menggodamu dengan suatu godaan, yakni mendorongmu untuk melakukan suatu aktivitas tidak terpuji, misalnya mendorongmu untuk membalas dendam terhadap yang melukai hatimu, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Jangan beri setan kesempatan mengulai upayanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar termasuk mendengar permohonanmu  lagi Maha Mengetahui apa yang dilalukan oleh siapa pun termasuk setan.3
      Kata (ينزغنّك) terambil dari kata  نزغ yang berarti menusuk kulit dengan tangan atau mencambuk dengan cemeti. Ia diartikan juga masuk ke sesuatu untuk merusaknya. Pelaku dari kata ini biasanya adalah setan. Dari sini ia biasa diartikan bisikan halus setan atau rayuan dan godaannya untuk memalingkan dari kebenaran. Nazagha yang bersumber dari setan adalah bisikannya ke dalam hati manusia sehingga menimbulkan dorongan negatif, dan menjadikan manusia mengalami kondisi  psikologis yang mengantarnya melakukan tindakan tidak terpuji. Rujuklah ke QS. Al-A’raf [7]: 200 untuk memahami lebih banyak tentang gangguan setan ini.
      Ayat di atas memerintahkan agar segera memohon perlindungan Allah begitu terasa adanya gangguan. Ini karena jika gangguan itu terus dibiarkan, maka setan akan lebih agresif sehingga melahirkan ide dalam benak yang dapat mendorong nafsu untuk bekerja sama dengan setan sehingga manusia terjerumus. Dengan memohon perlindungan Allah, seseorang diharapkan akan mengingat pesan-pesan-Nya antara lain tentang permusuhan setan dan tipu dayanya, sehingga ini akan sangat membantunya menghindari gangguan itu. Di sisi lain, kemampuan setan mengganggu pada hakikatnya bersumber dari Allah swt., karena itu dengan meminta perlindungan Allah, maka Yang Maha Kuasa itu akan memberi perisai kepada si pemohon sehingga ia terpelihara dari gangguan setan. Ini serupa dengan anjing yang menggonggong ketika Anda berkunjung ke rumah seseorang. Tidak mudah Anda menghentikan gonggongannya, tetapi bila Anda meminta bantuan tuan rumah (pemilik anjing itu) maka dengan sedikit isyarat saja darinya anjing itu segera berhenti menggonggong dan mengganggu Anda.

 
  • Al-NAHL AYAT 98
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾
“Maka apabila engkau membaca al-Qur‘an, maka berta‘awwudzlah kepada Allah dari setan yang terkutuk”
      Ayat-ayat kelompok ini berbicara tentang al-Qur’an, tuduhan kaum musyrikin dan bantahan terhadap ucapan-ucapan mereka tentang kitab suci ini. Memang sepintas tidak terlihat ada hubungan antara uraian ayat ini dengan ayat yang lalu. Beberapa pendapat dikemukakan oleh para pakar. Antara lain al-Biqa’i, lbn ‘Asyur dan Sayyid Quthub, yang pada kesimpulannya menyatakan bahwa ayat-ayat yang lalu menguraikan sekian banyak prinsip dan tuntunan yang antara lain membuktikan bahwa al-Qur’an benar-benar merupakan penjelasan yang sangat sempurna sebagaimana ditegaskan oleh ayat 89 surah ini. Uraian-uraian itu diakhiri dengan anjuran untuk beramal saleh, yang dapat ditemukan sekian rinciannya dalam al-Qur’an, maka di sini diperintahkan untuk membaca dan mempelajarinya. Tetapi karena setan selalu menghalangi manusia dari jalan kebajikan, termasuk membaca dan mempelajari al-Qur’an, maka ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan tentu lebih-lebih lagi umatnya  agar membacanya sambil memohon perlindungan Allah dan godaan setan.
      Ayat ini seakan-akan menyatakan demikianlah al-Qur’an memberi bimbingan menuju kebenaran. Memang setan selalu berusaha menjauhkan manusia dan tuntunan al-Qur’an, maka jika demikian apabila engkau membaca al-Qur‘an, maka berta‘awwudzlah yakni memohonlah dengan tulus perlindungan kepada Allah dengan berkata: “A‘üdzu billahi min asy-syaithan ar-rajim” baik dengan suara yang maupun berbisik, kiranya engkau dihindarkan dari rayuan dan bisikan setan yang terkutuk yakni yang dijauhkan dari rahmat Allah.4
      Kata (فاستعذ) fasta‘idz terambil dan kata (العوذ) al-‘audz yang berarti menuju ke sesuatu untuk menghindar dari ketakutan atau gangguan, baik yang dituju itu makhluk hidup, seperti manusia, atau benda tak bernyawa, seperti benteng atau gunung, lebih-lebih kepada al-Khaliq Allah swt. Maknanya kemudian berkembang sehingga kata tersebut dipahami dalam arti permohonan perlindungan. Kata ini dalam berbagai bentuknya terulang di dalam al-Qur’an sebanyak tujuh belas kali. Enam belas di antaranya tertuju kepada Allah swt., dan sekali — yang dikemukakan dalam konteks kecaman — merupakan permohonan sekelompok manusia kepada jin (baca QS. al-Jinn [72]: 6).
      Kata (قرأت) qara‘ta berbentuk kata kerja masa lampau, yakni telah membaca. Atas dasar itu, sementara beberapa ulama menilai bahwa ayat ini memerintahkan memohon perlindungan Allah dan gangguan setan begitu selesai membaca al-Qur’an. Asy-Sya’rawi yang tidak menolak pengertian ini — walau memilih pendapat lain — menulis bahwa perintah berta‘awwudz itu disebabkan karena setelah Anda membaca al-Qur’an, Anda memperoleh bekal iman dan limpahan cahaya Ilahi serta ada juga sopan santun dan hukum-hukum yang diminta dari Anda untuk Anda laksanakan. Nah, karena itu maka Anda hendaknya memohon perlindungan Allah dari godaan setan, jangan sampai dia merusak bekal dan limpahan cahaya Ilahi yang Anda peroleh itu, atau memalingkan Anda dari pelaksanaan tuntunan sopan santun dan hukum-hukum itu. Demikian asy-Sya’rAwi. Dapat juga ditambahkan bahwa permohonan perlindungan setelah membaca itu termasuk juga memohon agar ibadah membaca al-Qur’an itu tidak disusupi oleh riya dan keinginan mendapat pujian orang.5
      Tafsir Ibnu Katsir 7 Jilid Al Hafidz Ibnu Katsir / Albani Darul Atsar
      Kebanyakan ulama memahami kata (قرأت) qara‘ta dalam arti sedang akan membaca. Memang, tidak sedikit kata yang berbentuk masa lampau yang digunakan al-Qur’an dengan makna beberapa saat sebelumnya. Sebagai contoh firman-Nya:
إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ
      “Apabila kamu telah bangkit untuk shalat, maka basuhlah wajahmu” (QS. al-Ma’ idah [5]: 6). Ayat yang memerintahkan berwudhu ini menggunakan juga bentuk kata kerja masa lampau, tetapi tentu saja— sebagaimana disepakati oleh seluruh ulama — bahwa kewajiban berwudhu bukannya setelah selesai shalat, tetapi sebelumnya, dan dengan demikian kata telah bangkit untuk shalat yang dimaksud adalah akan melaksanakan shalat.
      Perintah memohon perlindungan Allah sebelum membaca al-Qur’an, karena al-Qur’an adalah bacaan sempurna yang jauh berbeda dengan semua bacaan yang lain. Dia adalah firman-firman Allah Yang Maha Suci, sehingga firman-Nya pun Maha Suci. Anda diminta agar menyucikan din lahir dan batin ketika akan membacanya. Cara menyucikan diri secara lahiriah adalah dengan menyingkirkan hadats besar dan kecil yakni berwudhu. Sedang cara menyucikan jiwa adalah dengan menyingkirkan penyebab kekotorannya yaitu setan. Nah, yang ini ditempuh dengan memohon perlindungan Allah. Di sisi lain, ketika membaca al-Qur’an Anda dituntut untuk menghadirkan makna kesucian itu dalam benak Anda, sekaligus menghadirkan keagungan Rasul saw. yang menerima dan menyampaikannya kepada umat manusia. Al-Qur’an juga mengandung tuntunan yang harus dipahami dan dilaksanakan, dan itu memerlukan ketenangan dan keterhindaran dan gangguan, sedang dalam saat yang sama setan selalu berusaha memalingkan manusia dari Allah dan Rasul-Nya serta pemahaman dan pelaksanaan tuntunan-tuntunan-Nya. Menyadari hal itu semua, maka sangat wajar jika sebelum membaca al-Qur’an Anda memohon perlindungan Allah dan godaan dan rayuan setan.
      Thabathabã’i memahami perintah berta‘awwudz di atas adalah selama membaca al-Qur’an. Ayat ini, menurutnya, bermaksud menyatakan “Apabila engkau membaca al-Qur’an, maka mohonlah kepada Allah selama engkau membacanya kiranya Allah melindungimu dan penyesatan setan yang terkutuk. Dengan demikian, permohonan perlindungan itu adalah dalam diri pembaca selama dia membaca. Dia diperintah untuk mewujudkan dalam dirinya permohonan itu selama dia membaca. Adapun ucapan pembaca: A‘udzubillãh min asy-syaithan ar-rajim atau redaksi yang semacamnya, maka itu hanya sebab untuk mewujudkan makna permohonan perlindungan itu dalam jiwa. Bukan itu yang dimaksud, karena Allah di sini berfirman, “Mohonlah perlindungan Allah,” bukannya berfirman, “Katakanlah A‘udzu billah.” Demikian tulis Thabathaba’i.
      Pendapat di atas juga dapat dibenarkan. Firman Allah:
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذا كِلْتُمْ
      “Sempurnakanlah takaran apabila kamu telah menakar” (QS. al-Isra’ [17]:35) juga menggunakan kata kerja masa lampau pada kata telah menakar, dan tenth saja perintah tersebut di samping perintah menyempurnakan alat penakar juga apa yang ditakar, dan penyempurnaan apa yang ditakar itu tentu saja bukan setelah selesainya menakar, tetapi pada saat melakukan takaran.
      Kalau asy-Sya’rawi dan sekian ulama membenarkan pemahaman kata qara‘ta dalam arti akan dan sesudah membaca, maka tidak ada salahnya memahaminya pula seperti pemahaman Thabathaha’i ini. Dan dengan demikian, kita dapat berkata bahwa pembaca al-Qur’an hendaknya memohon perlindungan Allah sebelum membacanya dan terus menerus berupaya mempertahankan permohonan itu saat membacanya dan ketika selesai pun permohonan perlindungan dari setan juga masih dilanjutkan. Itu semua dapat dilaksanakan, sekali dengan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu dan di kali lain dengan terus menciptakan kondisi kejiwaan yang menghalangi kehadiran setan.
      Perintah berta‘awwudz di atas, menurut mayoritas ulama, adalah anjuran dan bukan perintah wajib. Ada juga yang memahaminya sebagai kewajiban, paling tidak sekali seumur hidup, atau ketika membacanya dalam shalat, atau kewajiban dimaksud hanya tertuju kepada Nabi Muhammad saw. Pendapat-pendapat tersebut tidak mempunyai pijakan. Di sisi lain, ucapan ta‘awwudz yang diperintahkan di sini tidak mutlak harus seperti yang populer “A‘udzu billahi min asy-syaithan ar-rajim”, tetapi kalimat apapun yang mengandung permohonan perlindungan. Kendati demikian, yang sebaiknya adalah seperti yang populer itu, apalagi redaksinya sejalan dengan bunyi ayat ini. Dan ada juga riwayat yang menyatakan bahwa demikian itulah redaksi yang diucapkan Nabi saw. 
  • Al-NAHL AYAT 99-100
إنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٩٩﴾ إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ ﴿١٠٠﴾
Sesungguhnya ia tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhan mereka. Kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan orang-orang yang disebabkan olehnya adalah mereka para musyrikin.
      Ayat ini menjelaskan mengapa harus memohon perlindungan Allah dan godaan setan. Seakan-akan ayat ini menyatakan jangan khawatirkan godaan setan selama engkau berlindung dan berserah diri kepada Allah. Jika kamu telah melakukan hal itu dengan penuh keikhlasan, maka Allah akan menjaga dirimu dan setan dan godaannya, karena sesungguhnya ia tidak memiliki kekuasaan yakni pengaruh negatif atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhan Pemelihara dan Pembimbing mereka, sehingga betapapun upaya yang ia lakukan terhadap mereka, setan terkutuk itu tidak akan berhasil. Kekuasaannya berbisik, merayu dan berhasil mempengaruhi hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dengan kesediaannya mendekat kepadanya, mendengar dan memperturutkan bisikan setan dan yang juga berhasil dirayu setan adalah orang-orang yang disebabkan olehnya yakni oleh setan itu teperdaya yakni adalah mereka para musyrikin.
      Kata (سلطان) sulthãn terambil dan kata (السلط) as-salith yang berarti minyak yang digunakan untuk menyalakan lampu semprong. Minyak itulah yang membasahi tali yang ujungnya menyala sehingga lampu mampu menyala. Keterangan atau bukti yang menjelaskan sesuatu dengan terang dan mampu meyakinkan pihak lain dinamai sulthan. Kemampuan boleh jadi atas dasar keterangan yang meyakinkan sehingga diterima dengan hati puas, baik keterangan itu benar adanya maupun berupa penipuan. Kemampuan juga dapat diperoleh atas dasar kekuatan dan kekuasaan yang memaksa. Setan memiliki kemampuan untuk memaparkan aneka cara dan keterangan yang berpotensi memperdaya manusia. Namun kemampuannya hanya dapat berpengaruh kepada orang-orang yang lemah iman, atau tidak beriman sama sekali. Kemampuan setan dapat diibaratkan seperti kuman penyakit yang hanya dapat berdampak buruk terhadap mereka yang tidak memiliki kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh diperoleh melalui pemeliharaan kesehatan dan imunisasi, sedang kekebalan ruhani diperoleh dengan iman dan berserah din kepada Allah swt. Karena itu, kemampuan setan merayu tidak akan berdampak buruk bagi yang memiliki iman dan tawakkal. Ia hanya berdampak buruk atas orang-orang yang lemah ruhaninya, yang tidak memiliki atau rapuh imannya.
      Dengan mengingat Allah swt. dan memohon perlindungan-Nya, manusia akan terhindar dari gangguan setan. Salah satu sifat setan adalah khannas seperti terbaca dalam QS. an-Nas [114]: 4. Sifat ini dari satu sisi mengandung makna ketersembunyian sampai ia mendapat kesempatan untuk membisikkan rayuan dan melancarkan serangannya, dan di sisi lain memberi kesan kelemahannya di hadapan hamba Allah yang siaga menghadapi tipu daya serta menutup pintu-pintu masuk setan ke dalam dadanya. Setan akan melempem dan mundur serta menghilang bila dihadapi dengan dzikir dan permohonan perlindungan kepada Allah swt. sebagaimana Rasul saw.: “Sesungguhnya setan bercokol di hati putra-putri Adam. Apabila ia lengah, setan berbisik; dan apabila ia berdzikir, setan mundur menjauh” (HR. Bukhari melalui Ibn ‘Abbas ra.).
      Dari ayat ini dapat juga dipahami bahwa permohonan perlindungan yang diperintahkan sebelum ini mengandung makna pemantapan iman dan penyerahan diri kepada-Nya, kalau enggan berkata bahwa permohonan tersebut identik dengan iman dan tawakkal. Di sisi lain dapat dicatat bahwa iman dan tawakkal dalam pengertiannya yang sebenarnya merupakan hakikat pengabdian kepada Allah swt. Bukankah Allah berfirman menyampaikan keputusan-Nya kepada setan, bahwa
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ ﴿٤٢﴾
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka; kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat” (QS. al-Hijr [15]: 42). Hamba-hamba-Nya dimaksud itu dilukiskan sifatnya oleh ayat ini dengan orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhan mereka.
      Kata (به) bihi pada firman-Nya: (والذين هم به مشركون) wa alladzina hum bihi musyrikun ada yang memahaminya dalam arti disebabkan olehnya yalai oleh setan. Dengan demikian, penggalan ayat ini menyatakan bahwa kekuasaan setan hanya dapat menyentuh orang-orang yang menjadikannya pemimpin yang disebabkan oleh rayuan scion sehingga mereka menjadi orang-orang musyrik, ini memberi kesan bahwa walau pada mulanya setan hanya menggoda dan merayunya menyangkut kedurhakaan kecil, tetapi rayuan itu meningkat dan meningkat sehingga pada akhirnya yang digoda menjadi orang-orang yang benar telah menjadi musyrik yakni mendarah daging sifat kemusyrikan dalam jiwa dan kelakuannya.
      Ada juga ulama yang memahami kata bihi dalam arti terhadap-Nya sehingga ayat ini melukiskan dua kelompok yang dapat diperdaya oleh setan. Pertama, orang-orang yang menjadikannya pemimpin, dan kedua, orang-orang yang terhadap Allah bersikap musyrik. Kelompok yang pertama belum mencapai tingkat kemusyrikan. Dia bisa saja kaum muslimin yang mengesakan tetapi teperdaya oleh setan, karena ia tidak memiliki kekebalan ruhani.
      Kata (هم) hum/mereka setelah sebelumnya telah ada kata alladzina/orang-orang, berfungsi menekankan kemantapan kemusyrikan mereka, sekaligus mengisyaratkan betapa kuat pengaruh setan dalam kalbu orang-orang musyrik.

 

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers