Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

CONTOH BENCANA ALAM

Diposkan oleh irfan on Sunday, May 23, 2010


GUNUNG BERAPI
Gunung Api atau yang lebih lazim di sebut dengan gunung berapi, merupakan gunung yang masih aktif melakukan aktivitas letusan atau suatu permukaan bumi yang menonjol yang mempunyai kekuatan dari dalam untuk mengeluarkan material yang terkandung di dalamnya yang di sertai dengan awan panas. Letusan gunung api sudah lama dikenal. Penemuan Fosil manusia purba yang tertimbul oleh batuan sisa gunung api yang pernah meletus pada jaman dahulu dapat menjadi suatu bahan bukti akan hal tersebut.
Letusan gunung api merupakan suatu gejala alam yang menakutkan dan amat berbahaya. Kepunahan sekelompok manusia dan kehidupannya pada masa lampau seringkali di sebabkan bencana alam yang hebat, diantaranya gunung api. Hal ini ditunjukkan ditemukannya fosil-fosil manusia purba dan peninggalan- peninggalan zaman purbakala yang tertumpuk batuan dan tanah.
Walaupun gunung api merupakan sumber dari bahaya yang besar, yang merugikan tetapi di lain hal gunung api juga memberi banyak manfaat. Lapukan batuan gunung api mendatangkan kesuburan bagi tanaman. Mineral-mineral yang masih segar yang membawa abu gunung api, seolah-olah merupakan pupuk yang tak henti-hentinya ditabur dari langit. Selain kesuburan tanah, gunung api juga mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia, antara lain;

A. Sebagai tempat wisata

Gunung api mampu menyuguhkan kepada kita keadaan alam yang unik. Topografinya yang menjulang memberikan kepada kita pemandangan yang luas didaerah sekitarnya. Contohnya Gunung Bromo, Matahari terbit disini amat menakjubkan karena dapat dipandang lepas dari ketinggian, lalu dipuncak gunung api kita bisa menyaksikan alam yang gersang, berbatu - batu, alam yang keras. Sangat berbeda dengan pemandangan yang lembut, yang terdapat di sekitarnya. Dikaki dan lereng gunung api lubang kawah yang menganga yang ditingkahi dengan letupan - letupan yang tak kenal henti membuat setiap insan bergetar, bau belerang yang menyeruak kesegaran hawa pegunungan akan memberikan kenangan tersendiri kepada setiap pendaki atau wisatawan.

B. Sebagai Tempat Petualangan

Menjelajahi gunung api memang banyak resiko batuan yang tajam terkadang dapat merenggut nyawa dan itulah tantangan bagi pendakian gunung api. Petualangan digunung api di Indonesia masih memerlukan pengembangan karena masih sering terdengar pemuda - pemuda kita yang tersesat dalam petualangan menjelajahi gunung api antara lain Gunung Gede - Pangrango, Gunung Salak, Gunung Semeru, Gunung Ceremai atau Gunung Slamet seringkali menjadi berita karena telah menelan korban.
Gunung api memang bisa buas bila kita tidak siap berkawan dengannya, bukan saja pengetahuan dan kemampuan fisik yang cukup, tetapi juga lapangannya disiapkan termasuk kebutuhan-kebutuhan berpetualang di gunung api.

C. Sebagai pengobatan dan tempat peninggalan sejarah

Air panas acapkali terdapat disekitar gunung api, oleh karena panas gunung api merambat kedalam air tanah. Dalam perjalannya ke permukaan air yang panas tersebut melarutkan berbagai mineral yang berguna untuk kesehatan. Air panas yang keluar dapat dipergunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit antara lain koreng sampai kolesterol, tetapi sebelum berendam di air panas gunung api harus tetap waspada akan kandungan racun yang ada.
Jumlah gunung api aktif = 129 bh
Jumlah gunung api yang meletus dalam 400 th terahkir = 70 bh
Luas daerah yang terancam = 16.670 km
Jumlah jiwa yang terancam = 5.000.000 orang
Penyebaran Gunung Api di Indonesia
Sumatra : 30 buah
Jawa : 35 buah
Bali dan Nusa Tenggara: 30 buah
Maluku : 16 buah
Sulawesi : 18 buah
Jumlah : 129 buah
Letusan gunung api dapat merubah jalannya sejarah dan mempengaruhi kebudayaan manusia, misalnya Gunung Merapi di Jawa Tengah yang meletus hebat pada tahun 1806, telah memporak - porandakan kerajaan mataram. Semua anggota kerajaan meninggal dunia. Dalam musibah itu dapat mengalihkan letak kerajaan dan menjadikan kerajaan yang baru, demikian letusan Gunung Kelud. Banyak peninggalan kejayaan masa lalu terkubur dalam batuan gunung api, candi - candi banyak di gali di sekitar Gunung Merapi, Gunung Kelud juga merupakan saksi bisu sejarah kerajaan Majapahit.
Selain peranan penting diatas gunung api juga mendorong IPTEK di Indonesia. Penyebaran gunung api di Indonesia merentang sepanjang 700 Km dari Aceh sampai di Sulawesi utara melalui Bukit barisan, Pulau Jawa, Nusa Tenggara dan Maluku.
Sejumlah 129 buah gunung api ini bergantian meletus sepanjang sabuk gunung api ini dan menewaskan hampir 5 juta penduduk yang bermukim di sekitar daerah bahaya. Letusan gunung api dapat berupa awan pijar, bom pijar, pasir, debu dan lahar serta gas - gas beracun.
Pada umumnya suatau daerah yang terancam bahaya gunung api di seluruh Indonesia dapat di perkirakan oleh jawatan Vulkanologi. Berikut jumlah prakiraan jumlah penduduk yang terancam oleh gunung api. Dari gambaran di atas tampak bahwa Pulau Jawa memiliki gunung api terbanyak dan bila hal ini di bandingkan dengan luas Pulau Jawa yang hanya 7 % dari seluruh dataran Indonesia serta jumlah penduduknya yang padat yaitu lebih kurang 70 % dari seluruh penduduk Indonesia, maka dapat di fahami bahwa tingkat bahaya gunung api di Pulau Jawa relatif lebih besar.
Untuk menentukan pemilihan Prioritas pengamatan gunung api di Indonesia dapat di bagi dalam 3 (tiga) golongan yang di dasarkan pada tingkat aktivitasnya, antara lain;
A. Golongan A yaitu gunung api yang pernah meletus atau memperlihatkan kenaikan aktivitas magnetik di hitung sejak tahun 1680, jumlahnya 76 buah.
B. Golongan B yaitu Gunung api yang memperlihatkan aktivitas fumarola tetapi sejak tahun 1600 tidak meletus, jumlahnya 29 buah.
C. Golongan C yaitu Lapangan Solfatara atau fumarola tetapi tidak memperlihatkan bentuk gunung api, jumlahnya 24 buah.
Letusan suatu gunung api dapat menyapu daerah seluas lebih kurang 10 sampai 20 kilometer di sekitarnya. Bahaya lahar bisa mencapai puluhan kilometer dari pusat letusan. Abu gunung api dapat menyebar sejauh ratusan kilometer dan mengancam keamanan penerbangan serta mempengaruhi suhu seluruh muka bumi.
Pada garis besarnya bahaya gunungapi dapat dibagi atas bahaya langsung (Primer) dan bahaya Ikutan (sekunder). Bahaya langsung dapat terjadi karena lemparan batuan seperti lemparan bom, aliran lava, dan hembusan letusan seperti hembusan awan pijar, gas beracun dan pekatnya hujan abu. Bahaya ikutan adalah bahaya yang timbul karena aliran lumpur yang tercampur dengan batuan.

Secara singkatnya ancaman gunung api itu dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :

A. Lava

Lava adalah aliran batuan cair yang meleleh karena suhunya tinggi (sampai 1200 0 C). Lava mengalir melalui lereng dan dapat memcapai beberapa kilometer. Semua benda yang di lalui hancur terbakar. Lava dapat melongsor dan menimbulkan awan pijar serta letusan gas (degasing).

B. Bom Gunung Api

Bom gunung api dapat terlempar dari pusat letusan sejauh radius 10 Km. Bom ini berukuran dari 10 0C lebih sampai ukuran 1/2 atau 2 sampai 3 m; biasanya panas atau pijar dan dapat menimbulkan kebakaran, baik pada rumah maupun hutan.

C. Pasir dan Lapili

Pasir dan lapili adalah lemparan material letusan yang lebih kecil dari bom. Pasir berukuran lebih kecil dari 2 mm sedangkan lapili lebih besar dari pasir sampai berukuran beberapa cm. Selain menghancurkan atap rumah karena bebannya, juga pasir dan lapili dapat menghancurkan hutan dan pepohonan.

BENCANA ALAM ANGIN LONGSOR

Batu-batu raksasa menutupi areal seluas 5 hektare menyusul gempa bumi 7,3 skala richter pada 2 September 2009, puluhan orang terkubur hidup-hidup di Kampung Babakan Caringin, Cikangkareng, Cianjur, Jawa Barat, 07-09-09. ((ANTARA/Jafar))
Cianjur (ANTARA News) – Apa jadinya jika batu-batu raksasa seukuran kulkas dua pintu atau minubus yang beratnya berton-ton jatuh dari bukit setinggi 200an meter dan berjarak sekitar 300 meter dari Anda, mengejar dengan kecepatan yang lebih cepat dari kemampuan Anda berlari?
Tak perlu dijawab memang.
Tetapi bagi warga kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Cianjur, peristiwa itu bukanlah gambaran khayali pikiran. Merekalah yang menjadi korban keberingasan bencana alam Rabu pekan lalu.
Batu-batu raksasa yang semula terbenam dan direkatkan satu sama lain dalam sebuah rangkaian bukit itu ambrol, begitu gempa bumi 2 September berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang paruh selatan Jawa Barat. Cikangkareng dan Cibinong berada di pinggir selatan terjauh provinsi itu.
Bagaikan hasil ledakan sebuah dinamit, bukit di pinggir kampung itu memuntahkan batu-batu besar dalam hitungan detik, berhamburan menghujam, meratakan dan mengubur puluhan rumah, sekaligus membenamkan hidup-hidup puluhan orang yang kebanyakan orang tua, anak-anak, dan wanita.
Padahal, tidak seperti bencana Situ Gintung dan Longsor Girimukti yang terjadi malam hari beberapa bulan sebelumnya, longsor hebat di Cikangkareng itu terjadi siang hari, beberapa detik setelah gempa Jabar mengguncang bumi, Rabu pukul 14.55 WIB pekan lalu.
“Suaranya bagaikan guntur, saya lihat batu besar-besar `racleng`. Saya berlari sekencang mungkin ke arah selatan,” kata Samsudin, 45 tahun, warga Kampung Pamoyanan, yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari berhentinya gerakan masif batu-batu raksasa itu.
“Racleng” merupakan kata bahasa sunda yang berarti bergerak sporadis dalam kecepatan tinggi.
Sampai Minggu (6/9) malam, 40an orang warga dua desa yang berbatasan itu terkubur oleh ribuan ton batu raksasa yang diperkirakan menutupi areal seluas lima hektare.
“41 orang masih terkubur, sedangkan 29 orang meninggal dunia,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cianjur Supardan mengonfirmasikan statistik terakhir longsor batu cadas akibat gempa bumi di daerah itu, Minggu.
Korban tewas terbaru yang ditemukan hari Minggu itu adalah perempuan berusia 35 tahun bernama Nuryani, warga Kampung Babakan Caringin, setelah sehari sebelumnya tim penyelamat menemukan dua mayat sekaligus, yaitu seorang ibu dalam kondisi memeluk bayi berusia tiga bulanan.
Tebing
Korban tertimbun memang terus dicari sampai tujuh hari setelah bencana, sesuai ketentuan UU penanganan bencana, namun tim penyelamat mengaku sulit menemukan lagi korban, mengingat batu-batu raksasa menutupi situs bencana dengan ketinggian hampir enam meter. Kalau pun ditemukan, kondisi mayat sudah tidak utuh lagi.
Ada yang cuma hidungnya, tangannya, kakinya. Saya bahkan tidak kuat melihatnya lama-lama,” kata Supardan.
Pencarian difokuskan di sebuah rawa, yang diyakini tempat sebagian korban terkubur, karena mencari di bawah tumpukan batu sangatlah kecil kemungkinannya, kendati alat-alat berat dikerahkan ke sana.
“Kebanyakan korban ditemukan di sini, tadi pagi saja satu korban lagi ditemukan di sini,” kata Isfar Marja, seorang relawan dari tim yang dikoordinasi sebuah parpol besar di Cianjur.
Kampung Babakan Caringin dan sekitarnya berada di barat rangkaian bukit berbentuk segitiga siku-siku. Bagian timur bukit itu selamat dari reruntuhan batu karena reliefnya landai 45 derajat, tidak seperti di sisi barat.
Karena menempati kawasan bertebing, maka desa itu disebut Cikangkareng yang diambil dari kata “kangkareng” yang berarti tebing batu.
Di punggung dan puncak bukit merentang jalan berkelok yang tampaknya hanya truk-truk pengangkut kayu dan hasil-hasil perkebunan rakyat yang sering lewat sehingga jalan beraspal seadanya itu rusak, tinggal bebatuan.
Hanya beberapa depa dari puncak bukit yang ambrol itu, berdiri sebuah bukit lain yang kondisinya gundul, seperti banyak ditemui di kawasan selatan Cianjur.
Namun, mengutip Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Cianjur Ma`mun Ibrahim, lahan sekitar situs bencana bukan lahan kritis.
Ma`mun enggan mengomentari keluhan sejumlah kalangan, termasuk warga sekitar bencana, bahwa longsor bebatuan raksasa itu ada hubungannya dengan kondisi bukit yang memang sudah rentan. “Itu akibat gempa bumi kok, tidak ada hubungannya dengan kondisi lahan,” katanya berkilah.
Labil
Boleh jadi Ma`mun benar. Gempa bumi memang kuat mengguncang Cianjur dan sekitarnya, tetapi getaran gempa bumi sangat mungkin adalah puncak dari ketidakmampuan bukit segitiga siku-siku itu dalam menyangga bebannya karena tumpukan batu raksasa di dalamnya sudah tidak bisa lagi direkat oleh tanah, akibat berkurangnya resapan air.
“Kondisi tanah di daerah situ memang labil. Kami sudah lama memperkirakan bukti itu akan ambruk, sebelum gempa bumi terjadi,” kata Bahrudin Ali, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) Kabupaten Cianjur atau dulu dikenal Bina Marga.
Ironisnya, posisi bukit runtuh itu terdapat pada hampir semua daerah di Jawa Barat, sementara kawasan mukim seperti Desa Cikangkareng bukanlah satu-satunya di provinsi ini, atau bahkan di seluruh Indonesia. Kawasan-kawasan seperti ini umum rawan bencana.
Mungkin karena alasan itu, pemerintah Provinsi Jawa Barat enggan menyetujui eksploitasi masif daerah selatan Jawa Barat, karena di samping mengancam keselamatan budaya setempat, juga dikhawatirkan merusak lingkungan, mengingat eksploitasi bisnis di daerah kerap tanpa kendali, tanpa mempertimbangkan harmoni alam.
Lebih jauh, gempa disusul longsor cadas di Cikangkareng mengajarkan orang mengenai kewajiban untuk berhati-hati mengelola alam, karena aktivitas ekonomi yang hanya hirau pada untung, laba dan pencapaian materil, telah berulangkali menyengsarakan masyarakat.
Tanah merah yang sudah renggang makin keropos ikatannya karena serapan air merenggang akibat hutan-hutan digunduli, dan saat bersamaan truk-truk menggetarkan tanah yang sudah keropos itu, sehingga gempa bumi mungkin bukan satu-satunya faktor pemicu tragedi di Cikangkareng.
Buktinya, gempa Rabu itu memang besar, tetapi rumah-rumah di selatan Cianjur, dari Sindang Barang sampai Sukanagara, kokoh berdiri. Bahkan, sebagian besar rumah di Desa Pamoyanan yang hanya sepelemparan batu dari Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, umumnya tegak berdiri, karena ada di dataran landai dan agak jauh dari bukit runtuh.
Cikangkareng mungkin merupakan satu dari ratusan longsor hebat yang acap dianggap mululu bencana alam tetapi sesungguhnya ada andil tangan kotor manusia di dalamnya.
Maka kemudian, bencana itu seolah mengajarkan pada kita bahwa elok-eloklah mengelola alam, berhati-hatilah beradministrasi lingkungan, dan pahamilah alam laksana anatomi tubuh.
“Satu bagian sakit, sakitlah seluruh tubuh,” kata enviromentalis James Lovelock yang kesohor dengan Hipotesis Gaia-nya.


BENCANA LUMPUR LAPINDO
"Penetapan semburan lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo sebagai bencana oleh Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo DPR akan berimplikasi luas, antara lain pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penanggulangan bencana, termasuk soal biaya" (Kompas, 19 Februari 2008).
***
Biasanya yang namanya bencana alam itu ya seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, atau yang sebangsa itu. Disaster yang natural. Disaster yang terjadinya karena faktor God will (skenarionya Sang Penguasa Alam). Lha, kalau bencana itu terjadi karena faktor keteledoran manusia, apa iya disebut bencana alam?
"Enak sekali jadi pengusaha Lapindo", demikian komentar seorang teman. Setelah proyek daripada pengeboran daripada PT Lapindo Brantas Inc. itu menimbulkan bencana karena keteledoran pengusahanya, lalu berlindung di balik TP2LS DPR. Itu artinya, tinggal gelangang colong playu (lari dari tanggung jawab). Tinggal pemerintah yang ngurusi gelangang-nya. Lha, pemerintah ini kok ya mau-maunya ditinggali gelanggang.... Opo pemerintah wis sugih? (apa pemerintah sudah kaya?).
Sejatinya memang bukan persoalan kaya atau belum kaya, punya uang atau belum punya uang, dalam menyelesaikan masalah bencana lumpur Lapindo. Melainkan lebih kepada tanggungjawab moral dan professional pihak pengusahanya.
Jelas-jelas bencana lumpur itu terjadi sebagai akibat dari keteledoran atau kecerobohan pihak pengusaha dalam memenuhi SOP (Standart Operating Prosedure) dalam proses pengeboran. Hal ini sudah banyak dikaji oleh para ahli yang kompeten di bidangnya dan dipublikasi di berbagai media. Maka siapapun tahu siapa yang seharusnya paling bertanggungjawab atas akibat yang ditimbulkan oleh kegagalan itu.
Kini, masalah menjadi meluber seperti luberannya lumpur Lapindo di Sidoarjo. Bukan lagi menjadi masalah kegagalan teknis yang ditanggungjawabi secara moral dan professional. Melainkan sudah berubah menjadi masalah kegagalan teknis yang ditanggungjawabi secara politis. Dan, sidang paripurna DPR pun menggelar pembahasan ini. Sementara Wapres Jusuf Kalla menegaskan : "Bencana alam atau bukan, itu bukan masalah politis".
Politisasi bencana lumpur Lapindo barangkali hanya masalah ketok palu di DPR. Tapi "implikasinya sangat luas dan tidak ringan", kata ahli hukum tata negara UGM, Denny Indrayana. Sebab, bagaimana menyembuhkan cedera rasa keadilan masyarakat Sidoarjo yang menjadi korban lumpurlah yang sebenarnya paling mendesak diberikan solusi. Bagaimana mempersingkat proses tarik-ulur pemenuhan hak-hak para korban bencana, bukan malah ditarik-tarik terus, enggaaak.... selesai-selesai. Merekalah (mereka masyarakat maksudnya, bukan anggota DPR) yang paling merasakan beban penderitaan akibat bencana Lapindo.
Rasa apatis masyarakat terhadap proyek-proyek padat modal dan padat teknologi seharusnya lebih diutamakan untuk secepatnya diantisipasi. Sebab implikasinya bukan tidak mungkin menumbuhkan rasa tidak percaya masyarakat pada umumnya terhadap proyek-proyek semacam Lapindo, ataupun bentuk-bentuk proyek investasi yang lain. Bagaimana agar kelak masyarakat tidak menjadi trauma dalam menyikapi adanya proyek investasi yang sedang digalakkan pemerintah. Jangan-jangan kalau nanti ada masalah, tidak ada penyelesaian yang adil dan malah merepotkan saja.
***
Bagaimana melihat multiplier effect dari penanganan bencana semacam lumpur Lapindo ini? Mencoba melihat kembali tentang perlunya studi AMDAL bagi setiap proyek investasi (lihat : Keputusan Kepala BAPEDAL No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup), maka sosialisasi kepada masyarakat terhadap proyek yang akan dijalankan adalah salah satu tahap awal yang harus dilakukan.
Apa yang sekarang terjadi ketika tahap sosialisasi itu dijalankan? Masyarakat akan bertanya dengan kritis apa yang akan dilakukan oleh perusahaan atau pengusaha jika terjadi bencana "semacam" lumpur Lapindo. Artinya, efek traumatis masyarakat setiap kali ada proyek investasi di daerahnya nampaknya memang sudah tertanam.
Seorang teman bercerita, kecenderngan masyarakat yang skeptis terhadap adanya proyek investasi nampak dari komentar mereka : "lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya". Itu karena cara penanganan korban lumpur Lapindo selalu menjadi referensi kekhawatiran mereka. Dan, memulihkan atau membalikkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap adanya proyek investasi bukanlah pekerjaan mudah. Tidak semudah membelokkan urusan moral dan professionalisme menjadi urusan politis.
Maka sebenarnya dapat dipahami kalau masyarakat Sidoarjo muring-muring (marah) lalu menjadi sensitif kalau sudah bicara tentang upaya memperjuangkan hak-hak mereka. Juga harus dipahami kalau masyarakat di tempat lain menjadi trauma terhadap proyek-proyek investasi yang sedang digalang pemerintah. Bukan saja terhadap proyek yang padat modal dan padat teknologi yang bersentuhan langsung dengan alam, melainkan juga proyek di berbagai sektor industri.
Bagaimana pemerintah menyikapi bencana (dan rentetan dampaknya) lumpur Lapindo dengan bijaksana dengan memperhatikan kepentingan hak-hak masyarakat yang menjadi korban, dan bagaimana membangun tingkat kepercayaan masyarakat terhadap proyek-proyek investasi lainnya, kiranya perlu lebih dikedepankan. Agar masyarakat sebagai stakeholder sebuah proyek investasi tidak sekedar menjadi penonton, atau peminta sumbangan ketika perayaan 17-an.
Perusahaan adalah pihak yang paling berkewajban memposisikan masyarakat sebagai stakeholder, dan paling bertanggungjawab menyelesaikan jika terjadi masalah. Bukannya malah tinggal gelanggang colong playu itu tadi. Tinggal gelanggang-nya diurus pemerintah dan masyarakatnya yang menjadi korban.
Apakah bencana lumpur (pengeboran) Lapindo lalu tetap diklaim sebagai bencana alam? Apakah bencana (keteledoran) manusia akan dituduhkan sebagai bencana ("keteledoran") alam? Lha, kok nyimut.....

EROSI
Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya.
Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Bagaimanapun, praktek tata guna lahan yang maju dapat membatasi erosi, menggunakan teknik semisal terrace-building, praktek konservasi ladang dan penanaman pohon.
Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran.
Erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang alami, dan baik untuk ekosistem. Misalnya, kerikil secara berkala turun ke elevasi yang lebih rendah melalui angkutan air. erosi yang berlebih, tentunya dapat menyebabkan masalah, semisal dalam hal sedimentasi, kerusakan ekosistem dan kehilangan air secara serentak.
Banyaknya erosi tergantung berbagai faktor. Faktor Iklim, termasuk besarnya dan intensitas hujan / presipitasi, rata-rata dan rentang suhu, begitu pula musim, kecepatan angin, frekuensi badai. faktor geologi termasuk tipe sedimen, tipe batuan, porositas dan permeabilitasnya, kemiringn lahan. Faktor biologis termasuk tutupan vegetasi lahan,makhluk yang tinggal di lahan tersebut dan tata guna lahan ooleh manusia.

Umumnya, dengan ekosistem dan vegetasi yang sama, area dengan curah hujan tinggi, frekuensi hujan tinggi, lebih sering kena angin atau badai tentunya lebih terkena erosi. sedimen yang tinggi kandungan pasir atau silt, terletak pada area dengan kemiringan yang curam, lebih mudah tererosi, begitu pula area dengan batuan lapuk atau batuan pecah. porositas dan permeabilitas sedimen atau batuan berdampak pada kecepatan erosi, berkaitan dengan mudah tidaknya air meresap ke dalam tanah. Jika air bergerak di bawah tanah, limpasan permukaan yang terbentuk lebih sedikit, sehingga mengurangi erosi permukaan. SEdimen yang mengandung banyak lempung cenderung lebih mudah bererosi daripada pasir atau silt. Dampak sodium dalam atmosfir terhadap erodibilitas lempung juga sebaiknya diperhatikan
Faktor yang paling sering berubah-ubah adlah jumlah dan tipe tutupan lahan. pada hutan yang tak terjamah, minerla tanah dilindungi oleh lapisan humus dan lapisan organik. kedua lapisan ini melindungi tanah dengan meredam dampak tetesan hujan. lapisan-lapisan beserta serasah di dasar hutan bersifat porus dan mudah menyerap air hujan. Biasanya, hanya hujan-hujan yang lebat (kadang disertai angin ribut) saja yang akan mengakibatkan limpasan di permukaan tanah dalam hutan. bila Pepohonan dihilangkan akibat kebakaran atau penebangan, derajat peresapan air menjadi tinggi dan erosi menjadi rendah. kebakaran yang parah dapat menyebabkan peningkatan erosi secara menonjol jika diikuti denga hujan lebat. dalam hal kegiatan konstruksi atau pembangunan jalan, ketika lapisan sampah / humus dihilangkan atau dipadatkan, derajad kerentanan tanah terhadap erosi meningkat tinggi.
jalan, secara khusus memungkinkan terjadinya peningkatan derajat erosi, karena, selain menghilangkan tutupan lahan, jalan dapat secara signifikan mengubah pola drainase, apalagi jika sebuah embankment dibuat untuk menyokong jalan. Jalan yang memiliki banyak batuan dan hydrologically invisible ( dapat menangkap air secepat mungkin dari jalan, dengan meniru pola drainase alami) memiliki peluang besar untuk tidak menyebabkan pertambahan erosi.
TSUNAMI
Tsunami (bahasa Jepang: (tsunami). 'Gelombang pelabuhan'; pengucapan bahasa Inggris: / sunami / atau / tsunami /) atau gelombang pasang surut adalah serangkaian gelombang air (disebut gelombang tsunami kereta [1]) yang disebabkan oleh perpindahan dari suatu volume besar dari tubuh air seperti laut atau danau besar. Tsunami adalah sering terjadi di Jepang, sekitar 195 kejadian telah dicatat. [2] Karena besar volume air dan energi yang terlibat, tsunami dapat menghancurkan daerah pesisir. Korban bisa tinggi karena gelombang bergerak lebih cepat daripada manusia dapat berjalan.
Gempa bumi, letusan gunung api dan ledakan bawah air lainnya (ledakan perangkat nuklir di laut), tanah longsor dan gerakan massa lainnya, dampak bolide, dan gangguan lainnya di atas atau di bawah air semua memiliki potensi untuk menghasilkan tsunami.
Para sejarawan Yunani Thucydides adalah orang pertama yang berhubungan tsunami untuk gempa bumi bawah laut, [3] [4] tetapi pemahaman tentang alam tsunami tetap ramping sampai abad ke-20 dan merupakan subjek penelitian yang sedang berlangsung. teks awal geologi, geografi, dan oseanografi Banyak lihat tsunami sebagai "gelombang laut seismik."
Beberapa kondisi meteorologi, seperti depresi mendalam yang menyebabkan badai tropis, dapat menghasilkan gelombang badai, yang disebut meteotsunami, yang dapat meningkatkan pasang surut beberapa meter di atas tingkat normal. perpindahan berasal dari tekanan udara rendah di pusat depresi. Seperti badai lonjakan ini mencapai pantai, mereka mungkin mirip (walaupun tidak) tsunami, menggenangi daerah luas tanah. Seperti gelombang badai terendam Burma (Myanmar) pada Mei 2008.

Etimologi "Tsunami"

Istilah tsunami berasal dari Jepang, yang berarti "pelabuhan" (Tsu, ) dan "gelombang" (Nami, ). (Untuk jamak, satu baik dapat mengikuti praktek bahasa Inggris biasa dan menambahkan s, atau menggunakan jamak invariabel seperti di Jepang. [5])
Tsunami kadang-kadang disebut sebagai gelombang pasang surut. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini telah jatuh dari nikmat, terutama dalam komunitas ilmiah, karena tsunami sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pasang surut. Istilah populer sekali berasal dari penampilan mereka yang paling umum, yaitu bahwa dari pasang surut yang luar biasa tinggi membosankan. Tsunami dan pasang surut baik menghasilkan gelombang air yang bergerak ke pedalaman, tetapi dalam kasus tsunami pedalaman gerakan air jauh lebih besar dan berlangsung selama jangka waktu lebih lama, memberikan kesan air pasang sangat tinggi. Meskipun arti dari "pasang surut" mencakup "mirip" [6] atau "memiliki bentuk atau karakter" [7] pasang surut, dan istilah tsunami tidak lebih akurat karena tsunami tidak terbatas pada pelabuhan, penggunaan istilah pasang surut gelombang tidak disarankan oleh ahli geologi dan ahli kelautan.
Hanya ada beberapa bahasa lain yang mempunyai kata asli untuk gelombang bencana. Dalam bahasa Tamil, kata tersebut peralai aazhi. Dalam bahasa Aceh, adalah beuna IE atau Alon buluëk [8] (Tergantung pada dialek Perhatikan bahwa dalam bahasa Austronesia sesama Tagalog, bahasa utama di Filipina, Alon berarti "gelombang") Di pulau Simeulue.., Off pantai barat Sumatera di Indonesia, dalam bahasa Defayan kata tersebut semong, sedangkan dalam bahasa Sigulai itu Emong. [9]

Gejala Datangnya Tsunami

Gejala yang mungkin terjadi jika akan datang gelombang tsunami adalah sebagai berikut.[1]
  • Biasanya diawali dengan gempa bumi yang sangat kuat.
  • Bila kamu melihat permukaan air laut turun secara tiba-tiba, waspadalah karena itu tanda gelombang tsunami akan datang.
  • Tsunami adalah rangkaian gelombang. Bukan gelombang pertama yang besar dan membahayakan. Beberapa saat setelah gelombang pertama akan menyusul gelombang yang jauh lebih besar.
 dari pada ribet mending download aja KLIK DISINI

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers