Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

ANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN “PASTU” KARYA OKA RUSMINI

Diposkan oleh irfan on Monday, May 24, 2010

Analisis unsure intrinsic cerpen dari jawapos edisi minggu 17 Januari 2010 yang berjudul PASTU karya Oka Rusmini. Unsur-unsur intrinsik diantaranya yaitu tema, plot, tokoh, latar/setting, sudut pandang dan gaya bahasa. Di sini akan membahas unsur-unsur intrinsik dalam cerpen karya Oka Rusmini yang berjudul Pastu. TEMA Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya satra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantic dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan( Hartoko&Rahmanto, 1986:142). Tema juga unsur intrinsik yang mendasari sebuah cerita, dalam cerpen yang berjudul Pastu ini mengangkat tema mengenai penghianatan cinta. Hal ini dibuktikan dalam paragraf yang terdapat dalam cerpen tersebut, yaitu  Pada paragraf berikut. Di tengah situasi berat seperti itu Pasek diam-diam mulai meayuku. Dia terliaht genit dan menjijikan. Berkali-kali dia menawarkan diri unutk mengantar pulang, menjemput atau mengajak makan siang. Aku tidak melihat keprihatinan di matanya. Lelaki apakah yang telah dikawini sahabatku? Sementara Cok Ratih telah meninggalkan kebangsawanannya, juga hubungan baik dengan keluarganya yang putus, karena dia menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Begitu banyak yang dikorbankan untuk cinta. Semua bermula dari aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia kecantol seorang janda beranak dua. Ibuku, Dayu Westri, stres berat. Dia sering menjerit-jerit tengah malam. Lalu memesan arak. Dia mabuk, muntah, dan akhirnya mati dengan menyilet nadinya dengan pisau tatah milik kakiang, kakekku, ayah ibuku. Seorang lelaki tua yang sangat dihormati. ANALISIS Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (Hartoko & Rahmanto, 1986: 142). Dalam cerpen ini mengangkat tema tentang sebuah cinta yang terhianati. Cinta yang diperjuangkan dan penuh pengorbanan, namun dihianati begitu saja oleh laki-laki yang begitu dicintainya, yang akhirnya menimbulkan akibat yang fatal pada perempuan yang terhianati cintanya. Hal itu sudah dibuktikan dalam paragraf yang terdapat dalam cerpen tersebut. Dalam cerpen ini seringkali menyinggung mengenai sebuah penghianatan cinta yang dialami oleh orang-orang terdekat tokoh utama (sahabat dan juga ibunya), yang menyebabkan tokoh utama meragukan adanya kebahagiaan dalam sebuah perkawinan. Dan hal itulah yang membuatnya betah melajang hingga usianya menginjak 40 tahun. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh orang-orang di sekitar Dayu Cenana (tokoh utama) yakni Cok Ratih (sahabat Dayu Cenana) dan juga Dayu Westri (ibu Dayu Cenana) itu sangat membawa pengaruh dalam kehidupan Dayu Cenana selaku tokoh utama dalam cerpen ini. Yang membuatnya ragu akan adanya kebahagiaan dalam sebuah pernikahan dan juga ia takut untuk dicintai dan mencintai. Karena melihat apa yang dialami oleh sahabatnya dan juga ibunya yang mati secara tragis akibat penghianatan cinta. PEMPLOTAN Cerpen ini menggunakan plot campuran, ada kalanya ceritanya berjalan secara runtut dan kronologis namun suatu ketika dalam cerpen ini menceritakan kejadian pada masa lalu atau sorot balik.  Tahap pengenalan/awal Tahap awal cerita biasanya disebut perkenalan yang umumnya berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya. Misalnya berupa penunjukkan dan pengenalan latar, nama-nam tempat dan suasana alam, waktu kejadian yang garis besarnya berupa deskripsi latar atau setting. Fungsi pokok tahap awal (atau pembukaan) sebuahcerita adalah untuk memberikan info dan penjelasan seperlunya, khususnya yang berkaitan dengan pelataran dan penokohan. Tahap pengenalan dalam cerpen ini pengarang menggambarkan latar tempat peristiwa berlagsung akan tetapi tidak secara detail seperti tidak menyebutkan di kota mana peristiwa tersebut terjadi, seperti dalam paragraf berikut ini pengarang hanya menyebutkan peristiwa tersebut berlangsung di rumah tokoh utama, dengan menggambarkan suasana ruang tamu, ruang makan, ruang tidur dan kamar mandi yang dipenuhi dengan kaca. Buktinya dalam paragraf berikut: Belakangan aku hobi sekali berdiri di depan cermin. Rumah kecilku pun kusulap penuh kaca. Aku senang memandangi diriku melakukan beragam aktivitas. Sambil menonton tubuhku. Di ruang tamu, kupasang kaca besar. Aku bisa menyaksikan tubuhku, tampangku yang bermalas-malasan di sofa sambil minum teh atau kopi, lengkap dengan camilan. Di ruang makan, kupasang juga kaca besar. Aku bisa menonton diriku menghirup juice buah, sambil senam atau yoga. Di kamar tidur lebih parah! Sekeliling dinding kamar kupasangi kaca. Jadi aku suka melihat diriku santai, kadang sampai terkantuk-kantuk. Di kamar mandi justru kaca semua, jadi aku bisa melihat seluruh tubuhku yang telanjang. Ternyata masih indah untuk usia menjelang 40 tahun. Tahap pengenalan tokoh dalam cerpen ini seperti dalam paragraf berikut ini Namanya Cok Ratih, putri satu-satunya dari pemilik hotel di Kuta, Ubud, entah di mana lagi. Yang pasti, sejak mengenalnya, aku pun ikut mapan. Karena Cok Ratih menganggapku sebagai saudara satu-satunya. Bagiku, kehadiran Cok Ratih dalam hidupku, membuat aku percaya bahwa ada hal yang layak dipercaya dalam hidup ini: persahabatan. Dan juga pada paragraf berikut Namaku, Dayu Cenana. Entah bagaimana dan kenapa keluarga besarku memberi nama Cenana, yang berarti kayu cendana. Kupikir nama itulah yang membuat hidupku jadi pelik. Keras. Aku jarang sekali merasa puas dengan apa pun yang telah dan akan kulakukan. Aku mudah patah dan kecewa.  Tahap Tengah Tahap tengah cerita dapat juga disebut dengan tahap pertikaian, menampilkan pertentangan dan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin meningkat, semakin menegangkan. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal yakni konflk yang terjadi dalam diri seorangtokoh, dan konflik eksternal yakni konflik atau pertentangan yang terjadi antar tokoh. Tahap pertikaian yang ditunjukkan dalam cerpen ini adalah seperti yang dibuktikan dalam paragraf berikut: Tiga bulan setelah menikah, Cok Ratih mengalami keguguran hebat. Usia kandungannya hampir tujuh bulan. Pendarahan yang tidak ada hentinya. Satu bulan dia dirawat di rumah sakit khusus. Berkali-kali tidak sadar. Hyang jagat, begitu luar biasanya tubuh perempuan. Hanya untuk memuntahkan seorang manusia begitu sulitnya. Aku menggigil. Kubayangkan tubuhku digelendoti gumpalan daging hidup yang siap memakan seluruh isi tubuhku. Hyang jagat. Hyang jagat!. Di tengah situasi berat seperti itu, Pasek diam-diam mulai merayuku. Dia terlihat genit dan menjijikkan. Berkali-kali dia menawarkan diri untuk mengantar pulang, menjemput atau mengajak makan siang. Aku tidak melihat keprihatinan di matanya. Lelaki apakah yang telah dikawini sahabatku? Sementara Cok Ratih telah meninggalkan kebangsawanannya, juga hubungan baik dengan keluarga besarnya yang putus, karena dia menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Begitu banyak yang dikorbankan untuk cinta. Aku pernah menyiram satu gelas besar wine ke wajah Pasek, ketika dia berusaha memepetkan tubuhnya ke tubuhku ketika acara gala dinner di sebuah perusahaan milik sahabatku. Semua orang menatap mata kami. Aku pun meninggalkan ruangan itu. Yang membuatku makin panas, Pasek menyebar gosip, aku tertarik padanya. Ya, Hyang jagat. Senista itukah aku? Tertarik pada lelaki menjijikkan seperti Pasek? Aku memang lajang, kadang-kadang rindu memiliki kekasih. Tapi, penaglaman hidup mengajarkanku: jangan pernah mengusik dan bermain api dengan lelaki milik perempuan lain. Bagaimana kalau Cok Ratih tahu? Siapa yang akan dipercaya, aku atau suaminya? Aku memejamkan mata. Makin hari, keinginanku untuk kawin, makin jauh.” Kemudian pada paragraf berikut Semua bermula dari aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia kecantol seorang janda beranak dua. Ibuku Dayu Westri, stres berat. Dia sering menjerit-jerit tengah malam. Lalu memesan arak. Dia mabuk, muntah, dan akhirnya mati dengan menyilet nadinya dengan pisau tatah milik kakiang, kakekku, ayah ibuku. Seorang lelaki tua yang sangat dihormati. Dia ahli membuat pratima, benda-benda suci yang disakralkan di pura-pura. Kematian ibu membuat kakiang linglung. Makin hari kesehatannya menurun, aku pun kehilangan kakiang. Lelaki yang pandai menyanyikan kidung-kidung indah itu lebih suka berbicara sendiri, juga menjadi penyendiri. Kakiang pun mati gantung diri di kamarnya.  Tahap Akhir/Tahap Klimaks Tahap akhir disebut juga sebagai tahap peleraian yang menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Bagian ini antara lain berisi bagaimana kesudahan cerita atau menyaran pada hal bagaimanakah akhir dari sebuah cerita. Dan kahir dari cerpen yang berjudul Pastu ini adalah meninggalnya sahabat Dayu Cenana yang secra mengenaskan tanpa diketahui di mana keberadaan suaminya. Dan desa adapt memberinya sanksi mayatnya tak boleh diaben karena sahabatnya, Cok Ratih itu meninggalnya dengan cara bunuh diri. Tahap akhir/ klimaks dalam cerpen ini terdapat dalam paragraf sebagai berikut Sahabatku mati, berkorban untuk cinta. Tanpa pernah mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Lelaki itu tak ada di rumah, bahkan tak pernah tahu istrinya menjerat lehernya dengan tali. Polisi yang menemukan tubuh Cok Ratih telah membusuk. Desa memberinya sanksi, mayatnya tak boleh diaben, karena Cok Ratih mati salah pati, mati bunuh diri. Mati yang salah, menurut konsep agama. Kutelan kegetiran itu. Apakah tuhan tahu? Apa alasan sahabatku yang riang, semangat, menjerat leher dan mengiris nadinya? Apakah tuhan mau mengerti dan menerima alasannya? ANALISIS Dalam sebuah karya fiksi pemplotannya tidak selalu bersifat kronologis. Seperti halnya dalam cerpen ini, ceritanya tidak dimulai dari tahap awal (yang benar-benar awal cerita secara logika). Dalam cerpen ini menggunakan plot sorot balik, flash-back. Mungkin diawal cerita sedikit disinggung mengenai penggambaran tempat kejadian di mana tokoh utama melakukan aktivitasnya yakni penggambaran tempat tinggal tokoh utama dengan menggambarkan suasana ruangan rumahnya yang dipenuhi dengan kaca di hampir setiap ruangnya, namun setelah itu langsung pada tahap pertikaian. Pengenalan tokoh justru terletak pada tengah cerita, setelah pengarang menceritakan apa yang dialami oleh si tokoh tersebut baru kemudian pengarang mengenalkan tokoh tersebut. Cerita ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama menceritakan tentang kehidupan sahabat dari tokoh utama dan bagian kedua menceritakan tentang kehidupan keluarga dari tokoh utama. Mulai dari penghianatan yang dilakukan ayahnya kepada ibunya sehingga ibunya meninggal dan akhirnya kakeknya juga meninggal karena linglung memikirkan anaknya. Dan juga tentang penghianatan yang dilakukan oleh suami sahabatnya, I Made Pasek Wibawa. Dalam tahap pertikaian cerpen ini digambarkan ketika suami sahabatnya, I Made Pasek Wibawa, merayunya. Ketika sang istrinya mengalami keguguran di usia kehamilan yang hampir memasuki tujuh bulan, tidak ada rasa prihatin pada diri suami sahabatnya itu, lelaki itu malah merayunya. Di satu sisi dia merasa prihatin pada sahabatnya yang rela mengorbankan segalanya demi laki-laki yang begitu dicintainya namun lelaki itu malah berpaling ketika sahabatnya sedang mengalami musibah. Di sisi lain dia menyayangkan pilihan sahabatnya yang tidak tepat, apa yang sahabatnya telah lakukan tidak sebanding dengan apa yang dia terima. Begitu pula yang dialami oleh ibunya, yang tak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh sahabatnya. Ayahnya terpikat oleh janda beranak dua ketika ayahnya ditugaskan mengambil spesialis mata yang membuatnya jarang pulang ke rumah sehingga akhirnya terpikat oleh janda tersebut. Dan pada tahap akhir cerita ini yakni akhirnya sang ibu stres dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan bunuh diri dengan memotong nadinya. Begitu pula dengan sahabatnya yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dengan cara menjerat lehernya dengan tali hingga akhirnya sahabatnya pun (Cok Ratih) juga meninggal. Dua orang terdekatnya meninggal denagn cara yang mengenaskan dan keduanya juga meninggal karena sebab yang sama yakni dihianati oleh suaminya, orang yang begitu dicintainya. Disitulah awal mulanya tokoh utama mulai meragukan akan adanya kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Karena melihat kisah hidup yang dialami oleh sahabat dan juga ibunya yang mengalami nasib yang sama, yakni mengalami sebuah penghianatan dan berakhir dengan kematian oleh keduanya, sahabat dan juga ibunya. PENOKOHAN Tokoh cerita (character), menurut Abrams (1981:20) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.  Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita ada tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus sehingga terkesan mendominasi sebagian besar cerita yang disebut dengan tokoh utama, ada juga yang pemunculannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, yang di sebut dengan tokoh tambahan.  Tokoh Utama Tokoh utama merupakan tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam sebuah karya fiksi, bahkan dalam novel-novel tertentu tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam tiap halaman buku cerita yang bersangkutan. Tokoh utama adalah tokoh yang paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Dalam cerpen ini tokoh utamanya adalah Dayu Cenana: orang yang terlalu serius menurut orang-orang, dia juga orang yang mudah patah dan kecewa, terlalu takut untuk dicintai dan juga mencintai sehingga membuatnya terus melajang hingga usianya menjelang 40 tahun. Dia juga orang yang takut melakukan kesalahan, selalu meragukan adanya kebahagiaan dalam pernikahan karena mendengar cerita-cerita yang dialami oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Seperti paragraf berikut: Menurut orang-orang, aku perempuan yang terlalu serius. Bagiku, itu penilaian yang salah. Aslinya aku perempuan yang takut melakukan kesalahan. Karena setiap kesalahan yang kuperbuat akan menimbulkan dampak psikologis yang begitu dalam bagi pertumbuhanku menjadi perempuan. Namaku, Dayu Cenana. Entah bagaimana dan kenapa keluarga besarku memberi nama Cenana, yang berarti kayu cendana. Kupikir nama itulah yang membuat hidupku jadi pelik. Keras. Aku jarang sekali merasa puas dengan apa pun yang telah dan akan kulakukan. Aku mudah patah dan kecewa. Ketika nini mati, aku pun memilih tinggal dan berkarier di luar rumah keluarga besar. Aku tidak pernah menginginkan perkawinan. Aku hanya menginginkan persahabatan yang tulus. Sampai kini aku masih virgin. Memang terdengar kampungan. Tapi, aku menikmati hari-hari yang terus berjalan dan menguras usiaku. Begitulah aku hidup. Dari muda aku tidak tahu rasanya patah hati, memulai mencintai lelaki pun aku takut. Setiap ada lelaki yang mengatakan cinta padaku, aku demam. Seminggu aku migren, apalagi kalau lelaki itu telah kuanggap sahabat baik. Tak ada cinta yang bisa kurasakan. Yang kubutuhkan adalah perhatian yang tulus, teman dialog, juga sesekali bermanja. Bagiku, cinta lelaki dan perempuan sama dengan seks. Aku tak mau hamil, melahirkan anak. Karena aku takut anak yang lahir dari rahimku mengalami nasib seperti aku. Atau jadi lebih buruk! Aku menggigil. Dibunuh oleh pikiran-pikiranku sendiri. Keringat mengalir dari dahi, ketiak dan seluruh tubuh. Dia, Dayu Cenana yang banyak diceritakan dan juga berhubungan dengan tokoh-tokoh lain yang ada di kehidupannya. Seperti yang dibuktikan dalam paragraf berikut ini:  Kemudian dalam paragraf berikut adalah tokoh utama menceritakan tentang orang-orang yang ada disekitarnya dan juga ia terlibat denagn tokoh-tokoh yang lain. Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah tentang sahabatnya, ibunya, nininya bahkan ia juga terlibat langsung dengan orang-orang tersebut: Tiga bulan setelah menikah, Cok Ratih mengalami keguguran hebat. Usia kandungannya hampir tujuh bulan. Pendarahan yang tidak ada hentinya. Satu bulan dia dirawat di rumah sakit khusus. Berkali-kali tidak sadar. Hyang jagat, begitu luar biasanya tubuh perempuan. Hanya untuk memuntahkan seorang manusia begitu sulitnya. Aku menggigil. Kubayangkan tubuhku digelendoti gumpalan daging hidup yang siap memakan seluruh isi tubuhku. Hyang jagat. Hyang jagat!. Di tengah situasi berat seperti itu, Pasek diam-diam mulai merayuku. Dia terlihat genit dan menjijikkan. Berkali-kali dia menawarkan diri untuk mengantar pulang, menjemput atau mengajak makan siang. Aku tidak melihat keprihatinan di matanya. Lelaki apakah yang telah dikawini sahabatku? Sementara Cok Ratih telah meninggalkan kebangsawanannya, juga hubungan baik dengan keluarga besarnya yang putus, karena dia menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Begitu banyak yang dikorbankan untuk cinta. Aku pernah menyiram satu gelas besar wine ke wajah Pasek, ketika dia berusaha memepetkan tubuhnya ke tubuhku ketika acara gala dinner di sebuah perusahaan milik sahabatku. Semua orang menatap mata kami. Aku pun meninggalkan ruangan itu. Yang membuatku makin panas, Pasek menyebar gosip, aku tertarik padanya. Ya, Hyang jagat. Senista itukah aku? Tertarik pada lelaki menjijikkan seperti Pasek? Aku memang lajang, kadang-kadang rindu memiliki kekasih. Tapi, penaglaman hidup mengajarkanku: jangan pernah mengusik dan bermain api dengan lelaki milik perempuan lain. Bagaimana kalau Cok Ratih tahu? Siapa yang akan dipercaya, aku atau suaminya? Aku memejamkan mata. Makin hari, keinginanku untuk kawin, makin jauh. Semua bermula dari aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia kecantol seorang janda beranak dua. Makin hari kesehatannya menurun, aku pun kehilangan kakiang. Lelaki yang pandai menyanyikan kidung-kidung indah itu lebih suka berbicara sendiri, juga menjadi penyendiri. Kakiang pun mati gantung diri di kamarnya. Aku memanggil perempuan tua cantik itu nini, yang berarti nenek. Dari dialah aku belajar banyak tentang semua harus diselesaikan sendiri, tidak boleh mengeluh, tidak boleh menunda pekerjaan, selalu bersyukur pada leluhur, dan yang membuatku berpikir, nini berkali-kali menasehati: menjadi perempuan itu jangan pernah menyakiti perempuan lain. Sekecil apa pun tidak boleh! “Kalau tugeg menyakiti perempuan lain, Hyang Widhi akan memuntahkan seluruh pastu, kutukannya padamu!” kata-katanya selalu terdengar penuh amarah. Makin dewasa aku makin paham arti kata-kataitu. Pengalamanku juga mengajarkan, betapa sakitnya dikhianati. Makanya, aku tidak boleh mengkhianati. Perempuan sudra itulah yang membuatku mandiri. Dia hidupi aku, satu-satunya cucunya dengan cinta yang aneh. Bagiku dia terlalu keras mendidikku. Setelah dia meninggal, baru kusadari, perempuan itulah yang membuatku berani bertanggung jawab pada pilihan-pilihan hidup yang kuambil. Dia yang membiayai sekolahku, karena aji sejak kecantol janda itu tidak pernah pulang lagi. Aku telah kehilangan figur aji pada usia 6 tahun. Kehilangan ibu pada usia 7 tahun, kehilangan kakiang pada usia 8 tahun. Begitu banyak kematian memberi aroma bagi pertumbuhanku sebagai Dayu Cenana. Belum lagi binatang peliharaanku, bunga-bungaku, juga beberapa teman bermain dan sekolahku. Aku tumbuh dari sebuah kematian yang datang hampir setiap tahun. Aku terus dikepung rasa sunyi. Tetapi nini telah membekaliku dengan kehidupan yang setelah kupikir-pikir luar biasa. Aku dibesarkan lahir batin hanya oleh seorang perempuan.  Tokoh Tambahan Tokoh tambahan pemunculannya dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak terlalu dipentingkan, kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, baik secara langsung ataupun tak langsung. Tokoh tambahan dalam cerpen yang berjudul Pastu ini adalah tokoh yang membantu jalannya cerita. 1. Cok Ratih (sahabat Dayu Cenana) Baik hati kepada Dayu Cenana namun ia juga keras kepala, ada juga yang bilang Cok Ratih adalah orang yang egois, ia juga orang yang nekat, mau melakukan apa saja demi keinginannya hingga ia melanggar norma. Dibuktikan dalam paragraf berikut ini: Namanya Cok Ratih, putri satu-satunya dari pemilik hotel di Kuta, Ubud, entah di mana lagi. Yang pasti, sejak mengenalnya, aku pun ikut mapan. Karena Cok Ratih menganggapku sebagai saudara satu-satunya. Bagiku, kehadiran Cok Ratih dalam hidupku, membuat aku percaya bahwa ada hal yang layak dipercaya dalam hidup ini: persahabatan. Kata orang-orang Cok Ratih egois. Bagiku tidak. Dia memberikan apa saja yang dia punya untukku. Cok Ratih mengajari aku berbagi. Hubungan kami terus terjalin begitu erat. Saking eratnya, teman-teman lain mengira ada yang salah dengan hubungan kami. Tapi kecurigaan mereka terbantahkan ketika Cok Ratih terlihat sering menggandeng I Made Pasek Wibawa. Semua orang pun mengira Pasek (begitu aku dan Cok Ratih memanggil lelaki yang punya profesi sebagai dokter itu) akan berbagi cinta. Aku dan Cok Ratih hanya tertawa. Hubungan mereka begitu alot, keluarga besar Cok Ratih menentang hubungan itu. Oarng tuanya jga. Tetapi Cok Ratih nekat. “Hari gini masih ada sekat-sekat manusia. Kasta, derajat, menjijikkan! Hidup kan sudah rumit. Kok masih dibuat rumit?” papar Cok Ratih santai Cok Ratih memang bangsawan. Keluarganya tidak kurang harta, juga tidak kurang martabat. Perempuan itu keras kepala. Akhirnya dia hamil di luar nikah. Terpaksalah orang tuanya mengawinkannya. “Kalau nggak hamil dulu, pasti ortuku nggak setuju,” katanya terkekeh. 2. I Made Pasek Wibawa (suami Cok Ratih, sahabat Dayu Cenana) Suami yang tidak bertanggung jawab, tidak punya rasa prihatin ketika istrinya sedang mengalami musibah, bahkan ia malah menggoda wanita lain yang tak lain itu adalah sahabat istrinya, mudah berpaling kepada wanita lain. Seperti dalam paragraf berikut: Di tengah situasi berat seperti itu, Pasek diam-diam mulai merayuku. Dia terlihat genit dan menjijikkan. Berkali-kali dia menawarkan diri untuk mengantar pulang, menjemput atau mengajak makan siang. Aku tidak melihat keprihatinan di matanya. Lelaki apakah yang telah dikawini sahabatku? Sementara Cok Ratih telah meninggalkan kebangsawanannya, juga hubungan baik dengan keluarga besarnya yang putus, karena dia menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Begitu banyak yang dikorbankan untuk cinta. Aku pernah menyiram satu gelas besar wine ke wajah Pasek, ketika dia berusaha memepetkan tubuhnya ke tubuhku ketika acara gala dinner di sebuah perusahaan milik sahabatku. Semua orang menatap mata kami. Aku pun meninggalkan ruangan itu. Yang membuatku makin panas, Pasek menyebar gosip, aku tertarik padanya. Ya, Hyang jagat. Senista itukah aku? Tertarik pada lelaki menjijikkan seperti Pasek? Aku memang lajang, kadang-kadang rindu memiliki kekasih. Tapi, penaglaman hidup mengajarkanku: jangan pernah mengusik dan bermain api dengan lelaki milik perempuan lain. Bagaimana kalau Cok Ratih tahu? Siapa yang akan dipercaya, aku atau suaminya? Aku memejamkan mata. Makin hari, keinginanku untuk kawin, makin jauh. 3. Dayu Westri (ibu Dayu Cenana) mudah putus asa. Dibuktikan dalam paragraf sebagai berikut: Semua bermula dari aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia kecantol seorang janda beranak dua. Ibuku Dayu Westri, stres berat. Dia sering menjerit-jerit tengah malam. Lalu memesan arak. Dia mabuk, muntah, dan akhirnya mati dengan menyilet nadinya dengan pisau tatah milik kakiang, kakekku, ayah ibuku. 4. Aji (ayah Dayu Cenana) Mudah bepaling dengan wanita lain, tidak tahan dengan godaan wanita walaupun sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Terbukti dalam paragraf berikut: Semua bermula dari aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia kecantol seorang janda beranak dua. 5. Ni Luh Made Ragi (nenek Dayu Cenana) Orang yang sederhana, mandiri, bijaksana (suka menasehati Dayu Cenana), senang melakukan ritual-ritual. Dialah orang yang berpengaruh dalam hidup Dayu Cenana dari dia Dayu Cenana belajar banyak hal. Seperti yang digambarkan dalam paragraf berikut: Aku memanggil perempuan tua cantik itu nini, yang berarti nenek. Dari dialah aku belajar banyak tentang semua harus diselesaikan sendiri, tidak boleh mengeluh, tidak boleh menunda pekerjaan, selalu bersyukur pada leluhur, dan yang membuatku berpikir, nini berkali-kali menasehati: menjadi perempuan itu jangan pernah menyakiti perempuan lain. Sekecil apa pun tidak boleh! “Kalau tugeg menyakiti perempuan lain, Hyang Widhi akan memuntahkan seluruh pastu, kutukannya padamu!” kata-katanya selalu terdengar penuh amarah. Makin dewasa aku makin paham arti kata-kataitu. Pengalamanku juga mengajarkan, betapa sakitnya dikhianati. Makanya, aku tidak boleh mengkhianati. Perempuan sudra itulah yang membuatku mandiri. Dia hidupi aku, satu-satunya cucunya dengan cinta yang aneh. Bagiku dia terlalu keras mendidikku. Setelah dia meninggal, baru kusadari, perempuan itulah yang membuatku berani bertanggung jawab pada pilihan-pilihan hidup yang kuambil. Dia yang membiayai sekolahku, karena aji sejak kecantol janda itu tidak pernah pulang lagi. Aku telah kehilangan figur aji pada usia 6 tahun. Kehilangan ibu pada usia 7 tahun, kehilangan kakiang pada usia 8 tahun. Begitu banyak kematian memberi aroma bagi pertumbuhanku sebagai Dayu Cenana. Belum lagi binatang peliharaanku, bunga-bungaku, juga beberapa teman bermain dan sekolahku. Aku tumbuh dari sebuah kematian yang datang hampir setiap tahun. Aku terus dikepung rasa sunyi. Tetapi nini telah membekaliku dengan kehidupan yang setelah kupikir-pikir luar biasa. Aku dibesarkan lahir batin hanya oleh seorang perempuan. Perempuan tua cantik itu senag sekali melakukan ritual-ritual yang tidak biasa. Mandi bunga setiap purnama, bulan terang, dan penuh. Tidur dengan kain kafan bila dating tilem, bulan mati langit jadi gelap, seolah mati. Selasa-kamis biasanya dia hanya makan nasi putih dan air putih saja. Kadang-kadang di hari tertentu, kajeng kliwon, dia mandikan susuk kondenya, keris, dan batu-batu antik lalu dipakai untuk memandikan aku. Mungkin karena beragam pantangan yang dilakoninya, dia tumbuh makin kuat, makin cantik, dan bagiku dia luar biasa. Perempuan yang sangat menikmati hidupnya dengan kebenaran. “Jadi perempuan itu harus bisa menghormati diri sendiri,” katanya suatu hari sambil menghaluskan batu bata menjadi serbuk. Nini tidak pernah gosok gigi dengan odol. Setiap pagi dia menumbuk bata merah. Juga kumur dengan air garam. Giginya kuat. Kelak, ketika kematian menggiring nini, giginya masih utuh. 6. kakiang (kakek Dayu Cenana): orang yang ahli dalam membuat benda-benda yang disakralkan di pura-pura, poandai menyanyikan kidung-kidung indah, namun ketika anaknya (ibu Dayu Cenana) meninggal dunia ia menjadi linglung, pendiam, dan juga penyendiri. Seperti yang dibuktikan dalam paragraf berikut: kakiang, kakekku, ayah ibuku. Seorang lelaki tua yang sangat dihormati. Dia ahli membuat pratima, benda-benda suci yang disakralkan di pura-pura. Kematian ibu membuat kakiang linglung. Makin hari kesehatannya menurun, aku pun kehilangan kakiang. Lelaki yang pandai menyanyikan kidung-kidung indah itu lebih suka berbicara sendiri, juga menjadi penyendiri. Kakiang pun mati gantung diri di kamarnya.  Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis Jika dilihat dari peran tokoh-tokoh dalam pengembangan plot dapat dibedakan adanya tokoh utama dan tokoh tambahan, dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh protagonist dan tokoh antagonis.  Tokoh Protagonis Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi-yang salah satu jenisnya secara populer disebut hero- tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita (Altenbernd dan Lewis, 1966: 59). Tokoh Protagonis dalam cerpen ini adalah Dayu Cenana Dayu Cenana: orang yang terlalu serius menurut orang-orang, dia juga orang yang mudah patah dan kecewa, terlalu takut untuk dicintai dan juga mencintai sehingga membuatnya terus melajang hingga usianya menjelang 40 tahun. Dia juga orang yang takut melakukan kesalahan, selalu meragukan adanya kebahagiaan dalam pernikahan karena mendengar cerita-cerita yang dialami oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Seperti paragraf berikut: Menurut orang-orang, aku perempuan yang terlalu serius. Bagiku, itu penilaian yang salah. Aslinya aku perempuan yang takut melakukan kesalahan. Karena setiap kesalahan yang kuperbuat akan menimbulkan dampak psikologis yang begitu dalam bagi pertumbuhanku menjadi perempuan. Namaku, Dayu Cenana. Entah bagaimana dan kenapa keluarga besarku memberi nama Cenana, yang berarti kayu cendana. Kupikir nama itulah yang membuat hidupku jadi pelik. Keras. Aku jarang sekali merasa puas dengan apa pun yang telah dan akan kulakukan. Aku mudah patah dan kecewa. Aku pernah menyiram satu gelas besar wine ke wajah Pasek, ketika dia berusaha memepetkan tubuhnya ke tubuhku ketika acara gala dinner di sebuah perusahaan milik sahabatku. Semua orang menatap mata kami. Aku pun meninggalkan ruangan itu. Yang membuatku makin panas, Pasek menyebar gosip, aku tertarik padanya. Ya, Hyang jagat. Senista itukah aku? Tertarik pada lelaki menjijikkan seperti Pasek? Aku memang lajang, kadang-kadang rindu memiliki kekasih. Tapi, penaglaman hidup mengajarkanku: jangan pernah mengusik dan bermain api dengan lelaki milik perempuan lain. Bagaimana kalau Cok Ratih tahu? Siapa yang akan dipercaya, aku atau suaminya? Aku memejamkan mata. Makin hari, keinginanku untuk kawin, makin jauh.  Tokoh Antagonis Tokoh antagonis ialah tokoh penyebab terjadinya konflik dalam sebuah karya fiksi, kebanyakan dibenci oleh penikmat karya fiksi. Tokoh antagonis barangkali dapat disebut, beroposisi dengan tokoh protagonist secara langsung ataupun tak langsung, bersifat fisik ataupun batin. Took antagonis dalam cerpen ini adalah: 1. I Made Pasek Wibawa (suami Cok Ratih, sahabat Dayu Cenana) Suami yang tidak bertanggung jawab, tidak punya rasa prihatin ketika istrinya sedang mengalami musibah, bahkan ia malah menggoda wanita lain yang tak lain itu adalah sahabat istrinya, mudah berpaling kepada wanita lain. Seperti dalam paragraf berikut: Di tengah situasi berat seperti itu, Pasek diam-diam mulai merayuku. Dia terlihat genit dan menjijikkan. Berkali-kali dia menawarkan diri untuk mengantar pulang, menjemput atau mengajak makan siang. Aku tidak melihat keprihatinan di matanya. Lelaki apakah yang telah dikawini sahabatku? Sementara Cok Ratih telah meninggalkan kebangsawanannya, juga hubungan baik dengan keluarga besarnya yang putus, karena dia menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Begitu banyak yang dikorbankan untuk cinta. Aku pernah menyiram satu gelas besar wine ke wajah Pasek, ketika dia berusaha memepetkan tubuhnya ke tubuhku ketika acara gala dinner di sebuah perusahaan milik sahabatku. Semua orang menatap mata kami. Aku pun meninggalkan ruangan itu. Yang membuatku makin panas, Pasek menyebar gosip, aku tertarik padanya. Ya, Hyang jagat. Senista itukah aku? Tertarik pada lelaki menjijikkan seperti Pasek? Aku memang lajang, kadang-kadang rindu memiliki kekasih. Tapi, penaglaman hidup mengajarkanku: jangan pernah mengusik dan bermain api dengan lelaki milik perempuan lain. Bagaimana kalau Cok Ratih tahu? Siapa yang akan dipercaya, aku atau suaminya? Aku memejamkan mata. Makin hari, keinginanku untuk kawin, makin jauh. 2. Aji (ayah Dayu Cenana) Mudah bepaling dengan wanita lain, tidak tahan dengan godaan wanita walaupun sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Terbukti dalam paragraf berikut: Semua bermula dari aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia kecantol seorang janda beranak dua. Ibuku Dayu Westri, stres berat. Dia sering menjerit-jerit tengah malam. Lalu memesan arak. Dia mabuk, muntah, dan akhirnya mati dengan menyilet nadinya dengan pisau tatah milik kakiang, kakekku, ayah ibuku. Seorang lelaki tua yang sangat dihormati. ANALISIS Dalam sebuah karya fiksi, cerpen pastilah ada pelaku yang menjalankan cerita itu. Ada tokoh utama ada tokoh tambahan, ada tokoh protagonis maupun antagonis, itu pasti ada dalam sebuah karya fiksi. Karena pelaku-pelaku atau tokoh-tokoh itulah yang menjalankan ceritanya, yang membuat cerita itu hidup. Tokoh-tokoh inilah yang mengalami peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Dayu Cenana Tokoh ini agaknya menjadi tokoh sentral. Dia menjadi pusat cerita, karena dialah yang lebih banyak muncul juga menceritakan kehidupannya dan orang-orang yang ada disekitarnya dan juga menceritakan tentang kehidupan keluarganya. Cok Ratih (sahabat Dayu Cenana), I Made Pasek Wibawa (suami Cok Ratih), Dayu Westri (ibu Dayu Cenana), Aji (ayah Dayu Cenana), Ni Luh Made Ragi (nenek Dayu Cenana), kakiang (kakek Dayu Cenana) merupakan tokoh tambahan dalam cerpen ini, karena mereka adalah pelengkap dan yang melegkapi jalannya cerita dalam cerpen ini. Yang juga sedikit banyak mempengaruhi kehidupan dari tokoh utama, yaitu Dayu Cenana. Karena kehadiran mereka inilah cerita ini menjadi bervariasi dan berwarna. Mereka juga yang menghadirkan konflik dan mereka pula lah yang mempengaruhi kehidupan tokoh utama, Dayu Cenana, yang selalu meragukan akan adanya kebahagiaan dalam pernikahan yang membuatnya betah melajang hingga usia menjelang 40 tahun karena cerita yang ia dengar dari sahabat dan juga ibunya yang mengalami nasib yang tak jauh berbeda dalam pernikahannya. Sahabatnya juga mewarnai kehidupannya, karena Cok Ratih sahabatnya, Dayu Cenana percaya bahwa ada hal yang layak dipercaya dala hidup ini, yaitu persahabatan. Dari nininya Dayu Cenana banyak belajar tentang kehidupan karena sejak ibunya meninggal karena ajinya berpaling ke wanita lain, Dayu Cenana tinggal bersama nininya, dari situlah ia banyak belajar dan juga dinasehati oleh nininya dalam banyak hal terutama mengenai penghianatan. Karena nininya itu Dayu Cenana menjadi mandiri. Tokoh protagonis adalah Dayu Cenana, ia begitu menyayangi sahabatnya, ia juga tidak tergoda oleh rayuan suaminya ketika Cok Ratih yang sedang mengalami keguguran dan I Made Pasek Wibawa mencoba merayunya, Dayu Cenana tidak tergoda dengan rayuannya ia malah marah kepada suami sahabatnya dan menganggap suaminya itu tidak berperikemanusiaan dan tidak punya rasa prihatin sekali ketika istrinya sedang mengalami musibah. Pasek (suami Cok Ratih, sahabat Dayu Cenana) adalah tokoh antagonis dia yang menimbulkan konflik sejak kemunculannya. Dia yang membuat hubungan keluarga Cok Ratih yang begitu erat menjadi renggang, dan membuat Cok Ratih menentang orang tuanya, kemudian I Made Pasek Wibawa juga yang menyebabkan Cok Ratih memutuskan untuk bunuh diri. Aji, ayah Dayu Cenana juga termasuk tokoh antagonis karena menyebabkan ibu Dayu Cenana yakni Dayu Westri bunuh diri karena cintanya dihianati oleh suaminya yang tergoda dengan wanita lain. Yang kemudian disusul dengan kematian kakek Dayu Cenana. PELATARAN Latar atau setting yang disebut juga landas tumpu, menyaran pada pengertisn tempat, hubungan waktu, dan lingkungan social tempat terjadinya pristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar atau setting dalam cerpen ini adalah sebagaimana yang dijabarkan berikut:  Latar Tempat Latar tempat ini terjadi di rumah tokoh utama yaitu Dayu Cenana, seperti yang digambarkan dalam paragraf berikut: Belakangan aku hobi sekali berdiri di depan cermin. Rumah kecilku pun kusulap penuh kaca. Aku senang memandangi diriku melakukan beragam aktivitas. Sambil menonton tubuhku. Di ruang tamu, kupasang kaca besar. Aku bisa menyaksikan tubuhku, tampangku yang bermalas-malasan di sofa sambil minum teh atau kopi, lengkap dengan camilan. Di ruang makan, kupasang juga kaca besar. Aku bisa menonton diriku menghirup juice buah, sambil senam atau yoga. Di kamar tidur lebih parah! Sekeliling dinding kamar kupasangi kaca. Jadi aku suka melihat diriku santai, kadang sampai terkantuk-kantuk. Di kamar mandi justru kaca semua, jadi aku bisa melihat seluruh tubuhku yang telanjang. Ternyata masih indah untuk usia menjelang 40 tahun. Cerita ini berlatar tempat di salah sebuah kota atau desa yang ada di pulau Bali. Keterangan tempat yang dijabarkan dalam cerpen ini tidak begitu jelas, karena pengarang tidak menyebutkan nama suatau tempat yang jelas, namun dari dialog, adat dan nama-nama pelaku atau tokoh dapat disimpukan bahwa cerita atau peristiwa ini terjadi di sebuah kota atau desa di pulau Bali. Dibuktikan pada paragraf berikut ini” Namanya Cok Ratih, putri satu-satunya dari pemilik hotel di Kuta, Ubud, entah di mana lagi. Yang pasti sejak mengenalnya, aku pun ikut mapan. Karena Cok ratih menganggapku sebagai saudara satu-satunya. Bagiku kehadiran Cok Ratih dalam hidupku, membuat aku percaya bahwa ada hal yang layak dipercaya dalam hidup ini: persahabatan.” Dalam paragraph berikut juga membuktikan bahwa cerita ini terjadi di salah satu tempat di pulau Bali: “Tapi kecurigaan mereka terbantahkan ketika Cok Ratih terlihat sering menggandeng I Made Pasek Wibawa.” “Tinggallah aku dengan nini, perempuan sudra kebanyakan yang dikawini kakiang. Nama asli peempuan itu Ni Luh Made Ragi. Karena menikah dengan kakiang, bangsawan dari kasta tertinggi brahmana, nini berganti nama menjadi Jero Tunjung.” Dalam dialog berikut ini “Kalau tugeg menyakiti perempuan lain, Hyang Widhi akan memuntahkan seluruh pastu, kutukannya padamu!” Dan dalam paragraf berikut “Aku tidak pernah tahu berapa usianya ketika mati. Karena dialah satu-satunya pelingsir, perempuan yang dituakan di griya-ku, mati paling akhir.” “Tak ada upacara ngaben, pembakaran mayat. Hari ini Cok Ratih dititipkan ibu pertiwi, tanah lembab. Tubuh perempuan itu hamper tak kuknali lagi, membengkak dan busuk. Cairan terus menetes dari tubuhnya. Tak ada lagi warna kecantikan di mayatnya. Sudah seminggu dia terbujur kaku di dalam kamar mandi kamar tidurnya. Tanpa diketahui lelakinya, lelaki yang konon dicintainya.” “Desa adat memberinya sanksi mayatnya tak boleh diaben, karena Cok Ratih mati salah pati, mati bunuh diri. Mati yang salah, menurut konsep agama. Kutelan kegetiran itu. Apakah Tuhan tahu? Apa alasan sahabatku yang riang, semangat, menjerat leher dan mengiris nadinya? Apakah tuhan mau mengerti dan menerima alasannya?”  Latar Waktu Latar waktu dalam cerpen ini tampak samar, tidak ditunjukkan secara jelas kapan peristiwa itu terjadi, atau kapan tepatnya pelaku itu mengalami peristiwa itu. Namun dalam cerpen ini pengarang menunjukkan sedikit keterangan waktu seperti dalam paragraph berikut: “Di kamar mandi justru kaca semua, jadi aku bisa melihat seluruh tubuhku yang telanjang. Ternyata masih indah untuk usia menjelang 40 tahun.” Juga paragraf berikut: “Aku telah kehilangan figur aji pada usia 6 tahun. Kehilangan ibu pada usia 7 tahun, kehilangan kakiang pada usia 8 tahun. Begitu banyak kematian memberi aroma bagi pertumbuhanku sebagai Dayu Cenana. Belum lagi binatang peliharaanku, bunga-bungaku, juga beberapa teman bermain dan sekolahku. Aku tumbuh dari sebuah kematian yang datang hampir setiap tahun.”  Latar Sosial Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap dan lain-lain yang tergolong latar spiritual. Seperti yang digambarkan dalam paragrafsebagai berikut: “Tak ada upacara ngaben, pembakaran mayat. Hari ini Cok Ratih dititipkan ibu pertiwi, tanah lembab. Tubuh perempuan itu hamper tak kuknali lagi, membengkak dan busuk. Cairan terus menetes dari tubuhnya. Tak ada lagi warna kecantikan di mayatnya. Sudah seminggu dia terbujur kaku di dalam kamar mandi kamar tidurnya. Tanpa diketahui lelakinya, lelaki yang konon dicintainya.” “Kalau tugeg menyakiti perempuan lain, Hyang Widhi akan memuntahkan seluruh pastu, kutukannya padamu!” Tinggallah aku dengan nini, perempuan sudra kebanyakan yang dikawini kakiang. Nama asli peempuan itu Ni Luh Made Ragi. Karena menikah dengan kakiang, bangsawan dari kasta tertinggi brahmana, nini berganti nama menjadi Jero Tunjung. ANALISIS  Latar Tempat Latar tempatmenyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsure tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama-nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Seperti halnya yang digambarkan dalam cerpen ini tidak ditunjukkan secara jelas di mana peristiwa-peristiwa dalam cerpen ini terjadi, sehingga hanya dapat diketahui atau dapat disimpulkan dengan melihat nama-nama tokoh atau pelaku dalam cerita ini, dari adat yang digunakan seperti upacara kematian ngaben. Upacara ngaben hanya dilakukan oleh masyarakat Bali karena itu merupakan tradisi masyarakat Bali, dari dialog-dialog atau kata-kata yang diucapkan oleh tokoh pemeran dalam cerpen ini menunjukkan bahwa peristiwa terjadinya cerita atau berlangsungnya kejadian itu bertempat di Bali. Namun tidak digambarkan dengan jelas di mana peristiwa itu terjadi, yakni dengan tidak menyebutkan nama daerah atau nama sebuah tempat khusus semisal nama kota atau desa, atau pula suatu tempat yang ada di Bali. Namun yang pasti peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerpen ini adalah di Bali  Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Masalah “kapan” peristiwa dalam cerpen ini juga tidak tergambar secara jelas bahkan tidak dapat diketahui secara pasti kapan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu terjadi. Dalam cerpen ini hanya digambarkan dengan usia si tokoh utama, itu pun tidak disebutkan secara jelas. Waktu dalam cerpen ini juga campuran antara masa sekarang dan masa lampau lalu kemudian kembali lagi ke masa sekarang. Hal itu terjadi ketika tokoh utama menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya dahulu saat tinggal bersama nininya, atau ketika ia ditinggal oleh ajinya yang kecantol dengan janda beranak dua, ketika ibunya meninggal yang kemudian disusul dengan kematian kakiangnya dan juga kematian-kematian orang-orang yang ada disekitarnya yang hampir setiap tahun terjadi  Latar Sosial Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap dan lain-lain yang tergolong latar spiritual. Latar sosial dalam cerpen ini tergambar jelas, mulai dari nama-nama pelaku peristiwa, adat istiadat, tradisi, kebiasaan, bahasa-bahasa yang dipakai yang mencerminkan kekhasan daerah tersebut yaitu Bali. Seperti upacara kemtian, ngaben. Upacara ngaben hanya ada dalam tradisi masyarakat Bali, dan nama-nama seperti Dayu Cenana, I Made Pasek Wibawa, Dayu Westri, Ni Luh Made Ragi merupakan nama-nama khas orang Bali. Begitu juga panggilan-panggilan tertentu seperti aji, nini, kakiang. Juga kasta yang disebutkan di atas. Juga ritual-ritual yang dilakukan oleh nininya dan dari alat-alat yang dibuat oleh kakiangnya yaitu pratima, atau benda-benda suci yang disakralkan di pura-pura, tempat ibadah. PENYUDUT PANDANGAN Sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Sudut pandang, point of view menyaran pada cara sebuah cerita yang dikisahkan. Ia merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Abrams, 1981:142). Dalam cerpen ini pengarang menggunakan sudut pandang persona pertama “Aku”, “Aku” tokoh utama, narrator adalah seorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si “aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa dan tindakan yang diketahui, dilihat, didengar, dialami dan dirasakan serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Dalam sudut pandang ini, si “Aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang terjadi baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungan yang di luar dirinya. Si “Aku” menjadi fokus, pusat kesadaran, pusat cerita. Dibuktikan dalam paragrapf berikut ini: Belakangan aku hobi sekali berdiri di depan cermin. Rumah kecilku pun kusulap penuh kaca. Aku senang memandangi diriku melakukan beragam aktivitas.” Kalau sahabatku sudah merengut seperti itu aku hanya diam, sambil mengunyah salad buah pelan-pelan. Aku tahu belakangan ini dia baru diteror. Aku menamakan penyakit musiman yang diderita sahabatku “teror rumah perkawinan”, sebetulnya mau kunamakan “teror cinta”. Teror yang membuatnya sedih dan gelisah. Kecemburuan, ketidakpuasan, putus asa, entah menu apa lagi yang terus keluar dari mulutnya. Sepertinya bagi para lajang, model aku ini, perkawinan jadi mahluk buas yang siap mencabik dan memakanku hidup-hidup. Iiiih!” Aku menyayanginya. Bagiku pertemanan dengan dia yang sudah kami mulai sejak duduk di bangku SMP begitu tulus tak tergantikan. Namanya Cok Ratih, putri satu-satunya dari pemilik hotel di Kuta, Ubud, entah di mana lagi. Yang pasti sejak mengenalnya, aku pun ikut mapan. Karena Cok ratih menganggapku sebagai saudara satu-satunya. Bagiku kehadiran Cok Ratih dalam hidupku, membuat aku percaya bahwa ada hal yang layak dipercaya dalam hidup ini: persahabatan. Di tengah situasi berat seperti itu, Pasek diam-diam mulai merayuku. Dia terlihat genit dan menjijikkan. Berkali-kali dia menawarkan diri untuk mengantar pulang, menjemput atau mengajak makan siang. Aku tidak melihat keprihatinan di matanya. Lelaki apakah yang telah dikawini sahabatku? Sementara Cok Ratih telah meninggalkan kebangsawanannya, juga hubungan baik dengan keluarga besarnya yang putus, karena dia menikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Begitu banyak yang dikorbankan untuk cinta. Aku pernah menyiram satu gelas besar wine ke wajah Pasek, ketika dia berusaha memepetkan tubuhnya ke tubuhku ketika acara gala dinner di sebuah perusahaan milik sahabatku. Semua orang menatap mata kami. Aku pun meninggalkan ruangan itu. Yang membuatku makin panas, Pasek menyebar gosip, aku tertarik padanya. Ya, Hyang jagat. Senista itukah aku? Tertarik pada lelaki menjijikkan seperti Pasek? Aku memang lajang, kadang-kadang rindu memiliki kekasih. Tapi, penaglaman hidup mengajarkanku: jangan pernah mengusik dan bermain api dengan lelaki milik perempuan lain. Bagaimana kalau Cok Ratih tahu? Siapa yang akan dipercaya, aku atau suaminya? Aku memejamkan mata. Makin hari, keinginanku untuk kawin, makin jauh. Semua bermula dari aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia kecantol seorang janda beranak dua. Ibuku Dayu Westri, stres berat. Dia sering menjerit-jerit tengah malam. Lalu memesan arak. Dia mabuk, muntah, dan akhirnya mati dengan menyilet nadinya dengan pisau tatah milik kakiang, kakekku, ayah ibuku. Seorang lelaki tua yang sangat dihormati. Dia ahli membuat pratima, benda-benda suci yang disakralkan di pura-pura. Kematian ibu membuat kakiang linglung. Makin hari kesehatannya menurun, aku pun kehilangan kakiang. Tinggallah aku dengan nini, perempuan sudra kebanyakan yang dikawini kakiang. Ni Luh Made Ragi. Karena menikah dengan kakiang, bangsawan dari kasta tertinggi brahmana, nini berganti nama menjadi Jero Tunjung. Aku memanggil perempuan tua cantik itu nini, yang berarti nenek. Dari dialah aku belajar banyak tentang semua harus diselesaikan sendiri, tidak boleh mengeluh, tidak boleh menunda pekerjaan, selalu bersyukur pada leluhur, dan yang membuatku berpikir, nini berkali-kali menasehati: menjadi perempuan itu jangan pernah menyakiti perempuan lain. Sekecil apa pun tidak boleh! Perempuan sudra itulah yang membuatku mandiri. Dia hidupi aku, satu-satunya cucunya dengan cinta yang aneh. Bagiku dia terlalu keras mendidikku. Setelah dia meninggal, baru kusadari, perempuan itulah yang membuatku berani bertanggung jawab pada pilihan-pilihan hidup yang kuambil. Dia yang membiayai sekolahku, karena aji sejak kecantol janda itu tidak pernah pulang lagi. Aku telah kehilangan figur aji pada usia 6 tahun. Kehilangan ibu pada usia 7 tahun, kehilangan kakiang pada usia 8 tahun. Begitu banyak kematian memberi aroma bagi pertumbuhanku sebagai Dayu Cenana. Belum lagi binatang peliharaanku, bunga-bungaku, juga beberapa teman bermain dan sekolahku. Aku tumbuh dari sebuah kematian yang datang hampir setiap tahun. Aku terus dikepung rasa sunyi. Tetapi nini telah membekaliku dengan kehidupan yang setelah kupikir-pikir luar biasa. Aku dibesarkan lahir batin hanya oleh seorang perempuan. Aku tidak pernah tahu berapa usianya ketika mati. Karena dialah satu-satunya pelingsir, perempuan yang dituakan di griya-ku, mati paling akhir. Bisik-bisik sempat kudengar, nini-ku memiliki ilmu pengeleakan, imu hitam. Bagiku gosip itu murahan. Nini tidak pernah mengajariku hal-hal aneh. Yang kutahu, entah benar atau tidak, seseorang yang memiliki ilmu pengeleakan bisa menjelma menjadi api, babi, angsa, atau binatang lainnya. Aku hidup dengan nini berpuluh-puluh tahun, bahkan aku paham betul lekuk tubuhnya. Karena kami sering mandi ke kali. Atau ke pancuran sawah. Airnya bening dan membuatku betah berlama-lama. Nini dengan sabar menunggui aku mandi, sambil menggosok tubuhnya yang sawo matang dengan lumpur sawah, atau menggosok daki-dakinya dengan batu kali. Nini tidak suka mandi dengan sabun. Katanya aneh, licin, dan membuat badannya gatal. Ketika nini mati, aku pun memilih tinggal dan berkarier di luar rumah keluarga besar. Aku tidak pernah menginginkan perkawinan. Aku hanya menginginkan persahabatan yang tulus. Sampai kini aku masih virgin. Memang terdengar kampungan. Tapi, aku menikmati hari-hari yang terus berjalan dan menguras usiaku. Begitulah aku hidup. Dari muda aku tidak tahu rasanya patah hati, memulai mencintai lelaki pun aku takut. Setiap ada lelaki yang mengatakan cinta padaku, aku demam. Seminggu aku migren, apalagi kalau lelaki itu telah kuanggap sahabat baik. Tak ada cinta yang bisa kurasakan. Yang kubutuhkan adalah perhatian yang tulus, teman dialog, juga sesekali bermanja. Bagiku, cinta lelaki dan perempuan sama dengan seks. Aku tak mau hamil, melahirkan anak. Karena aku takut anak yang lahir dari rahimku mengalami nasib seperti aku. Atau jadi lebih buruk! Aku menggigil. Dibunuh oleh pikiran-pikiranku sendiri. Keringat mengalir dari dahi, ketiak dan seluruh tubuh. ANALISIS Sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Sudut pandang, point of view menyaran pada cara sebuah cerita yang dikisahkan. Ia merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Abrams, 1981:142). Dalam cerpen ini pengarang menggunakan sudut pandang persona pertama “Aku”, “Aku” tokoh utama, narrator adalah seorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si “aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa dan tindakan yang diketahui, dilihat, didengar, dialami dan dirasakan serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Dalam cerpen ini penulis banyak menggunakan kata aku sebagai petunjuk atau yang menjalankan cerita ini. Dalam cerita ini pengarang banyak menggunakan kata aku, yang berarti pengarang menggunakan sudut pandang persona aku. Aku di sini merupakan tokoh utama yang menjalankan cerita sekaligus menceritakan kehidupan tokoh-tokoh lain yang ada di sekitarnya yang juga mempengaruhi kehidupannya. Seperti yang telah dibuktikan dalam paragraf-paragraf yang telah disebutkan diatas. Si ”aku” menceritakan tentang orang-orang yang ada disekitarnya, yang juga banyak mempengaruhi kehidupannya. Aku dalam cerpen ini menjadi menjadi fokus, pusat kesadaran, pusat cerita. Karena aku inilah yang sangat berperan dalam cerita ini, aku di sini juga membawa pengaruh yang sangat besar dalam cerita ini, karena dialah yang menceritakan cerita ini. GAYA BAHASA Gaya merupakan sarana bercerita. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Jadi, gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat dan ungkapan. Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata, istilah-istilah dalam bahasa Bali seperti dalam paragraf berikut: Yang membuatku makin panas, Pasek menyebar gosip, aku tertarik padanya. Ya, Hyang jagat. Senista itukah aku? Tertarik pada lelaki menjijikkan seperti Pasek? Semua bermula dari aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Ibuku Dayu Westri, stres berat. Dia sering menjerit-jerit tengah malam. Lalu memesan arak. Dia mabuk, muntah, dan akhirnya mati dengan menyilet nadinya dengan pisau tatah milik kakiang, kakekku, ayah ibuku. Seorang lelaki tua yang sangat dihormati. Dia ahli membuat pratima, benda-benda suci yang disakralkan di pura-pura. Kematian ibu membuat kakiang linglung. Aku memanggil perempuan tua cantik itu nini, yang berarti nenek. Dari dialah aku belajar banyak tentang semua harus diselesaikan sendiri, tidak boleh mengeluh, tidak boleh menunda pekerjaan, selalu bersyukur pada leluhur, dan yang membuatku berpikir, nini berkali-kali menasehati: menjadi perempuan itu jangan pernah menyakiti perempuan lain. Sekecil apa pun tidak boleh! Tinggallah aku dengan nini, perempuan sudra kebanyakan yang dikawini kakiang. Ni Luh Made Ragi. Karena menikah dengan kakiang, bangsawan dari kasta tertinggi brahmana, nini berganti nama menjadi Jero Tunjung. Juga sedikit menggunakan bahasa tak baku dalam dialog yang diucapkan oleh salah seorang tokoh, seperti berikut ini: “Hari gini masih ada sekat-sekat manusia. Kasta, derajat, menjijikkan! Hidup kan sudah rumit. Kok masih dibuat rumit?” papar Cok Ratih santai “Kalau nggak hamil dulu, pasti ortuku nggak setuju,” katanya terkekeh. Pengarang tidak banyak menggunakan kalimat ungkapan, dalam penceritaannya pengarang menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah untuk dipahami. Hanya saj pengarang menggunakan beberapa istilah-istilah dalam bahasa daerah Bali. ANALISIS Pengarang menggunakan bahasa yang ringan dalam menyampaikan cerpen ini sehingga mudah dipahami dan apa yang ingin disampaikan oleh pengarang bisa diserap oleh pembaca. Bahasa yang digunakan sangat mudah dimengerti dan dipahami. Pengarang di sini tidak banyak menggunakan bahasa kiasan atau pun menggunakan peribahasa. Bahasanya jelas, namun pengarang juga menggunakan dialek, atau bahasa Bali, yang menandakan jika peristiwa, atau cerita itu terjadi di salah satu kota atau desa yang terdapat di Bali, terbukti dengan bahasa yang digunakan oleh tokoh-tokoh pelaku dalam cerpen tersebut. Ada juga salah seorang tokoh yang menggunakan dialek Jakarta atau istilahnya bahasa gaul atau bahasa prokem atau bahasa tidak baku seperti yang telah dibuktikan dalam paragraf di atas. Pengarang juga menggunakan istilah bahas daerah Bali sebagai judul yakni Pastu, yang artinya adalah kutukan.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers