Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

MAAFKAN AKU AYAH...

Diposkan oleh irfan on Saturday, April 03, 2010




Bukanlah keinginanku menjadi anak seorang buruh tani. Kalau boleh memilih, aku lebih suka seperti Dina yang ayahnya seorang dosen. Atau seperti Alfi yang papanya seorang pengusaha furniture. Kalau masih berlebihan, bolehlah jika seperti si Mirna yang ayahnya seorang sopir taksi. Tapi bukan seperti bapakku yang menjadi buruh tani. Saya tidak senang mempunyai ayah seperti itu.
Aku tidak pernah memberitahukan apa profesi ayahku pada teman-temanku di sekolah. Aku tidak mau kalau mereka tahu. Aku hanya mengatakan kalau pekerjaan ayahku adalah swasta. Itu juga yang kucantumkan ketika mengisi biodata di sekolah. Dan teman-temanku pikir kalau ayahku itu bekerja di sebuah perusahaan swasta. Aku berpenampilan biasa-biasa saja disekolah.
Siang itu ketika pulang sekolah, aku dan ketiga teman akrabku berjalan ke halte bus yang tidak lebih hanya 100 meter dari sekolahku. Tiba-tiba aku melihat tubuh ayahku yang gagah itu yang sedang bekerja disawah.
Aku takut jika ayahku akan memanggilku dan akhirnya semua temanku jadi tahu siapa sebenarnya ayahku itu. Aduh, kenapa juga sih ayahku bekerja didekat sekolahanku. Aku jadi sebel sama ayahku itu.
Tapi diam-diam aku merasa iba melihat cara ayahku bekerja. Sementara semua orang berusaha menghindari sinar matahari yang terik, ayahku malah berpanas-panas bekerja disawah hanya dengan sebuah topi usang,sabit dan pacul yang dibawa ayahku. Aku sebentar-sebentar melirik kearah ayahku.
Tiba-tiba aku mendengarnya terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya. Aku menggigit bibirku menahan diri. Aku sebenarnya kasihan melihatnya bekerja seperti itu untuk membiayai sekolahku. Tapi aku malu kalau harus mengakui dihadapan teman-temanku bahwa itu adalah ayahku.
Kulihat ayahku duduk di gubuk sambil bersandar ke tiang gubuk. Kulirik segelas air mineral ditanganku. Seharusnya aku memberikan air ini padanya agar menghentikan batuknya tapi ternyata tidak kulakukan. Aku hanya mencengkeram gelas plastik itu dengan erat.
" Kasihan ya bapak itu. Sudah tua masih bekerja juga. Apalagi panas-panas begini dia bekerja disawah” Kata Mirna sambil menatap ayahku prihatin.
" Iya. Mungkin dia harus bekerja seperti itu karena untuk mencukupi kebutuhan anak isterinya dirumah." Sambung Alfi.
" Coba Rin, kasih airmu buat bapak itu. Kasihan kan dia terbatuk-batuk dari tadi."
Rinapun langsung menuruti perintah Mirna. Aku hanya terdiam ditempatku. Kuperhatikan ayahku menerima air mineral yang disodorkan oleh Rina lalu meminumnya. Aku hampir menitikkan air mataku karena merasa bersalah.
Seharusnya aku yang mendekatinya dan memberikan airku padanya. Karena aku adalah anaknya, bukan Rina. Tapi lagi-lagi tidak kulakukan hal itu karena rasa malu. Mirna menoleh kearahku.
" Kenapa elo ? lagi nggak enak badan ?"
" Kali Yusnia nggak tega ngelihat bapak itu Mir.
"Yohana memeluk pundakku. Aku menunduk.

Aku tidak tahan melihat pandangan prihatin teman-temanku. Sungguh baik mereka peduli kepada orang seperti ayahku. Dan aku malah tidak mau mengakui keadaan ayahku sendiri. Mungkin teman-temanku akan benci dan menjauhiku jika tahu yang sebenarnya. Aku melihat ayahku mulai berjalan lagi dengan gerobak sampahnya. Hatiku menjerit sekuat-kuatnya. Kenapa aku punya seorang ayah tukang sapu jalanan.
Malam harinya aku melihat ibuku mengurut punggung ayahku dengan minyak kayu putih. Aku mengintip dari balik pintu. Ibuku dengan telaten menghangatkan tubuh ayahku. Kulirik adikku Yusron yang sedang belajar diruang tengah yang sekaligus menjadi ruang makan kami. Sementara itu kedua orangtuaku tengah duduk dibalai-balai. Ayahku menoleh kearahku. Lelaki tua itu tersenyum lembut.
" Kenapa berdiri disitu Nia ? Sini pijitin bapak nak. Kamu sudah belajar?" Aku hanya mengangguk tanpa suara. Aku menuruti permintaan ayahku. Kupijit punggungnya yang gagah itu. Ibu berlalu kebelakang untuk membuatkan teh jahe buat ayahku." Tadi siang bapak kerja didekat sekolahmu.
" Aku masih diam. Aku tahu kog. Hanya saja aku pura-pura tidak tahu. Lalu akupun bersuara." Kalau bisa bapak jangan bekerja didekat sekolah Nia pak."
" Kenapa ? Kamu malu ya kalau ketahuan teman-temanmu ?" Suara ayahku masih lembut. Aku tidak menjawab. Tapi mungkin ayah sudah tahu.
" Ya sudah, lain kali bapak suruh si Badrun saja kalau giliran bekerja didekat sekolahmu."
Aku menjadi lega. Tapi sekaligus merasa berdosa pada ayahku.
" Bapak kan sudah tua, apa bapak nggak berhenti dari pekerjaan bapak itu ?"
"Sebetulnya bapak ini belum terlalu tua kog. Umur bapak kan masih 45 tahun. Hanya saja mungkin karena bapak sudah susah dari muda dulu, ditambah pekerjaan bapak seperti ini jadi bapak kelihatannya sudah udzur ya ?" ayahku tertawa pelan. Aku diam saja. Sebel karena bapak tidak malu dengan pekerjaannya itu.
" Lagipula kalau bapak berhenti sekarang, bagaimana kita bisa bayar untuk kebutuhan kita sehari-hari ? membayar rumah kontrakan ini ? membayar uang sekolahmu dan adikmu? bisa-bisa kamu tidak akan tamat SMU, iya kan ?"
Sejenak ayahku menghela nafasnya yang berat. Ibu muncul dengan secangkir besar minuman untuk ayahku. Ibuku sebenarnya cantik loh, hanya saja dia jadi nampak lebih tua karena kurus dan keriput. Coba saja jika aku mempunyai ibu seperti mama Rina dan Yohana, pasti aku akan bangga. Tidak seperti sekarang ini. Ibu lalu menggantikanku memijit punggung ayahku. Aku lalu duduk didepan mereka sambil memperhatikan adikku belajar.
" Bapak tidak malu bekerja seperti itu ?"
"Tidak. Kenapa bapak harus malu ? Bapak tidak mencuri. Bapak juga tidak menyakiti orang lain. Malah pekerjaan bapak membuat orang jadi senang oleh pekerjaan bapak. "
" Bapak ikhlas kog dengan keadaan ini. Bapak rela bekerja disawah berpanas-panas asal anak-anak bapak bisa sekolah yang tinggi. Paling tidak sampai tamat SMU. Bapak ingin kelak kalian bisa hidup lebih baik dari kami. Bapak tidak menginginkan balasan apa-apa dari kalian. Melihat kalian bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari bapak, itu sudah cukup.
Bapak tidak punya harta untuk diwariskan kepada kalian, bapak hanya bisa menyekolahkan kalian meskipun harus dengan bekerja mati-matian. Bapak rela..."
Aku menunduk mendengar perkataan ayahku yang bijaksana. Sungguh mulia hatinya ya. Dia tidak tahu kalau anaknya tadi bahkan menolak untuk mengakui keberadaannya. Keberadaan seorang ayah yang berjuang mati-matian mencari uang untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Aku masih belum bisa mengakui keadaan ayahku yang sebenarnya pada teman-temanku di sekolah. Aku benar-benar malu.
Besok adalah hari pengambilan raport di sekolahku. Dan sebelnya yang harus mengambil adalah wali murid. Wah, bisa-bisa teman-temanku nanti akhirnya tahu kalau lelaki tua ayahku yang pernah mereka tolong itu. Apa yang akan dikatakan oleh teman-temanku nanti. Lebih baik ibu saja yang pergi ke sekolahku untuk mengambil raportku.
Aku melihat raut kesedihan diwajah ayahku ketika aku meminta agar ibu saja yang pergi ke sekolah besok. Padahal kata ibu,” ayah sangat ingin pergi untuk mengambil raportku”. Kata ibu, ayah sangat bangga karena mempunyai anak yang sekolah di SMU. Dia sangat bangga mempunyai seorang anak gadis yang cantik dan pintar seperti aku.
Ayah pergi kekamarnya dengan wajah murung. Mungkin dia tahu kalau aku malu menjadi anaknya. Anak yang sangat dibanggakannya. Mungkin dia tahu kalau aku tidak suka mempunyai seorang ayah yang jadi tukang buruh tani. Akhirnya ibu yang pergi ke sekolahku.
Aku sudah mengultimatumnya agar memakai pakaian yang telah aku siapkan dan aku seterika dengan licin, memakai sandal yang paling bagus, membawa dompet besar yang telah kusikat, lalu menggelung rambutnya ditengkuk dan memakai make-up. Dan meskipun ibuku memang tidak secemerlang orangtua Yohana dan Rina paling tidak dia tidak malu-maluin aku didepan teman-temanku.
Sore itu sepulang sekolah aku dan teman-temanku langsung pergi ke sebuah toko kaset. Aku dan teman-temanku ingin membeli kaset volume terbaru dari band kesayangan kami. Setelah lebih satu jam kami sibuk melihat-lihat dan membeli kaset pilihan kami, lalu aku dan teman-teman keluar dari toko dan duduk di pot-pot bunga palem didepan toko itu untuk menunggu mikrolet. Tapi aku sungguh panik sekali sewaktu melihat ayahku sedang menyapu di depan toko. Aduhhh...Bagaimana ini.
Aku menatap ayahku yang sedang bekerja disekitar toko kaset dan vcd itu. Aku menggenggam erat-erat kantong kaset yang telah kubeli. Uang untuk membeli kaset ini adalah hasil keringat ayahku yang bekerja berpanas-panas dengan menjadi buruh tani disawah.
Ironis sekali, sedangkan aku sebagai anaknya selalu malu untuk mengakui pekerjaannya itu. Kulihat ayahku masih sibuk menyangkul sambil kadang-kadang terbatuk karena debu. Dengan hasil jerih payahnya sebagai buruh tani, ayah telah membayar uang sekolahku tetapi aku malah menolak ketika dia mau mengambil raportku.
Dengan pekerjaannya itu pula dia memberiku uang jajan agar aku bisa seperti teman-temanku yang lain dan bisa membeli kaset dari band favoritku. Dengan pekerjaannya itu ayah membayar baju seragam dan sepatu yang kukenakan ini. Bahkan sebuah kalung mungil dan sepasang anting-anting emas yang kupakai ini. Tapi aku malah malu dan tidak mengakuinya dihadapan teman-temanku. Dan bahkan penghinaanku kemarin telah membuatnya sedih.
Beberapa menit kemudian, sepertinya ayah melihat keberadaanku. Dan sepertinya dia sengaja ingin menghindar. Ayah memasang penutup hidungnya sambil menatapku takut-takut. Rupanya dia takut kalau aku malu kepada teman-temanku. Dengan terburu-buru ayah berbalik untuk segera pergi dari tempat itu. Aku tersentak ketika melihat ayahku yang berbalik terburu-buru itu menabrak sebuah tiang listrik lalu terjungkal ke tanah.
Ya Tuhan.
Apa yang telah aku lakukan ? Semua ini telah membuatku menjadi anak yang durhaka. Ayahku bahkan ikhlas tidak diakui olehku agar aku tidak dipermalukan. Agar aku bisa seperti anak-anak yang lain. Tapi apa sebenarnya dari sikapnya yang membuatku harus malu ? Dia adalah seorang ayah yang patut kubanggakan.
Dengan semangatnya yang mulia dia rela menjadi buruh tani agar bisa membahagiakan anak-anaknya. Anaknya yang tidak tahu diuntung seperti aku ini. Aku jadi tersadar kalau sikapku ini tidak pada tempatnya. Seharusnya aku bahagia mempunyai ayah seperti dia tidak malah merasa malu.
" Bapak !!"
Aku langsung berlari kearahnya.
Teman-temanku terkejut melihat sikapku. Tapi aku tidak perduli lagi apa yang mereka katakan atau sebarkan di sekolah besok. Ini adalah ayahku. Yang membuatku bisa menjadi seperti sekarang ini. Ayah menatapku dengan bibir bergetar. Aku bersimpuh disampingnya sambil menahan isak.
" Maafkan bapak nak...bapak tidak tahu kalau kamu akan kemari. Tadi bapak berusaha untuk segera pergi takut kamu malu pada teman-temanmu. Tapi..."
Nia yang harusnya minta maaf pak. Tidak seharusnya Nia malu karena bapak jadi buruh tani. Nia anak durhaka..."
" Tidak nak, bapak mengerti dengan sikapmu. Bapak ikhlas."" Tidak pak, maafkan Nia. Nia salah.
Selama ini Nia selalu malu dengan pekerjaan bapak. Nia selalu menutup-nutupin keadaan bapak yang sebenarnya pada teman-teman Nia karena Nia takut mereka akan menjauhi Nia. Seharusnya Nia malah bangga menjadi anak bapak. Nia baru menyadarinya sekarang. Nia tidak malu lagi mempunyai bapak yang bekerja keras.
Sungguh...
"aku memeluk ayahku dengan banyak penyesalan. Aku melihat ayahku menangis meskipun berusaha menutupinya didepanku. Aku memiliki seorang ayah yang hebat. Aku tidak harus menjadi malu dengan pekerjaannya sebagai buruh tani. Dia telah membuktikan dengan banyak hal bahwa sesungguhnya dia adalah ayah yang patut dibanggakan.
Aku terus memeluknya. Kurasakan teman-temanku memeluk pundakku dengan tulus. Mereka membawaku dan ayahku berdiri kembali."

Kami juga tidak malu menjadi temanmu Yus. Kami tetap sahabatmu kog. " Kata-kata teman-temanku itu makin membuatku menangis. Aku menangis karena terharu. Ternyata memang tidak ada alasan yang membuatku harus malu dengan keadaan ayahku. Meskipun dia seorang buruh tani. Maafkan aku ayah...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers