Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

DESAIN PROPOSAL SKRIPS

Diposkan oleh irfan on Thursday, February 11, 2010



KONSEP NASIONALISME DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
(STUDY ANALISIS KH.ABDURROHMAN WAHID)

A.       KONTEKS PENELITIAN
Terbentuknya Indonesia sebagai negara kesatuan merupakan kesadaran seluruh komponen bangsa tanpa mempersoalkan latar belakang agama, suku dan bahasa. Kesadaran itu lahir dari kehendak bersama untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan kolonialisme yang tidak sesuai dengan semangat dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Semangat ini menjadi modal dasar dan landasan kuat untuk menyatukan dan meleburkan diri dengan penuh kerelaan dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keinginan untuk bernegara ini tercermin secara nyata dalam Sumpah Pemuda tahun 1928 yang melahirkan nasionalisme Indonesia yang sekaligus mampu mendorong dalam proses pencapaian kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangan masyarakat Indonesia untuk menyatukan berbagai bentuk kepentingan yang ada pada saat itu, terutama pada masa kerajaan sangatlah tidak mudah. Hal ini karena berbagai corak pemikiran maupun cita-cita masing-masing daerah dipengaruhi oleh karakteristik budaya dan prilaku pemimpin daerah masing-masing.
Jika dilihat dari dimensi Sejarah bangsa Indonesia pada awalnya terdiri dari beberapa kerajaan, yang masing-masing kerajaan mempunyai hukum ketatanegaraan sendiri-sendiri, misalnya kerajaan Sriwijaya (+ abad ke-7 s/d abad 13) dan kerajaan besar lainnya yakni, kerajaan Majapahit (+ abad ke-13 s/d abad 15), serta masih banyak kerajaan yang timbul pada masa itu termasuk kerajaan-kerajaan Islam yang muncul pada abad-abad sesudahnya (Moedjanto, 1991:15).
Setelah VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie) masuk pada tahun 1602 maka kerajaaan-kerajaan Islam yang kokoh dan kuat satu persatu jatuh ke tangan VOC dan pemerintah Hindia-Belanda. Sehingga terciptalah kesatuan Indonesia di bawah rezim penjajahan Belanda. Inilah yang sering dikenal dengan nama Pax Neerlandica (Perdamaian Neerlandika) yang mengandung arti Unification and Pasification (Penyatuan dan Penentraman).
Dengan masuknya VOC ke Indonesia, maka imperialisme terhadap negara Indonesia dimulai. Dengan membawa misi dagang hingga finishnya menjadi eksploitasi ekonomi, dominasi politik dan pemaksaan kebudayaan. Kondisi seperti ini akhirnya membawa rakyat Indonesia kepada misi perlawanan. Namun perlawanan rakyat Indonesia itu masih secara sektarian dan masih bersifat primordial, belum ada inisiatif untuk mengadakan perlawanan secara kolektif. Misalnya perang Diponegoro, perang Pattimura, perang Imam Bonjol, perang Goa (perang yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin) dan lain-lain.
Sejak berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, yang juga disebut sebagai angkatan perintis, yaitu merintis dan mengevaluasi kembali perjuangan bangsa Indonesia sebelumnya yang masih bersifat sektarian, saat itu pulalah mereka menunjukkan misi perlawanannya yang revolusioner. Gerakan­gerakan nasional yang mulai mengembangkan sayapnya pada awal abad 20, dimana Budi Utomo (dengan gendang kaum priyayi konservatifnya) serta Serikat Islam dengan punggawa kaum intelektual muslimnya (Mohamad Sidky, 1985).
Dominator pergerakan nasional lainnya mulai mengalami keberhasilan dalam upaya menggempur kekuatan imperialisme Barat (kaum penindas). Dengan propaganda pergerakan dan perjuangan menuju kemerdekaan yang dikumandangkan oleh para tokoh pergerakan tersebut telah membawa organisasi-organisasi nasional Indonesia pada umumnya meniti benang emas menuju puncak pergerakan sesuai dengan visinya serta meninggalkan semua atribut kesederhanaannya, sehingga hampir mendekati garis keberhasilan. Ternyata memang tidak ada gading yang tak retak. Kolektifisme yang dipropagandakan oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional belum mampu memporak porandakan imperialisme Belanda yang masih terlalu kuat. Sehingga pada waktu tahun 1927-an nyaris pergerakan nasional mengalami kemandegan (stagnan).  
Kondisi bangsa yang fakum tersebut tidak disia-siakan oleh para tokoh nasionalis dan sekuler serta sosial demokrat, seperti Soekarno, Mr. Sartono, Dr. Sutomo, Moh. Hatta, Mr. Syahrir dan lain-lain yang segera tampil di tengah pergulatan politik. Sehingga kondisi yang demikian dapat dinetralisir dengan rasa nasionalisme yang cukup tinggi. Pupuk nasionalisme yang ditaburkan oleh para tokoh pergerakan sebelumnya telah menumbuh suburkan pemikiran dan jiwa Soekarno bersama kawan-kawan yang lain. Bagi tokoh-tokoh nasionalisme tersebut secara simbolik ide nasionalisme yang dimunculkan oleh para tokoh pergerakan sebelumnya, secara implisit telah memberikan sebuah kontribusi pendidikan patriotisme yang nantinya akan mendasari gerakan tersebut. (Frederick dan S. Soeroto:430-431).
Tampilnya Soekarno dengan nasionalismenya disadari sebagai pembuka kran-kran idiologis bangsa guna merefleksikan dan mengaktualisasikan ke dalam konsep pendidikan humanistis agar dapat mengalir sesuai dengan arus perjuangan.   Dengan nasionalismelah bangsa Indonesia akan mendirikan syarat­syarat hidup mereka yang bersifat kebatinan dan kebendaan. Kecintaan kepada bangsa dan tanah air merupakan alat yang  telah memegang peranan penting dan bersifat positif dalam menopang tumbuhnya persatuan dan kesatuan serta nilai-nilai demokratisasi yang pada gilirannya akan mampu melaksanakan pembangunan nasional sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan rakyat. Hal ini karena konsep nasionalisme merupakan dorongan yang mendasar dalam pengaktualisasian (Nazaruddin Sjamsuddin. 1988:38).
Pendidikan humanisme yang mengarah pada eksistensi manusia merdeka, merdeka geraknya, merdeka lahir batinnya, sekaligus merdeka alam fikirnya. Konsep nasionalisme Soekarno yang demikianlah, diharapkan mampu mengimplementasikan makna pendidikan wawasan kebangsaan ke dalam sistem birokrat yang demokratis, sehingga terciptalah sistem interdependensi perkembangan antar pulau, suku dan etnik, dengan tetap mengembangkan secara empirik disentralisasi dan demokratisasi ke segala bidang.
Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial maupun sebagai bangsa Indonesia. Pendidikan telah terbukti mengembangkan sumber daya manusia yang merupakan karunia Allah SWT, serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga kehidupan manusia semakin beradab. Bagi bangsa Indonesia tujuan ideal yang hendak dicapai lewat proses dan sistem pendidikan nasional ialah: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian dan mandiri serta bertanggung jawab pada kemasyarakatan dan kebangsaan (Sisdiknas, 2003).
Dalam konteks pendidikan Islam, tujuan tersebut telah tercermin dengan apa yang dicitakan-citakan dalam pendidikan Islam, yakni terbentuknya Insan Kamil. Pendidikan Islam pada hakekatnya adalah pendidikan yang berdasarkan atas Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bertujuan untuk membantu perkembangan manusia menjadi lebih baik. Islam yang sejati tidaklah mengandung asas anti-nasionalisme, Islam yang sejati mewajibkan pada pemeluknya mencintai dan bekerja untuk negeri yang ia diami. Nasionalisme merupakan ungkapan rasa cinta terhadap tanah air dan hal tersebut tidaklah bertentangan dengan Islam.
Hal yang senada telah di ungkapkan oleh proklamator bangsa ini, menemukan semacam kesamaan dimensi visi yang dianggap sebagai kecocokan antara kedua ideologi nasionalisme bangsa ini dengan keyakinan agama Islam. Maka hal tersebut dijabarkan sebagai berikut:  
1.    Kandungan pendidikan dalam nasionalisme Soekarno adalah pemberdayaan manusia merdeka, merdeka fikirnya, merdeka geraknya, merdeka tenaganya serta merdeka lahir batinnya. Hal ini tidak menyimpang dari orientasi Pendidikan Islam sendiri, yaitu, membentuk manusia menjadi “Insan Kamil”.
2.    Paradigma Pendidikan Nasionalisme Soekarno yang salah satu esensinya adalah pendidikan patriotisme telah menyelaraskan diri terhadap konsep Islamiyah, yaitu khubbul wathan minal Iman dengan tetap didasarkan pada bangsa Indonesia yang notabene sebagai bangsa tertindas.
3.    Paradigma nasionalisme Soekarno lebih mengacu pada Pluralisme, konsep pemakluman eliminasi kasta, singkretisasi terhadap paham sukuisme, rasial, etnis, agama dan struktur sosial dalam satu integritas. Hal ini relevan dengan ajaran Islam yang menyatukan umat dalam satu wadah “ummatan wahidah”.
Kalau kita melihat dan mempelajari dari apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW seribu tiga ratus tujuh puluh tujuh tahun yang lalu ketika dilahirkannya Undang-Undang Madinah (Piagam Madinah), maka bukanlah nasionalisme yang menjadi ikatan persatuan ummat, melainkan persatuan seagama dengan mengangkat hak asasi manusia tanpa melihat nasionalitas, kebangsaan, kesukuan, golongan dan ras(lihat tulisan Undang Undang Madinah yang telah disusun pasal per pasal di. Bangsa, suku, kabilah, kelompok memang diakui oleh Islam, tetapi tidak berarti dengan adanya kebangsaan dan kesukuan itu dijadikan dasar untuk membentuk satu organisasi, masyarakat, negara, sehingga terpisah antara bangsa yang satu dari bangsa yang lain atau suku yang satu dari suku yang lain, karena kalau demikian bukan seperti yang dimaksudkan oleh ayat 13 surat Al Hujurat yaitu dijadikannya bangsa dan suku adalah untuk saling kenal mengenal, bukan untuk dijadikan alat pemecah belah:
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ
Artinya :
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"(Al Hujurat,49:13).

Dengan dasar persatuan seagama dengan mengangkat hak asasi manusia tanpa melihat nasionalitas, kebangsaan, kesukuan, golongan dan ras dengan tujuan untuk beribadah dan bertaqwa Kepada Allah SWT inilah seperti yang di firmankan Allah SWT:
¨bÎ) ÿ¾ÍnÉ»yd öNä3çF¨Bé& Zp¨Bé& ZoyÏmºur O$tRr&ur öNà6š/u Âcrßç7ôã$$sù ÇÒËÈ  
Artinya:
"Sesungguhnya kamu adalah ummat yang satu, Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku" (An-Biyaa',21:92).
¨bÎ)ur ÿ¾ÍnÉ»yd óOä3çF¨Bé& Zp¨Bé& ZoyÏnºur O$tRr&ur öNà6š/u Èbqà)¨?$$sù ÇÎËÈ
Artinya :
"Dan sesungguhnya kamu adalah ummat yang satu, Aku adalahTuhanmu maka bertaqwalah kepada-Ku" (Al Mu'minun,23:52 )
Yang menjadi dasar dalam Undang Undang Madinah (Piagam Madinah) yang dibuat oleh Rasulullah SAW seribu tiga ratus tujuh puluh delapan tahun yang lalu. Nah sekarang akibat adanya kebangsaan, nasionalitas, kesukuan dan kekabilahan, maka lahirlah berbagai negara dan juga beberapa "negara Islam" dengan kebangsaan dan nasionalitas sebagai batas negara, disamping batas teritorial negara. Dan tidak heran apabila seorang muslim datang mengunjungi suatu "negara Islam" yang ditanya terlebih  dahulu  adalah "darimana asal saudara?", bukan ditanya " apakah saudara muslim?". Oleh karena itu Islam tidak mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjadikan bangsa, suku, kabilah, kelompok sebagai dasar suatu organisasi, masyarakat, negara, sehingga terpisah antara bangsa yang satu dari bangsa yang
lain atau suku yang satu dari suku yang lain.  Dalam era kemerdekaan dan kemajuan pendidikan secara nasional dan juga dipadukan dengan pendidikan Islam KH Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa  nasionalisme adalah pluralisme yang mempunyai sebuah persatuan dan kesatuan dari berbagai macam budaya, suku, bahasa, agama, untuk memberikan semangan dalam maju untuk merdeka dan mensajahterakan masyarakat. Secara umum bahwa nasionalisme itu mempunyai hubungan erat dengan pendidikan agama Islam untuk memajukan peserta didik dan pendidik sebagai pendidik yang m,empunyai kepribadian yang baik, budi pekerti untuk menjalankan semua itu ikut berjuang dalam bidang pendidikan sebagai bentuk kecintaannya kepada bangsa dan negara. Sehingga memunculkan pemahaman yang mendalam terhadap pendidikan anak-anak bangsa ini sebagai generasi penerus kemerdekaan. Dan juga memiliki identitas diri sebagai anak bangsa, memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dan mempertahankan serta memajukan tujuan pendidikan nasional.
Seperti yang tertera dalam sistim pendidikan nasional bahwa  Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan Zaman, dalam artian bahwa pendidikan itu tidak memandang dengan adanya berbagai budaya atau suku, agama, untuk memperoleh sebuah target dalam mencerdaskan bangsa dan negara.
Pasal 3 Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dimana pengembangan ini dilakukan untuk sebuah wacana dalam perubahan-perubahan zaman yang terjadi dalam waktu yang lama, sampai dimanakah nasionalisme kita terhadap negara dengan adanya UUD 1945 dengan pasal mencerdaskan bangsa terhadap pendidikan, sebagai wujud terhadap pendidikan yang mencintai negara, seperti saat ini nasionalisme kita telah mulai pudar karena sebuah sistem yang telah berubah menjadi sebuah yang menjadikan kita lupa akan sejarah untuk menjalani pendidikan didalam madrasah, contohnya dulu kita waktu terlambat sekolah disuruh membaca atau menghafal pancasila didepan kelas atau didepan bendera sang merah putih, upacara setiap hari senin, kini terkadang tidak dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan kita. Sehingga peneliti mencoba untuk mengangkat tema tentang Konsep Nasionalisme dalam Perspektif Pendidikan Islam (Studi Analisis Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid).

B.       FOKUS  MASALAH
Dengan memperhatikan konteks penelitian diatas, dalam rangka mengatur dan menjaga agar pembahasan tidak keluar dari konteks pembahasan, maka penulis dapat memfokuskan beberapa pokok masalah yang akan menjadi kajian dalam penulisan skripsi ini. Adapun fokus masalah dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana konsep nasionalisme dalam prespektis pendidikan Islam (Study analisis pemikiran KH. Abdurrahman Wahid)?

C.       TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian merupakan hal yang sangat penting untuk di jelaskan. Sebab dengan tujuan penelitian ini akan mudah diketahui beberapa hal yang menjadi pokok penelitian yang tertera dalam fokus masalah. Diantara tujuan dalam penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui bagaimana konsep nasionalisme dalam prespektis pendidikan Islam (Study analisis pemikiran KH. Abdurrahman Wahid)?
D.      MANFAAT PENELITIAN
Setelah memberikan penjelasan dalam beberapa hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian yang dilakukan, maka penelitian ini dapat memberikan manfaat yang berguna, baik secara teoritis maupun praktis, sebagai berikut:
1.    Secara teoritis
Kajian skripsi ini diharapkan mampu memberikan sumbangan bagi khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang pemikiran dan juga dapat menjadi stimulus dalam kajian pendidikan Islam, serta dapat memberikan solusi alternatif dalam menjawab segala permasalahan yang timbul dewasa ini.
2.    Secara praktis
Kegunaan penelitian ini dalam bentuk praktisnya diharapkan memberikan manfaat sebagai bahan masukan bagi semua lembaga, instansi pemerintah, dan masyarakat luas guna mengembangkan serta mencari solusi alternatif konsep nasionalisme dalam prespektif pendidikan Islam (study analisis pemikiran KH. Abdurrahman Wahid).
E.        BATAS ISTILAH
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam penafsiran dan guna memperjelas dari judul skirpsi ini, maka perlu kiranya penulis kemukakaan penjelasan istilah dalam judul konsep nasionalisme dalam perspektif pendidikan agama Islam (Studi Analisis pemikiran KH.Abdurrohman Wahid).
Adapun istilah-istilah yang perlu mendapatkan penegasan adalah:
1.     Konsep adalah pemikiran dasar arahan yang dibrikan oleh seorang ahli dalam suatu hal.
2.     Nasionalisme menurut Gus Dur adalah pluralisme dimana kita tidak membedakan agama,budaya,ras,bahasa dalam hidup bernegara (Ubaidillah Ahmad,2005:39). Nasionalisme menurut soekarno adalah kedaulatan yang harus di persatukan dari sabang sampai merauke dari berbagai bahasa, budaya,suku dan yang telah untuk kemerdekaan. Rupert Emerson mendefinisikan nasionalisme sebagai komunitas orang-orang yang merasa bahwa mereka bersatu atas dasar elemen-elemen penting yang mendalam dari warisan bersama dan bahwa mereka memiliki takdir bersama menuju masa depan. Dalam gerakan kemerdekaan di Indonesia melawan kolonialime, para pemimpin gerakan kemerdekaan seperti Soekarno memaknai nasionalisme dengan mengacu pada Ernest Renan (Abdurrahman Wahid, 2007:186).
3.     Perspektif Adalah suatu kerangka konseptual (copceptual framework), suatu perangkat asumsi, nilai atau gagasan yang mempengaruhi persepsi kita, dan pada gilirannya mempengaruhi cara kita bertindak dalam suatu situasi (Deddy Mulyana,2006:16).
4.     Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (piker, rasa, karsa, cipta dan budi rohani) dan jasmani (panca indera serta keterampilan-keterampilan) (Fuad Ihsan,2003:7). Adapula yang mengartikan bahwa pendidikan adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang(pendidik) terhadap seseorang(anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif (Ahmad Tafsir,2008:28).
5.     Islam adalah patuh kepada apa saja yang didatangkan (dibawa) oleh Nabi Muhammad SAW, dengan jalan mengikuti perintah serta menjauhi semua larangan-Nya (Moch. Abdai Rathomy,2008:5).
6.     Study analisis adalah pandangan atau pengkajian ulang terhadap sesuatu peristiwa,(tindakan,hasil pemikiran dsb) untuk mengetahui yang sebenarnya.
F.        METODE PENELITIAN
1.      Jenis Penelitian dan pendekatan penelitian
a)    Jenis penelitian
Bentuk penelitian adalah Library Research, yaitu menggunakan metode penelitian deskripsi yang berarti peneliti menguraikan secara teratur seluruh konsepnya. Penelitian yang digunakan dalam skripsi ini diarahkan untuk mendapatkan infoPenelrmasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah (Sugiyono,2008:6).
b)    Pendekatan penelitian
Dalam penelitian kepustakaan ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis, yaitu penelitian kepustakaan yang menghasilkan kesimpulan tentang kecenderungan sebuah teori digunakan dari waktu kewaktu, perkembangan sebuah paradigma, dan pendekatan ilmu pengetahuan tertentu.(Burhan Bulgin,2005:46). Jadi penelitian ini adalah menggunakan pendekatan sebuah cerita-cerita lama atau buku-buku sejarah yang mengenai dengan pendidikan dan nasionalisme.
2.      Data dan Sumber Data
Penelitian kepustakaan (Library Research) atau dapat juga disebut penelitian kualitatif mengambil tempat perpustakaan sebagai tempat penelitian dengan objek penelitiannya adalah bahan-bahan kepustakaan. Data-data yang diperlukan diperoleh dari sumber-sumber yang berhubungan langsung dengan masalah-masalah yang dibahas. Adapun sumber-sumber data berupa data primer dan data skunder:
a.    Data primer: sumber data yang penulis pergunakan dalam penelitian adalah bersumber pada buku-buku atau artikel hasil karya tulis para pakar pendidikan islam seperti:
1.    Islam kosmopolitan nilai-nilai indonesia dan transformasi kebudayaan.
2.    Islamku,islam anda,islam kita,agama masyarakat negara demokrasi.
3.    Gus dur yang saya kenal sebuah catatan tentang transisi demokrasi.
4.    Gus dur: pencinta Ulama’ sepanjang zaman, pembela minoritas etnis – keagamaan.
5.    Gus dur: pergulatan antara tradisionalis VS liberalis.
6.     
b.    Data skunder : sedangkan data skunder, peneliti mendapatkannya dari buku-buku,artikel, yang bersumber  selain dari karangan atau tulisan para pakar pendidikan islam,konsep nasionalisme,disamping juga bersumber dari internet atau pun lainnya yang berhubungan pembahasan ini:
1.    Ilmu pendidikan Islam
2.    Landasan pendidikan
3.    Ilmu pendidikan
3.      Teknik Pengumpulan Data
Tekhnik pengumpulan data yang dipakai dalam skripsi ini adalah dengan metode dokumentasi.Dokumentasi dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Didalam melaksanakan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat,catatan harian (Suharsimi Ariskunto, 2006:158). Adapun langkah-langkah yang penulis lakukan adalah:
a.    Pencatatan terhadap datayang berkaitan dengan penulis skripsi.
b.    Melakukan penelaahan dan pengkajian terhadap data yang telah diperoleh, sehingga penulis bena-benar mengerti dan memahami terhadap data yang diperoleh kemudian dimasukkan dalam penulisan skripsi.
c.    Melakukan klasifikasi data yang sesuai dengan pembahasan (suharsimi arikunto, 2006:236-237).
4.      Teknik Analisa Data
Sebagai objek penelitian memperoleh informasi dalam metode dokumentasi ini perlu memperhatikan tiga macam sumber, yaitu tulisan (paper), tempat (place), dan kertas atau orang (people).(Suharsimi Ariskunto, 2006:158).
Adapun dalam menarik kesimpulan dari data yang akan diteliti, penulis menggunakan tekhnik berfikir yaitu Metode deskriptif.


a.    Metode deskriptif
Metode deskriptif ini digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuatkesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. (Sugiyono, 2008:169).
Metode ini adalah mengumpulkan data-data guna mendapatkan permasalahan atau pokok pembahasan yang dicari dan menyusun atau menyimpulkan dengan cara apa adanya tanpa mengurangi atau pun menambahi dari data tersebut(Sayuti,2002:169).
b.    Metode historis.
Metode penyelidikan yang mengaplikasikan metode pemecahan yang ilmiah dari suatu masalah,dalam kenyataan penyelidikan tidak hanya terbatas pada penelitian historis tetapi juga metode dokumentasi yang masih mungkin diadakan penyelidikan mengenai masa sekarang di samping penyelidikan mengenai sesuatu yang sudah terjadi atau sejarah. (Winarno,1994:132)

c.    Cara pendekatan
Cara pendekatan dalam pokok masalah yang penulis pergunakan adalah:
1.    Pendekatan normatif yatu  melihat ketentuan yang berlaku.
2.    Pendekatan tekstual yaitu dengan melihat teks, dalil-dalil dan teori.
3.    Pendekatan analisis pendekatan ini dilakukan dengan tahapan-tahapan teori sebagai berikut:
a.    Mengumpulkan teori yang relevan dalam kajian ini.
b.    Menyaring semua teori.
c.    Mengklasifikasikan teori atau data.
d.    Menggeneralisasikan teori atau data untuk diperoleh suatu kesimpulan.
Jadi dari apa yang sudah di paparkan diatas maka penulis dalam karya tulis ilmiah ini, mencoba untuk menggunakan salah satu yaitu pendekatan analisis historis.
G.       KAJIAN PUSTAKA
1.    Prospektif Teoritik (teori terkait)
Nasionalisme menurut Gus Dur adalah pluralisme dimana kita tidak membedakan agama,budaya,ras,bahasa dalam hidup bernegara.  Dimana telah dijelaskan dalam surat Al-Hujurat ayat 13. Bahwasannya Alloh telah menciptakan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.jadi nasionalisme menurut gus dur bisa diartikan sebagai demokrasi dan pluralisme dimana semua itu tidak membeda-bedakan bahasa,suku,budaya maupun agama semua itu dianggap sama karena semua itu sangat diperlukan sekali hal semacam itu untuk sebagai motivasi dalam bernegara atau berbangsa dalam mengenyam pendidikan.
Nasionalisme menurut Soekarno merupakan kekuatan bagi bangsa-­bangsa yang terjajah yang kelak akan membuka masa gemilang bagi bangsa tersebut. Dengan nasionalismelah bangsa Indonesia akan mendirikan syarat-­syarat hidup mereka yang bersifat kebatinan dan kebendaan. Kecintaan kepada bangsa dan tanah air merupakan alat yang utama bagi perjuangan Soekarno. Nasionalisme Soekarno dapat dikatakan sebagai nasionalisme yang komplek, yaitu nasionalisme yang dapat beriringan dengan Islamisme yang pada hakekatnya non-natie dan relatif bergerak secara leluasa di dataran marginalitas yang mengenyampingkan pada intrik ras dan etnisitas. Nasionalisme telah memegang peranan penting dan bersifat positif dalam menopang tumbuhnya persatuan dan kesatuan serta nilai-nilai demokratisasi yang pada gilirannya akan mampu melaksanakan pembangunan nasional sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan rakyat. Hal ini karena konsep nasionalisme merupakan dorongan yang mendasar dalam pengaktualisasian.
Pendidikan humanisme yang mengarah pada eksistensi manusia merdeka, merdeka geraknya, merdeka lahir batinnya, sekaligus merdeka alam fikirnya. Konsep nasionalisme Soekarno yang demikianlah, diharapkan mampu mengimplementasikan makna pendidikan wawasan kebangsaan ke dalam sistem birokrat yang demokratis, sehingga terciptalah sistem interdependensi perkembangan antar pulau, suku dan etnik, dengan tetap mengembangkan secara empirik disentralisasi dan demokratisasi ke segala bidang.
Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial maupun sebagai bangsa Indonesia. Pendidikan telah terbukti mengembangkan sumber daya manusia yang merupakan karunia Allah SWT, serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga kehidupan manusia semakin beradab. Bagi bangsa Indonesia tujuan ideal yang hendak dicapai lewat proses dan sistem pendidikan nasional ialah: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian dan mandiri serta bertanggung jawab pada kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pendidikan menurut Soekarno menjadi prioritas utama untuk dilaksanakan karena pada kenyataannya merupakan faktor penentu bagi perkembangan umat. Islam, yang diyakini sebagai agama paling sempurna, menempatkan pendidikan sebagai aspek sangat penting yang mewajibkan umatnya. Tidak ada jalan lain untuk memperbaiki keterpurukan umat Islam selain menyusun sistim pendidikan yang berakar pada nilai-nilai, prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan Islam.
Menurut john dewey pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fondamental secara emosional dan kearah alam dan sesama manusia.
Menurut KI Hajar Dewantara mendidik adalah menuntun segala kekuatan dan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-setingginya.
2.  Pandangan Islam tentang Pendidikan
Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, rasa, karsa, cipta dan budi rohani) dan jasmani (panca indera serta keterampilan-keterampilan). (Drs. H. Fuad Ihsan, 2003:7). Sedangkan pendidikan islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal yang sesuai dengan ajaran islam.(Dr. Ahmad Tafsir, 2007:28)
Pendidikan merupakan suatu proses mempersiapkan generasi muda untuk menjalankan kehidupannya dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Landasan yang dipakai dalam pendidikan Islam adalah sama dengan landasan agama islam yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits serta ijma' dan qiyas para ulama'.
Dasar yang melatarbelakangi kenapa pendidikan islam selalu berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadits Nabi, yaitu karena dilatarbelakangi oleh pernyataan Nabi yang menyebutkan bahwa Qur’an dan sunah adalah warisannya yang paling agung, dan bagi manusia yang memegang teguh keduannya tidak mungkin tersesat selamanya. Hadits nabi yang dimaksud adalah:
لقد تركت فيكم امراين لن تضلوا ابدا امتمسكتم بهما كتاب الله وسنة رسول الله
Artinya:
”Telah kutinggalkan dua perkara bagi kamu yang kamu tidak mungkin tersesat selamanya apabila kamu berpegang teguh kepada keduannya. Dan perkara itu adalah al Kitab (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”(HR. Bukhari)
Pengertian tentang pendidikan Islam yang dikemukakan beberapa tokoh sangatlah berbeda-beda. Salah satu pengertian pendidikan islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.(Prof. H. M. Arifin, 2008:8)
Namun dari perbedaan pendapat tersebut terdapat titik persamaan yang diringkas sebagai berikut: Pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh pendidik kepada yang terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim, yakni kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam pula.
Dalam Islam, pendidikan membentuk watak dan perilaku manusia agar mampu mengimplementasikan ilmu dan imannya dalam bentuk akhlak yang menjadi buah iman dan hasil dari pendidikan. Sehingga setiap orang beragama harus beriman yang didapat dari hasil pendidikan. Sesuai dengan firman Allah yang tertuang dalam surat Al-Mujaadalah ayat 11,yang berbunyi:
Æ  $pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
Artinya  :
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Selain itu pendidikan sebagai lembaga dan usaha pembangunan bangsa dan watak bangsa. Pendidikan yang berikut mencakup ruang lingkup yang amat luas, yaitu pendidikan  kemampuan mental, pikir (rasio, intelek) dan kepribadian manusia seutuhnya.
Pekerjaan mendidik sangat mambutuhkan landasan mental dan spiritual terutama yang memberikan optimisme dalam sikap mendidik maka Allah memberikan petunjuk bahwa manusiapun mempunyai kemampuan untuk menunjukkan orang lain kearah jalan yang lurus. Allah menjelaskan hal ini  dalam surat Asy-Syu'ara ayat 52 yang berbunyi:
 y7Ï9ºxx.ur !$uZøym÷rr& y7øs9Î) %[nrâ ô`ÏiB $tR̍øBr& 4 $tB |MZä. Íôs? $tB Ü=»tGÅ3ø9$# Ÿwur ß`»yJƒM}$# `Å3»s9ur çm»oYù=yèy_ #YqçR Ïök¨X ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±®S ô`ÏB $tRÏŠ$t6Ïã 4 y7¯RÎ)ur üÏöktJs9 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡B  

Artinya:
"Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus"
Dan dalam pendidikan nasional juga menekankan pendidikan seumur hidup, yaitu tidak ada kata "terlambat", "terlalu tua" atau "terlalu dini" untuk belajar. Ini berarti bahwa manusia dalam hidupnya perlu selalu mencari pengetahuan, pengalaman, dan pemikiran baru apapun, kapanpun, dan dimanapun. (Ir. H. Suprijanto, 2007:4). Hal ini mempunyai persamaan dengan pendidikan Islam yang menyatakan bahwa manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu mulai dari sejak dalam kandungan sampai mati.
Menyikapi perkembangan zaman di era globalisasi, globalisasi bias menjelma menjadi peluang(opportunity), bias pula menjadi tantangan(threat), bagi pendidikan islam. Posisi pendidikan islam yang perlu dipertahankan adalah sikapnya yang tetap selektif, kritis dan terbuka terhadap munculnya turbulensi arus global, bukan dengan sikap ekslusif, atau terseret arus global sehingga mengkikis identitas pendidikan islam itu sendiri. Menutup diri atau membuka kran bagi hadirnya arus global, keduanya mengandung konsekuensi. Pendidikan islam hendaknya dapat kembali pada sumber “lokalnya” yang autentik, yakni Al-Qur’an dan Hadis, sambil memperluas wawasan terhadap kemajuan zaman, modernitas, dan temuan sains dan teknologi, sedemikian hingga pembaharuan pendidiakn Islam tidak mulai dari nol lagi.(Prof. Dr. Amin Abdullah, 2004:21)
Dari segi pengertiannya, ilmu pendidikan islam adalh ilmu yang bersifat ilmiah dan sistematik yang membahas tentang ilmu pendidikan,baik yang berdasarkan konsep education academic maupun paedagogie dengan berdasarkan nilai-nilai ajaran islam sebagai karakteristiknya,yaitu bersifat ilmiah, terbuka, dinamis, berorientasi kemasa depan, seimbang mengutamakan keunggulan, sesuai dengan perkembang zaman,menjunjung akhlak mulia,egaliter,demokratis, bertumpu pada visi trasedental,humanistik dan ekologis.
3.    Review Hasil Penelitian Terdahulu
Dengan melihat konteks penelitian diatas bahwasannya konsep nasionalisme itu dapat di artikan sebagai sebagai kedaulatan atau bentuk sebuah negara yang telah di perjuangkan oleh pendahulu-pendahulu kita,dan dalam pendidikan agama islam konteks ini dapat diartikan sebagai pengabdian dan pembelajaran bagi masyarakat,dan semuaitu sudah tertera dalam UUD 1945: bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.melihat dari semua itu dapat diartikan sebagai bahwasannya setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan tanpa memandang apa pun untuk mencapai tujuan dan cita-cita kebangsaan.
Dalam sisdiknas pasal 5:Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Melihat dari praturan sisdiknas ini bhwa setiap warga mendapatkan hak yang sama dalam mengeyam pendidikan sampai setingi-tinginya.
H.      SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk memperoleh gambaran secara keseluruhan tentang skipsi ini, dan juga agar pembahasan skripsi ini terarah dan tercapai tujuan yang dimaksudkan, maka penulis perlu mengarahkannya dalam suatu sistematika penulisan skripsi. Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan pembahasan yang terdiri dari beberapa bab, itu terdiri dari beberapa sub bab yang merupakan penguraian dari setiap bab.
Adapun sistematika pembahasan yang dimaksud adalah:
BAB I :PENDAHULUAN
Merupakan tahapan awal dari penulisan skripsi ini, terdiri dari beberapa sub bab antara lain adalah konteks penelitian,yang merupakan sub yang pertama berisi hal-hal yang mendorong penulis untuk melakukan pembahasan dalam skripsi dan dari konteks penelitian, selanjutnya di tarik beberapa pertanyaan yang termuat dalam fokus masalah ini yang berfungsi untuk mengarahkan pembambahasan ini sehingga tidak melebar. Di perjelas lagi dengan tujuan dan manfaat penelitian, batasan istilah, kemudian dilanjutkan dengan metodologi dan sistematika pembahasan.
BAB II : Kajian Pustaka
Dalam bab inimengungkapkan tentang kajian pustaka yang mencakup tentang Konsep Nasionalisme dalam, konsep Pendidikan Islam dan review hasil penelitian terdahulu.
BAB III: Konsep Nasionalisme Dalam Prespektif Pendidikan        Islam(study analisis pemikiran KH. Abdurrohman Wahid).
BAB IV: Analisis konsep nasionalisme dalam prepektif pendidikan Islam (study analisis pemikiran KH. Abdurrohman Wahid).
Adalah kerangka analisa sebagai kelanjutan dari bab selanjutnya yang menampilkan dasar pertimbangan konsep Nasionalisme Dalam Prespektif pendidikan Islam.
BAB V : penutup
Merupakan bab yang berisi kesimpulan dan pembahasan akhir serta merupakan jawaban terhadap fokus masalah yang terdapat bab pendahuluan. Bab ini juga berisi saran-saran dari penulis yang merupakan akhir dari penulisan skripsi ini.










DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman wahid. 2007. Islam Kosmopolitan Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan. Jakarta. The Wahid Institut.
Abdurrohman Wahid 2005. Islamku Islam anda Islam kita Agama Masyarakat Negara Demokrasi.jakarta. The Wahid Institute.
A.Muhaimin Iskandar.2004. Gus Dur Yang Saya Kenal Sebuah Catatan Tentang Transisi Demokrasi.LkiS Yogyakarta.
Ahmad Tafsir 2008. Ilmu pendidikan dalam perspektif islam.PT Remaja Rosda Karya.
Ubaidillah Achmad. 2005. Pergulatan antara Tradisionalis VS Liberalis. Jombang.PT Madani Adil Makmur.
Umaruddin Masdar.2005. Gus Dur: Pecinta Ulama’ Sepanjang Zaman,Pembela Minoritas Etnis – Keagamaan. Penerbit: Yayasan Kajian Dan Layanan Informasi Untuk Kedaualatan Rakyat(KLIK.R)
Abudin Nata M.A.prof.Dr.H.2009. ILMU PENDIDIKAN DENGAN PENDEKATAN MULTI DISIPLINER.PT Raja Grafindo Persada,Jakarta
Sukardjo Ukim Komarudin.M.Dr.MPd.2009. Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasinya.PT Raja Grafindo Persada Jakarta.

sebelum dan sesudahnya terima kasih... dan mohon maaf apabila arab nya menjadi tidak bisa di lihat kemungkinan pada komp anda tidak memakai ms. word arabic 

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers