Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

MAKALAH STUDY TENTANG SYARAT

Diposkan oleh irfan on Tuesday, January 12, 2010


1.      PENDAHULUAN
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi sumber hokum dan pandangan hidup (way of life) bagi manusia. Kitab ini di junjung tinggi dan dihormati oleh setiap muslim diseluruh dunia selama berabad-abad. Allah SWT memberikan jaminan untuk memelihara al-Qur’an dari segala penyimpangan hingga hari kiamat.
Al-Qur’an al-Karim adalah sumber tasyri’ pertama bagi umat Muhammad. Dan kebahagiaan mereka bergantung kepada pemahaman maknanya, pengetahuan dan pengamalan apa yang terkandung di dalamnya. Kemampuan setiap orang adalah memahami lafaz dan ungkapan al-Qur’an adlah tidak sama. Perbedaan daya nalar di antara mereka adalah suatu hal yang wajar. Kalangan awam hanya hanya dapat memahami maknanya yang dzahir dan pengertian ayat-ayatnya secara global. Sedang kalangan cerdik cendekia dan terpelajar akan dapat menyimpulkan pula dari padanya makna-makna yang lebih dalam. Dan diantara kedua kelompok ini terdapat aneka ragam dan tingkat pemahaman. Maka tidaklah mengherankan jika al-Qur’an mendapat perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama dalam menafsirkan kata-kata garib(aneh, ganjil) atau mentakwilkan tarkib(susunan kalimat).
Kajian ilmiah yang obyektif merupakan asas utama bagi pengetahuan yang valid yang memberikan kemanfaatan bagi pikiran dan perkembangan akal. Oleh karena itu, tersedianya sarana dan prasarana yang memadai bagi seorang pengkaji merupakan hal yang mempunyai nilai tersendiri bagi kematangan buah kajiannya. Kajian-kajian ilmu syari’at pada umumnya dan ilmu tafsir pada khususnya merupakan aktivitas yang harus memperhatikan dan mengetahui sejumlah syarat dan adab agar, dengan demikian, jernih salurannya serta terpelihara keindahan wahyu dan keagungannya.

A.     Latar Belakang Masalah

Ajakan untuk melakukan penafsiran ulang (reinterpretasi) tehadap al-Qur’an semakin sering terdengar. Penafsiran ulang tersebut terutama dilakukan terhadap ayat-ayat yang dipandang tidak lagi relevan dengan konteks zaman ini atau dapat menimbulkan problem dengan penganut agama lain.
Secara mudah dan jelas bahwa melaksanakan ajran-ajaran al-Qur’an tidaklah akan berhasil kecuali dengan memahami dan menghayati al-Qur’an terlebih dahulu serta berpedoman atas nasehat dan petunjuk yang tercakup di dalamnya. Yang demikian tidaklah akan tercapai tanpa penjelasan dan perincian yang dikehendaki oleh ayat-ayat al-Qur’an.
Kita tahu, bahwa tafsir merupakan salah satu jalan untuk memahami kitab al-Qur’an. Sangat mustahil seseorang akan paham al-Qur’an secara kamil kalau tidak tahu tentang tafsir. Sebelum melangkah lebih dalam tentang tafsir al-Qur’an, ada beberapa hal yang harus di pahami terlebih dahulu, diantaranya harus paham dulu apa itu tafsir, al-Qur’an dll.
Akan tetapi, apakh setiap orang memiliki otoritas untuk menafsirkan al-Qur’an? Lantas, siapakah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan al-Qur’an dan apa saja yang harus dipenuhi olehnya? Oleh karena itu penulis ingin memaparkan dalam makalah ini pembahasan tentang tafsir al-Qur’an.

B.           Rumusan Masalah

Sebagai kajian dalam materi studi al-Qur’an tentang syarat-syarat mufassir al-Qur’an berikut kami ruuskan beberapa rumusan masalah agar diskusi tidak keluar jauh dari pembahasan utama.
Adapun rumusan masalah yang dipergunakan sebagai pedoman dan kajian dalam penyusunan makalah ini sebagai berikut :
1.      Definisi Tafsir dan Mufassir
2.      Kebebasan dan pembatasan dalam tafsir
3.      Syarat mental dan adab bagi mufassir sebelum menafsirkan al-Qur’an
4.      Persyaratan macam-macam disiplin ilmu untuk menafsirkan al-Qur’an
5.      Sejarah perkembangan ulum al-Qur’an dari abad kea bad : meliputi jenis ilmu, nama kitab, nama penulis, tahun wafat penulis.






II. PEMBAHASAN

1.Definisi Tafsir dan Mufassir
Tafsir dalam disiplin ilmu al-Qur’an tidak sama dengan intrepretasi teks lainnya, baik itu teks karya sastra maupun teks suatu kitab yang dianggap sebagai kitab suci agama tertentu. Ketika kita membahas tafsir al-Qur’an, maka pengertiannya harus merujuk pada pengertian yang sesuai dengan sudut pandang (worldview) Islam. Dalam bahasa Arab, kata tafsir(الثفسير           ) berarti (                  الاءيضاح والتبيين)”menjelaskan”. Lafal dengan makna ini di sebutkan di dalam al-Qur’an,
ولا ياتونك بمثل الا جئناك بالحق واحسن تفسيرا


“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik tafsirnya” (Q.S. Al-Furqon :33). Maksudnya adalah paling baik penjelasan dan perinciannya.
Selain itu, kata tafsir berasal dari derivasi, (isytiqaq) al-fasru (    الفسر ) yang berarti (        الاءبانة و الكشف( menerangkan dan menyingkap”. Di dalam kamus, kata al-fasru (lisaanul ‘arab) juga bermakna menerangkan dan menyingkap sesuatu yang tertutup.[1]
Adapun secara istilah, para ulama mengemukakan beragam definisi mengenai tafsir yang saling melengkapi antara satu definisi dengan definisi lainnya. Imam al-Zarkasyi dalam kitabnya, al-Burhan fi ulum al-Qur’an, mendefinisikan tafsir dengan :
علم يفهم به كتاب الله تعالى المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه و سلم و بيانه معانيه واستخراج  احكامه وحكمه


“ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada nabinya Muhammad SAW, menjelaskan maknanya serta menguraikan hukum dan hikmahnya.[2]
Definisi tafsir lainnya dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani :



“ilmu yang membahas perihal al-Qur’an al-Karim dari segi penunjukan dalilnya sesuai dengan maksud Allah ta’ala berdasarkan kadar kemampuan manusiawi” .
Oleh al-Zarqany, definisi di atas di jelaskan sebagai berikut :
Maksud kata ilmu adalah pengetahuan-pengetahuan yang terkonsep. “Berdasarkan kemampuan kadar manusiawi” adalah untuk menjelaskan bahwa tidak dianggap cacat dalam ilmu tentang tafsir ketidak tahuan terhadap makna mutasyabihat dan ketidaktahuan terhadap maksud Allah dalam sebuah peristiwa atau perkara”.
Demikianlah definisi tafsir ang dikemukakan oleh para ulama. Tafsir adalah aktivitasnya, sedangkan pelakunya disebut sebagai mufassir. Husain bin Ali bin Husain al-Harby menjelaskan definisi mufassir secara lebih panjang :

المفس هو من له اهلية تامة يعرف بها مراد الله تعالى بكلامه المتعبد بتلاوته قدرالطاقة وراض نفسه على مناهج المفسرين مع معرفته جملا كثيرة من تفسير كتاب الله و مارس التفسير عمليا بتعليم او تاليف





“Mufassir adalah orang yang memilki kapabilitas sempurna yang dengannya ia mengetahui maksud Allah ta’ala dalam al-Qur’an sesuai dengan kemampuannya. Dia melatih dirinya di atas manhaj para mufassir dengan mengetahui banyak pendapat mengenai tafsir kitabullah. Selain itu, ia menerapkan tafsir tersebut baik dengan mengajarkannya atau menuliskannya.[3]
2.                  Kebebasan dan Pembatasan dalam tafsir

Al-Qur’an yang merupakan bukti kebenaran nabi Muhammad SAW, sekaligus petunjuk untuk umat manusia kapan dan dimanapun, memiliki pelbagai macam keistimewaan. Keistimewaan tersebut antara lain, susunan bahasanya yang unik memesonakan, dan pada saat yang sama mengandung makna-makna yang dapat dipahami oleh siapapun yang memahami bahasanya, walaupun tentunya tingkat pemahaman mereka berbeda-beda akibat berbagai faktor.
Ibn Abbas yang di nilai sebagai salah seorang sahabat nab iyang paling mengetahui maksud firman-firman Allah, menyatakan bahwa tafsir terdiri dari empat bagian : pertama, yang dapat dimengerti secara umum oleh orang-orang Arab berdasarkan pengetahuan bahasa mereka; kedua, yang tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak mengetahuinya; ketiga, yang tidak diketahui kecuali oleh ulama; keempat, yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.
Dari pembagian di atas ditemukan dua jenis pembatasan yaitu (1) menyangkut materi ayat-ayat al-Qur’an. Dari segi materi terlihat bahwa ada ayat-ayat al-Qur’an tak dapat diketahui kecuali oleh Allah atau oleh Rasul bila beliau menerima penjelasan dari Allah. Pengecualian ini mengandung beberapa kemungkinan arti, antara lain (a) ada ayat-ayat yang memang tidak mungkin dijangkau pengertiannya oleh seseorang, seperti ya sin, alif lam mim, dan sebagainya. Pendapat ini di dasarkan oleh firman Allah yang membagi ayat-ayat al-Qur’an kepada muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar), dan bahwa tidak ada yang mengetahui ta’wil (arti) nya kecuali Allah, sedangkan orang yang dalam ilmunya berkata kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabih(QS 3:7), atau (b) ada ayat-ayat yang hanya diketahui secara umum artinya, atau sesuai dengan bentuk luar redaksinya, tetapi tidak dapat didalami maksudnya, seperti masalah metafisika dan lain sebagainya, yang tidak termasuk dalam wilayah pemikiran atau jangkauan akal manusia. (2) Menyangkut syarat-syarat penafsir, yang akan dibahas dan dijelaskan di bawah ini.

3.                  Syarat mental dan adab bagi mufassir sebelum menafsirkan al-Qur’an

menafsirkan al-Qur’an adalah amanah yang berat. Oleh karena itu, tidak setiap orang memiliki otoritas untuk mengemban amanah tersebut. Siapa saja yang ingin menafsirkan al-Qur’an harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Menururt Ahmad Bazawy Adh-Dhawy[4], syarat mufassir secara umum terbagi menjadi dua : aspek pengetahuan dan aspek kepribadian.
A.                 Syarat pertama : Aspek Pengetahuan

Aspek pengetahuan adalah syarat yang berkaitan dengan seperangkat ilmu yang membantu dan memiliki urgensitas untuk menyingkap suatu hakikat. Tanpa seperangkat ilmu tersebut, seseorang tidak akan memiliki kapabilitas untuk menafsirkan al-Qur’an karena tidak terpenuhi faktor-faktor yang menjamin dirinya dapat menyingkap suatu hakikat yang harus dijelaskan. Para ulama memberikan istilah untuk aspek pengetahuan ini dengan syarat-syarat seorang alim.
Syarat yang berkaitan dengan aspek pengetahuan yang harus dikuasai seorang mufassir ini dibagi menjadi dua, yaitu : syarat pengetahuan murni dan syarat manhajiyah (berkaitan dengan metode). Imam al-shobuni[5] dalam kitabnya menyebutkan delapan syarat yang harus dikuasai mufassir, sedangkan imam jalaluddin al-suyuthy dalam al-Itqan fi ulum al-Qur’an menyebutkan lima belas ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir[6]. Lima belas syarat tersebut adalah sebagai berikut :
1.                  Bahasa Arab karena dengannya seorang mufassir mengetahui penjelasan kosa kata suatu lafal dan maksudnya sesuai dengan objek.
2.                  Nahwu karena suatu makna bias saja berubah-ubah dan berlainan sesuai dengan perbedaan I’rab.
3.                  Tashrif (sharaf) karena dengannya dapat diketahui bina’ (struktur) dan shighah (tense) suatu kata.
4.                  isytiqaq (derivasi) karena suatu nama apabila isytiqaqnya berasal dari dua subjek yang berbeda, maka artinya pun juga pasti berbeda. Misalnya (   المسيح) apakah berasal dari (   السياحه) atau (   المسح).
5.                  Al-Ma’ani karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkib (komposisi) suatu kalimat dari segi manfaat suatu makna.
6.                  Al-Bayan karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkib (komposisi) suatu kalimat dari segi perbedaannya sesuai dengan jelas atau tidaknya suatu makna
7.                  Al-Badi’ karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkib (komposisi) suatu kalimat dari segi keindahan suatu kalimat.

Ketiga ilmu di atas disebut ilmu balaghah yang merupakan ilmu yang harus dikuasai dan diperintahkan oleh seorang mufassir agar memiliki sense terhadap keindahan bahasa (I’jaz) al-Qur’an.
8.                  Ilmu qira’ah karena dengannya dapat diketahui cara mengucapkan al-Qur’an dan kuat tidaknya model bacaan yang disampaikan antara satu qari’ dengan qari’ lainnya.
9.                  Ushuluddin (prinsip-prinsip dien) yang terdapat di dalam al-Qur’an berupa ayat yang secara tekstual menunjukkan sesuatu yang tidak boleh ada pada Allah ta’ala. Seorang ahli ushul bertugas untuk menakwilkan hal itu dan mengemukakan dalil terhadap sesuatu yang boleh, wajib dan tidak boleh.
10.              Ushul fikih karena dengannya dapat diketahui wajh al-Istidlal (segi penunjukan dalil) terhadap hokum dan istinbath.
11.              Asbab al-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) karena dengannya dapat diketahui maksud ayat sesuai dengan peristiwa diturunkannya.
12.              An-Nasikh wa al-Mansukh agar diketahui makna ayat  yang muhkam (ditetapkan hukumnya) dari ayat selainnya.
13.              Fikih
14.              Hadits-hadits penjelas untuk menafsirkan yang mujmal (global) dan mubham (tidak diketahui).
15.              Ilmu Muhibah, yaitu ilmu yang Allah anugerahkan kepada orang yang mengamalkan ilmu.

Ilmu-ilmu di atas merupakan alat bagi seorang mufassir. Seseorang tidak memiliki otoritas untuk menjadi seorang mufassir kecuali dengan menguasai ilmu-ilmu ini. Siapa saja yang menafsirkan al-Qur’an tanpa menguasai ilmu-ilmu tersebut berarti ia menafsirkan dengan ra’yu (akal) yang dilarang.
Adapun bagi seorang mufassir kontemporer, menurut ahmad Bazawy Adh-dhawy[7], maka ia harus menguasai pengetahuan tambahan selain lima belas ilmu di atas. Syarat pengetahuan tambahan tersebut adalah:
1.                  mengetahui secara sempurna ilmu-ilmu kontemporer hingga mampu memberikan penafsiran terhadap al-Qur’an yang turut membangun peradaban yang benar agar terwujud universalitas Islam.
2.                  mengetahui pemikiran filsafat, social, ekonomi dan politik yang sedang mendominasi dunia agar mufassir mampu mengcounter setiap syubhat yang ditujukan kepada Islam serta memunculkan hakikat dan sikap al-Qur’an al-Karim terhadap setiap problematika kontemporer. Dengan demikian, ia telah berpartisipasi dalam menyadarkan umat terhadap hakikat Islam beserta keistimewaan pemikiran dan peradaban.
3.                  memiliki kesadaran terhadap terhadap priblematika kontemporer. Pengetehuan ini sangat urgen untuk memperlihatkan bagaimana sikap dan solusi Islam terhadap problem tersebut.
4.                  ilmu biologi
5.                  ilmu fisika
6.                  ilmu kedokteran
7.                  ilmu perbintangan dan lain-lain
Pendapat ini dipertegas oleh Quraish Shihab yang mengatakan “kemungkinan penafsir akan terjerumus dalam kesalahan dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah jika tidak mengetahu ilmu yang berkaitan dengan ilmu tersebut.
Manhaj yang pertama kali harus ditempuh oleh seorang mufassir adalah manhaj tafsir bil ma’tsur, sebelum ia menafsirkan dengan ra’yu.
Bisa kita lihat dalam penjelasan dalam penjelasan al-Syuyuthi[8] dalam al-Itqan:
قال العلماء : من اراد تفسير الكتاب العزيز طلبه اولا من القران, فما اجمل منه في مكان فقد فسر في موضع اخر, ومااختصر في مكان فقد بسط في موضع اخر منه, فاءن اعياه ذلك طلبه من السنة فاءنها شارحه للقران وموضحة له



Para ulama mengatakan” barang siapa yang ingin menafsirkan al-qur’an, pertama kali dituntut menafsirkan dari al-Qur’an, karena apa yang mujmal di suatu tempat itu ditafsirkan di tempat lain dan sesuatu yang singkat dan padat pada suatu tempat akan diperjelas pada tempat yang lain. Jika masi sulit, maka dituntut menafsirkan dengan al-Sunnah karena sunnah itu yang menerangkan al-Qur’an dan penjelas baginya.
Setelah menempuh manhaj tafsir bil ma’tsur terlebih dahulu, barulah seorang mufassir diperbolehkan [9]menggunakan ra’yunya dalam menafsirkan al-Qur’an dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tafsir. sebab menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali, tafsir bil ma’tsur akan berhenti pada makna-makna, pemahaman dan pesan-pesan yang disampaikan oleh riwayat-riwayat yang ada. Semantara itu, tafsir bil ra’yi-yang sesuai dengan kaidah-itulahyang justru berpotensi untuk terus berkembang dan tidak berhenti. Karena tafsir yang demikian yang terus berinteraksi dengan masalah-masalah sastra, kalam, bahasa, hokum dan problematika kehidupan lainnya[10]
Oleh karena itu, syaikh Yusuf al-Qardhawi kemudian menawarkan karakteristik tafsir ideal yang diharapkan sesuai dengan kaidah yang diakui para ulama dan pada saat yang sama dapat mengiringi ritme perkembangan zaman. Karakteristik-karakteristik tafsir ideal tersebut secara ringkass adalah sebagai berikut :
Pertama, menggabungkan antara riwayah dan dirayah
Kedua, menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an
Ketiga, menafsirkan al-Qur’an dengan sunnah yang shoheh
Ke-empat, memanfaatkan tafsir sahabat dan tabi’in
Kelima, mengambil kemutlakan bahsa arab
Ke-enam, memperhatikan konteks redaksional ayat
Ketujuh, memperhatikan asbab al-Nuzul
Kedelapan, meletakkan al-Qur’an sebagai referensi utama[11]


B.                 Syarat Kedua : Aspek Kepribadian dan Adab Bagi Mufassir

Adapun syarat yang kedua yang harus terpenuhi pada diri seorang mufassir adalah syarat yang berkaitan dengan aspek kepribadian. Yang dimaksud dengan aspek kepribadian adalah akhlak dan nilai-nilai ruhiyah yang harus dimiliki seorang mufassir agar layak untuk mengemban amanah dalam menyingkap dan menjelaskan suatu hakikat kepada orang yang tidak mengetahinya. Para ulama salaf shalih mengartikulasikan aspek ini sebagai adab-adab seorang alim.
Sementara itu, imam al-Suyuthy mengatakan, “ketahuilah bahwa seseorang tidak dapat memahami makna wahyu dan tidak akan terlihat olehnya rahasia-rahasianya sementara di dalam hatinya terdapat bid’ah, kesombongan, hawa nafsu, cinta dunia, gemar melakukan dosa, lemah iman, bersandar pada mufassir yang tidak memiliki ilmu atau merujuk pada akalny. Semua ini merupakan penutup dan penghalang yang sebagiannya lebih kuat dari pada sebagian yang lain. Saya katakana, inilah makna firman Allah ta’ala :


“aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alas an yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. (QS Al-A’raf : 146). Bahwa maksud ayat di atas adalah dicabut dari mereka pemahaman mengenai akal.
Brdasrkan perkataan Imam al-Suyuthy di atas, Ahmad Bazawy Adh-Dhawy[12] meringkas sejumlah adab yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, yaitu :
  1. Akidah yang lurus
  2. terbebas dari hawa nafsu
  3. niat yang baik
  4. Akhlak yang baik
  5. Tawadhu’ dan lemah lembut
  6. bersikap zuhud terhadap dunia hingga perbuatannya ikhlas semata-mata karena Allah
  7. Memperlihatkan taubat dan ketaatan terhadap perkara-perkara syar’i serta sikap menghindar dari perkara-perkara yang dilarang.
  8. tidak bersandar pada ahli bid’ah dan kesesatan dalam menafsirkan.
9.      Bisa dipastikan ia tidak tunduk kepada aklnya dan menjadikan kitabullah sebagai pemimpin yang diikuti.

  1. Persyaratan macam-macam disiplin ilmu untuk menafsirkan al-Qur’an

Aspek pengetahuan adalah syarat yang berkaitan dengan seperangkat ilmu yang membantu dan memiliki urgensitas untuk menyingkap suatu hakikat. Tanpa seperangkat ilmu tersebut, seseorang tidak akan memiliki kapabilitas untuk menafsirkan al-qur’an karena tidak terpenuhinya faktor-faktor yang menjamin dirinya dapat menyingkap suatu hakikat yang harus dijelaskan.
Adapun macam-macam disiplin ilmu untuk menafsirkan al-Qur’an adalah sebagaimana tersebut di atas dalam persyaratan aspek pengetahuan yang harus dikuasai seorang penafsir, serta tiga syarat tambahan bagi seorang mufassir kontemporer yang dipandang sangat relevan dengan keadaan sekarang.
 Selain harus mengusai ilmu-ilmu di atas, seorang mufassir harus memperhatikan manhaj yang ditempuh dalam menafsirkan al-qur’an. Oleh karena itu, Syaikh Yusuf al-Qardhawi kemudian menawarkan karakteristik tafsir ideal yang diharapkan sesuai dengan kaidah yang diakui para ulama dan pada saat yang sama dapat mengiringi ritme perkembangan zaman. Karakteristi-karakteristik tafsir ideal tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut :
Pertama, menggabungkan antara riwayah dan dirayah
Kedua, menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an
Ketiga, menafsirkan al-Qur’an dengan sunnah yang shahih
Keempat, memanfaatkan tafsir sahabat dan tabi’in
Kelima, mengambil kemutlakan bahasa arab
Keenam, memperhatikan konteks redaksional ayat
Ketujuh, memperhatikan asbab an-nuzul
Kedelapan, meletakkan al-Qur’an sebagai referensi utama


  1. Sejarah Perkembangan Ulum Qur’an dari Abad ke Abad : Jenis ilmu, nama kitab, nama penulis, tahun wafat penulis.

a)            Perkembangan awal ulum al-Qur’an
Para sahabat nabi adalah orang-orang Arab murni, mereka mampu mencerna kekusastraan bermutu tinggi. Mereka dapat memahami ayat-ayat al-Qur’an yang turun kepada rasulullah SAW. Jika menghadapi kesukaran dalam memahami sesuatu mengenai al-Qur’an, mereka menanyakan langsung kepada beliau.
Para sahabat pada waktu itu sebagai orang-orang Arab murni mempunyai keistimewaan-keistimewaan arabiyah yang tinggi dan kelebihan-kelebihan lain yang sempurna. Pada masa pertama ini permasalahan yang terkait dengan penafsiran al-Qur’an tidak begitu mendalam mengingat ada rasul yang bias setiap saat menjelaskan atau ditanyai, disamping ijtihad mereka.
Kekurangan para sahabat nabi pada masa ini adalh sebagian besar dari sahabat nabi yang buta huruf dan tidak bias baca tulis. Itu merupakan halangan bagi kegiatan menulis buku tentang al-Qur’an. Selain itu, rasulullah uga melarang menulis sesuatu selain al-Qur’an.
Pada zaman berikutnya, yakni zaman khalifah abu baker dan Umar radyiyallahu anhuma, ilmu al-Qur’an masih diriwayatkan melalui penuturan secara lisan. Ketika kekhalifan Utsman ra di mana orang Arab melalui bergaul dengan orang-orang non arab, pada masa itu Utsman memerintahkan supaya kaum muslim in berpegang pada mushaf induk dan membuat reproduksi menjadi beberapa buah naskah untuk dikirim ke daerah-daerah.
Utsmanmerupakan peletak dasar pereproduksiaan naskah Al-Quran yang dikemudian hari terkenal dengan nama Ilmu Rosmil Al-Quran atau Ilmu rosmil Ustmani (ilmu tent5ang penulisan Al-quran).
Selain tiu Ali Bin Abi Thalib juga terkenal dengan perintahnya kepada Abul Aswad Adduwali (wafat tahun 69 H) supaya meletakkan kaidah pramasastra bahasa arab guna mejjaga corak keasliaannya. Dengan perintahnya itu bereati pula Ali bin Abi Thalib ra adalah orang yang meletakkan dasar ilmu I’robul Quran.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perintis awal ilmu quran adalah:
  1. empat orang khalifah Rasyidin, Ibnu Abbas, Ibnu Maud, zaid Bin Tsabit, Ubay Bin Kaab, Abu Musa Al- Asyary dan Abdullah bin Zubair. Mereka itu dari kalangan sahabat nabi
  2. mujahid, Atha bin Yasar, Ikrimah, Qatadah, Hasan basri, Said bin Zubair dan Zaid bin Aslam dari kaum Tabiin di MAdinah
  3. Malik bin Anas dari kaum TAbiib Tabiin (generasi ketiga kaum muslimin). Ia memperoleh ilmunya dari Zaid bin Aslam.
Mereka itilah orang-orang yang meletakkan apa yang sekarang kita kenal dengan ilmu Tafsir, ilmu Asbabun Nuzul, ilmu tentang ayat-ayat yang turun di Mekkah dan turun di MAdinah, ilmu tentang Nasikh dan Mansukh dan ilmu gharibul-Quran (soal-soal yang memerlukan penta’wilan dan penggalian maknanya).
b)            Pembukuan Tafsir Al-Quran (Abad ke 2 H)
Orang yang pertama mengarang tafsir ialah Syu’bah bin Hajjaj (wafat 160 H), Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) dan Waqi’ bin Jarrah (wafat 197 H). ia mendengarkan pendapat-pendapat Ibnu Jarij, al-A’masy, al-Auza’I dan Sufyan Ats-tsauri. Hadis yang berasal darinya diketengahkan oleh Abdullah bin Mubarak, Yahya bin Adam, Ahmad bin Hanbal dan Ali bin al-Madani. Lahir 128 H dan wafat 197 H. mereka termasuk ulama abad ke-II. Tafsir yang mereka tilus itu berupa koleksi pendapat-pendapat sahabat dan tabiin yang kebanyakan belum dicetak, sehingga tidak sampai pada generasi sekarang.
c)            Pembukuan Cabang-cabang Ulumul Qur’an yang lain, (Abad ke-3 H)

Cabang-cabang ulum al-Qur’an yang lain menyusul dibukukan oleh beberapa orang. Orang yang pertama kali mengarang ialah secara berturut-turut sebagai berikut:
  1. ali bin al-Madani, beliau guru imam Bukhori, menulis kitab tentang asbab al-Nuzul. Nama asli Ali bin Abdullah bin Ja’far. Nama panggilannya : Abu Ja’far, seorang dari kabilah Sa’ad berdasarkan wala (perwalian). Wafat tahun 234 H.
  2. abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam, menulis tentang nasikh dan mansukh, qira’at dan fadha’ilul Qur’an (keutamaan dan keistimewaan al-qur’an)
  3. Muhamad bin Ayyub adh-dharis (wafat 294 H) menulis tentang kandungan ayat-ayat yang turundi Makkah dan di Madinah kitabnya berjudul Fadha’tlul Qur’an.
  4. Muhammad bin Khalaf bin Murzaban (wafat 309 H) menulis kitab berjudul al-Hawy fi Ulumil Qur’an (yang terkandung di dalam ilu al-Qur’an).

d)            Pada abad ke-4

Sedangkan pada abad ke IV H, ada lima ulama yang giat mengarang ulum al-Qur’an dalam kitab-kitabnya yaitu :

  1. Abu Bakar bin Qasim al-Anbari (wafat 328 H) menulis buku berjudul “ajaibu ulumil Qur’an (keajaiban-keajaiban ilmu al-Qur’an). Dalam buku tersebut ia berbicara tentang keutamaan dan keistimewaan al-Qur’an, tentang turunnya al-Qur’an dalam “tujuh huruf penulisan mushaf, jumlah surah, ayat dan lafadznya.
  2. Abul Hasan al-Asy’ary menulis kitab berjudul al-Mukhtazan fi Ulumil Qur’an (Yang Tersimpan Di dalam Al-Qur’an).
  3. Abu baker al-Sijitsani menulis tentang keanehan-keanehan al-qur’an. Muhammad bin Aziz bin al-“azizi al-Sajitsani. Wafat 330 H
  4. Abu Muhammad al-Qshshab Muhammad Ali al-Kurkhi (wafat sekitar tahun 360 H) menulis kitab berjudul : Nukatul Qur’an ad-daallah ‘alal Bayan fi ‘Anwaa’il ‘Ulumi wal-Ahkam al-Munabbi’ah ‘An Ikhtilafil-Anam (Titik-titik al-Qur’an menunjukkan kejelasan tentang Berbagai Ilmu dan Hukum Yang Memberitakan Perbedaan Fikiran Insan).
  5. Muhammad bin ‘Ali al-Afdawi (wafat 388 H). menulis kitab terdiri dari 20 jilid berjudul al-Istighna Fi Ulumil Qur’an (Kebutuhan Ilmu Al-Qur’an)

e)            Dalam abad ke 5 H

Dalam abad ke-V H, muncul dua tokoh ulama yang aktif menulis ulum al-Qur’an dan cabang-cabangnya yaitu :
  1. Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi al-Mishri. Wafat 430 H> menulis kitab berjudul al-Burhan Fi’ulumil Qur’an, dan kitab lainnya lagi yang berjudul I’rabul Qur’an.
  2. Abu Amr ad-Dani (wafat 444 H) menulis kitab berjudul “at-Taisir Fil Qira’atis-Sab’I” dan kitab lainnya lagi yang berjudul ‘Al-Muhkam fin-Nuqath.

f)              Abad ke-6 H





[1] Muhammad Ali al-Shobuni, al-Tibyan, (Bairut : ‘alam al-kutub, 1985), 65
[2] Al-Shobuni, al-Tibyan, 66
[3] Husain bin Ali bin Husain al-Harby, Qawa’id al-Tarjih ‘Inda al-Mufassirin; Dirasah Nazhariyah Tathbiqiyyqh, (Riyadh : Dar al-Qasim, 1996). J: 1, hal 29
[4] Adh-Dhawy, Ahmad Bazawy. Syuruth al-Mufassir wa Adabuhu dalam http : //www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.phpt=82245
[5] As-Shobuni, Muhammad Ali, At-tibyan, (Bairut : “alam al-kutub, 1985), 159
[6] As-Suyuthi, Jalaluddin, al-Itqan fi ulum al-Qur’an,
[7] Ahmad Bazawy. Syuruth al-Mufassir, 82245
[8] Al-Suyuthi, al-Itqan, (Maktabah Syamilah versi 2), 421
[9] Problemaika tafsir bil ma’tsur menurut para ulama adalah banyaknya riwayat yang lemah dan palsu
[10] Al-kattani, abdul hayyie “Al-Qur’an dan Tafsir’ dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan Vol 1 N0 1 Januari 2005 hal 101
[12] Ahmad Bazawy. Syuruth al-Mufassir, 82245


{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers