Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

Globalisasi-Kapitalisme dan Krisis Ekologi

Diposkan oleh irfan on Sunday, January 17, 2010


Kritik Terhadap Globalisasi dan Panggilan Kembali Merawat Bumi sebagai Misi Merawat Kehidupan
I K. Eddy Cahyana
Alam Protes?
Ketika musim penghujan tiba, masyarakat Jakarta menjadi was-was dan kuatir. Mereka selalu berjaga-jaga - siaga satu. Kenapa? Oleh karena sewaktu-waktu banjir dapat datang tiba-tiba tanpa permisi, menghantam, mengenangi lingkungan dan rumah mereka.
Keadaan itu sangat menyusahkan sebab harta benda mereka tergerus banjir dan menyisakan sampah yang busuk yang memicu penyakit fisik maupun psikis. Hal ini tidak terjadi sekali atau dua kali saja melainkan sudah menjadi langganan setiap tahunnya. Istana dan Bandara juga tak luput dari incaran banjir tersebut. Ibukota negeri tergenang air berhari-hari membuat akslerasi kehidupan menjadi terganggu. Seakan sulit untuk dielakan lagi. Bagaimana tidak, kota Jakarta kini telah menjadi hutan beton pencakar langit yang telah menyingkirkan tumbuhan-tumbuhan penghijau dan lingkungan yang sebelumnya berfungsi sebagai penyeimbang siklus iklim dan environment. Di bagian lain, kehidupan di kantung-kantung kumuh merupakan cerita kehidupan tersendiri namun tak dapat dilepaskan dari kehidupan Ibukota secara keseluruhan. Mereka hidup dipinggir-pinggir kali dan disekitar lokasi yang mengitari kemegahan pencakar langit tadi, dan bila banjir datang menerjang, bukan hanya harta yang hanyut tetapi nyawapun tidak jarang terengut oleh derasnya arus air.
Terakhir ancaman banjir tidak hanya menghantui masyarakat Jakarta tetapi juga daerah-daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi. Cerita lain, di musim kemarau ternyata juga membuat masyarakat resah. Resah oleh karena di berbagai tempat di Indonesia ini merasa semakin sulit ditemukannya air untuk mengairi sawah, untuk konsumsi rumah tangga dan kebutuhan lainnya. Di Bali misalnya, sekitar 20-30 tahun kebelakang air masih sangat berlimpah untuk mengairi sawah, namun kini untuk musim penghujan saja para petani sudah merasa susah untuk mengairi sawah secara cukup. Air kini sudah semakin mahal. Sungai-sungai yang dulu berlimpah dengan air kini menjadi kering di musim kemarau sebaliknya mudah terjadi banjir ketika musim penghujan. Di Indonesia perubahan iklim terbukti membuat hilangnya persediaan air akibat curah hujan yang semakin berkurang hingga mencapai puluhan ribu meter kubik per tahun. Artinya kehidupan di atas Bumi kini sudah semakin terancam oleh kondisi alam yang telah dieksploitasi dengan kejam oleh manusia.
Alam kini sudah semakin menunjukkan ketidak-bersahabatannya dengan kehidupan manusia dan binatang oleh karena manusia telah berpolah tidak ramah atasnya. Bahkan tahun-tahun belakangan ini sangat terasa sekali Bumi ini semakin gerah. Gerah karena temperaturnya semakin meningkat. Para ilmuan menyebut fenomena ini dengan istilah Pemanasan Global (Global Warming). Akhir-akhir ini orang begitu ramai berbicara mengenai fenomena ini sebab telah menimbulkan dampak yang secara langsung atas kehidupan seperti contoh yang sudah disebutkan di atas. Hutan sebagai paru-paru bumi yang diandalkan untuk dapat menetralisir komposisi CO2 di udara, kini keberadaanya juga semakin memprihatinkan. Salah satu persoalan besar terkait dengan masalah kehutanan adalah pembalakan atau penebangan liar (illegal logging) yang sampai hari ini terus berlanjut. Bahkan Departemen Kehutanan memperkirakan jumlah lahan hutan di seluruh Indonesia yang rusak akibat penebangan liar mencapai 2,8 juta hektare per tahun. Hingga kini, penebangan sudah mencapai 60 juta hektare. Menurut sebuah sumber lain, dari 1.200,35 juta hektare hutan Indonesia pada 1999, kerusakannya mencapai sekitar 101,73 juta hectare .
Beberapa contoh di atas merupakan gejala yang sedang terjadi dalam realitas kehidupan di atas bumi ini khususnya di Indonesia. Suatu realitas kehidupan yang secara langsung berkaitan dengan alam dan lingkungan dimana mahkluk hidup itu hidup. Bahwa alam kini seakan menyerang balik manusia akibat perlakuan yang kurang bertanggung jawab atasnya. Sistem keseimbangan alam terganggu. Alam seakan protes kepada penghuninya lewat mudahnya timbul berbagai macam bencana yang menghantam manusia. Banyak para ahli kemudian melihat bahwa pemicu itu semua adalah karena korban dari kapitalisme globalisasi.
Berikut akan dilihat mengenai globalisasi secara sekilas dan penilaian pakar tentang hal itu terutama difokuskan pada kaitannya dengan krisis ekologi.

2. Globalisasi – Kekuasaan dan Krisis Ekologi
2.1 Apakah itu globalisasi?
Globalisasi berawal dari kisah kapitalime yang berkembang abad 17 mulai mengarah kepada perekonomian global dimana negara-negara Eropa Barat melaksanakan perdagangan internasional yang terkenal dengan doktrin Merchantilisme. Mereka berusaha merajai perdagangan internasional untuk mengejar kemakmuran dan kejayaan negaranya sehingga timbul istilah “The Flag follows The Trade” yang berarti mereka berdagang dengan dukungan negara dan kekuatan persenjataannya. Maka masa penjajahan melanda seluruh dunia. Globalisasi kontemporer yang dimediasi oleh perkembangan ilmu dan teknologi informatika dan transportasi memudahkan orang untuk berkomunikasi dan mengadakan perjalanan antar negara dan antar benoa dalam hitungan jam. Teknologi informasi dan tranportasi telah mengintegrasikan manusia dalam jejaring tunggal.

Globalisasi merupakan suatu proses dengan mana perekonomian di berbagai negara diintegrasikan ke dalam ekonomi kapital dunia. Dan aspek yang paling dominan di dalamnya adalah peningkatan sentralisasi produksi dunia dan perdagangan di tangan beberapa ratus perusahan multinasional seperti International Monetary Funds (IMF) dan the World Bank. Hal ini sebenarnya berakar pada budaya kapitalisme yang menganut prinsip bahwa logika perkembangan adalah profit making . Persis seperti yang dikatakan Max Weber mengenai hakikat kapitalisme modern yang ditandai oleh perhitungan rasional atas kapital. Perhitungan seperti itu meliputi salah satunya adalah pemilikan semua sarana fisik untuk produksi – tanah, bahan-bahan mentah, mesin peralatan dan seterusnya – sebagai milik usaha-usaha industrial swasta otonom yang bisa dijual .
Pilar utama dari globalisasi adalah paham neoliberal yang mendudukan mekanisme pasar dan kompetisi untuk menentukan masa depan nasib manusia. Paham neoliberal bertumpu pada tiga hal fundamental, yakni perdagangan bebas barang dan jasa; perputaran modal yang bebas; dan kebebasan berinvestasi. Paradigma kapitalis ini menjadi spirit kaum kapitalis dalam melihat lingkungan alam, Bumi sebagai sumberdaya yang mesti dikuasai, dieksploitasi demi profit making. Globalisasi dengan demikian adalah biang kerusakan sumber-sumber kehidupan. Karena, suatu produk industri mau tidak mau pasti diproduksi dengan cara-cara mengeksploitasi lingkungan hidup, mencemari air dan udara, berkontribusi pada pemanasan global, meningkatkan penggunaan energi, dan untuk distribusinya membutuhkan infrastruktur berupa jalan raya, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik dan banyak lagi.
Salah satu contoh nyata kerusakan lingkungan yang parah diakibatkan oleh karena ulah para kapitalis adalah semburan “Lumpur Lapindo” di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang telah menyebabkan penderitaan dan sengsara serta mengusur penduduk sekitar dan juga tenggelamnya persawahan milik warga yang menjadi andalan perekonomian mereka.
Volume lumpur diperkirakan sekitar 5.000 hingga 50 ribu meter kubik perhari (setara dengan muatan penuh 690 truk peti kemas berukuran besar). Genangan hingga setinggi 6 meter pada pemukiman. Selain perusakan lingkungan dan gangguan kesehatan, dampak sosial banjir lumpur tidak bisa dipandang remeh . Dampak material dan psikologis yang dialami warga sekitar sampai saat ini belum pulih benar. Belum terhitung dampak lingkungannya yang tidak tersolusikan sampai hari ini.
2.2 Penilaian umum terhadap globalisasi
Stuckelberger mengatakan bahwa globalisasi telah menjadi kata ajaib pada akhir abad 20. Dimana beberapa orang mengharapkan pertumbuhan, kemakmuran, kedamaian, dan keamanan; (bahkan) mereka sudah hampir-hampir mengharapkan keselamatan dari globalisasi. Kelompok yang lain memandang globalisasi sebagai penyebab timbulnya kesenjangan antara pihak kaya dan miskin, maupun eksploitasi, penghancuran dan ketergantungan lingkungan, sehingga globalisasi hampir dilihat sebagai perwujudan iblis . Hal yang sama juga dikatakan oleh Mee-Yin bahwa terdapat banyak kritik/penilaian terhadap globalisasi secara negatip maupun positip.

Kritik negatip mengatakan bahwa globalisasi telah melanggengkan kemiskinan, memperlebar ketidakmerataan materi, membangkitkan konsumerisme dan kepemilikan yang tidak perlu, memperparah degradasi ekologi, melanggengkan meliterisme, masyarakat menjadi terpecah, memarginalkan kelompok – kelompok subordinate, menciptakan intoleransi dan memperdalam krisis demokrasi. Sedangkan penilaian positip mengatakan bahwa globalisasi meningkatkan income per kapita dunia sejak tahun 1945, menurunkan separuh dari jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan, meningkatkan kesadaran ekologi, memicu perkembangan teknologi, meningkatkan (kemudahan) komunikasi dan kemungkinan pengurangan fasilitas angkatan bersenjata dalam berbagai kelompok yang telah mendapat kesempatan dalam organisasi global .
Dari dampak-dampak globalisasi yang disebutkan di atas, salah satunya yang paling menonjol adalah degradasi ekologi, bahwa karena globalisasi, alam sebagai sumberdaya telah dan sedang mengalami kemerosotan yang luar biasa akibat ulah manusia yang menggaruk maruk alam demi kapitalisme global . Itulah sebabnya masalah yang paling penting yang tengah dihadapi oleh seluruh dunia saat ini adalah masalah krisis alam, bumi tempat dimana kehidupan berlangsung. Dapat dibayangkan jika planet yang menjadi tempat kehidupan satu-satunya ini mengalami kehancuran karena keadaanya mengalami degradasi memprihatinkan yang tak terkendali. Tentu resikonya seluruh kehidupan di dalamnya pun akan lenyap bersama dengan lenyapnya tempat dan sumber kehidupan itu, Bumi. Sekarang ini Bumi sedang mengerang kesakitan membutuhkan pemulihan. Bumi telah dan sedang tiada hentinya dicemari oleh akibat kerakusan manusia, kebodohan, over-populasi, dan perang serta akibat konsumerisme yang berdampak fatal dalam bentuk kekeringan, kemusnahan species, kemiskinan dan kelaparan. Pola-pola pengembangan kapital dan gaya hidup konsumerisme telah menjadi bencana bagi lingkungan alam dan keberlanjutan hidup .
2.2 Bagaimana kaitan globalisasi dengan krisis alam?
Sonny Keraf mencatat tiga aspek ekonomi global yang perlu dicermati dalam kaitannya dengan krisis ekologi. Pertama persoalan hutang luar negeri dalam arus utama globalisasi keuangan dewasa ini mempunyai dampak negatip yang serius bagi kondisi lingkungan hidup di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Fenomena hutang luar negeri memperlihatkan bahwa semakin besar utang luar negeri sebuah negara, semakin negara tersebut dilanda krisis ekonomi. Logikanya adalah negara miskin yang meminjam kepada negara maju yang kaya sebenarnya negara berkembang sedang memberi makan kepada negara maju plus membayar bunganya. Bukankah ini sebuah pemerasan yang terselubung? Jadi alih-alih hutang luar negeri menolong negara dari krisis malah sebaliknya utang menjadi alat imperialisme dan kolonialisme ekonomi. Hutang justru membuat perekonomian menjadi hancur. Alih-alih negara kaya membantu negara miskin, malah sebaliknya negara miskin menghidupi negara kaya.

Terkait krisis lingkungan, bahwa semakin besar hutang dengan bunga pinjaman yang mencekik, semakin sumber daya alam kita dieksploitasi untuk membayar utang itu. Untuk membayar hutang (dalam bentuk dollar Amerika) maka tidak ada jalan lain selain menguras sumber daya alam. Masalah ini dipahami betul oleh pihak kreditor seperti IMF dan World Bank. Pada satu pihak mereka menekan negara berkembang untuk mempunyai cadangan sumber daya alam yang besar untuk melestarikan sumber daya alamnya dan menjaga keseimbangan/keutuhan lingkungan hidup. Namun dipihak yang lain hutang yang telah melilit negara-negara itu, dan mereka malah membantu negara-negara debitor untuk menguras sumber daya alamnya. Jadi ada kontradiksi yang menarik. Lembaga kreditor berlagak membela lingkungan hidup, tetapi hal itu hanya alat untuk menekan negara-negara berkembang dalam memberi pinjaman. Sementara itu, pinjaman tetap dikucurkan karena mereka tahu bahwa mereka membutuhkan sumber daya alam negara-negara berkembang yang harus dieksploitasi untuk membayar hutang tadi.
Kedua, kecenderungan belakangan ini malah semakin kuat mengarah pada digunakannya isu lingkungan hidup sebagai salah satu alat politik dalam interaksi ekonomi dan bisnis global. Oleh karena itu, fenomena WTO (World Trade Organization) dengan seluruh kekuasaannya yang demikian absolute melindungi kepentingan negara-negara maju di Utara telah dan akan membawa dampak yang mengerikan bagi lingkungan hidup. Kecenderungan negara-negara maju di Utara untuk menunggangi sistem ekonomi pasar global (globalisasi) itu dengan berbagai manuver untuk mengeruk keuntungan dan mengamankan kepentingannya dengan cara yang tidak fair merugikan kepentingan negara-negara sedang berkembang.
Ketiga, sepak terjang perusahan multinational yang banyak kali menerapkan standar ganda sekaligus menggunakan superioritas ekonomi dan politik untuk melindungi kepentingan ekonomi dan bisnisnya di negara-negara sedang berkembang menjadi salah satu penyebab utama krisis lingkungan hidup di negara-negara sedang berkembang. Di negara sendiri mereka sangat serius dalam menerapkan standar-standar pengelolaan lingkungan yang ketat. Akan tetapi bila beroperasi di negara-negara sedang berkembang, mereka dengan mudah mengabaikan semua standar pengelolaan lingkungan hidup. Dengan berbagai cara termasuk tekanan politik terhadap pemerintah negara tuan rumah, mereka berusaha untuk menghindar dari desakan untuk meningkatkan dan memperbaiki standar dan kinerja lingkungan hidupnya. Jadi demikian struktur kerja kapitalis dalam menguasai sumberdaya alam dan tanah/lokasi yang memilki nilai asset tinggi.
2.3 Bagaimana peran kekuasaan dalam proses globalisasi dan krisis alam?
Dari ketiga aspek ekonomi global terkait krisis ekologi di atas, dapat disimpulkan bahwa peran kekuasaan atau pihak yang memiliki kekuasaan (uang, capital, politik) dapat dengan gampang menentukan kebijakan untuk mengeruk keuntungan meskipun lingkungan menjadi korban kerakusan nafsunya (kapitalis) itu. Bahwa pertama, kekuasaan ekonomi negara-negara maju di Utara yang menjadi kreditor kepada negara-negara sedang berkembang di Selatan berkuasa menentukan dan cenderung menguntungan diri mereka sendiri. Kedua, kekuasaan politik yang berkolaborasi dengan kaum kapitalis yang sarat kepentingan ekonomi telah mengontrol sumberdaya alam di negara-negara miskin Selatan dengan pinjaman yang mencekik. Ketiga, kekuasaan perusahan multinasional telah mengatur dan menguasai kancah perekonomian bukan saja di negara maju Utara melainkan hampir di semua negara-negara berkembang Selatan. Hegemony negara-negara maju dalam globalisasi dengan demikian tidak dapat dibendung. Negara-negara yang terkebelakang (dalam kategori berkembang) menjadi tergagap-gagap menanggap perkembangan itu. Maka ketidakadilan melanda dunia.

Indonesia mau tak mau merupakan negara yang ikut dalam masyarakat dunia terkondisikan dalam sistem dan arus globalisasi. Konsekuensinya Indonesia pun ikun menceburkan diri dalam sistem neo-liberalisme global. Ini kemudian membuat kebijakan pemerintah Indonesia cenderung dan bahkan selalu membela kepentingan para kapitalis sehingga kebijakannya sesungguhnya menjadi bagian integral dari kepentingan kapitalis global yang dipaksakan. Dalam tragedi “Lumpur Lapindo” di atas misalnya nampak bahwa kuasa para pemilik modal (kapitalis) dengan legalitas usaha (eksplorasi atau eksploitasi), dari Pemerintah yakni izin usaha kontrak bagi hasil/production sharing contract (PSC) memperoleh otoritas penguasa dan kedaulatan atas sumberdaya alam. Ini menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia telah lama menganut sistem ekonomi neoliberal dalam berbagai kebijakannya. Orientasi profit an sich yang menjadi paradigma korporasi menjadikan manajemen korporasi buta akan hal-hal lain yang menyangkut kelestarian lingkungan, peningkatan taraf hidup rakyat, bahkan hingga bencana ekosistem .
Karena itu dapat dikatakan terdapat hubungan “logis” kausalitas antara kerusakan alam dan globalisasi ekonomi. Sebab seperti telah diungkap, globalisasi ekonomi didasarkan pada pengembangan / peningkatan produksi dan konsumsi untuk memenuhi tuntutan konsumsi yang tak pernah berhenti (insatiable) dari negara-negara industri. Ini yang membawa akibat kerusakan ekologi pada level lokal, regional dan global. Sumber-sumber produksi diambil dari alam sering tak bertanggungjawab, tidak mempertimbangkan akibat dan proses regenerasi atau seberapa cepat pembaruan atas sumber-sumber itu terjadi.

2.4 Global warming dan politik globalisasi
Di atas telah sedikit disinggung mengenai Pemanasan Global (Global Warming), pada bagian ini agaknya penting untuk melihat sekilas mengenai globalisasi dan global warming.

Global warming merupakan fenomena alam yang memiliki hubungan kausalitas dengan globalisasi. Karena itu jika mempersoalkan global warming sebagai akibat dari globalisasi maka tidak dapat tidak persoalan ini akan berbenturan dengan pertumbuhan dan akslerasi ekonomi dunia khususnya negara-negara Industri di Utara. Globalisasi telah memicu terjadinya pemanasan global lewat peningkatan tanjam Gas Rumah Kaca ke atmosfir yang dimulai semenjak Revolusi Industri, saat itu manusia mulai mengubah iklim dan lingkungan tempatnya hidup melalui tindakan-tindakan agrikultural dan industri. Dari saat itu manusia mulai menggunakan mesin untuk mempermudah hidupnya - yang dimulai sekitar 200 tahun lalu. Berbeda dengan sebelumnya, semenjak revolusi industri manusia melakukan pembakaran bahan bakar fosil (seperti batubara dan minyak bumi) dan penebangan hutan untuk mensupport kemudahan dan hal ini mensuplay banyak Gas Rumah Kaca dan mempengaruhi komposisi gas di atmosfir.
Kesadaran akan hal ini memang telah meningkat, namun demikian belum dapat memberi hasil penurunan emisi gas CO2 di atmosfer sebagaimana yang dimandatkan Conference on Parties (COP) 3 on Climate Change di Kyoto, yang dikenal sebagai Protokol Kyoto. Lucunya negara industri seperti Amerika Serikat tidak mau menandatangani peratifikasian Protokol Kyoto sebagai bukti partisipasi yang diwujudkan dalam aksi demi pengurangan gas CO2 yang dimaksud secara konkret. Sikap kekeh AS dapat dipahami jika dilihat dari perspektif pertumbuhan ekonomi negara mereka, dimana angka pengangguran dalam negeri bisa melonjak tinggi kalau mereka mengurangi industri dan itu berarti gejolak politik dalam negeri. Namun, ada yang berpandangan sinis atas sikap ini dengan mengatakan bahwa alasan itu hanyalah alibi untuk membenarkan agenda lebih besar dalam politik pasar global yang dimotori oleh negara Adi kuasa tersebut.
Banyak orang paham bahwa Presiden George W. Bush adalah pendukung dan pelaksana utama ideologi pasar global yang menghendaki pasar dibuka bebas dan liar demi memajukan ekonomi dunia. Sebagai negara yang menguasai kapital global, termasuk teknologi, wajar sekali AS lebih suka pasar tidak diatur sehingga memberi keleluasaan bagi mereka menguasai sumber-sumber ekonomi yang selama ini masih dilindungi peraturan nasional suatu bangsa atau oleh berbagai kesepakatan, konvensi, dan hukum internasional. Banyak organisasi internasional dibentuk kemudian diperalat untuk menyukseskan agenda pasar global tersebut .
Perilaku-perilaku individu kapitalis tak terkendali tampak sekarang dalam pasar global dan mengandalikan kompetisi, memicu pencemaran dan pengeksploitasian sumber daya alam tanpa kendali, dengan mengatas-namakan otonomi dan kebebasan kehendak sebagai penguasa kekuasan ekonomi. Globalisasi benar-benar disokong penuh kapitalisme. Di mana informasi dan propaganda global pada gilirannya dikendalikan para pemegang modal. Pascakekuatan komunisme runtuh, bangkitnya paham kapitalisme telah menghadirkan dinamisasi global makro. Globalisasi berubah menjadi tarik-ulur kepentingan antara segelintir manusia raksasa (the giant authority) pemegang modal besar dan kuat kuasa dengan mayoritas manusia kecil yang tidak memiliki kapital apa-apa selain kekecewaan, ketidakpuasan, atau bahkan frustasi akibat ketidakadilan pihak lain.
Nampak bahwa kekuatan politik dunia sangat menyokong globalisasi sebagai politik ekonomi demi mendongkrak perputaran ekonomi negara namun yang paling diuntungkan adalah para pelaku kapital itu sendiri. Yusuf Burhanudin menyebut globalisasi sebagai logika keuntungan bagi segelintir orang di satu sisi, tapi mesti dibayar pembantaian massal (global holocaust) di lain pihak. Bahwa Kekuatan besar dalam globalisasi telah mengalienasi kekuatan mayoritas rakyat kecil. Konfrontasi antara kekuatan besar dalam globalisasi dan kekuatan rakyat kecil yang
teralienasi, banyak menistakan prinsip-prinsip kemanusiaan serta prinsip-prinsip sutainibility lingkungan.
Memahami globalisasi dan kerusakan ekologi yang disebabkannya, lantas apa yang dapat gereja perbuat sebagai wujud usaha meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan mempertahankan kelangsungan hidup di atas Bumi ini? Gereja dipanggil kembali untuk merumuskan kembali pemahaman teologisnya terkait pemanfaatan Bumi dan kekayaan yang terkandung di dalamnya secara bertanggungjawab demi keberlanjutan kehidupan.
4. Teologi Penatalayanan: Merawat Bumi (Tanah), Merawat Kehidupan
Globalisasi tidak mungkin dihindari, tidak bisa diingkari dan tidak dapat ditinggal lari. Kini ia merupakan realitas dunia, namun disisi lain kerusakan lingkungan alam juga tidak mungkin dibiarkan seolah-olah tidak pernah terjadi. Alam yang terus merintih seolah memanggil manusia untuk berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya dan kehidupan di dalamnya.

Contoh banjir yang selalu mengepung Jakarta dan tempat-tempat lain, kerusakan lingkungan sekitar Lumpur Lapindo, penebangan hutan yang tiada henti dsb. adalah realitas yang tidak mungkin dibiarkan saja. Sir Crispin Tickell , seorang diplomat yang menjadi salah satu arsitek the Earth Summit 1992 di Rio berkata: “Sebagian besar dari kita tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kita kurang mau (keinginan) untuk melakukannya”. “Kurangnya keinginan” oleh John T. Houghton itu dilihat sebagai persoalan “spiritual”. Terhadap persoalan “kurang mau-nya” manusia untuk berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi ini tercipta dari sikap religius yang hanya memfokuskan diri pada keberlanjutan hidup di dunia “seberang sana” tetapi mengabaikan keberlanjutan hidup di realitas dunia kini dan di sini.
Stuckelberger menyebutkan ada paling tidak tiga hal kecenderungan religius (agama) yang mengancam kelangsungan ciptaan: pertama, bahaya eklusivisme lingkungan yang berpandangan mereka dapat menyelamatkan dunia dengan usaha yang mereka lakukan sendiri. Ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak cukup kuat, mereka menyerah. Kedua, bahaya apocalyptic resignation, yang melihat bahwa kemunduran lingkungan adalah tanda-tanda zaman, kajian secara realistis itu kurang benar jika menyalahkan manusia, politik, ekonomi dan dengan demikian tidak menyadari tanggungjawab manusia. Ketiga, bahaya paham seribu tahun (milleniarisme), paham ini dipegang kuat oleh gereja-gereja Pantekostal di seluruh dunia yang menganggap bahwa akhir zaman akan datang dalam pergantian seribu tahun dan mereka mengharapkannya . Pandangan-pandangan tersebut di atas jelas menimbulkan sikap apatis, pasif dan ketidakpedulian atas apa yang buruk terjadi atas lingkungan. Sebab dalih mereka, apapun yang dilakukan untuk menjaga lingkungan/ciptaan akan sia-sia alias tidak berguna.
Tulisan ini ingin memanggil kembali peran agama (gereja) untuk berjuang membangkitkan kepedulian ekologis kepada semua orang/masyarakat meskipun bukan sebagai pemberi solusi teknis counter-globalisasi, malainkan lebih pada fungsi moral etis yang membangun kesadaran dan pencerahan atas proses globalisasi agar itu mendatangkan keadilan kepada sebanyak mungkin orang dan menghargai manusia dan alam sebagai ciptaan Allah. Dari sini muncul pertanyaan bagaimanakah tanggungjawab manusia atas Bumi dan ciptaan? Bagaimana cara memanfaatkan alam ciptaan untuk pemenuhan kebutuhan secara bertanggungjawab? Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kepada kita untuk melihat kembali mandat Allah atas manusia dalam Alkitab.
Hampir semua orang sadar bahwa globalisasi tak mungkin dielakan lagi. Ia terus berjaya seiring dengan pertumbuhan kekuatan kaum kapitalis dunia yang menguasai dan mengatur akslerasi perekonomian dibawah kendali transnasional corporations dan atau multinational corporations mereka. Namun demikian ini bukan berarti tidak mungkin untuk membangun kesadaran ekologis dan berjuang mempertahankan sustainability of creation on the earth. Diharapkan semakin orang menyadari dampak globalisasi terutama atas lingkungan akan semakin membangkitkan keinginan manusia untuk berjuang mempertahankan bumi ini dari kehancuran karena dampak globalisasi tersebut. Allah menuntut respons kebersamaan manusia sebagai the real co-creator and co-partner di atas bumi ini sebagai penatalayan yang menjaga, merawat, mengusahakan dan menggunakan ciptaan. Dalam spirit merawat bumi, merawat kehidupan, panggilan menjadi penatalayan Allah atas ciptaan kini kembali digemakan dalam bagian akhir dari tulisan ini.
4.1 Panggilan kembali untuk menjadi penatalayan atas tanah sebagai sumber kehidupan
Berbicara soal alam berarti berbicara mengenai tanah. Tanah bukan hanya menjadi bahan dasar manusia yang dibentuk oleh tangan Allah, melainkan juga tanah menjadi lahan dasar manusia untuk meneruskan kehidupan yang sudah dihembuskan Allah kepadanya. Jadi dapat dipahami betapa dekatnya hubungan manusia dengan tanah. Semenjak dunia dan alam pikir manusia memasuki era percerahan (abad ke-17), pandangan manusia terhadap alam pun berubah. Tanah yang sebelumnya dilihat begitu sakral lantas dilihat sebagai alat untuk dieksploitasi dan dieksplorasi demi pemenuhan kebutuhan manusia. Bahkan hal itu semakin parah ketika dunia dikuasai kapitalisme yang dilandasi oleh prinsip ekonomi neo-liberalisme yang melahirkan globalisasi ekonomi. Tanah dan sumber daya yang terdapat di dalamnya dikuras dan dikuasai besar-besaran demi konsumsi manusia.
Karel P. Erari, memberikan pandangan eko-teologi dengan paradigma baru . Bahwa tanah adalah wajah utama dari lingkungan yang harus diperlakukan secara adil, itu artinya perilaku manusia atas tanah hendaknya diletakan di atas dasar dan aras yang sama. Keadilan harus diperlakukan atas tanah, karena dari padanya manusia menemukan hidupnya bahkan dapat dikatakan tanah itulah sumber kehidupan manusia. Tanah tempat dimana manusia hidup di atasnya adalah suci. Tanah adalah sakral karena tanah adalah buah ciptaan Allah yang suci. Sikap manusiawi terhadap alam menjelaskan bahwa antara tanah dan manusia terdapat ikatan spiritual yang kuat.
Menurut Walter Bruegemenn sebagaimana dikutip oleh Karel Erari, kebutuhan manusia akan tanah sebagai tempat diam adalah bagian dari kebutuhan akan makanan bagi manusia. Bagi Israel, tanah adalah sumber kesuburan dan kehidupan. Tanah mengandung harapan bagi masa depan bangsa perjanjian dan kerenanya pula mengandung nilai teologis yang sangat kuat. Jadi ada ketergantungan yang tidak dapat dipisahkan antara manusia dengan tanah itu sendiri. Karena tanah adalah tempat manusia menjalani hidupnya, menjadi tempat tinggal dan bekerja (Ul.8:7-10) maka dalam pengertian yang demikian menurut Karel Erari tanah mengandung makna budaya . Hal ini sesuai dengan mandat untuk menguasai dan mengusahakan tanah. Relasi antara manusia dan tanah terletak pada fungsi manusia sebagai pengelola yang bertanggungjawab. Interaksi manusia dengan tanah senantiasa memperlihatkan tingkat dan corak budaya yang dimiliki manusia. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang menempatkan tanah sebagai kebudayaan dan karya Allah yang harus dijaga dengan managemen seorang penatalayan.
Setiap orang menyadari dengan baik bahwa mahkluk hidup ini hidup oleh karena memperoleh penghidupan dari bumi yang di dalamnya terdapat tanah, air dan semuanya. Tanpa itu kehidupan tidak akan berkelanjutan. Oleh karena itu mamahami ekologi dari terang teologi penciptaan, maka salah satu aspek penting ialah pembebasan secara total atas alam yang telah menderita, sebagai milik Allah. Sebagaimana Karel Erari menegaskan bahwa saat ini soal kehidupan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam agenda ekumenis gereja-gereja. Gereja dan teologi membutuhkan hermeneutika untuk ekumenika. Kita tak bisa lagi mempertahankan perbedaan tajam antara manusia jauh lebih penting daripada unsur mahluk hidup lainnya.
4.2 Panggilan kembali untuk menjadi penatalayan atas ciptaaan
Dalam kisah Kejadian, setelah Allah menciptakan segala sesuatu maka Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya dan memberikan kuasa atas segala yang ada di muka bumi. Persisnya demikian: “Kemudian Allah berfirman, “Mari kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita, dan biarlah mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara atas segala binatang-binatang dan atas segala ciptaan yang berkeriapan di atas bumi. Allah memberkati mereka dan berfirman kepada mereka, “Berkembangbiak dan bertambah banyaklah jumlahmu, penuhilah bumi dan taklukkanlah. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala ciptaan yang bergerak di atas bumi” (Kej. 1: 26, 28).

Perikop ini sering dilihat dan ditafsirkan sebagai landasan manusia untuk berdaulat penuh sebagai wakil Allah atas ciptaan dan dapat menggunakan sebisa-bisanya. Perikop ini seakan memberi legitimasi bagi dominasi manusia atas segala ciptaan yang “sungguh amat baik” itu. Dominasi demi kebutuhan ekonomi manusia. Namun demikian, kita mesti lebih seimbang untuk melihat perintah Allah seperti dalam Kej. 2: 15 dikatakan manusia bertugas untuk “…mengusahakan dan memelihara taman itu”. Ini artinya manusia bukan sekadar pengguna apalagi pen-dominasi alam melainkan sebagai penatalayan yang bertanggungjawab (responsible stewardship). Stewardship itu bukanlah merupakan dominasi seperti yang telah dipahami oleh tradisi teologi gereja sekitar abad ke-17 – yang bermula dari Bapa-bapa gereja dan seterusnya, sebagian besar pemikir-pemikir Kristen menginterpretasikan dominasi manusia atas ciptaan berdasarkan idea dari para filsuf Yunani dari pada dipahami dari sumber Alkitab, bahwa ciptaan yang masih ada itu adalah demi kepentingan manusia . Dominasi dipahami sebagai kebenaran untuk menggunakan ciptaan itu untuk manusia. Pandangan dominasi ini sebenarnya belum ada sebelum zaman modern, bahwa tidak ada kesadaran dominasi sebagai kewajiban yang memberikan kekuasaan penuh kepada manusia atas ciptaan sebelum zaman pencerahan. Agaknya memang perlu manusia mengubah ”paradigma” dominasi ini menjadi “paradigma” penatalayanan yang dipegang bersama.
Sebab sekarang ini jumlah manusia semakin bertambah, mesin-mesin begitu menguasai kehidupan, ciptaan semakin mengalami kehancuran dengan bermacam cara, dan sekarang diancam oleh kehancuran dalam skala global – realitas ini memanggil kembali manusia akan tugasnya untuk menjadi penatalayan yang bertanggungjawab atas ciptaan dan bumi/tanah ini.
4.3 Panggilan kembali untuk menjadi penatalayan bagi sesama
Tanah kini telah menjadi komoditas ekonomi yang mengakibatkan ia diperlakukan seturut dengan kepentingan ekonomis belaka. Di tengah penguasaan tanah sebagai asset ekonomi oleh para kapitalis yang semakin meningkat, kini (dalam abad ekologi) ini manusia memikul tanggung jawab membebaskan sesamanya manusia dan lingkungan dari ketertindasannya. Ketertindasan dari cengkraman atas tanah dan kekayaan di dalamnya yang tidak bertanggung jawab, tidak memikirkan regenerasi dan sutainabilitasnya. Juga ketertindasan sesama dari cengkraman ketidakadilan para kapitalis yang juga cenderung meneksploitir mereka tanpa suatu upah yang pantas. Pembebasan atas sesama ciptaan Allah itu pada dasarnya suatu kewajiban, karena manusia bergantung sepenuhnya kepada sesama ciptaan.

Lynn White (sebagaimana dikutip oleh Karel Erari), mengemukakan 3 sikap manusia terhadap alam. Pertama, sikap yang dominan dalam pemikiran Kristen Barat bahwa manusia berkuasa secara mutlak atas alam. Kedua, manusia dipanggil untuk bertanggungjawab kepada Allah dengan jalan memelihara unsur ciptaan lainnya. Dan ketiga, manusia adalah teman atau sesama dari ciptaan yang sama-sama memuliakan Allah. Pandangan White ini mengajak kita untuk bukan hanya berhasrat menguasai ciptaan tanpa pernah mencapai kekuasan tetapi bagaimana manusia bertanggungjawab memelihara ciptaan untuk kita dan untuk ciptaan yang lain dalam konteks semangat bagi kemulyaan Allah.
Kepedulian kita akan ciptaan adalah wujud kasih kita kepada sesama (untuk yang lain). Kepedulian terhadap sesama ini mencakup mereka yang rentan akan dampak dari degradasi lingkungan. Kepedulian ini dilakukan oleh karena kita ingin orang-orang mendengar Injil, karena itu kita mesti memberikan kesempatan kepada mereka untuk melihat dan hidup di dunia ini dalam integritas dan keutuhannya yang mendemonstrasikan relevansinya bagi perhatian dan juga kebutuhan mereka . Kepedulian ini mesti memiliki spirit pelayanan sebagaimana yang dikatakan oleh Yesus kepada para muridnya ketika mereka meributkan tentang siapa yang pantas duduk di sebelah kanan dan kiriNya di sorga kelak: “Barangsiapa yang ingin besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba (pelayan) untuk semuannya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mark10:43-45). Pelayanan yang disini bukan hanya bersifat rohaniah melainkan pelayanan konkret dalam realitas hidup di dunia, termasuk mereka yang lemah, alam yang mengalami kemerosotan.
Dari dasar teologis penatalanyanan di atas, tugas gereja sebagai kommunitas etis memang ditantang untuk menyuarakan suaranya demi keadilaan, perdamaian dan keutuhan ciptaan Tuhan dengan tak pernah jemu-jemunya. Realitas gobalisasi memang tidak mudah untuk diruntuhkan. Namun demikian gereja sebagai ethical community mesti dengan bijak dapat melihat dan membedakan mana-mana dimensi hidup yang dapat diterima dan mana-mana yang mesti ditolak. Terkait ketidakadilan dan kerusakan lingkungan gereja tidak bisa hanya menonton ketidakadilan yang terjadi, kehancuran alam yang makin menjadi-jadi. Ia mesti memainkan peran politisnya dengan melakukan pemahaman kembali dasar-dasar teologinya yang membela kaum tertindas karena ketidakadilan termasuk alam tempat hidup ini. Sebagaimana Marthin L. Sinaga, bahwa etos hidup yang mesti dibangun adalah: hidup saya lebih dari semata-mata diri saya ini, sebab hidup demikian luas dan saya tidak bisa lagi memperlakukan kehidupan seperti objek bisu yang saya akan lalap. Secara teologis umat beragama (gereja) dapat mulai lagi menghayati dimensi sakramental akan ciptaan yang ada selalu menjadi wajah sang Pencipta sendiri (Mzm. 19:104). Manusia dan ciptaan itu sendiri belum juga selesai, hidup dalam keseluruhannya masih terus bertumbuh ke arah penggenapan harapan akan Tuhan, yang nanti akan dipenuhiNya dalam kemurahan dan karunia yang tak terhingga dan tak terumuskan itu (Rm. 8:2; 2 Kor. 5:16-6:2) . Jadi semasih gereja dan orang-orang percaya berada di dunia ini, dan sebelum Yesus datang kembali, maka tugasnya sebagai co-creator dan penatalayan untuk merawat Bumi tidak akan pernah berakhir. Sebelum kehidupan ini berakhir, maka tugas manusia masih terus untuk merawat kehidupan ini. Dan sebelum “kerajaan Allah” menjadi nyata maka tugas gereja, manusia untuk membawa kabar sukacita pembebasan kepada yang lemah, miskin, tak berdaya karena korban kekuasaan dan ketidakadilan tidak akan usai (bdk. Mat. 25:31-46).
Teologi penatalayan di atas menuntut gereja – gereja menyadarkan masyarakat akan kerinduan hidup yang bermartabat-budaya dalam keadilan dan hidup yang berkelanjutan. Beberapa prinsip yang penting menjadi dasar untuk hal ini sebagaimana World Council of Churches (WCC) adalah: equity (hak menurut keadilan), respek terhadap kepelbagaian (termasuk tradisi agama, species), accountability (pertanggunganjawab) sebagai cara untuk menunjukkan tangungjawab satu dengan yang lain dan Bumi, partisipasi (keterlibatan bersama), sufficiency (kecukupan) sebagai komitment untuk mendapatkan kebutuhan bagi semua dan solidaritas untuk mencapai kesetaraan yang pantas dalam pengambilan keputusan, dukungan proses distribusi kekuasaan .
Daftar Pustaka
1. Abraham, K.C., Faith and Economic Life in the Age of Global Economy: Issues, Dilemmas, and Responsibilities for the Church, dalam Faith and Life in Contemporary Asian Realities, ed. Carino, Feliciano V. and True, Marina, 2000. Christian Conference of Asia, Hong Kong
2. Andreski, Stanislav, Max Weber: Kapitalisme, Birokrasi dan Agama, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1989
3. Bauckham, Richard, Stewardship and relationship, dalam The Care of Creation, Focusing concern and action, edt. Berry, R.J., England, Inter-Varsity Press, 2000
4. Burhanudin, Yusuf, Globalisasi atau Global Holocoust?, http://www.cmm.or.id/
5. Borrong, R.P., Pemanasan Global dan Pasar Global, http://www.suarapembaruan.com/News/2007/06/23/Editor/edit01.htm
6. Erari, Karel P., Teologi Lingkungan dalam Perspektif Melanesia, Urgensi bagi Transformasi Relasi Manusia-Tanah, dalam SETIA – Jurnal Teologi Persetia, No. 1, 1997
7.
Houghton, John T., Our Common Future, dalam The Care of Creation, Focusing concern and action, edt. Berry, R.J., England, Inter-Varsity Press, 2000
8. Hallman, David G. [ed.] 1994, Ecotheology: Voices from South and North, WCC Publication, Switzerland
9. Habel, Norman C. Earth and Ecology: Challenges for Church and Society, dalam Faith and Life in Contemporary Asian Realities, ed. Carino, Feliciano V. and True, Marina, 2000. Christian Conference of Asia, Hong Kong
10. Mee-Yin, Mary Yuen, Reponses of Christian Churches to Globalizational, jointly published by: Christian Conference of Asia, Hong Kong Christian Council, Hong Kong Christian Institute, Holy Spirit Seminary Collage of Theology and Philosophy in Hong Kong, The Divinity School of Chung Chi Collage, the Chinese University of Hong Kong, The Lutheran Theology Seminary in Hong Kong, 2005
11. Manifesto WALHI: Metamorfosa Gerakan Lingkungan Hidup Indonesia http://www.walhi.or.id/ttgkami/kebijakan/manifesto_wlh/
12.
Oommen, M.A., Globalization and Working Towards Alternative Development Paradigms, dalam GLOBALIZATION AND ITS IMPACT ON HUMAN RIGHTS, ed. Chunakara, Matthews George, Christian Conference of Asia, Hong Kong, 1998
13. Pemanasan Global, http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global
14. Rand, Stepend, Love your neighbour as yourself, dalam The Care of Creation, Focusing concern and action, edt. Berry, R.J., England, Inter-Varsity Press, 2000
15. Stuckelberger, Christoph, Kita semua adalah tamu di muka Bumi, makalah Seminar International Misiologi, Ekonomi dan Ekologi. 1998, kerjasama YBKS dan UKDW
16. Sinaga, Marthin L., Tantangan Kontemporer Agama-agama (Berdialog dengan Globalisasi Modern dan Peluang Baru Pasca-modernisme) dalam SETIA – Jurnal Teologi Persetia, No. 1, 1999
17. Saptaatmaja, Tom, Tuhan dan Hutan, Harian Sinar Harapan, (www.sinarharapan.co.id)
18. Tragedi Lumpur lapindo (akar masalah dan solusinya) http://yusufwibisono.wordpress.com/2008/03/28/tragedi-lumpur-lapindo-akar-masalah-dan-solusinya/

Isu ini bukan merupakan hal baru bagi semua orang, usaha World Council of Churches untuk memperjuangkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan sudah mulai dilakukan sekitar tahun 1983. Tulisan ini lebih bersifat mengingatkan kembali kita untuk membangun kesadaran untuk mempertahankan keberlanjutan hidup di atas Bumi.
Tom Saptaatmaja, Tuhan dan Hutan, Harian Sinar Harapan, (www.sinarharapan.co.id)
K.C. Abraham, Faith and Economic Life in the Age of Global Economy: Issues, Dilemmas, and Responsibilities for the Church, dalam Faith and Life in Contemporary Asian Realities, ed. Carino, Feliciano V. and True, Marina, 2000. Christian Conference of Asia, Hong Kong, p. 143
Stanislav Andreski, Max Weber: Kapitalisme, Birokrasi dan Agama, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1989, p.105. Kapitalisme, adalah sebuah nama yang diberikan terhadap sistem sosial dimana alat-alat produksi, tanah, pabrik-pabrik dan lain-lain dikuasai oleh segelintir orang yaitu kelas kapitalis (pemilik modal). Jadi kelas ini hidup dari kepemilikannya atas alat-alat produksi. Sementara kelas lain (buruh) yang tidak menguasai alat produksi, hidup dengan bekerja (menjual tenaga kerjanya) kepada kelas kapitalis untuk mendapatkan upah. Kepemilikan alat-alat produksi kemudian dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang untuk dijual ke pasaran untuk mendapatkan untung. Keuntungan ini kemudian dipergunakan kembali untuk menambah modal mereka untuk produksi barang kembali, jual kepasar, dapat untung. Begitu seterusnya. Inilah yang kemudian sering dikatakan bahwa tujuan dari kapitalis adalah untuk mengakumulasi kapital (modal) secara terus menerus.
Manifesto WALHI: Metamorfosa Gerakan Lingkungan Hidup Indonesia http://www.walhi.or.id/ttgkami/kebijakan/manifesto_wlh/
Tragedi Lumpur lapindo (akar masalah dan solusinya) http://yusufwibisono.wordpress.com/2008/03/28/tragedi-lumpur-lapindo-akar-masalah-dan-solusinya/
Christoph Stuckelberger, Kita semua adalah tamu di muka Bumi, makalah Seminar International Misiologi, Ekonomi dan Ekologi. 1998, kerjasama YBKS dan UKDW, p.2
Mary Yuen Mee-Yin, Reponses of Christian Churches to Globalization, jointly published by: Christian Conference of Asia, Hong Kong Christian Council, Hong Kong Christian Institute, Holy Spirit Seminary Collage of Theology and Philosophy in Hong Kong, The Divinity School of Chung Chi Collage, the Chinese University of Hong Kong, The Lutheran Theology Seminary in Hong Kong, 2005, p.2-3
Meskipun globalisasi menyangkut berbagai dimensi seperti sosial, politik, budaya, informasi, lingkungan, ekonomi dsb. namun aspek ekonomi merupakan dimensi yang paling menonjol. Kerena itu dari perspektif ekonomi globalisasi globalisasi berarti transnasionalisasi produksi dan capital, standarisasi selera konsumen, legalisasi atas kapitalisme global melalui transformasi/kreasi institusi-institusi skala internasional… singkatnya semua transaksi dan perdagangan bebas dilakukan dengan fasilitas perdagangan dunia yang tanpa batas. Sungguh merupakan zaman akhir dari batas-batas geografis! Barang-barang bukan hanya diproduksi di satu negara melainkan di beberapa negara.
Ford-Escorts diproduksi di 18 negara tetapi dipajang di London atau di Chennai. Konsumen diglobalkan di tiap negara. Coca cola dikonsumsi di 192 negara… sehingga tidak heran bila orang menyebut globalisasi sebagai “McDonalisasi”. (M.A. Oommen, Globalization and Working Towrds Alternative Development Paradigms, dalam GLOBALIZATION AND ITS IMPACT ON HUMAN RIGHTS, ed. Chunakara, Mathews George, Christian Conference of Asia, Hong Kong, 1998, p. 42-43)
Mary Yuen Mee-Yin, Reponses of Christian Churches to Globalization, jointly published by: Christian Conference of Asia, Hong Kong Christian Council, Hong Kong Christian Institute, Holy Spirit Seminary Collage of Theology and Philosophy in Hong Kong, The Divinity School of Chung Chi Collage, the Chinese University of Hong Kong, The Lutheran Theology Seminary in Hong Kong, 2005, p.11
Sonny A. Keraf, Etika Lingkungan, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2002, p. 216-148
Tragedi Lumpur lapindo (akar masalah dan solusinya) http://yusufwibisono.wordpress.com/2008/03/28/tragedi-lumpur-lapindo-akar-masalah-dan-solusinya/
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi. Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9 - 100 cm (4 - 40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global
R.P. Borrong, Pemanasan Global dan Pasar Global, http://www.suarapembaruan.com/News/2007/06/23/Editor/edit01.htm
Yusuf Burhanudin, Globalisasi atau Global Holocoust?, http://www.cmm.or.id/
Dikutip dari John T. Houghton, Our Common Future, dalam The Care of Creation, Focusing concern and action, edt. Berry, R.J., England, Inter-Varsity Press, 2000. p. 130
Christoph Stuckelberger, Kita semua adalah tamu di muka Bumi, makalah Seminar International Misiologi, Ekonomi dan Ekologi. 1998, kerjasama YBKS dan UKDW, p.13
Karel P. Erari, Teologi Lingkungan dalam Perspektif Melanesia, Urgensi bagi Transformasi Relasi Manusia-Tanah, dalam SETIA – Jurnal Teologi Persetia, No. 1, 1997, p. 42-75. Dalam tulisannya itu Erari mengatakan bahwa tugas teologi adalah berbicara tentang tanggungjawab manusia atas lingkungannya dalam perspektif yang baru. Hal ini merupakan kebutuhan mendesak karena alam merupakan rumah manusia, bukan miliknya sendiri. Itulah sebabnya manusia butuh pembaruan visi dan keberanian untuk aksi yang melindungi ala mini sebagai milik Allah. Disini Erari berusaha mempertemukan ”garis kontekstual” dan “garis global” di dalam pendekatan eko-teologi dalam perspektif Melanesia sebagai salah satu model pengembangan teologi lokal.
Ibid, p. 44
Richard Bauckham, Stewardship and relationship, dalam The Care of Creation, Focusing concern and action, edt. Berry, R.J., England, Inter-Varsity Press, 2000. p. 100
Stepend Rand, Love your neighbour as yourself, dalam The Care of Creation, Focusing concern and action, edt. Berry, R.J., England, Inter-Varsity Press, 2000. p.146
Marthin L. Sinaga, Tantangan Kontemporer Agama-agama (Berdialog dengan Globalisasi Modern dan Peluang Baru Pasca-modernisme) dalam SETIA – Jurnal Teologi Persetia, No. 1, 1999, p. 56
Lihat: http://www.wcc-coe.org/wcc/what/jpc/ecology.html


{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers