Welcome for JAWAPOSTING *** KLIK IKLANNYA, 1 Klik Dari Anda Sangat Berarti Bagi Saya Thanks *** thanks for Mr. bedun_19, Mr. Bobby Julian, Mr. Garra Jail, Mr. Ziza Lufiaz and all friend *** Cinema3satu *** http://admaster.union.ucweb.com/appwall/applist.html?pub=zhuangtc@444zizalufias *** Thanks To *** Thanks to blogspot lagi butuh tukar link gan.. silahkan copy link ane di bawah... terus koment sotmix.. ntar ane pasang link sobat.. thanks all

kisah percintaan di main land

Diposkan oleh irfan on Wednesday, August 06, 2008

semoga karya tulis kita bisa membantu orang-orang yang mencari sebuah karya tulis

Tengah hari di Main Land, kepulauan Shetland, Inggris.
Musim panas masih berlangsung dan sinag ini aku dibuat mandi kerinagat karenanya. Terkurung diatas loteng yang terbuat dari kayu yang lebar hanya 3 x 3 m benar-benar membuatku merasa tinggal di neraka. Belum lagi aku setiap hari harus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga paman Edward. Hal ini semakin memburuk cerita perjalanan hidupku.


Siang ini ketika hampir tertidur, tiba-tiba bibi Becky berteriak-teriak sambil menendang pintu kamarku hanya untuk menyuruh belanja keperluan makan malam.
Sebenarnya aku manyayangi keluarga ini, namun karena mereka terus menyiksaku, akupun jadi membenci mereka. Apa lagi seain paman dan bibi, aku juga masih harus menghadapi ketiga sepupuku yang juga sangat menyebalkan. Mereka adalah Archie, Jeremy dan Magy. Usia mereka hampir sama denganku, tapi tap[I kelakuannya tidak berbeda dengan orang tuanya.
"Richard Kirinyaga apa kau tuli ?!, cepat keluar atau kubakar tempat ini!."
Teriakan keras itu akhirnya membuatku beranjak dan membuka pintu. Sejenak, aku hanya memandangi mulutnya yang sedikit berbusa saat pintu itu terbuka. Lalu melihat kebawah untuk memastikan apa sandal yang yang dipakainya baik-baik saja karena telah di pakai menedangi pintu kamarku hampir setiap waktu. "AKu benar-benar muak denganmu!! Sekarang cepat belanja atau kau tidak akan mendapatkan makanan sisa,! "Ucapan sambil melempar catatan belanja dan uang beberapa dolar – ke mukaku.
Dengan berbelanja seperti gaya pesumo jepang – dia menuruni tangga dan kembali duduk di depan TV kesayangannya, saat mengambil speda di garasi, tiba-tiba Archie menghadarku sambil membawa beberapa botol bir kosong. Lagi-lagi dia menggengguku, "kau mau belanja, cantik,?! Dia menarik sepeda yang akan aku naiki .
"pergilah sebelum bibik memarahiku loagi" kataku.
"waw.! Waw.! Waw.! Kau terlihat cantik saat kesal. Bagaimana jika kita ganti mamamu dengan madina kirinyaga,?! Aku rasa kau akan terlihat semakin cantik dengan bajau seksi ala musim panas" Kata-katanya itu benar-benar membuatku ingin marah. Sayangnya, aku selalu ketakutan jika menghadapinya dan pada akhirnya, aku tetap mengalah sebagai pengecut.
Dalam perjalanan, aku melihat wanita cantik berambut pirang sedang melaju dengan kecepatan tertinggi sebuah mobil cadilac. Kecantikan yang terlihat hanya sekejap itu menghadirkan sensasi terapi bermanfaat untuk menghilangkan bayangan wajah bibibacky yang selalu tampil bringas di depanku. Slain itu, sengatan matahari musim panas juga membuatku sangat kepanasan meski aku sudah memakai jaket dan topi, dan kehadiran wanita itu merasa seperti AC yang mengeluarkan butiran salju.
"hai nak,! Apa bosan hidup ha?!"
Teriakan itu tiba-tiba mengejutkanku yang sedang menikmati fatamorgana terindah- di tengah-tengah jalanan kota Main Land.
Setelah kesadaranku pulih, aku kembali mengayuh sepedahku dan bergegas menuju super market.

Sabtu pagi, paman Edward memintaku untuk mencuci mobilnya. Mereka sekaluatga berencana berlibur ke bali dan akan berangkat sore ini. Dan tentu saja, aku harus menjaga rumah dan semua harta benda mereka.
"Dengarkan aku parasit kecil,!"paman meremas kedua lenganku."Janganpernah macam-macam saat kami berada di lua negri .kau tidak aku ijinkan untuk mengendarai mobil VERARI milikku dan juga memakai peralatan listrik lainnya.Jadi jika kau merasa terganggu kau bisa menyalakan lilin di kamarmu"dia melepas cengkramannya." Tapi,satu lagi.!dia kembali menarikku yang hendak pergi dan kembali meremas pipiku."Jaga cefe kita dengan baik atau bulan ini kau tidak mendapat gaji,&bersiaplah keluar kampus di masa-masa akhir semestermu"lanjutnya sambil menepuk-nepuk pipiku.
Meski selalu kesal aku tak pernah bias berbuat banyakuntuk diriku sendiri.Mengingat mereka adalah keluargaku satu-satunya,membuatku harus rela di perlukan seperti ini.Terlebih lagi,mereka sudah mau merawat dan memberiku pekerjaan hingga aku bias belajar sampai perguruan tinggi.Jadi aku merasa aku telah banyak berhutang budi pada mereka,hingga menjadikan akutidak bisa membela diri meski terkadang tingkah mereka sudah sangat keterlaluan.
Usai makan siang mereka sudah meluncur ke bandara.sementara aku yang tidak memiliki hari untuk libur,sudah pasti harus pergi ke cefe untuk bekerja sebagai pelayan yang merangkap sebagai tukang sapu dan pel.
Saat memarkir sepeda di depancafe ,aku sempat melihat mobil Cadilak berwarna merah yang kemarin terlihat di tunpangi wanita berambut pirang yang ku temui di jalan menuju supermarket-tengah parkir di depan café milik paman.HALitu tentu saja membuat aku bersemangat untuk segera masuk kedalam agar bisa cepat bertemu dengannya lagi.
"Hai………….,kau terlambat 5 menit saying,!"tegur Nicole-menggoda."Kau melihat gadis berambut pirang pemilik mobil Cadilak merah itu?"Aku beranjak mengganti kaosku dengan kemeja hitamlengan pendek dan juga celmek putih yang menjadi seragamku saat bekerja.
"O…h! apa mahasiswa berumur 17 tahun ini sudah mulai jatuh cinta?!"dia mengcak-acak rambutku.
"Hai,!dia sangat cantik.!aku yakin kau akan memuntahkan semua air liurmu saat bertemu dengannya nanti."Aku balas mendorongnya."
"Hentikan bicaramu………….,apa yang kau maksudkan adalah gadis yang memakai rok mini yang sedang memesan makanan itu ..?"Nicole tiba-tiba berkata dengan pasrah dan mengunci tatapannya pada pandangan di depannya.
aku memastikan obyek pandangan Nicole dan memang benar dia adalah gadis yang kemarin.
"Apa kalian baik-baik saja?" tiba-tiba suara lembut itu mengapa telingaku
"ya …." Kataku yang merasa kepanasan dan kedinginan di saat yang bersamaan.
"kalau begitu segeralah membuatkan aku beef salad dengan makroni dan saus mayones yang banyak. "dia menopangkan dagunya pada tangan kanannya yang ia sandarkan diatas meja pemesanan.
"ya, akan segera dating. Kau, bisa menunggu di mejamu" jawab ku samabil tetap menatap matanya yang indah? "ucap Nicole begitu wanita itu pergi.
"Dia, dia hanya memesan beef salad dengan makroni dan saus mayones" kataku yang masih tetap tidak beranjak dari tempatku berdiri.
"bukan itu, maksudku, apa tadi kita terhipnotis? "Nicole kembali berucap.
"mungkib matanya bulat dan coklat itu yang membuat kita
"kau lihat gadis berambut pirang pemilik mobil cadilac merah itu?
Aku beranjak mengganti kaosku dengan kemeja hitam lengan penek dan juga celmek putih seragamku saat bekerja.
" O …… h,! apa mahasiswa berumur 17 tahun ini sudah mulaijtuh cinta?!
Dia mengacak-ngacak rambutku.
"Hei,!dia angat cantik aku yakin kau akan memuntahkan semua air liurmu saat bertemu dengannya nanti. "Aku balas mendorongnya.
"hentikan bicaramu .., apa yang kau maksud adalah gadis yang memakai rok mini yang sedang memesan mkanan itu …? "Nicole tiba-tiba berkata dengan pasrah dan mengunci tatapannya pada pandangan dideannya.
Aku memastikan obyek pandangan Nicole dan memany benar dia adalah gadis yang ku lihat kemarin.
"Apa kalian baik-baik saja? " tiba-tiba suara lembut menyapa telingaku.
"ya …. " kataku yang merasa kepanasan dan kedinginan itu disaat yang bersamaan.
"Kalau begitu segeralah membuatkuan aku Beef Salad dengan makroni dan saus mayones yang banyak. "Dia menopangkan dagunya pada tangan kanan yang ia sadarkan diatas meja pemesan.
"ya, akan segera dating. Kau bisa menunggu dimejamu" jawab ku sambil menatap matanya yang indah.
"apa yang dia lakukan pada kia tadi?" ucap Nicole begitu wanita itu pergi.
"Dia, dia hanya memesan Beef salad dengan makroni dan saus mayones" kataku yang masih tetap tidak beranjak dari tempatku berdiri.
"bukan itu, maksudku, apa kita tadi terhipnotis?" Nicole kembali berucap.
"mungkin matanya yang bulat dan coklat itu yang membuat kita mengalami gangguan kesadaran "kataku kembali tersadar."ternyata kau benar, dia memang luar biasa, tidak aku sangka kau tertarik juga dengan wanita" Nicole mulai mengganguku yang tengah sibuk menyiapkan pesanan wanita itu.
"jangan bicara sembarangan. Aku adalah peria normal seperti kau dan aku yang lain" kataku yang sedang terpancing.
"iya …… aku tidak meragukannya. Hanya saja, sebelumnya aku mnengira kalau kau akan tertarik buku-buku yang tersimpan di rak perpustakaan sekolah"
"Demi wanita itu, aku akan merelakan buku-buku tidak lagi di produksi di dunia ini"tukasku sebelum mengantarkan pesanan itu.
"Beef salad, ? "kataku.
"ya, terimakasih" dia tersenyum masam.
"maaf kalau ini tidak sopan, tapi, kau benar-benar mengagumkan "kataku sambil menatapnya.
"benarkah? "
"ya"
"kau peria yang keseribu yang mengalahkan hal itu. Dan sepertinya, aku tidak akan tergoda karena aku sudah memiliki pacar yang kaya dan tampan" mendengarnya, aku merasa di cabik-cabik dengan pisau pemotong daging yang sangat tajam dan besar, lalu diatas goresan luka itu dibubuhi dengan perasaan lemon yang bisa membuat nyawaku melompat sejauh mungkin.
"o ..h, maafkalau begitu. Aku tadi tidak bermaksud untuk menggodamu, aku hanya, hanya …."kataku yang tidak sampai lanjutkan karena tiba-tiba ada pria bertubuh tinggi dengan memakai jas menghampiri gadis opujaanku sambil memberikan panggilan saying dan menciumnya dengan sangat lama didepanku. Aku hanya bisa ternganga melihatnya.
"hai, ! kenapa kau masih disini? Bukankan seharusnya kau berada di dapur ?" Teguh pria itu dengan eksoresi wajah kesal.
"oh, maaf. Tadi aku hanya menunggu, mengganggu untuk memesan"
Jawabku salah tingkah.
"kalau begitu, segera buatkan aku kopi dengan kream susu diatasnya"
"baik"
Aku berlaluu dengan perasaan hancur berkeping-keping untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mengalami patah hati yang sangat menyakitkan untuk aku rasakan.
"Kau baik-baik saja?" Nicole menepuk bahuku yang terasa sangat kaku.
"Aku rasa tidak. Dia, dia sudah memiliki pacar yang sangat kaya dan gagah. Jawabku sebelum menegak segelas air putih.
"sabarlah, terkadang hidup menyimpan misteri yang sulit untuk di mengerti dan untuk memecahkan misteri itu, kau tidak harus duduk seharian di depan tumpukan buk, tetapi, kau harus menghadapi sendiri dengan kesatuan dirimu yang utuh" tutr Nic sambil menyaut kopi yang aku bawa." Biar aku saja yang mengantarkan kopi ini. Kau sebaliknya sendiri saja untuk beristirahat "tuturnya lagi".

Aku mendengar keributan kecil dari ruah kosong yang terdapat disamping rumahku menunjukkan pukul 01.00 malam. Aku yang baru saja pulang dari bekerja dan sedang mencoba untuk tidur-tiduran merasa terganggu dengan hal itu.
Dengan bekal lampu senter, aku yang memakai jaket dan sepatu berjalan mengendap-ngendap ke dalam rumah itu. Tak ada apapun yangaaneh disana. Disepanjang sudut, yang terlihat hanya debu dan kotoran serta perabotan yang berantakan dan rusak.
"Siapa kau ?! "Teguran wanita dengan disertai sorotan lampu senter ke arahku tiba-tiba saja membuatku terkejut.
"Aku Ricard. Aku tinggal disebelah dan ingin memastikan keributan yang tadi terjadi dari sini.'jawabku sambil terus menghindari soritan mata lampu yang terus saja diarahkan ke wajahkuu.
"Ssepertinya aku pernah melihatmu" ucapanya.
"oh ya? Kalau begitu apa kau tidak keberatan mematikan senternya dan berjalan mendekatiku.
"kau, ? tiba-tiba saja lidahku menjadi kaku karena tidak sanggup melihat kecantikannya yang selalu membuatku, kau laki-laki yang bodoh."
"Bodoh,?" aku mengernyitkan alis.
"ya. Sejak di café kau memberiku pujian, harusnya kau bisa menilaiku seperti apa dari caraku menyikappujianmu.
Aku tidak menyukai laki-laki yang mudah memberikan pujian sepertimu."
"maaf, aku, aku ….."
"A ku tidak seperti yang kau kira, tadi hanya mengatakan seperti apa yang aku tahu. Itukan yang ingin kau katakana ?"tukasnya maaf. Mungkin, sepertinya kau benar-benar menilaikubodo. Karena mungkin seharusnya aku tidak dating kemari dan emngganggu wanita cantik yang sudah memiliki pacar seorang pemuda yang tampan dan kaya. Permisi" ucapku dengan setengah kecewa karena sikapnya itu.
"tunggu!" tiba-tiba dia lari menghadangku"
"Apa" caraku berpamitan itu tidak berkenan di untukmu?" tanyaku
"Bukan itu.sikapmu itu7, seolah-olah kau tidak mengenalku dan tidak tahu seperti apa aku sebenarnya"
"Aku memang baru melihat dan mengenal namamu."
"Jadi, kau tidak tahu aku sebenarnya?!"
"APa maksudmu ? sebenarnya kau tidak menyukaik, atau memang sangat tertarik dengankusampai-ampai ka uterus memancing pembicaraan denganku?"
"Hei ! Jaga bicarmu. Kau ini benar-benar bodoh atau apa, sampai-sampai anak orang terkaya di inggris sepertiku, kau, tidak tahu. Memangnya di rumahmu tidak ada TV?"
"Kau memang pintar, dengan baru mengenalkusaja kau sudah tauaku ini orang bodoh dan juga miski. Yang bahkan TV saja aku tidak punya. Jadi, aku minta maaf minta maaf karena pernah melihatmu saat tampil di TV." Tutr sebelum berlalu.
"Hei,! Kau benar-benar tidak sopan,! Aku akan menyuruh orang-orangku untuk mengeluarkanmu dari tempat bekerj, ! ancaman ,! Camkan itu!
Dasar orang miskin tidak tahu sopan! "Dia melemparku dengan sepatunya kanannya yang mahal hanya kareba aku tidak pernah melihatnya di TV" ucapku sambil memungut sepatunya.
Aku pergi dengan perasaan yang kesal namun, tidak benar-benar kesal.
Meski dia terus berteriak agar aku mengambilkan sepatunya aku tetap tidak perduli.
Sampai di atas loteng kamarku, aku membuka jendela dan melihatnya tetap berteriak-teriak dari bawah. Tak berapa lama kemudian, nenek Wolly keluar dari rumahnya dengan wajah yang terlihat angat ngatuk sekaligus kesal.
"Hei ! apa kau tidak waras?! Cepat kau pergi dan tutp mulutmu sebelum aku meledakkannya dengan amunisi! Seru nenek Wokky dari teras rumahnya.
"Diam kau nenek tua! Jangan campuri urusan orang lain! "pekik Arwen.
Rupanya kau mencari gara-gara denganku ! awas kau nene!" nenek menggeram dan masuk kebali kedalam rumah.
Dalam hati aku sudah sadar bahwa ini tidak akan baik. Karena seperti yang diketahui warga perumahan ini, nenek Wolly adalah wanita tergalak yang tidak suka dengan gannguan apapun. Dia bahkan tidak segan-segan menembakkan amunisinya jika sudah merasa terganggu.
"Cepat kau pergi,! Dia tidak akan bergurau dengan ucapannya,!" teriakku pada Arwen.
"Jangan berlagak menakutiku,! Memangnya siapa yang membuat kau jadi kesal begini?!"
(Doorr!!!) tiba-tiba ledakan dari senjata api mengejutkanku dan Arwen.
"Kesini kau wanita Jelang,! Hadapilah amunisiku!" ucap nenek Wolly sambil berjalan menuju kepekarangan rumahku. Aku yang mulai cemas akhirnya bergegas turun dan menghampuiri Arwen yang terlihat mulai ketakutan.
"minggur kau anak tampan,! Biar ku ledakkan mulut wanita jelang yang sudah berani mengganggu waktu tidurku ini!" seru nenek sambil menggerakkan ujung senapan laras panjang tepat di kepalaku.
"Jangan nek, dia tidak tahu apa-apa peraturan di wilayah ini. Dia kenalanku di kota dan kebetulan sedang mabuk. Ya, dia mabuk. Tolong jangan sakiti dia" tutrku sambil! Berusahamnyembunyikan rasa takutku.
"mabuk?, nenek menurunkan senjatanya secara berlahan. "kalau begitu cepat bawa dia masuk dan jangan biarkan membuat keributan lai" tambah nenek sebelum akhirnya pergi meninggalkan kami.
"jangan harap aku berhutang budi denganmu karena kau berhasil menjauhkan wanita tua dari dariku" Tutur ARwen dengan nada kesal sebelum berlalu. Aku hanya menghela nafas. Memandanginya pergi berlalu dengan memakai sepatu hak tinggi berwarna merak yang hanya tinggal sebelah. Mungkin, dia benar-benar membenciku, sekarang, dan bagiku, tidak akan ada harapan lagi untuk bisa lebih mengenalnya.

Jam ditanganku berbunyi dan menunjukkan pukul 07.00 aku menelan ludah dan bergegas menyiapkan buku-buku yang harus aku bawa ke kampus – hari ini. Mungkin ini sudah niasa terjadi padaku. Terlambat pergi ke kampus dan mendapat ledakan dari teman-teman.tapi meskipun selalu begitu, aku tetap tidak pernah tahan dengan ledakan-ledakan yang ditujukan pada-ku.
Usai mencuci maka, aku bergegas mengayuh sepedaku sekencang mungkin untuk menuju kampus. Dan meski sudah berusaha, tetap saja.
"keluar kau dari kelas dan tetaplah berdiri di koridor sampai kau merasa puas!!!" professor migle terlihat benar-benar kesal denganku .
Lelah, dan kecewa. Ditambah sedikit rasa lapar yang mengganggu membuatku benar-benar ingin nangis. Andai saja aku wanita, mungkin aku sudah menangisi nasib hidupku sejak lama.
"Richard,?, apa kau lakukan disini? "tiba-tiba doctor Alex dan temannya menghampiriku.
"hal biasa yang harus dilakukan setiapsiswa yang dating terlambat" jawabku datar.
"O …h. aku mengerti., tapi, kalau kau tidak keberatan, mungkin kau mau ikut bersama kami untuk sarapan direstoran depan kampus dan sedikit membicarakan urusan bisnis?"
"Apa anda akan membayar makanannya ?" aku etap bersadar di tembok sampai memasang ekspresi wajah lelah dan lapar secara bersamaan.
"ya …, kau tenang saja. Aku sudah mengerti kalau kau tidak pernah mempunyai uang"

"aku mau pizza keju dan dua gelas susu murni tanpa pemanis" Ini sangat enak dan menyenangkan. Aku behkan bisa melupakan penderitaanselam ini – sejenak setelah pizza itu masuk keda;am mulutku.
"Richard, maaf kalau aku mengganggu acara makan pagimu yang aneh ini, tapi, tujuanku mengajakmu kemari sebenarnya, karena ada hal yang ingin aku sampaikan padamu, kau tidak keberatan aku mengatakannya sekarang ?" tutur doctor Alex sambil memandangku lekat.
"Ya. ANda bisa mengatakan apapun pada saya kalau itu memang harus anda sampaikan" jawabku setelah menelan kunyahan pertama.
"Sebelumnya aku kenalkan dulu, ini adalah Tuan Ricard darilondon. Dia orang terkaya di Inggris, dan dia temanku" kata doctor Alex sambil menunjuk temannya.
Aku ternganga. Mengingat sikapku seenaknya saja sejka awal pertemuan kami. Aku bahkan tidak memperdulikan kehadirannya sejak awal. Dan sekarang, aku benar-benar tidak berselera untuk memakan pizza lagi setelah mendengar ucapan doctor Alex.
"Richard apa kau mendengarku?" tiba-tiba saja pukulan ingan melayang ke bahuku.
"Ya,! ya. tentu, saya mendengar dari tadi "katakusalah tingkah.
"Dia bermaksud mencarikan aku guru privat untuk putrinya yang sekarang sedang sekolah di London school. Usia putrinya sudah 2 tahun dan berharap, kau bisa membantukunya"
Tutur dokter Alex.
"membantu? Apa yang bisa saya lakukan?," kau meras canggung.
"Aku melihat data dan semua siswa kampus, dan aku lihat, kau satu-satunya mahasiswa termuda yang akan segera melanjutkan ke S2. IQmu tercatat melebihi anak seusiamu pada umumnya, dan juga atas rekomendasi dari dokter Alex, maka dengan segala kehormatan, aku meminta bantuanmu untuk mengajari putriku agar bisa lulus SMA tahun ini. Kalu mau, aku sedia memberikan apapun yang kau inginkan."
"apa,?! "aku tersenyum sambil terus berusaha untuk tetap tenang. Karena terusterang saja, selain pewngecut akupun memiliki beberapa sifat buruk lainya yang seharusnya tidak dimiliki oleh orang-orang yang jenius. Mudah gugup dan takut. Itu salah satunya.
"Richard, ini peluang untuk membuktikan kemampuan yang sebenarnya. Tunjukkan pada teman-teman dan orang-orang disekitarmu kalau kau memang hebat" Tutur dokter Alex yang terkesan sangat mendukungku.
"Tapi, saya belum pernahmengajarnya, dan lagi, apa tidak sebaiknya kalau khusus seperti ini diserhkan kepada ahlinya saj. Seorang yang pintar sekaligus bisa memahami tingkat kecerdasan orang, mungkin. " kalau lagi.
"percuma, sudah ratusan orang pintar yang mengaku professor tetap aja gagal. Seleranya benar-benar sulit. Dia dia menginginkan orang bodoh sekaligus jenius dan juga tampa, tidak cerewet, patuh, penurut, pendiam, tidak banyak mengekang dan mengatur, bisa melayani kebuituhannya, seperti mengurus semua yang dia inginkan." Saut Tuan Richie.
Lagi-lagi aku menelan ludah.
"Apa itui seperti tugas pembantu serba guna ?" kataku ragu,
"Ya …bisa dianggap begitu. Tapi, kau jangan khawatir, kau bisa meminta semua fasilitas yang kau inginkan. Kau akan diberikan rumah dan semua perabotannya, jugamobil, dan uang lelah yang akan kau terima setiap bulannya.
Membayangkan semua kemewahan itu tentu saja membuatku tertarik. Tapi, wajahnya paman Edward dan bibi Becky, juga ketiga sepupuku tiba-tiba saja muncul dan membayangkan khayalan indahku.
"Ini menarik. Tapi, saya meminta izin pada keluarga saya. Karena seperti yang diketahui oleh banyak orang, paman dan bibi saya sangatlah galak, dan mungkin tidak akan mudah untuk membicarakan ini. Tuturku agak kecewa.
"Baiki, kau tenag saja, dan bila perlu, aku sendiri yang akan menemui keluargamu" saut dokter Alex.
Jam 09.00 malam. Aku sedang sibuk mencuci piring saat paman tiba-tiba saja dating ke café sambil menunjukkan wajah kesal luar biasa.
"kau membuatku bangkrut,! Apa saja yang kau lakukan selama aku pergi?!!" teriaknya sambil mengangkat krah bajuku. "saya …, saya tidak mengerti "Aku mulai gemetar ketakutan. "Dasar sial!!" Dia membanting tubuhku hingga aku terpental ke sisi rak penyimpanan piring.
Semua karyawan hanya terpaku melihat emua ini. Kecuali Nicole, dengan lantang.
"menurut?!, Hah,!" paman terlihat melepas ikat pinggangnya sambil tersenyumlicik-dan perlahan mendektiku dan Nicole. "ini bukan urusan dengan karyawan, tapi ini urusan pribadi kami., dan kau …, sebaiknya jangan ikut campur kalau tidak ingin hari ini menjadi hari terburukmu bekerja di sini ,!. "seru paman sambil mendorong Nic dan menyeretku menuju kamar pendingin daging. sesampai di ruangan pendingin itu, paman mengunci pintu dari dalam dan mendorongku dengan semua tangannya. "Apa, yang ingin paman lakukan pada saya ?, tolong katakana, kesalahan apa yang saya lakukan?" kataku denga suara pelankarena benar-benar takut sekarang.
"Omzet penjualan menurun dua puluh persen selama aku pergi. Sepanjang perjalanan bisnisku berlangsung, hal ini tidak pernah terjadi. Kau pasti menggunakan waktuku untuk bersenag-senang bukan begitu Richarrd kirinya?!" sebuah cambukan dari ikat kepala ikat oinggang berbentuk naga dilayangkan ke tubuhku dengan sangat kencang.



Rasa dingin dari mesin pembeku, dan rasa panas sekaligus perih dari cambukan dengan rasa takut, benar-benar membuatku tidak berdaya untuk segera melarikan diri "saya tidak memakai sepeserpun uang paman. Sungguh paman" "Apa peduliku?! Dulu orangtuamu pernah menipuku dan buka tak mungkin darah penipu juga mengalir di dalam tubuhmu. Sekarang cepat bicara ! kau pakai kau pakai apa saja uangku ?!"
Lagi-lagi cambukan keras melayang.
"saya tidak memakainya paman" Aku mulai ingin menangis. "Rupanya kau lebih senang disiksa, kalau begitu rasakan ini ! dasar anak penipu ! tidak tahu diri ! aku menyesal setelah mertawat dan membersihkan anak penipu sepertimu ! Harusnya dulu aku membuangmu ke jalanan dan membiarkanmu mati ! Rasakan ini! Rasakan!." Teriak paman sambil terus mencambuk, menendang dan menghantamiku.
Sangat sakit. Tapi aku hanya bisa menangis pelan,. Ini adalah siksan terberat yang diberikan padaku setelah 17 tahun lamanya. Biasanya, aku hanya mendapat cacian dan pukulan-pukulan ringan, atau mungkin kurungan tanpa diberi makan. Tapi kali ini, paman benar-benar terlihat murka karena menuduhku menghabiskan uangnya.
"Hentikan Tuan Edward, tolong hentikan,!" Nicole tiba-tiba membuka pintu dengan kunci cadangan dan mendekap tubuhku yang lebih kecil darinya untuk melindungiku dari cambukan paman yang terus saja di layangkannya.
"Cepat kau pergi dan jangan mencampuri urusan kami!" pekik paman yang menghentikan cambukannya karena sempat mengenai punggung Nic yang berusaha melindungiku.
"masalhnya ini bisa kita bicarakan baik-baik tolong kasihani keponakanmu yang sudah hampir sekarat ini. Rayu Nic sambil tetap mendekapku.
"uangku hilang dank au menyuruhku mengasihi anak tidak tahu diri ini?!" Paman kembali berteriak.
"Kalau memang terbukti Rocard bersalah, kau bisa menyuruhnya menganti uangm" Nic tetap berusaha merayu paman "dengan apa? Uang saja dia tidak punya. Dipotong gajipun masih butuh waktu setahun lebih untuk mengemballikan semuannya. Kecuali, kalau mau menjual diri, ya .., itu ide yang bagus. Ayo ikut aku. Temui pelanggan pertamamu" ucap paman sambil menarikku yang rasanya sudah mau pingsan.
Dia membawaku berkendara dengan mobilnya ke sebuah bar mewah yang tidak sempat aku baca namanya.
"Bersihkan darah di hidungmu dan sudut mulutmu itu, orang-orang yang dating ketempat ini adalah orang kaya dari ibu kota, banyak Guy dan wanita kaya yang pasti akan tertarik dengan remaja sepertimu" mucap paman.
"saya tidak mau masuk, paman. Saya bersumpah mengambil uang paman sungguh." Aku tetap berusaha menyakinkan meski aku tahu dia tidak akan percaya.
"Aku tidak mau dengar alas an apapu, yang aku mau uangku kembali" saut paman sambil kembali menyeretku. Lama, aku ditinggal bersama pria-pria aneh yang terus saja menggangguku.
"Kau tampan sekali, berapa umurmu?" ucap salah satu pria yang duduk di sebelah sambil memegang daguku.
"Aku hanya suka dengan wanita berambut pirang, jadi pergilah,!" sautku sambil berusaha menahan sakit di sekujur tubuhku. Tak lama setelah itu, paman kembali mem\nghampiriku dan menyeretku ke lantai atas. "Ada orang kaya yang membayarmu 500 dolar untuk semalam.dia ada di kamar 31.selamat bekerja."ucapnya sambil mendorongku ke dalam kamar dan meninggalkanku begitu saja."Paman!jangan tinggalkan saya,!"Teriakku yang mulai semakin lemah.
"Kenapa kau tidak ingin pamanmu pergi?bukankan kau lebih aman bersamaku di sini?"Tiba-tiba dekapan lembut menjaga keseimbanganku yang hampir terjatuh.
"Saya normal,saya tidak mau berbuat apapun dengan anda,"Aku terus berusaha meronta.
"aku tahu.aku juga laki-laki normal aku tidak mungkin melakukan hal buruk kepada anak selugu dirimu.Apa lagi pada muridku sendiri."mendengarnya aku agak terkejut dan segera berbalik untuk memastikan segera siapa yang berbicara denganku."Doktor Alex,?,saya………,saya……..
Jam di tanganku kembali berbunyi .Waktu menunjukkan pukul 06.00 wib pagi-dan tubuhku masih terasa sakit semua."Kau sudah bangun?bagai mana keadaanmu?"tiba-tiba seorang wanita dewasa mendatangiku dengan membawa segelas susu.
"Aku,…………,apa yang terjadi?!kau kemanakan bajuku?!"teriakku begitu tidak mendapati sehelai baju pun di tubuhku."Aku menyuruh pegawai hotel mencucinya.semalam dotor Alex menghubungiku dan memintaku merawatmu.tidakku sangka ,di saat tubuhmu yang lemah itu kau masih bias berteriakdengan nyaring."tuturnya tetap santai."Dimana Dok Alex sekarang?,kau tidak macam-macam denganku kan?"aku mulai merendahkan suaraku.
"Dia masih ada urusan.dan perlu aku jelaskan padamu ,.aku seorang perawat yang di bayar untuk menyembuhkan lukamu.kau, mungkin sangat menarik jika aku melihatmu 20 tahun yang lalu.Tapi untuk saat ini kau tak ada bedanya dengan balita.jadi tidak perlu berfikiran buruk tentang aku.kau paham anak manis?"dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"ya……….."Aku setengah berkidik.
"pintar……..,sekarang cepat minumsusumu sebelum kuman jahat mencemarinya.dan membuat otakmu semakin kacau."
"ya."
Dua jam menunggu di dalam kamar hotel yang mewah dengan hanya di temani seorang perawat yang agak mengerikan yang benar-benar membuatku bosan.belum lagi harus memikirkan orang-orang di rumah paman.rasa takut,sakit ditubuhku dan penasaran tentang siapa yang telah memakai uang toko bercampur menjadi satu dalam diriku."Apa yang kau fikirkan?"Tiba-tiba Doktor Alex dating dan menegurku.
"Tidak ada hanya menikmati luka-luka bekas cambukan paman"
"Kau bias menuntutnya bila kau mau."
"Tidak mungkin saya menuntut orang yang telah membesarkan aku."
"Tapi dia sudah berbuat buruk dgmu."
"Mungkin paman hanya terlalu syok saja karena uangnya hilang.Jadi saya fikir ini tidak masalah"
"Kau benar-benar berbeda.dari sekian banyak remaja yang ku temui kaulah yang membuatku tertarik."aku tersenyum kecil menanggapi ucapan Dokter Mungkin kalimat yang di ucapkannya itu memang lebih mirip seperti pujian untukku. Tapi, terusterang saja itu tidak membuatku senang ataupun berbangga hati, karena aku sadar bahwa hatikupun sebenarnya tidak terlalu senang jika diperlakukan seperti semalam dan tidak bisa mendapat keadilan- hanya karena terbebani dengan rasa balas budi.

Usai makan siang, dokter Alexmengantarku pulang, karena paman tidak tahu bahwa sebenarnya dokter Alex adalah doseku, maka kamipun tetap bersandiwara dengan bersikap layaaknya sepasang teman kencan.
"Apa kau merasa senang?" ucap paman kepada dokter begitu kami dating.
"ya, dia anak yang menyenangkan. Bahkan kalau boleh, rencananya aku ingin membawanya ke London" saut dokter.
Tanggapan dokter Alex tidak terdaftar dalam perencanaan sandiwara kami sebelumnya. Dansama seperti paman dan bibi, akupun tidak kalah terkejut dengan mereka karena mendengar kalimat itu.
"Apa,?! Tiba-tiba bibi Becky bangkit dari kursinya dan menatap dokter dengan tajam" kau pikir kemenakkanku ini barang?!" Dia menarik dan memegang tanganku dengan sangat kuat. "Aku meraatnya sejak kecil. Memberinya makan, pakaian dan juga tempat tinggal. Meski aku tidak pernah memperlakukannya denmgan bai, bukan berarti aku menginginkan dia pergi.!. Aku tidak perduli dengan jumlah uang yang dia habiskan dari café kami. Tapi yang jelas, aku tidak akan pernah mengizinkan sapapun membawanya dari sini meski dia membawa semua orang yang ada di dunia ini untuk digunakan sebagai penukarnya." Tambahan kemudian. Hal itu sontak kami semua yang dalam ruang tamu itu merasa beranya-tanya dalamhati. Ya … aku bisa mengerti itu dari mata mereka yang aku pandangi satu persatu.
Seorang bibi Becky, yang selalupenyumpahi kata-kata buruk, yang selalu mengatakan "sangat menyesal karena telah merawatku" setiap kali marah dengank, bagaimana bisa terlihat sekesal itu begitu mendengar tawarandokter untuk membawaku pergi dari siniuntuk menjadi Pembantu."jawab Magie
"Kau benar. Meski parasit ini sebenarnya menyebalkan, tapi aku rasa kebenarnya disini sangat membantu kita. Karena dengan tetap memberinya tempat tinggal dan makan sisa kita, Dia sudah bias bias membantukita mengerjakan tugas-tugas sekolah dan juga memasakkan makanan enak untuk kita. Jadi kalau dia pergi, semua sekolah dan rumah pasti harus kita selesaikan sendiri." Archie menimpali.
"Jadi, selama ini itu yang kalian inginkan dariku?, kalian manfaatkan aku untuk kepentingan kalian sendiri. Seharusnya kalian berfikir bahwa meskipun aku yang mengerjakan tugas kalian disekola, bahkan seperti kalian diuntungkan dari hal itu. Selamanya kalian akan tetap," kataku yang tak beranimalanjutkan karena aku rasa sudahterlalu banyak bicara.
"Kau ingin bilang apa,? "Archie mengangkat krah bajuku. "Richard, meski kau sudah menjadi mahasiswa paling jenius di Main Land, bukan berarti kau jadi hebat dalam segala hal. Selamanya kau tetap pengecut yang tidak pantas memakai celana." Jeremy ikut meledak. "Aku tidak peduli dengan semua yang kau katakana. Tolong lepaskan bajuku. Aku tidak ingin membuat keributan denganb kalian" Kataku sambil memalingkan muka karena aku rasa muak untuk melihat mereka.
"Wo …w, apa ini hal paling berani yang ditunjukkan oleh seorang Jenius ?, Uu.. aku merasa tersentuh. Tapi, bagaimana kalau kita sesuaikan kelembutan tutur katamu itu dengan penampilamu agar lebih sempurna ?, Magie, aku punya tugas untuk mu, dan tentunya, akupun butuh bantuanmu Jeremy. Karena mungkin, ini akan sedikt ribut" Ucap Archie sebelum menyeretku ke kamar megie.
Dia mendorongku ke ranjang. Jeremy mengunci pintu dan Magie ribut mengambil peralatanmake upnya. Aku sudah mulai mengerti, sekarang. Mereka pasti mempunyai ide nakal dan menyebalkan untukku.
"Apa yang akan kalian lakukan,?" kataku sambil pertahan menghindari Archie dan Jeremy yang mulai bersiap untuk mengeroyokku.
"membuatmu lebih seksi dan cantik" Saut Archie sambil merangkulku dan mendorongku ke ranjang.
"Lepaskan ! kalian semua gila ! lepaskan !" Teriakku sambil meronta.
"Diam kau banci! Setahuku lelaki tidak berteriak di saat paling menyakitkan sekalipun." Saut Jeremy yang iku mengunci kaki dan tanganku.
Tubuhku yang masih sakit karena cambukan paman ini membuat rasa ini tidak lagi bias aku jelaskan." Au!!!" pikikku disaat Magy menjambak rambutku dan mendongkrakkan kepalaku ke atas. Posisiku tengkurap, dengan tangan melipatkebelakang karena Jeremy menguncinya dengan kuat dan menaiki punggungku-seperti tidak sadar kalau tubuhnya dua kali lebih berat dari pada tubuhku. Sementara Archie, mengikat kedua kakiku dengan selndang dan terus telapak kakiku dengan bulu ayam yang dicabutnya dari kemoceng dirumah, berat dari tubuh Jeremy dan rasa geli kakiku benar-benar membuatku ingin tertawa dan menangis disaat yang bersamaaan. Belum lagi Magy yang menggunakan peralatan make upnya dimukaku.polesan bedak, dan bubuk berwarna-warninya dengan kuas berbulu halus membuatku risih dan terus saja bersin.
"Ampun,! Aku menyerah ! Tolong lepaskan aku, ! "pekikku sambiltetap meronta dan bersin-bersin.
"Ha..ha…ha…! wajahnya lucu sekali! Tunggu-tunggu ! kau belum memakai lipstinya." Saut Magy yang terlihat puas karena berhasil menjadikanku sebagai kelinci percobaan dari hoby dan cita-citanyauntuk menjadipemak up artis.
"Aku tidak mau! Benda sperti itumentega yang di campur selai kacang ! teksturnya sangat menjijikan! Aku tidak mau !" teriakku lagi
"Diam…,! Magy meremaspipiku. Baunya …, benar-benar membuat perutku mual dan ingin muntah.
"Lepaskan aku, tolong, aku mau muntah,! Cepat lepaskan atau aku muntahi kasurmu yang bagus ini ?!" teriakku.
"Apa?! Kau tidak boleh muntah! Lepaskan dia kak,! Aku tidak mau ranjang kotor ! cepat! "teriak magy yang ikut gopoh. Dengan tetap kasar, Jeremy dan Archie akhirnya melepaskan aku yang sudah benar-benar menahan muntahan dalam mulutku. Aku berlari ke toilet dan memuntahkan semua sarapan dan makanan siangku yang mahalitu. Rasanya benar-benar sakit dan melelahkan ketika harus mengeluarkan apa yang sudah kita makan. Usai membersihkan muka, aku hanya duduk sambil bersandar di dekat pintu kamar madi karena tubuhku terasa lemas. Hanya beberapa saat, sabelum akhirnya paman membuka pintu itu dengan ekspresi yang tidak biasanya.
"Kau boleh ke London untuk menjadi guru privat anak orang terkaya di Inggris itu. Tapi kau harus ingat bahwa kau mempunyai tanggung jawab untuk membayar hutang padaku, Jadi aku melakukan semua ini karena aku ingin uangku kembali. Kau mengerti?" tuturnya sambil berbisik.
Karena lemahnya tubuhku, aku hanya bias mengangguk.
Penerbangan pertamaku ke London. Aku berangkat tanpa di temani siapapun dan sekarang tubuhku agak meriang, dan saat ini, aku jadi sangat merindukan kedua orang tuaku yang telah lama meninggal akibat kecelakaan saat mendaki gunung Fujiyama di Jepang.
Wajah ayah dan ibu yang terabadikan dalam kertas foto, makin lama semakin memudar karena terlalu sering ku pegang. Untuk mengingat kenangan indah anatar aku dan kedua orang tuaku ketika umurku baru satu tahun. Dan satu-satunya kengan yang aku miliki dari orang tuaku, adalah foto mereka yang sudah hampir buram gambarnya. Menyedihkan,? Sangat. Meski keluarga paman selalu menyakiti perasaanku, namun hal itu tetap tidak bisa mengalahkan rasa sakit karena harus tumbuh tanpa adanya orang tua yang menjagaku, yang medidikku, dan ,elindungiku ketika mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain. Harusnya aku lebih terbiasa dengan hal itu karena mengingat sudah 16 tahun ini aku hidaup tanpa mereka,. Namun ternyata, kenyataan tidak sama dengan harapan. Karena samapi detik ini, aku tetap manjai Richard yang rapuh.
Aku turun dari pesawat dan langsung disambut dengan empat pria dewasa yang berpalaian lengakp stelan jas berwarna hitam. Dan bentuknya fisik dan logat mereka, aku bisa menebak merek kalau bukan orang sembarangan. Sikapnya yang sudah seperti agen C.I.A itu mampu nenbuat bulu kuduku berdiri. Setelah terkurung di dalam mobil bersama orang-orang yang sama sekali tak mau bicara itu selama setengah jam, akhirnya tiba dikediaman Tua Richie- yang terlihat sangat megah bagaikan istanah putih.
Dan disana, aku sudah disambut dengan Malvy. Salah satu pegawai Tn.Richie yang bertugas sebagai kepala pengurus rumah yang beranggotakan sepuluh orang pengurus eumah lainnya.
Dia sangat ramah dan jauh berbeda dari orang sebelumnya menyambutku. "kemana semua orang yang tinggal di sini ,?" Tanyaku begitu dia membawaku ke lantai dua.
"ketempat dimana seharusnya orang-orang kaya berkumpul. Mereka akan kembali saat makan malam" Jawabnya. Sampai di anak tangga ke lima, aku sempat melihat foto gaun berwarna hitam. Dia nampak benar-benar anggun. "Kenapa berhenti ?, kau pernah melihat nona Arwen?" tegur Marvy.
"Aku pernah rebut dengannya. Dia sangat galak dan tidak suka dengan pujian"
"O …, kalau begitu kebetulan sekali-karena dialah yang akan menjadi muridmu."
"Apa,?" aku menelan ludah
"Tidak perlu sekaget itu karena masih banyak hal mengejutkan lainnya yang belum kau katahui tentang dia. Mari aku antar kau ke kamarmu yang sengaja diletakkan berdampingan dengan kamar nona Arwen" lanjutnya kamudian kembali berjalan-didepanku " Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 6 sore. Sedari tadi jantungku terus berdebar lebih cepat dari biasanya dan aku yakin pastinya Arwen penyebabnya.
"Tuan Richard,!" TIba-tiba Malvy menerobos masuk ke kamarku yang tidak terkunci.
"Ada apa,?"
"Tuan Richie dan isterinya , juga nona Arwen sudah menunggu di meja makan.
"Apa?!, mereka sudah dating,?. Lalu, lalu aku harus bagaimana?" kataku gopoh.
"Apa acara makan malam ini benar-benar membuatmu seperti itu? Bukankah kau ini seorang gur?" Malvy mengernyitkan gahinya.
"Dengar malvy, sebenarnya aku hanya mahasiswa biasa yang ditunjuk oleh dosenku untuk memberikan lest privat pada pada Arwen yang tidak lain putrid Tuan Richie, dan perlu kau tahu aku juga seorang pengecut. Jadi, aku tidak biasa dengan situasi seperti ini. Apalagi, Arwen tidak menyukaiku."
"Oo …. ,. Kalau begitu, sebaiknya kau segera turun dan menemui mereka supaya kau bisa lebih tenang."
"Tapi …," Keluhku tak berlanjut karena aku berfikir ucapan Melvy ada benarnya juga.
Meski sebenarnya aku gemetaran bukan main, namun aku tetap berusaha terlihat tenang dihadapan Arwen dan keluarganya.
"Kau,?! Cepat kembalikan sepatuku,!" seru Arwen begitu melihatku.
"Arwen, jaga sikapmu karena malua sekarang dia adalah gurumu." Saut Tuan Riche sambil tetap tenang di kursinya.
"Apa ,.?! Pekik Arwen.
"Dia tampan, polos, pendiam, jenius dan bisa mengurus semua kebutuhanmu saat kau harus tinggal di Vilauntuk sementara waktu sampai sampai kau lulus SMA, dan mulai besok, dia juga akan menemanimu sekolah" tutur tuan Richie"Baik aku terima kalau dia jadi gurukuprivatku. Tapi jika harus bersekolah dengan itemani dia, aku tidak mau ayah. Aku bukan anak kecil yang butuh pengasuh untuk menemaniku sekolah."
"Dia tidak akan menjadi pengasuhmu, tapi malau besok, dia akan menjadi teman sekelasmu, dan dia juga akan duduk di sebelahmu."
"Tapi,? "pekik Arwen untuk yang terakhir kalianya- sebelum dudk di kursinya.usai pembicaraan itu berakhir tuan Richiepun mempersilahkan aku untuk duduk dan bergabung dengannya. Meski sebenarnya aku masih belum mengerto dengan maksud ucapan tuan Richie sebelumnya, namun tetap lahap saat disuguhi makan malam dengan menu kerang rebus dan pay keju mozarela.
"kembalikan sepatuku,!" seru Arwen yang sudah mengacak-ngacak kamarku saat aku kembali le lamar.
"Bagaimana kau bisa masuk,?" ucapku sedikit kesal karena mlihat semua baju-bajuku berantakan di lantai.
"ini rumahku dan sudah sewajarnya kalau aku bisa keluar masuk kamar manapun" dia tetapm sinis.
"Aku tahu itu, tapi itu bukan berarti kau boleh membuat baju-bajuku berantakan. Lagi pula aku tidk membawa septumu kesini"
"Apa,?! Kau ini benar-benar keterlaluan,! Sepatu mahal dan aku yakin kau tidak akan pernah sanggup untuk membelinya."
"Oh ya,? Lalu apa gunanya aku harus memperdulikan itu kalau kanyataannya aku tidak membutuhkannya ,?"
"Kau memang menyebalkan,! Aku tidak perduli dengan apapun a;asanmu, yang pasti kalau sampai sepatu itu rusak di tanganmu, aku pastikan kau akan mnyesalinya." Tukasnya sambilo mendorongku dan pergi.
Tak lama setelah merapikan pakaianku yang berantakan, aku bergegas merebahkan tubuhku yang rasanya semakain merian. Namun hal itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba saja Melvy menyuruh mengangkat telephone selarut ini?" sapaku dari ganggang telephone. lama, tak mendengar jawaban darinya. Hal itu sontak membuatku bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang terjadi pada Nic
"Nic…,?" Aku kembali memastikan.
"bagai mana luka-lukamu?" sautnya kemudian."Jauh lebih baik. Hanya saja .., aku merasa sedikit demam dan meriang, tetapi aku tidak papa, besok aku sudah mulai bekerja lagi. Hanya saja tugasku kali ini agak berbeda. Aku, harus kembali ke bangku SMA.
Dan kau tahu,? Wanita cantik yang ku tunjukkan padamu saat di café adalah murid baruku,!. Bayangkan saja, aku akan selalu bersama-sama dia,!" Jawabku setengah bisk-dan berseru.
"Itu pasti menyenangkant" Tanggapnya datar
"sebenarnya ada apa?" Tanyaku dengan nada kembali memastikan .
"Richard, maaf kalau aku baru berterusterang sekarang, tapi, aku harap kau mengerti " ucapnya pelan" mengerti apa?" aku semakin penaaran. Sejenak, dia menarik nafas panjang, lalu perlahan mulai bicara dengan intonasi pelan dan terkesan penuh penyesalan.
"Ibuku dirawat di rumah sakit karena penyakit kanker sum-sum tulang. . kami, membutuhkan uang banyak untuk operasi pencangkokan sum-sum. Da…n……., seperti yang kau ketahui, gajiku hanya bisa aku gunakan untuk membayar iuran kampus. Jadi …., aku nekat mengambil uang perusahaan pamanmuuntuk membiayai ibuku."
"Jadi…, kau yang mengambil uang itu?" ucapku dengan nada kecewa.
"Aku tahu ini salah. Tapi, aku tidak punya pilihan. Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi. Di dunia ini hanya ibuku yang aku miliki. Selain itu, aku tidak punya keluarga lain."
"kenapa kau tidak pernah mengatakan itu padaku sebelumnya? Kita berteman sejak kecil Nic."
"Richard, aku tahu kalau nasibmupun tidak lebih baik dariku. Kau sendiri hidup dalam tekanan keluarga Edward. Jadi, aku tidak ingin semakin membebanimu dengan masalahku. Tapi, kenyataan yang terjadi sekaerangJustru sebaliknya. Gara-garakebdohanku kau harus mendapat perlakuan buruk dari pamanmu dan sekarang di saat aku benar-benar membutuhkan teman sepertimu, kau malah harus dijauhkan dariku."
"Lalu apa yang bisa aku Bantu untuk membuatmu lebih baik? Apa…, kau ingin aku kembali ke Main Land?
"Bicara apa kau ini ?! tentu saja bukan begitu, saying aku, hanya ingin kau mau memaafkan aku. Aku berjanji akan mengganti uang pamanmu. Hanya saja.., mungkin butuh waktu lebih lama lagi karena pamanmu sudah memecatku dan beberapa karyawan lainnya."
"Apa dia tahu kalau kau yang mengambil uang itu?"
"Semetara ini Cuma kau yang tahu. Mungkin aku akan mengaku setelah ibuku membaik. Karena pastinya, aku tidak mau masuk pnjara disaat ibu sangat membutuhkanku. Kau, mau mengerti-kan,?"
"Tentu aja Nic. Aku berjanji akan bekerja dengan baik agar nantinya Tuan Richie mau memberiku pekerjaan sampingan, dan gajiku, bisa aku pakai untuk membayar uang paman yang sudah yang sudah kau pakai. Sementara ini fikirkan saja ibumu. Kau tidak perlu mencemaskan uang paman-karena aku yang akan mengurusnya."
"O….h Richard.., kau memang kekasihku yang paling baik. Di saat seperti ini aku semakin ingin mendekapmu, saying…"
"i…h,! kau memang tetap menyebalkan." Tugaskumengakhiri pembicaraan.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 07.30. dengan memakai seragam setelan jas berwarna hitam dengan dasi dan kemeja putih, aku berangkat bersama mobil Arwenmenuju sekolah baruku.
Bangunan berlantai tujuh yang menjadi tempat kerjaku agaknya memang membuatku menelan ludah. Karena selain aku belum mengenal lingkungan ini, akupun baru pertana kali ini melihat banunan sekolah SMA yang kemewahanya mengalahkan kampusku
"Kenapa diam? Apa kamu syok melihat sekolahku? Hu..kasian sekali kau ini. Bagaimana .., kalau kau ikut aku pulang lagi dengan Ben,? Hm… hanya usulan saja. Karena aku tidak mau kalau nantinya kau malah pingsan setelah melihat kelasku." Ledek Arwen sambil tetap memasang wajah sinisnya.
"Terima kasih atas usulannya, tapi, biar bagaimanapun juga, aku adalah seorang mahasiswa Jurusan Sasatra Inggris yang akan segera melanjutkan S2ku, dan meski ku akui sekolah ini sangat mewah, namun tetap saja penghuninya SMA. Jadi, aku rasa tidak ada hal yang perlu aku cemaskan." Jawabku sambil membalas tatapanya.
Tanpa menjawab spatahpun, Arwen langsung berlalu dengan wajah yang semakin kesal. Sementara aku yang terkesan tidak tahu malu, tetap saja mengikutinya karena aku tidak tahu dimana kelasku berada.
Saat Jam makan siang, Arwen sudah meninggalkanku lebih dulu dengan pergi ke kantin bersama dengan pacarnya-yang menyebalkan itu.
"Kau menyukai ARwen?" tiba-tiba sosok lelaki berkulit hitam menepuk bahuku dan duduk begitu saja di sampingku.
"DIa sangat cantik. Matanya benar-benar indah siapapun pasti beruntung jika menjadi pacarnya" Jawabku
"He.., kau ini berasal dari mana,? Di London ini sangat banyak gadis seperti dia. Kau mau lihat?!" dia mulai bersikap seperti Nicoledengan memainkan alis dan bibirnya saat mebicarakan hal-hal yang sedikit nakal
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi, aku masih urusan denga yang lainyang lebih penting" Jawabku sambil berlalu. Aku menemui bu Talbot yang menjadi wali kelasku Arwen untuk menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan Arwen. Dan menurutketerangan yang aku peroleh, ternyata perubahan buruk Arwen dimulai sejak dia berhubungan dengan Drake Wilsinyang tidak lain adalh pacar yang selalu dibangga-banggakan Arwen. Drake adalah putra pertama keluarga Wilson yang ayahnya menjabat sebagai Jendral Tertinggi di London.
Dan sama seperti ayahnya, Drake juga mempunyai watak yang kakudan berperanggai sangat kasa. Bu Talbot bahkan memberikan saran agar jangan sampai membuat masalah dengannya. Menyeramkan,? Itu pasti. Karena biar bagaimanapun juga usiany lebih tua enamtahun dariku, dan selain itu, fisiknyapun lebih besar dan pastinya berkali-kalilipat lebih kuat dariku.
Lalu pertanyaanya, bagaimana aku bisa jauhkan Arwen darinya?
Saat pulang sekolah dua teman Arwen ikut kami ke rumah Arwen mereka adalah Lindsay dan Mya.
Sejak pertama aku perhatikan, mereka benar-benar terlihat sangat akrab dan aku berfikir, mungkin aku bisa mendapat bantuan dari mereka.
"Dari nama asalmu?" Teguh lind saat baru turun dari atas mobil!!.
"Main Land"
"Main Land?! He.. disana aku dengar sangat menyenangkan. Arwen bilang, dia sempat bertemu dengan pelayan cafe yang sangat tampan saat berkunjung ke sana. Sayangnya, dia miskin dan terlalu polos" ucapnya lagi.
"Oh ya?! Dia bilang begitu?, siapa nama lelaki itu?" "Ricard. Lengkapnya aku tidak tahu"
Mendengarnya, aku jadi merasa kalau yang dimaksud Arwen adalah aku. Dia menyebut tampan itu sudah sangat membahagiakanku. Andai saja dia mau mengatakan secara langsung.
"Hei,! Kenapa diam?, kau belum menyebutkan nama denganku,!" Teguh Lind sambil menarik bajuku.
"Richard, aku Richard kirinyaga. Mantan seorang pelayan cafe. Samapai jumpa "Jawabku sambil bergegas masuk ke dalam kamarku.
Setelah mandi, aku beranjak ke kamar Arwen sambil membawa beberapa buku pelajaran-dari sekolah. Ketika aku merasa semua akan berjalan lancer, tiba-tiba saja keadaan jadi berubah di kuar kendaliku. Lindsay dan Mya belum pulang dan mereka bertiga sedang memakai masker wajah saat aku dating.
"Ini terlalu awal untuk belaja. Kami sedang lakukan perawatan" ucap Arwen.
"Tapi dijadwal, tertulis bahwa sepulang sekolah kau harus belajar.
"Jadwal,? .. siapa yang membuat jadwal seperti itu?"
"kau sendiri"
"kalau begitu, mulai sekarang jadwal itu di ubah. Sekarang aku masih harus melakukan beberapa perawatan lainnya, dan sebagai pengurus burukku, maka kau aku beri tugas untuk memotong kuku-kukuku." Ucapnya sambil menyerahkan pemotong dan pengikir kuku padaku.
"Arwen aku tidak bisa. Aku tidak tahu bagaimana cara merawat kuku wanita."
"Tidak profesional sekali. Ayah bilang kau jenius. Jadi mana mungkin memotong kuku saja tidak bisa. Percuma aku menggajimu kalau pekerjaan sepele saja kau tidak becus"
Usai meletakkan buku-bukuku dimejanya, akhirnya akupun menuruti kemauannya, dan sudah seperti yang aku duga, dia terus berteriak karena dia bilang aku terlalu kasar saat mengikir kukunya.
"Kau sengaja melakukannya?!" Ucapnya sambil mendorongku sampai tersungkur.
"Tidak Arwen, aku minta maaf. Aku, aku benar-benar sudah berusaha untuk lebih lembut."
"Tapi kelima jariku sudah kau buat berdara, idiot,! Pokoknya aku tidak terima,! Aku akan mengatakan hal ini pada Drake agar kau diberi pelajaran,!"
"Tenanglah Arwen, kau jangan melakukan itu,! Lagi pula dia sudah berusaha." Mya bangkit dan mengelus bahu Arwen.
"Tapi jari-jariku terluka,! Aku tidak mungkin bisa ke pesta dansa dengan jari-jari yang terluka,!"
"Ayolah, kau yang memaksa Ricard untuk memoang kukumu. Padahal kan kau tahu, dia bukan pegawai salon. Jadi menurutku wajar-wajar saja kalau dia malah membuatmu terluka." Saut Lindsay."
"Kenapa kalian malah membelnya?! Akukan teman kalian,!" Arwen semakin kesal.
"Karena dia sangat tampan……..," saut lind dan mya serempak.
"ih…!! Kalian menyebalkan!" Arwen medorong kedua temannya." Sekarang pegangi dia,! Aku kan membalas perbuatannya padaku,! Cepat!" lanjutnya.
Lindsay dan Mya yang terlihat ketakutan langsung saja memegangi kedua tanganku. Sementara Arwen langsung duduk di atas pahaku dan memotong kuku-kuku tanganku yang sudah sangat pendek samapi kesemuanya berdarah. Meski rasanya menyakitkan, namun aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak berteriak-didepan wanita yang sangat aku sukai. Hanya saja, aku tetap tidak bisa menghalangi keringat dingin yang terus mengucur karena rasa sakit itu.
Etelah memasangkan plester pada sepu;uh jari tanganku, aku pun bergegas turun untuk makan malam bersama keluarga Tuan Richie.
"Kenapa jari-jari kalian dipenuhi plester?" Ucap Tuan Richie begitu mengamatiku dan Arwen. "Hanya aksesoris baru saja. Biar kami terkesan lebih kompak" saut Arwen sambil menatapku tajam.
"Rupanya kalian sudah mulai akrab,. Bagus sekali kalau begitu. Karena mulai besok, kalian akan tinggal di Villa keluarga kita" tutr Tuan Richiesambil tersenyum ramah.
Sepulang sekolah kami langsung diantar Ben ke Villa milik tuan Richie. Tak ketinggalan, Eruke dan kedua sahabat Arwenpun ikut bergabung mengantarkan kami. Dan sama seperti pertemuan sebelumnya, Druke langsung menunjukkan kesan buruk saat melihatku.
"kau tahu ini apa?" ucapnya sambil menunjukkan otot lengannya padaku." Otot-otot di dalam daging ini akan membuatmu berantakan kalau kau coba-coba menganggu kekasihku. Kau mengerti?!" Tambahnya.
"Aku mengerti" Jawabku datar.
Setelah semua pergi, kami berdua sempat canggung saat teriam di ruang tengah. Meski sama-sama memegang buku, namun aku tahu kalau fikirannya tidak focus pada buku yang dibacanya.
"Hah…! Cukup sudah,! Kenapa kau sangat diam?! Memanganya tidak ada yang bisa kau katakana?!" teriaknya sambil membanting bukunya.
"Kenapa aku harus bicara kalau kita sama-sama membaca? Memangnya, cara belajar seperti apa yang kau sukai?"
"Bacakan semua buku ini dan aku yang mendengarkan"
"Baik. sekarang duduklah dan aku akan menjelaskan beberapa materi padamu. Pelajaran apa yang paling sulituntuk kau fahami?"
"Semuanya aku tidak mengerti. Aku selalu malas jika di suruh mendengarkan penjelasan para guru yang menyebalkan itu"
"Kita mulai dari awal lagi saja agar lebih mudah. Kau tidak keberatan?"
"Kau guruku sekarang. Jadi semua terserah padamu saja."
Sejarah peradaban mesir kuno. Salah satu pelajaran yang dulu sangat aku tidak sukai, dan sekarang, aku harus menerangkan pelajaran yang sama pada Arwen.
"Ada kau tanyakan?" ucapku setelah membacakan satu bab untuknya.
"Apa arti namabelakangmu?" ucapnya sambil menatapku dengan tatapan aneh
"Arwen.., itu tidak termasuk dalam pelajarabn ini""oh ya,? Lalu apa salahnya kalau aku tanyakan nama belakangmu lebih membuatmu penasaran? Aku hanya ingin tahu saja..,"
"Kirinyaga adalah nama gunung terindah di afrika. Suku dipedalaman sana menyebutkan sebagai gunung pencerahan karena selama berabat-abat gunung itu selalu memberikan makanan berlimpah untuk mereka. Bahkan matahari bisa terlihat indah saat pertama kali terbit di sana" tutrku.
"Lalu…,?" Ucapnya sambil semakin mendekat
"Orang tuaku menggantungkan satu harapan dengan memberikan nama itu padaku. Mereka ….., mereka ingin, aku tumbuhkan menjadi lelaki yang hebat." Jawabku yang terus berusaha menghindar dari tatapannya yang melemahkan itu.
"Lalu ….,"
"Arwen tolong, kita harus serius. Ayahmu mempercayakanmu padaku. Aku tidak ingin tahu ini kau gagal lagi"
"Kau yakin ..?" Dia meletakkan kedua buku tangannya dibahuku, sekarang.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Kataku semakin gemetar.
"Menurutmu…,?" Ucapnya sebelum mencium bibirku.
Hanya beberapa detik saja aku merasakan ciuman itu sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaran. Dan saat aku tersadar, aku sudah mendapati jam di tanganku menunjukkan pukul 08.00 pagi. Aku benar-benar kebingungan karena Arwen sudah tidak berada di rumah. Selain itu, sepeda kayu yang seharusnya kami pakai bersama untuk ke sekolah juga tidak ada di garasi. Jadilah aku harus berlari saat berangkat berangkat kesekolah, dan lagi-lagi, aku harus terlambat untuk sampai di London.
"Kau terlambat satu jam Tuan Richard, dan untuk empat hari kedepan, kau harus belajar di luar ruangan." Ucap bu Nency sambil menyerahkan selembar kertas bertuliskan "PESAKITAN WAKTU" yang harus aku tempelkan di saku Jasku.
Semua teman sekelasku menertawaiku habis-habisan, dan saat aku memperhatikan Arwen, dialah yang terlihat paling senang saat mengetahui aku dihukum.
"Aku tidak menyangka kalau termyata ciumanku terlalu dahsyat untukmu." Ucapan Arwen saat menghampiriku yang tengah makan siang di kantin.
"Aku tidak mrenyangka kalau ternyata kau selicik itu" sautku dengan nada sangat kesal
"Kau marah,?. Aku kan Cuma bercanda. Masakbegitu saja kau masukkan hati." Dia mulai merengek sambil memainkan jari-jari tanganku.
"Arwen, ini uangmu,!" tiba-tiba saja Mya dating dan melemparkan uang beberapa puluh dolar kemejaku."Kenapa Cuma sedikit?!" seru Arwen sambil menghitng uang itu.
"Richard tidak membalas ciumanmu dalam rekamanhanya terlihat ekspresinya yang ketakutan. Teman-teman bilang itu tidak seru. Jadi mereka hanya mau membayar sedikit untuk adegan ciumanmu dengan pelayan barumu itu"
"Hei,! Tidak bisa begitu,! Aku sudah menjaruhkan gengsinku dengan ciuman laki-laki itu. Jadi kalian harus membayar lebih untuk rekaman itu,!" Arwen mulai berteriak.
"Maaf Arwen, tapi teman-teman bilang, kau harus mengulangi adegan itu kalau kau ingin mendapatkan semua uang taruhanmu. Tentunya, dia tidak boleh pingsan." Ucap Mya sebelum berlalu.
"Sial,! Kenapa semalam kau harus pingsan" gara-gara kau,! Aku harus kehilangan uang tuju ratus dolarku,! Sekarang ikut aku,!" teriak Arwen sambil menyeretku ke lantai teratas.
Di sana ada Drake dan teman-temannya yang sedang bersantai sambil menghisap rokok. Terusterang saja perasaanku semakin tidak enak saat mengetahui Drake mendekat ke arahku-dengan wajahnya yang menyeramkan.
"Ada apa sayang,?. Apa manusia primitive ini mengganggumu?" ucap Drake pada Arwen.
"Gara-gara dia aku tidak bisa mendapatkan uangku, dan bla…bla.."Arwen menjelaskan pada Drake kalau ternyata dia menjadikanku sebagai bahan taruhan dengan teman-temannya. Dalam taruhan itu, aku dan Arwen harus berciuman di deopan kamera yang sudah mereka persiapkan tanpa sepengetahuan diriku.
Hal itu sangat membuat diriku kecewa dengan Arwen. Kenapa disaat pertama kalinya menyukai seorang wanita, aku harus dipertemukan dengan wanita yang hanya menganggapku sebagai bahan permainan saja.
"Hei,! Sekarang kau sudah dengar apa yang di inginkan Arwen?! Dia ingin uang dan harga dirinya kembali. Sekarang cium dia,!" ucap Drake sambil meremas kedua pipiku.
"pacar macam apa kau ini,? Kau menyuruh laki-laki lain untuk mencium pacarmu sendiri di depan kamera dan teman-temanmu hanya demi uang tuju ratus dolar. Aku tidak menyangka kalau uang itu lebih berharga dari pada cintamu." Sautku.
"Jangan banyak bicara kau,! Sekarang cium dia!"
'Aku tidak mau,!"
"Brengsek,! Seru Drake sebelum menghantamku. Merasa tidak terima, akupun membalas pukulannya dan kami pun terlibat adu pukul. Beberapa teman Drake yang juga ada disana, akhirnya ikut bergabung dengan Drake dan mengeroyokku habis-habisan. Setelah tidak berdaya, Arwen Arwen menyerahkan kameranya pada Drake dan dia kembali menciumku.
"Terimakasih atas penghinaanmu, Arwen. Kau, benar-benar telah menyinggung perasaanku. Mulai sekarang, aku bukan lagi partner belajarmu." Kataku sambil perlahan sambil bangkit dan meninggalkannya bersama Drake dan teman-temannya.
Setiba di kelas, teman-teman sudah sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Saat aku meminjamnya dari Lindsay, ternyata rekamanku saat berciuman dengan Arwen sudah menyebar di seluruh nomor di sekolah.
"Kau baik-baik saja Richard,?. Hidngmu, terus mengeluarkan darah."Lindsay Merangkulku" mengkin sebaiknya aku pulang." Ucapku yang kembali beranjak.
"Apa, kau akan kembali ke sekolah,?"
"Mungkin tidak. Aku, akan pulang ke Main Land. Arwen tidak berar-benar membutuhkanku jadi tidak ada gunanya aku bersam-sama."
"Apa karena rekaman ini.?, ayo lah Ricard, aku baru dua hari saja di sini. Apa harus menyerah secapat itu.,?" Arwen tidak menyukai dari awal. Jadi percuma saja ku pertahankan. Samapai kapanpun, aku tidak akan bisa menjadi guru pruvatnya." Jawabku sebelum berlalu.
Setelah mengepak semua barang-barangku, aku bergegas menuju rumah Tuan Richie untukj berpamitan. Meski sebenarnya beliau tidak mengizinkan aku pergi, namun aku tetap memaksadengan berbagai macam alas an-sampai akhirnya dia luluh .
Dan setiba di Main Land, Nic langsung merangkul dan mengacak-ngacak rambutku sampai berantakan.
"Apa kau dating untuk menjemputku?!" ucapnya girang.
"Tidak Nic, Justru, aku pulang untuk menemanimu."
"Kenapa begitu,?! Lalu pekerjaanmu?"
"Bisakah kita bahas itu di rumah saja,?" usulku
"Ya. Tentu. Kau pasti masih sangat lelah."
Sepanjang perjalanan, aku hanya termenung memikirkan hutang-hutangku pada paman. Mungkin seharusnya aku tidak menyerah secepat ini. Karena, uang itu lebih aku butuhkan dari pada harga dirikuyang sudah di injak-injak oleh Arwen.
Dan lagi, aku sudah berjanji pada Nic akan mengganti uang pada paman. Tapi sekarang, kami Justru sama-sama menjadi pengannguran.
Setelah menyiapkan sarapan untuk Nicole, aku bergegas meninggalkan rumahnya dan pergi ke Dokter Alex di kampus.
"Kenapa kau di sini,?" ucapnya begitu melihat aku dating.
"Saya, mengundurkan diri."
"Ya…aku tahu kau pasti menghadapi masalah yang sulit. Tapi tenanglah. Aku pasti akan membantumu."
Sambil menikmati burger pemberian dokter Alex, aku mulai menceritakan semua hal yang sudah aku lalui ketika di London. Dia terlihat antusiasmendengarkanku berbicara. Tapi ketika mendengarkan cerita bagian akhir yang membuatku mengundurkan diri, dokter Alex Justru menertawaiku.
"Jadi itu yang membuatmu marah,?" ucapnya sebelum kembali tertawa.
"Dia keterlaluan. Sebelumnya saya benar-benar menyukainya. Tapi dia malah menjadikan saya sebagai bahan taruhan."
"Richard…, hampir semua SMA melakukan permainan itu.
Aku dulu bahkan sangat menggemari permainan itu. Dan seharusnya kau pun begitu."
"Lalu sekarang saya bagaimana?. Saya tidak berani pulang ke rumah paman."
"Tenanglah, aku puny aide untukmu"
Bekerja sebagai penjaga perpustakaan sekolah keliling agaknya lebih baik dari pada harus menjadi pecundang. Dengan mengendarai bus yang telah disulap menjdai perpustakaan min, aku dan Nic mulai diburu anak-anak itu jadi semakin antusias juga berbakat kembang gula buatan Nic yang di jajakan di dalam bus.
Dan berkat ide dokter Alex ini, akhirnya aku dan Nicole mesih bertahan hidup sampai sekarang.
Dua bulan berlalu sangat cepat. Aku dan Nic sudah bisa mengangsur hutang pada paman sebesar sepuluh persen dari total hutang sebanyak biaya pecangkokan sum-sum bibi Alena. Meski kuliah kami harus sama-sama berhenti sementara waktu, namun aku tetap punya keyakinan bahwa suatu saat nanti aku pasti mampu melanjutkan kuliahku dan bisa mandirikan kator penerbit untuk orang-orang yang punya bakat sebagai pengarang dan penulis buku.
"Richard, ada yang ingin bertemu denganmu" Tiba-tiba Nic membuyarkan khayalanku.
"Siapa?"
"Sebaiknya kau lihat saja sendiri. Dia ada di luar bersama doctor Alex"
Dengan sedikit penasaran, aku pun berjalaan menuju bus dan menemui orang yang di maksud Nicole.
"Richard,!" panggilan lembut dan pelukan hangat tiba-tiba saja diberikan Arwen padaku.
"Akhirnya aku menemukanmu,! Aku, ingin minta maaf atas perlakuanku selama kau di London. Aku, menyesal … Richard."
Dia tetap memelukku.
Belum sempat memberikan jawaban, tiba-tiba saja tubuhku terasa lemas dan akupun kehilangan kesadaran.
"Richard..! bangunlah saying,! Aku mencintaimu,! Tolong jangan pergi,…."
"Nic,? Ha..h apa yang kau katakana,? Kenpa kau selalu berkata seprti itu di depan banyak orang?. Ucapnmu itu bisa membuat mereka berfikir buruk tentang kita" kataku sambil perlhan bangkit dari tempatku berbaring.
"Sebenarnya kau ini alergi wanita atau apa?. Kenapa begitu Arwen memelukmu kau langsung pingsan,? Ucap Nic.
Apakah itu semacam sindrom atau memang aku saja yang payah." Sautku sambil membenahi rambut dan bajuku.
"Dia ingin mengajakmu kembali ke London."
"Apa ?!" Aku meyakinkan
"Nicole benar. Aku ingin kau ikut denganku dan menjadi guru privatku lagi. Kau, tidak keberatankan,?"
"kau yakin masih mau belajar dengan orang miskin sepertiku?"
"Richard… ayolah, akukan sudah minta maaaf."
"Baiklah, tetapi aku punya permintaan padamu"
"Katakan,!"
"Aku ingin, Nicole menemaniku. Aku juga tidak mau berada dalam satu ruangan jika kita hanya berdua saja."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku tidak ingin kejadian seperti waktu itu terulang lagi. Kau setuju?"
"Baik."
"Tunggu, tunggu,!" tiba-tiba Nicmenyela." Jika yang dimaksud Richard adalah aku harus menemaninya untuk menyamar menjadi anak SMA, aku benar-benar tidak setuju." Lanjutnya.
"Ni…c," rengekku.
"A,a,! jangan berusaha memohon karena aku tidak akan terpengaruh dengar Rchard, aku tahu kalau saat ini kita ini kita belajar dalam satu kela. Tapi itu bukan karena kita sepantaran melainkan karena kau terlalu pintar. Di usia mu yang baru 18 tahun itu memang masih sangat wajar kalu menjadi pelajar SMA, tapi bagiku, ha … h ayolah berfikir. Anak-anak itu pasti akan mengira sangat bodoh karena usiaku 25 tahun masih harus duduk dibangku SMA. Aku tidak mau,! Tidak pernah mau,!"
Sejenak Arwen menatapku sambil mengedipkan satu matanya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan fikirnya.
"Bagaimana, jika aku melunasi SPP kuliahmu?" ucapnya pada Nicole kemudian.
"Apa?!" Pekik Nic
"Ya…, kalau kau tidak mau menyamar jadi anak SMA juga tidak apa. Asal kau mau menemani Richard selama disana, aku pasti melunasi semua SPP kuliahmu, dankalau Richard berhasil membantuku sampai aku lulus, aku juga akan merekomendasikanmu agar bisa mengikuti program biasiswa untuk melanjutkan S2 mu."
"Ha….h ? kau gila?! Biaya kuliahku mahal. Lagi pula tungakkanku juga banyak. Memangnya kau mampu melunasinya ?"
Tanpa Jawab, Arwen langsung menyerahkan cek yang sudah di tanda tangannya pada Nicole.
"Tulis saja berapapun yang kau butuhkan dan aku pasti akan melunasinya"
Dengan antunasi, Nicolemengisi cek itu dengan angka yang tidak diketahui Jumlahnya. Setelah mendapatkan persetujuan dari Arwen, dia langsung tergolek tak sadarkan diri.
"Ha…..h, dia memang sama sepertimu. Kalian berdua sama-sama payah jjika berhubungan dengan hal-hal seperti ini"
Sore itu juga kami berangkat ke London. Penerbangan keduaku terasa lebih menyenangkan karena aku tidak sendiri. Sejak pesawat yang aku naiki mengudara, Nicole sudah membuat keributan dengan memamerkan resep-resep yang dikuasainya. Dan seperti gayung bersambut, Arwenlangsung memutuskan untuk mengangkat Nicolesebagai koki pribadinya. Kabare yang menyenangkan jika Nicole memang sangat gemar memasak, dan sejak ia dipecat dari café pamanku, dia jadi terlihat kusut setiap melihat peralatan dapur, dan itulah sebabnya aku menumpang di rumahnya dia lebih senang menyuruhku memasak.tapi setelah itu aku yakin dia akan kembali bersemangat dengan peralatn dapurnya.
Usai makan malam, Arwen tiba-tiba saja menyerobot ke kamarku dengan membawa setumpuk buku sekolah. Nicole yang saat itu baru saja selesai mandi san belum berpakaian langsung saja melompat ke atas ranjang sambil melilitkan selimut di tubuhnya.
"Hei apa yang kau fikirkan?! Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?!" teriak Nic.
"Ini Villaku,! Dan aku berhak memasuki kamar manapun yang aku suka." Saut Arwen dengan gayanya yang khs.
"Tapi ini kamarku, sekarang,! Jadi kau harus tahu itu,!"
"Baiklah aku tidak peduli. Sekarang cepat keluar karena kau mau belajar." Tukas Arwen.
Setelah Nic lari dengan selimutnya, Arwen langsung membanting bukunya ke atas ranjangdan dia menyusul melompat ke atas ranjang yang aku pakai duduk sambil membaca materi kuliahku yang terlewatkan.
"Apa yang kau lakukan,?" kataku.
"Aku mau belajar." Dia melai membuka buku fisikanya.
"Ya aku bisa melihat itu. Tapi apa harus kita belajar satu ruangan denganku?"
"Kau guruku Rihard. Jadi wajar saja kalau kita satu ruangan dengankuyang sama."
"Tapi perjanjiannya kita harus ditemani orang lain."
"Tenanglah, aku tidak akan macam-macam. Sekarang jelaskan apa maksud rumus-rumus ini," ucapnya sambil merebut buku yang aku pegang dan menukarnya dengan buku fisikanya.setelah beberapa detik mempelajari bukunya, akupun mulai menjelaskan sat-persatu, dan seperti yang sudah aku duga, dia kembali memancing dengan pertanyaanyang tidak seharusnyadiutarakan pada saat pelajaran fisika.
"Kau punya pacar,?" Ucapnya sambil mmandangku iseng
"Tidak"
"Pernah pacaran,?"
"Ti…"Jawabku yang kulanjutkan karena tiba-tiba teringat kalau kekacauan ini,?" ucapku kemudian.
"Kenapa kau harus menjelaskan hal yang tidak butuh penjelasan lagi, kau boleh keluar dari kamarku." Tukasku.
"Pam … pam… pam,!" Dia tersenyum nakal." Kenapa kau selalu serius,?!" Dia mulai menempelkan hidungnya ke depan hidungku.
"Karena aku di bayar untuk mengajarmu." Jawabku sambil menatap jauh ke dalam matanya.
"Kalau begitu, ajari aku cara mendapatkanmu."
"Aku menyukaimu, Richard. Sejak ciuman itu.
"Tapi itu ciuman permainanmu"
"Tapi permainan itu menjebakku."
"Drake Wilson?, dia pacarmu, kan?"
"Lalu apa peduliku kalau sekarang aku menyukaimu?"
"Kenapa?, kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? Apa kau memasang kamera lagi?"
"Tidak. aku hanyamemasang mataku untuk bisa memperhatikanmu. Apa…, kau menyukaiku?"
"Dari dulu. Sejak pertama melihatmu."
Setelah mendengar jawabanku, tiba-tiba saja arwen menutup kedua matanya. Dan akau tahu, kalau berarti dia ingin aku menciumnya. Sedah sangat dekat, dan aku hampir berjhasilmelakukannya sampai tiba-tibasaja aku bersin setelah mencium parfum lipstiknya.
"Richard,! Apa yang kau lakukan?1 kenapa kau menyebalkan sekali?!" Teriakny ambil mengusap-ngusa wajahnya yang terciprat liurku.
"Maaf Arwen,! Aku….,!" sautkan sambil membantunyabersihkan wajah.
"Tisak! Kau menyebalkan,!!"teriaknya sambil mendorongku lalu begitu saja sambil membanting pintu.
"Ha….h, hidup menyimpan berjuta materidan pertanyaannya adalah kenapa lelaki sepayah dirimu harus lahir ke dunia ini.?" Tiba-tiba Nicole menerobos masuk dengan memanjat jendela kamar.
"Kau melihatnya?"
"Dari awaldan itu saja hampir terjadi tontonan mengasikkan kalau saja kau tidak bersin."
"Arwen sangat marah denganku"
"Itu sudah pasti. Wanita manapun pasti akan marah jika ciuman yang diharapkanny berubah menjadi cipratan liur."
"Ya…aku tidak menyalahkanmu tentang hal itu. Terkadang aku sendiri merasa kurang nyaman saat harus mencium wanita memakai lipstick terlalu tebal."
"Lalu bagaimana aku harus membujuk Arwen agar mau memaafkan aku?"
"Itu mudah sekali. Dan kalau kau mau, kau mau belajar membiasakan diri dengan Lipstik sampai kau bisa kebalterhadapnya."
"Caranya?"
"Belajarlah memakai Lipstikkalau waktui renggang."
"Apa?!. Kau gila?!"
"He…dulu aku juga begitu. Tapi sekarang sudah mulai terbiasa dengan stick berwarna-warni itu. Apbila yang beraromakan buah-buahan. Itu pasti bisa membuatmu ingin untuk memakannya."
"Itu menjijikan. Sampai kapanpun aku tidak akan melakukannya." Sautku yang mulai membaca buku lagi.
Aku kembali ke sekolah dan anak-anak SMA itu sudah menyambutku dengan ledakan yang benar-benar tidak ingin aku dengar, Namun sedikit yang membedakannya dari pertama kali aku dating adalah kali Arwen membelaku selain itu, dia mengumumkan pada teman-temannya bahwa aku adalah kekasih burunya. Berita itu sontak membuat semua siswa gempar dan ketika berita itu sampai ke telinga Drake Wilson, dia langsung menyuruh teman-temannya untuk membawaku kesebuah tempat yang lebih mirip dengan gudang yang tidak di pakai yang terletak di kawasan apartemen kumuh.
Sejak dalam perjalanan, kelima teman Drake itu sudah menyiksaku dengan cara-cara yang sangat menyakitkan. Menyayat-nyayat tanganku dengan pisau
Pencukur kumis, menyulut kedua telapak tangankudengan rokok, lalu menyiramku dengan minuman Rasa sakit yang tak tertahan itu akhirnya membuatku sampai menangis.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" ucapku pada Drake
"Karena kau telah berani mengganggu kekasihku."
"Aku hanya membantu Arwen belajar saja. Lagi pula Tuan Richie yang menyuruhku."
"Jika dari awal kau sudah sadar kalau tugasmu hanya membantunya belajar, harusnya kau bisa jaga jarak dengannya dan tidak merayunya,!" Teriaknya sambil menedangku.
"Aku tidak pernah merayunya apa lagi berusaha untuk mendekatinya."
"Oh ya?! Kau fakir aku pecaya begitu saja?!" Teriaknya lagi sambil menginjak punggungku dengan sepatunya.
"Kau sendiri yang membuatnya menyukaiku. Kau pernah menghajarku karena aku menolak untuk menciumnya dank au ingat, saat aku tidak berdaya, Arwen tetap menciumku. Arwenbilang dia menyukaiku sejak saat itu."
"Kurang ajak kau,!
Itulah kata-kata terakhir yang aku dengar saat aku sadar. Selain itu, beberapa selang juga sudah menancap di kulit dan hidungku ketika kesadaranku semakin pulih. Lalu satu-persatu, orang-orang di sekelilingku mulai terlihat dengan jelas. Tuan Richie, doktor Alex, Nocole dan Arwen langsung tersenyum begitu aku memandangi mereka.
"Syukurlah kalau akhirnya kau bia sadar. Aku mencemaskanmu Richard" ucap Arwen sambil mendekapku.
"Arwen sabarlah dulu. Dia masih sangat lemah untuk bisa kau peluk." Tutur Tuan Richiemenarik tubuh Arwendengan perlahan.
"Kami sudah mengurus orang-orang yang telah mebuatmu seperti ini, dan saat keadaanmu sudah membaik, polisi akan membutuhkanmu di persidangan untuk menjadi saksi kasus penganiayaan yang menimpamu, kau tidak keberatan?" tutur dok Alex. Aku hanya mengedipkan mata sebagai isyarat kalau aku menyetujuinya. Penganiayaan yang dilakukan Drake dan teman-temannya itu agaknya akan meninggalkan trauma berat bagiku, dan mungkin juga akan ku jauhi Arwensetelah kejadian ini. Karena dalam hidup, masih ada banyak hal yang ingin kau capai, dan cinta yang terlalu penuh resiko ini.
Hampir satu minggu aku do rawat di rumah sakit , dank arena keadaanku sudah berangsur membaik, akupun mulai kembali mengajak Arwen meskipun harus sambil berbaring di tempat tidur rumah sakit. Rasanya sangat menyenangkan ketika bisa melihatnya mulai serius dan tidak bertingkah seperti sebelum-sebelumnya.
"Richard, minggu depan aku ujian. Aku, takut akan gagal lagi."
"Kau sudah berusaha dengan keras. Aku yakin kau pasti berhasil."
"Bagaimana jika aku tetap gagal?"
"Itu memang sudah ada dalam perjanjian,kan? Jadi kenapa kau mencemaskannya?
"Aku, aku karena aku takut kehilangan kamu"
"Cepat atau terlambat kita pasti akan di berpisah dan itu sudah menjadi hukuman alam yang tidak bisa diubah. Dimanapun ada pertemuan, pasti ada pepisahan."
"Aku tidak mau," ucapnya sambil memelukku."Richard, kau memang pengecut dan payah, tapi justru itulah yang membuat kau sangat menarik bagiku. Di Inggris ini sudah tidak lagi laki-lakiprimitif yang takut dengan ciumansepertimu. Dan aku tidak mau, barang langka sepertimu terlepas begitu saja dariku."
"Barang langka,? Maaf Arwen, tapi sepertinya sebutan itu terlalu aneh untukku."
"Diamlah, ada sisa makanan menempel dibibirmu, kau tenang saja, aku akan mengambilnya." Ucapnya sambil memandang wajahku dengan seksama
"a… tiak Arwen. Kau tidak boleh melakukannya itu lagi." Ucapku sambil berpaling.
"Apa maksudmu?"
Kau pasti akan menciumku,kan?"
"Tidak. Makanya diam dulu."
Saat aku sudah terdiam, tiba-tiba saja dia kembali menciumku lalu berlari keluar secepat mungkin sambil mengedipkan satu matnya padaku.
"Kau tertipu lagi,!" serunya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
"Ha…h, gambar yang bagus,! Aku pasti akan menggunakan potongan cerita tadi saat melakukan presentasi akhir nanti, dan aku yakin, filemku akan jadi terbaik di kampus kita." Ucap Nic yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mencuri, aku barusaja mencuru adegan yang kau mainkan dengan Arwen, dan ini akan menjadi pelengkap cerita-cerita sebelumnya"
"Maksudmu?"
"Ayolah…, aku belum menyiapkan filem akhir semester ini karena aku tidak punyauang untuk membayar artis. Jadi aku manfatkan moment-momentberharga yang kaulalui dengan arwen-untuk kemudian aku rangkai menjadi cerita pendek."
"Tapi setahuku kita tidak di berikan tugas itu."
"Sebenarnya tugas pembuatan file mini di khususkan bagi siswa yang nilainya agak sedikit di bawah rata-rata dan .., aku menjadi salah satu siswa itu."
"Tapi kenapa harus aku? Kenapa kau tidak membuat ceritalain?"
"Untuk hal itu aku punya alas an lain yang pasti juga dimiliki oleh orang-oeang yang berfikir licik sepertiku." Jawabnya sebelum berlalu seolah tanpa beban apapun.
Hari ini Arwen akan mendengarkan berita tentang kelulusannya. Namun aku tidak bisa mengantarnyake balai pertemuan seluruh siswa di Londonkarena aku harus kembali ke Maind Land untuk mengerjakan ujiansendiri.
Dan disaat aku tidak focus dengan lembar tugasku, Nicole Justru memanfatkan kesempatan itu untuk menyalin semua Jawabanku pada lembar jawabannya.
"Kau curang,!" Bisikku sambil merebut kembali tugasku.
"Ayolah aku mohon…, tolong fikirkanlah beberapa uang lagiharus kubayar jika ujianku harus gagal?,! tolonglah Richard…." Bisik Nic sambil merengek di bahuku.
Merasa tidak tega, akhirnya akupun luluh dan membirkannya menyalin semua jawabanku, dan hal itu, terus berlangsung sampai semua mata kuliah selesai di ujikan.
"Kita lulus dengan prestasi yang memuaskan,! Kalau boleh tahu, mau kau pakai apa semua gajimu itu?" ucap Nic saat berbaring di taman denganku.
"Aku akan membuka took buku di depan kampus kita."
"Lalu rumahmu di London?"
"Aku bisa menyewakannya, dan uang sewa itu, bisa aku pakai untukmelanjutkan sekolah."
"Lalu pamanmu?,"
"Dia tetap pamanku. Aku pasti akan sering mengunjunginya. Kau sendiri, mau kau pakai apa uangmu itu?"
"Aku akan membuka kedai yang menjual bermaca-macam makanan didekat took bukumu. Agar sampai kapanpun, kita bisa selalu bertemu."
Dan setelah setahun berlalu, akhirnya kehidupanku barang sur membaik. Took buku yang aku buka sejak tahun lalu dengan model yang di berikan Tuan Richie sebagai tanda terima kasihnya karena telah berhasil membantu Arwen sampai lulus, ternyata bisa maju dengan sangat cepat karena berkat bantuan promosi yang terus digelar oleh dokter Alex dan sekarang, aku bahkan bisa membantu membiayai sekolah ketiga sepupuku yang juga ikut tinggal bersamaku.
Sementara Nicole, sudah sebulan dia pergi berlibur ke Holi Wood bersama bibi Alena umtuk mencoba peruntungannya yang lain.
Menjelang pukul 05.00 sore, aku sudah bersiap untuk menutup tokoku, dan tiba-tiba saja saat aku berbenah, aku dikejutkan dengan seorang wanita yang tiba-tiba saja menyerobot masuk tanpa permisi.
"Dengar bodoh,! Aku mau pesan Beef Salad dengan makroni dan saos mayones yang banyak. Cepat siapkan untukku,!" serunya tanpa memandangku.
"Arwen,? Kaukah itu?" Kataku sambil perlahan mendekatinya.
Tanpa menjawab, wanita itu langsung melepas topi dan kaca mata hitamnya
"Pam! Pam! Pam!, ternyata kau masih mengenaliku."
"Nada bicaramu yang kasar itu tidak mungkin bisa ku lupakan."
"O…h, ternyata kau tetap tampandan menciumku?"
"Lipstik mu,?"
"Oh ternang saja." Ucapnya sambil menatapku lekat.
Setelah berpandangan hampir 15 menit, akhirnya akupun berhasil mengumpulkan semua keberanian untuk menciumnya, dan setelah beberapa saa, tiba-tiba saja Lindsay dan Mya berteriak "Cut!!!" dari depan pintu tokoku.
"Apa aku menang?!" Teriak Arwen sambil bersorak
"Ya….kali ini kau menang seribu dolar." Saut Mya lesu.
"Jadi, ini tipuan lagi?" Kataku yang berusaha menahan malu.
"Tidak, Richard. Aku benar-benar menyukaimu" Tutur Arwen sambil mengelus rambutku.
"Tapi untuk menjailimu,!" saut Lindsay dan Mya serempak.
"Kalian memang licik." Kataku yang semakin malu.
"Itu karena aku menyewa orang jenius untuk memberiku lest privat" sayt Arwen
"Siapa?"
"Hallo Richard Kirinyaga,! Kenalkan, aku adalah Nicole Jonas, seorang penulis terkenal yang di tugaskan khusus untuk menyutradarai filrm-filem besar Holliwood. Senang bertemu denganmu lagi,!"
Saut Nicole yang yang tiba-tiba juga muncul dari depan pintu tokoki.
"Nic,!" seruku sambil melompat ke pelukannya.
"Hentikan Richard,! Jangan bersikap seperti ini didepan gadis-gadis cantik in." ucap Nic sambil sedikit mendorongku.
"Bagaimana kabar bibi Alena?" sambungku
"Dia sangat baik. Dan sekarang, sedang menunggu kalian semua untuk berpesta di rumahku."
Malam peluncuran buku perdana Nicole yang berjudul "IN/19 – 2" berjalan dengan sangat meriah dikediaman barunya. Selain dihadiri oleh beberapa teman dan juga doen, Nic juga tak lupa untuk mengundang paman Edward dan bibi Becky, dan pada momen itu, Nic mengakui semua kesalahannya karena telah mengambil uang perusahaan paman demi membiayai ibunya yang harus segera di operasi.
Dan setelah mendengar semua penjelasan Nicole, paman dan bibi langsung mendekapku dan mereka berdua menangis yang sebenarnya juga sangat sensitive, akhirnya iokut menangis karena seumur hidupku, inilah kali pertamanya paman dan bibi mau memelukku.
Tak berapa lama kemudian, Arwen berteriak memanggilku sambil menyeret Tuan dan Nyonya Richie.
"Ayah, Ibu, aku ingin, Richard jadi milikkku selamanya, dan jia kaliantidak mau menuruti kemaunaku, aku tidak mau pergi kuliah." Ucap Arwen didepan kami semua dengan lantang.
Sejenak, Tuan dan Nyonya Richie saling berpandangan. Hal itu sempat membuatku tegang, tapi tajk berapa lama kemudian, Tuan Richie kembali tersenyum dan berkata, "Tentu saying, apapun yang kau inginkan, kau boleh memilikinya."
"Ye!!! Aku mencintai kalian, ayah, ibu!" tyeriak Arwen sambil memeluk orang tuanya.
Semua yang hadir di pesta itu ikut bertepuk tangan dan bersorak kami berciuman, dan setelah meminta persetujuan Arwen, akupun muloai mengelus rambutnya, dan …..,
"HACHIM!!!!"
"Richard kau menyebalkamn!!"
"Cut!!!!.....!!!!, maaf, sepertinya penyakit alergiku terhadap parfum kosmetik belum sembuh betul, dan mungkin …., tidak akan pernah sembuh." Nicole Jonas.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment

Makasih dah mau ngasih komen smoga bermanfaat bagi semua kalangan dan bloger, Komentar anda sangat berarti bagi saya, mohon kritik dan saran

JAWAPOSTING's Fan Box

JAWAPOSTING on Facebook and

Recent Post

Label

' (2) 6 (1) ADSENSE (3) ANTI MALAYSIA (5) APLIKASI (6) arti (28) ARTIKEL (701) ARTIS (21) ASEAN (5) ASMARA (5) AWARD (1) B (1) BAHASA INDONESIA (74) BAHASA INGGRIS (106) BAHASA JAWA (10) BAHASA JEPANG (2) BANK (2) BARAT (3) BERITA (1) BIOGRAFI (3) BISNIS (69) BOEKP (12) BUKU (1) BUKU TAMU (3) CARA BELAJAR SABAR (2) cara download musik di blog aku (3) cerita rakyat (14) cerpen (25) cerpen pondok TBI (3) CHEAT PB (1) chord (1) cinta (1) Connect With Friend (1) copas (3) DANGDUT (1) design (1) DESKRIPSI (4) DI JUAL (2) DOWNLOAD GRATIS (87) DRAMA (17) drama ku (2) ELEKTRONIK (5) FACEBOOK (73) FALAK (1) FENOMENA (1) film (38) FILM INDONESIA (12) FLASHDISK (3) gambar (3) GAME (8) GAWE KONCOKU (2) GRATIS (1) GUESTBOOK (1) HACKER (7) HARDWHARE (1) HARGA (1) HARI RAYA IDUL ADHAH (1) HEWAN (2) HIJAB (1) HUKUM (16) i (1) I (1) ide konyol (1) IKLAN (1) ilmu otomotif (13) INDONESIA (91) INDOSAT (1) INFORMASI (118) INSTALASI (2) INTERNASIONAL (19) INTERNET (73) IPA (8) Iptek (13) ISENG (1) ISLAM (157) JANGAN MINDER (1) JUAL BELI (4) KARYA ILMIAH (5) Karyaku (1) KATA BIJAK (1) KATA MUTIARA (3) KEBUDAYAAN (5) kehidupan sehari-hari (1) KEMERDEKAAN INDONESIA (2) KERAJAAN (1) KESEHATAN (24) KHUSUS MAS ALFAN RECCERY (1) KHUTBAH (3) KIMIA (2) KIRIM ARTIKEL MU (4) kisah dalam puisi (2) KISAH KU (10) KITAB (1) KITAB ALFIYAH (2) KOMPUTER (36) KONTES (1) KORAN FESBUK (105) KORD (15) KOTAK MASUK EMAILKU (129) KRITIKAN PEDAS SANG GARUDA (1) Kucing Hias (5) KUNCI GITAR (19) kurikulum (3) LAPORAN (5) LIPUTAN (1) LIRIK (28) LIRIK LAGU (30) logo (6) lucu (3) makalah (113) management (1) masyarakat (1) MENGHITUNG (1) MOBILE (31) MODIFIKASI (1) MOJOKERTO (1) MOTOR (1) MP3 (25) MUSIK (41) NARATIVE TEKS (4) NEGARA (5) NEWS (1) NOT FOUND (1) novel (7) OBAT (1) OLAH RAGA (9) OM BEDHUN_19 (1) OTOMOTIF (7) OVJ (3) OVJ Opera Van Java (3) paid to comment (1) PAPER (1) PASANG IKLAN (1) PAYPAL (4) PDTM (4) PEMILU (2) PEMIRINTAH (5) pendidikan (3) pendidikankan (669) pendidkan (43) PENELITIAN (4) PENEMUAN (1) PENGAJIAN (10) pengertian (9) PENGETAHUAN (87) PENYAKIT (4) perawatan badan (4) PERBANKAN (3) PERKEMBANGAN (2) PHONSEL (16) PHOTO ALBUM PRIBADI (3) PIDATO (3) PLANET (5) point blank (1) POLITIK (6) PORN (13) PROGRAM (1) PROPOSAL (3) puisi (8) PUISI CINTA (2) PULSA (1) RADIO ONLINE (1) RAMALAN ZODIAK (10) RAN ONLINE (3) RESENSI NOVEL (3) RESEP MAKANAN (46) RESUME (1) RINGTONE (1) RPP (23) RUMAH TANGGA (1) SEJARAH (38) SEMINAR (2) SENI (12) SEX (8) Sex On the street (1) SHOPPING (1) silabus (1) SKRIPSI (6) SOAL (5) softwere (12) SUARA ANAK BANGSA (1) sulap (1) TANAMAN (2) TEKNOLOGI (11) TEMPAT SHARING (1) TEMPLET JAWAPOSTING (1) tentang lagu (1) TENTANG Q (19) teriamkasih anda telah mengunjungi blog ini (3) TERJEMAH AL-QUR'AN (7) TESIS (1) THEME (1) TIPS (24) trafik meledak (1) trik bloger (47) trik Facebook (29) TRIK FS (4) TRIK RAN ONLINE (1) TUGAS (11) tugas pdtm 2 (5) TUKAR LINK (1) tulia (3) TULISAN ORANG (580) TUTORIAL (12) TV ONLINE (18) TWITTER (13) UAN (2) ume (3) UMUM (428) VIDIO MUSIK (2) welpaper (11) WINDOWS (2) WISATA HATI (1) wordpress (1) XP (1) youtube (1)

Followers